NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

Setelah insiden kecil di ujung pantai, suasana kembali mencair berkat energi Kael yang tidak ada habisnya.

Seolah-olah pertarungan Sasha tadi hanyalah tontonan pembuka, mereka kini berkumpul untuk permainan tradisional musim panas: menghancurkan semangka dengan mata tertutup.

"Baiklah, korban pertama adalah Yudas!" teru Kael sambil mengikatkan kain hitam ke mata Yudas. "Putar dia sepuluh kali sampai dia lupa di mana letak harga dirinya!"

Yudas diputar hingga sempoyongan. Dengan tongkat kayu di tangan, ia berjalan lurus ke arah yang salah—tepatnya ke arah Raka yang sedang asyik membaca buku.

"Woi! Ke sana! Ke kanan!" teriak Sasha gemas. Yudas menghantamkan tongkatnya ke pasir dengan keras, nyaris mengenai kaki Raka.

"Yudas, aku bukan semangka!" bentak Raka sambil melompat kaget.

Akhirnya, setelah arahan yang salah dari Kael (yang sengaja mengerjai Yudas),

Sasha habis kesabaran. Ia merebut tongkat itu, menutup matanya sendiri, dan hanya dengan satu insting tajam, *PRAK!* Semangka itu hancur berkeping-keping dalam sekali pukul.

"Makan itu! Jangan banyak drama!" seru Sasha puas.

Setelah perut mereka sedikit terisi semangka, mereka semua menyerbu air.

Di dalam laut, kekacauan berlanjut. Mereka bermain bola air yang lebih mirip seperti ajang gulat. Kael mencoba melakukan *dunk* di dalam air, namun ia malah tenggelam karena kakinya tersangkut celana renang Yudas.

Sementara itu, Lily dan Indah berusaha membangun istana pasir di bibir pantai dengan sangat serius, namun setiap kali istana itu hampir jadi, ombak nakal datang menghancurkannya.

"Tidak! Istanaku!" ratap Lily dramatis setiap kali air menyapu menaranya.

"Tenang Lily, kita bangun lagi yang lebih besar, lengkap dengan parit perlindungan dari serangan Kael!" sahut Indah penuh semangat.

Tiba-tiba, perhatian semua orang teralihkan ke arah pohon kelapa yang menjulang tinggi. Di sana, Kael dengan ide gilanya sudah berada di tengah batang pohon.

"Lihat aku! Aku adalah penguasa hutan!" teriaknya. Dengan gesit ia memanjat hingga ke puncak, memetik tiga buah kelapa, dan turun dengan selamat meski nafasnya senin-kamis.

"Ini baru namanya sarapan para juara!" seru Kael sambil menyerahkan kelapa-kelapa itu untuk dibelah.

Mereka pun duduk melingkar di atas tikar, menikmati air kelapa segar dan bekal yang mereka bawa.

Tawa pecah saat Kael menceritakan bagaimana ia hampir terpeleset karena melihat monyet yang ternyata hanyalah bayangannya sendiri di batang pohon.

Permainan berlanjut hingga sore hari. Mereka tidak berhenti bergerak;

mulai dari lomba lari di atas pasir yang dimenangkan Sasha (tentu saja dengan sedikit cara curang menyikut Yudas), hingga lomba menahan napas di dalam air yang dimenangkan Aria karena ia sangat tenang.

Saat matahari mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, menyinari cakrawala dengan gradasi warna yang luar biasa indah, mereka memutuskan untuk menyudahi kegiatan di pantai.

Dengan tubuh yang penuh pasir, kulit yang sedikit memerah karena matahari, dan hati yang sangat puas, mereka semua berjalan beriringan kembali ke penginapan.

Aria, yang sudah menyelesaikan tugas paruh waktunya, ikut berjalan bersama mereka. "Terima kasih ya semuanya. Aku tidak menyangka liburan ini akan seheboh ini," ucap Aria sambil menatap teman-temannya satu per satu.

"Ini baru permulaan, Aria! Malam ini di penginapan, kita akan buat keributan yang lebih besar lagi!" sahut Sasha sambil merangkul bahu Aria dan Indah.

Mereka pun melangkah masuk ke penginapan mewah yang sudah disiapkan Raka, siap untuk menutup hari pertama liburan musim panas mereka dengan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.

----

Setelah membersihkan pasir yang menempel di sekujur tubuh di penginapan, mereka sempat beristirahat sejenak.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Raka masuk ke ruangan santai sambil mengecek ponselnya.

"Dengar semuanya, ada Festival Musim Panas tahunan di lapangan kuil dekat sini. Hanya malam ini. Mau pergi?" tanya Raka.

Sontak saja, Kael yang sedang maskeran menggunakan timun langsung melompat berdiri. "FESTIVAL?! Kenapa tidak bilang dari tadi! Ayo berangkat!"

Malam itu, Festival Musim Panas menyambut mereka dengan kemeriahan yang luar biasa. Lampion merah dan kuning tergantung di sepanjang jalan,

menciptakan pendar cahaya yang hangat. Aroma cumi bakar, takoyaki, dan manisan apel memenuhi udara, bercampur dengan suara tabuhan drum *taiko* yang bersemangat. Ribuan orang berlalu-lalang mengenakan *yukata*,

namun geng kita tetap tampil santai dengan pakaian pantai mereka, membuat mereka terlihat menonjol di tengah kerumunan.

