Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAPORAN DAN KONSEKUENSI
Rajendra dan Bambang sampai di kantor polisi Polda Metro Jaya jam dua belas siang.
Bambang parkir motor di depan gedung, mereka turun dan masuk lobby yang ramai dengan orang-orang mengurus berbagai keperluan.
Rajendra berjalan ke meja resepsionis, seorang polisi muda dengan seragam rapi.
"Siang, Pak. Saya mau lapor kasus percobaan penyerangan dan berbagai tindak pidana lainnya."
Polisi itu menatapnya.
"Penyerangan kapan terjadi?"
"Tadi. Sekitar setengah jam yang lalu. Di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan."
"Ada saksi?"
Rajendra menunjuk Bambang.
"Dia yang selamatkan saya."
Polisi mengangguk, mengambil formulir.
"Oke. Silakan isi formulir ini dulu, nanti saya panggilkan petugas untuk ambil keterangan detail."
Rajendra mengisi formulir dengan tangan yang masih sedikit gemetar—nama, alamat, kronologi singkat kejadian.
Setelah selesai, mereka disuruh tunggu di ruang tunggu.
Lima belas menit kemudian, seorang Inspektur keluar—pria paruh baya dengan wajah tegas, seragam lengkap dengan badge nama: Inspektur Hadi Prasetyo.
"Rajendra Baskara?"
"Iya, Pak. Saya."
"Ikut saya."
Mereka masuk ke ruang interogasi kecil—meja panjang, kursi plastik, lampu neon terang di langit-langit.
Inspektur Hadi duduk di seberang Rajendra dan Bambang, membuka laptop dan voice recorder.
"Baik. Ceritakan kronologi dari awal."
Rajendra menarik napas dalam, lalu mulai cerita.
Dari konflik dengan keluarganya, keluar dari rumah, gugatan pengadilan tentang warisan, berbagai serangan yang dia alami—dokumen palsu, laporan polisi palsu, cyber attack, sampai percobaan penyerangan fisik tadi pagi.
Dia tunjukkan semua bukti yang dia punya—screenshot metadata file backdoor dengan username DERA-PC, laporan dari Bima tentang analisis dokumen palsu, foto dokumen bank palsu yang disubmit ke polisi sebelumnya, screenshot SMS ancaman, dan keterangan dari Bu Siti yang dia rekam sebelumnya sebagai backup.
Inspektur Hadi mendengarkan dengan serius, sesekali menulis notes, sesekali melihat bukti-bukti yang ditunjukkan Rajendra.
"Ini kasus yang kompleks," komentar Inspektur Hadi setelah mendengar semua. "Ada beberapa tindak pidana di sini—pemalsuan dokumen, pencemaran nama baik, cyber crime, dan percobaan penyerangan. Anda yakin semua ini dilakukan oleh saudara Anda, Dera Baskara?"
"Saya punya bukti untuk cyber attack—username komputernya jelas tertulis di metadata file. Untuk dokumen palsu, saya punya analisis forensik dari ahli. Untuk percobaan penyerangan, Pak Bambang jadi saksi. Dan saya punya keterangan dari pembantu rumah tangga yang dengar Dera planning semua ini."
"Pembantu rumah tangga itu bersedia jadi saksi resmi?"
Rajendra terdiam.
Bu Siti bilang dia tidak bisa jadi saksi resmi karena takut kehilangan pekerjaan.
"Dia... dia takut. Tapi saya punya rekaman audio keterangannya."
"Rekaman tanpa izin tidak bisa dipakai sebagai bukti legal. Kita butuh kesaksian langsung."
Rajendra mengepalkan tangan.
"Pak, orang yang attack saya tadi masih di luar sana. Dia bisa coba lagi. Saya butuh perlindungan."
"Anda sudah lapor, itu langkah pertama yang benar. Tapi untuk penangkapan suspect, kita butuh bukti yang lebih solid. Cyber attack dengan metadata itu bagus, tapi kita harus verify dulu bahwa komputer dengan username itu memang milik Dera Baskara. Untuk percobaan penyerangan, kita butuh identitas pelaku atau CCTV."
"CCTV? Ada CCTV di depan pengadilan kan?"
"Ada. Kita akan minta footage-nya. Kalau wajah pelaku terekam dan kita bisa identify, itu akan sangat membantu kasus Anda."
Bambang yang dari tadi diam akhirnya bicara.