Kegiatan pertama dimulai di stan menembak hadiah. **Yudas dan Raka** berdiri bersisian dengan senapan mainan di tangan.

Yudas, dengan insting atletnya, mencoba membidik sebuah figur aksi langka.

"Lihat ini, Raka. Satu tembakan, satu hadiah," sombong Yudas. *PLUP!* Pelurunya memantul konyol karena ia terlalu bersemangat.

Raka, dengan kacamata yang ia naikkan ke pangkal hidung, membidik secara matematis. "Kau terlalu mengandalkan otot, Yudas. Gunakan aerodinamika," ujar Raka tenang. *TAK!* Raka berhasil menjatuhkan sebuah gantungan kunci kecil, membuat Yudas melongo tak percaya.

Di stan sebelah, **Aria, Lily, dan Indah** sedang asyik bermain lempar cincin. Lily tampak sangat beruntung; sekali lempar, cincinnya langsung mendarat di botol yang berisi hadiah boneka besar.

"Wah! Lily, kau hebat sekali!" seru Indah yang justru cincinnya selalu memantul keluar lapangan.

Aria tertawa melihat kegigihan Indah yang sampai menjulurkan lidah demi konsentrasi penuh.

Drama sesungguhnya terjadi di stan menangkap ikan mas dengan jaring kertas tipis.

**Sasha** duduk di kursi kecil dengan wajah yang sangat tegang. Setiap kali ia mencoba menyendok ikan, kertasnya langsung robek.

"Sialan! Kertas macam apa ini?! Ini konspirasi pedagang untuk merampok uangku!" teriak Sasha kesal. Ia sudah menghabiskan sepuluh jaring dan belum mendapatkan satu ikan pun. "Ayo, sedikit lagi... JANGAN ROBEK! AH!"

Ikan itu melompat dan mencipratkan air tepat ke wajah Sasha, membuat yang lain tertawa terpingkal-pingkal.

Sasha sudah siap ingin menjungkirbalikkan bak ikan tersebut jika tidak ditenangkan oleh Aria.

Sementara itu, **Kael** ditemukan di stan lempar panah ke balon. Dengan gaya sok pahlawan, ia melemparkan panah sambil menutup satu mata.

"Rasakan panah asmara Kaelan!" teriaknya. Bukannya mengenai balon, panahnya malah mengenai papan kayu di pojok stan.

Ia tetap tertawa ceria meskipun penjaga stan menatapnya dengan pandangan 'cepat pergi dari sini'.

Setelah lelah bermain, mereka menyerbu stan makanan.

Mereka membeli *yakisoba* yang panas, *takoyaki* dengan potongan gurita besar, dan tentu saja manisan apel merah yang mengkilap.

Kael hampir tersedak karena mencoba memakan tiga bola takoyaki sekaligus, membuat Yudas harus menepuk punggungnya keras-keras hingga bolanya terpental keluar.

Tepat pukul sepuluh malam, kerumunan orang mulai bergerak menuju area terbuka di pinggir tebing pantai.

Mereka semua berkumpul, duduk di atas rumput yang masih hangat. Suasana mendadak hening saat bunyi *whuuuusss...* terdengar ke langit.

*BOOM!*

Kembang api raksasa meledak di angkasa, membentuk pola bunga krisan berwarna emas dan ungu.

Disusul ledakan-ledakan lain yang lebih besar, menerangi wajah mereka yang penuh kekaguman.

Cahaya kembang api itu terpantul di mata mereka, menciptakan momen magis yang menghapus semua kelelahan.

"Indah sekali..." bisik Lily dengan mata berbinar.

"Ini penutupan hari yang sempurna," tambah Aria sambil tersenyum lebar.

Saat pertunjukan hampir berakhir, Lily melihat seorang pejalan kaki dan segera meminta tolong. "Permisi, bisakah Anda memfoto kami semua?"

Mereka segera mengambil posisi di depan latar belakang langit yang masih dihiasi sisa-sisa kembang api.

**Yudas** berdiri di belakang sambil merangkul bahu **Kael** yang sedang berpose dua jari (V-sign) dengan gaya konyol. **Raka** berdiri tegak dengan senyum tipis di samping mereka.

Di depan, **Aria** dan **Lily** duduk bersimpuh sambil memegang manisan apel mereka. **Indah** berpose ceria dengan gaya 'metal' sisa dari lelucon *hoodie* tempo hari.

Dan **Sasha**? Ia berdiri di tengah-tengah, merangkul Aria dan Indah, mengenakan kacamata hitamnya meskipun malam hari, memberikan senyum paling sombong namun bahagia yang pernah ia miliki.

*CEKREK!*

Lampu kilat menyala, mengabadikan momen ketujuh sahabat itu dalam satu bingkai abadi. Sebuah foto yang akan mereka simpan selamanya sebagai bukti bahwa musim panas tahun ini adalah musim panas terbaik dalam hidup mereka.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!