"Pak, saya lihat pelaku tadi pakai helm fullface. Wajahnya tidak kelihatan. Tapi motornya saya ingat—Honda Vario hitam, plat B 1234 KLM."
Inspektur Hadi menulis.
"Bagus. Kita bisa trace pemilik motor dengan plat nomor. Kalau terbukti motor itu registered atas nama orang yang punya hubungan dengan Dera Baskara, itu akan strengthen kasus."
"Berapa lama proses investigasi ini?" tanya Rajendra.
"Untuk cyber crime, bisa dua sampai empat minggu. Untuk percobaan penyerangan, kalau kita dapat footage CCTV yang jelas dan bisa trace pelaku, bisa lebih cepat—satu sampai dua minggu. Saya akan prioritaskan kasus ini karena ada ancaman keselamatan."
"Terima kasih, Pak."
"Sementara itu, saya sarankan Anda stay di tempat aman. Jangan sendirian. Kalau bisa, hire security atau stay dengan teman yang bisa protect Anda. Kalau ada ancaman atau percobaan penyerangan lagi, langsung telepon 110 atau telepon saya langsung."
Inspektur Hadi memberikan kartu namanya dengan nomor ponsel tertulis di belakang.
Rajendra menerima kartu itu, memasukkannya ke dompet.
"Dan satu lagi," tambah Inspektur Hadi. "Jangan coba kontak Dera Baskara atau keluarga Anda. Biarkan kami yang handle. Kalau Anda kontak mereka, bisa dianggap sebagai provokasi dan memperlemah kasus Anda."
"Saya paham."
Mereka keluar dari kantor polisi jam dua siang.
Di luar, matahari masih terik. Jakarta ramai seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi.
Bambang menatap Rajendra.
"Kamu mau ke mana sekarang?"
"Ke kantor. Tim saya pasti khawatir. Tadi mereka telepon beberapa kali tapi saya belum sempat angkat."
"Oke. Saya antar. Jangan naik transportasi umum dulu. Terlalu berisiko."
"Terima kasih, Pak Bambang. Serius. Kalau bukan Bapak tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi."
Bambang tersenyum tipis.
"Sama-sama. Pak Dimas pernah bantu saya waktu saya susah. Ini cara saya balas budi ke keluarga beliau. Dan kamu cucu kesayangan beliau. Saya gak akan biarkan apa-apa terjadi sama kamu."
Mereka naik motor, menuju kantor LokalMart.
Sampai di kantor jam tiga kurang, Rajendra naik tangga dengan kaki yang masih terasa berat.
Buka pintu kantor—Dina, Arief, dan Rian langsung menghampiri dengan wajah khawatir.
"Bos! Lu kemana?! Kita udah telepon berkali-kali!" teriak Dina dengan nada panik.
"Maaf. Ada... ada masalah."
Rajendra cerita kronologi dari awal—sidang yang dia menang, ancaman dari Dera, percobaan penyerangan, diselamatkan Bambang, lapor polisi.
Mereka semua mendengarkan dengan wajah shock.
Dina menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.
Arief duduk dengan wajah pucat.
Rian menatap Rajendra dengan tatapan tidak percaya.
"Bos... ini... ini gila. Keluarga lu literally hire hitman untuk attack lu?"
"Sepertinya begitu."
"Dan sekarang lu aman? Mereka gak bakal coba lagi?"
"Polisi bilang mereka akan investigate dan tangkap pelaku. Tapi butuh waktu. Sementara itu, gue harus hati-hati."
Dina berdiri, menatap Rajendra dengan tatapan firm.
"Lu gak boleh sendirian. Starting now. Lu stay di kantor atau lu stay sama salah satu dari kita. Gue gak peduli mana, tapi lu gak boleh sendirian."
"Din—"
"Gak ada tapi. Ini non-negotiable. Mereka udah coba physically attack lu. Mereka bisa coba lagi. Kita gak akan ambil risiko."
Arief menambahkan.
"Gue setuju sama Dina. Lu bisa crash di tempat gue. Gue punya sofa bed. Atau kalau lu mau, kita all stay di kantor sampe pelaku ditangkap."
Rajendra menatap mereka semua—tim kecilnya yang rela protect dia bahkan dengan risiko keselamatan mereka sendiri.
"Guys... gue gak bisa—"
"Lu bisa dan lu akan," potong Dina. "We're in this together. Oke?"
Rajendra diam, lalu mengangguk pelan.
"Oke."
"Good. Sekarang duduk. Lu keliatan pucat. Kapan terakhir lu makan?"
Rajendra berpikir. Pagi tadi dia tidak sarapan. Siang tadi dia sibuk lapor polisi.
"Gue belum makan dari kemarin malam."
"Ya ampun!" Dina langsung ambil ponselnya. "Gue pesen makanan sekarang. Lu mau apa?"
"Apa aja. Gue gak bisa mikir."
Dina pesan nasi padang untuk semua orang lewat ojol, lalu duduk di samping Rajendra.
"Lu oke? Secara mental?"
Rajendra menatap tangannya yang masih sedikit gemetar.
"Jujur? Gak. Gue masih shock. Tapi gue harus oke. Gue gak bisa collapse sekarang."
"Lu boleh gak oke, bos. Lu baru aja hampir diserang. Normal kalau lu shock."
"Tapi—"
"No buts. Lu manusia. Bukan robot."
Rajendra tersenyum tipis.
"Thanks."
Sementara itu, di apartemen mewah Kuningan, Dera duduk di sofa dengan ponsel di tangan, menunggu telepon dari orang yang dia hire.
Tapi tidak ada telepon.
Jam dua lewat lima belas menit, dia tidak tahan lagi. Dia telepon duluan.
Nada sambung berbunyi lama, tidak ada yang angkat.
Dera mencoba lagi. Masih tidak ada yang angkat.
Dia mulai panik.
Ada yang salah.
Job seharusnya sudah selesai. Orang itu seharusnya sudah report.
Tapi tidak ada kabar.
Jessica keluar dari kamar dengan wajah pucat.
"Ada kabar?"
"Gak ada. Dia gak angkat telepon."
"Berarti... berarti gagal?"
"Atau berhasil dan dia kabur dengan uang. Fuck!"
Dera melempar ponselnya ke sofa, berdiri, berjalan mondar-mandir dengan frustasi.
"Semua plan gue gagal. Semua! Dokumen palsu gagal. Cyber attack gagal. Physical attack juga gagal!"
Jessica duduk dengan tangan gemetar.
"Dera... maybe ini sign. Maybe kita harus stop."
Dera menatapnya dengan tatapan gila.
"Stop? Setelah sejauh ini? Gue udah keluar ratusan juta buat semua ini! Gue udah risk semuanya!"
"Tapi kita kalah, Dera! Rajendra menang di sidang! Dia punya warisan! Polisi pasti akan investigate attack tadi! Mereka akan trace ke kita!"
"Gak akan bisa trace. Gue hire orang profesional. Gak ada jejak—"
Ponsel Jessica berdering.
Dia menatap layar—nomor tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar, dia angkat.
"Halo?"
Suara pria formal di seberang.
"Ini Inspektur Hadi Prasetyo dari Polda Metro Jaya. Apa benar ini Jessica Agustina?"
Jessica menatap Dera dengan mata melebar, wajahnya berubah putih pucat.
"I-iya. Ini saya."
"Kami butuh Anda datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait kasus percobaan penyerangan terhadap Rajendra Baskara. Kapan Anda bisa datang?"
Jessica tidak bisa bicara. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Dera merebut ponsel dari tangan Jessica.
"Ini siapa?"
"Inspektur Hadi Prasetyo. Anda siapa?"
"Saya... saya temannya. Dia sedang tidak bisa bicara."
"Tolong sampaikan ke Nona Jessica bahwa kami menunggu kedatangannya besok paling lambat jam sepuluh pagi. Kalau tidak datang, kami akan kirim surat panggilan resmi."
Sambungan terputus.
Dera menatap ponsel dengan wajah shock.
Polisi sudah bergerak.
Mereka sudah mulai panggil orang-orang yang terlibat.
Dan kalau Jessica dipanggil, berarti investigation sudah mengarah ke mereka.
Jessica menangis, tubuhnya gemetar hebat.
"Aku bilang apa, Dera?! Aku bilang kita akan ketahuan! Sekarang polisi udah tau! Kita akan masuk penjara!"
Dera duduk, menatap kosong, pikiran berputar cepat mencari jalan keluar.
Tapi kali ini, sepertinya tidak ada jalan keluar lagi.
Mereka sudah terlalu jauh.
Dan sekarang, konsekuensinya mulai datang.
[ END OF BAB 35 ]