Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 - Ruang Baru (Visual Tokoh)
"Bisakah aku bahagia?"
"Kapan terakhir kali aku merasakannya?"
"Kapan aku harus berhenti? Kapan aku harus memulai lagi?"
Karina melamun depan pohon tidak jauh dari TKP keenam. Arga yang melihat, langsung menghampiri Karina yang terlihat putus asa.
Kar....
Karina....
Karina tidak menyahut, dirinya masih terlarut dalam lamunan yang penuh dengan pikirannya sendiri. Dirinya lama menatap pohon tua, ia sengaja memisahkan diri dari tim hanya untuk.mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
"Kar, hey, kamu gapapa?" tanya Arga dengan melembutkan nada.
"Gapapa kok, ga... Hanya ingin menenangkan diri aja hehe," jawab Karina sambil menyilangkan tangannya.
Karina ingin menjauh menghindari siapapun itu tidak ingin berinteraksi. Arga langsung peka melihat Karina menjauh, sehingga dia pun kembali ke TKP. Karina sendirian masih menatap pohon tua itu seakan hanya tempat itulah menjadi penenang Karina. Setelah menatap cukup lama, Karina pun memutuskan pulang dan tidak ke TKP lagi.
Di dalam mobilnya, Karina langsung menyetel lagu favoritnya, kosong - dewa 19.
Kamu seperti hantu
Terus menghantuiku
Ke mana pun tubuhku pergi
Kau terus membayangi aku
Karina semakin terlarut dalam lamunannya, sesekali memejamkan mata hanya untuk menenangkan pikirannya. Ia pun memecah lamunan dan kembali fokus. Karina pun melajukan kendaraannya
...----------------...
Disisi lain, Antono dan Arga masih sibuk menelusuri TKP, mereka mencari sebuah harapan kecil yang setidaknya membantu mereka menyelesaikan kasus ini. Namun... Nihil.
Hanya ada dedaunan coklat yang berguguran ditambah angin menuju malam yang semakin kencang.
"Tidak ada bukti, tidak ada jejak, kita benar-benar dibuat buta, pak," ucap Arga memecahkan keheningan antara mereka berdua.
"Siapa yang bilang tidak ada bukti? Tempat ini adalah bukti," jawab Antono, "Pelaku sengaja tidak memberikan bukti, hanya untuk melihat kita melakukan kesalahan."
"Dia sengaja membuat kita terlihat bodoh. Ayo, kita kembali ke kantor, tidak ada lagi yang perlu dilihat disini."
"I-iya pak."
Arga yang masih melihat sekeliling sambil berjalan ke mobil, berharap ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi... Nihil.
Mereka berdua pun kembali ke kantor, selama di perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka, tidak ada kata dua kata, ditambah suara bising jalanan kota yang saat itu sedang padat-padatnya.
Matahari hampir menghilangkan wujudnya, tanda bahwa akan mengakhiri sore hari itu, suasana kota seperti biasa, hanya ada ketakutan yang masih menyelimuti masyarakat. Seisi kota dibuat saling tidak percaya karena bisa saja pelakunya diantara mereka. Antono dan Arga masih terjebak kemacetan jalanan, nampak kendaraan lain ingin terburu-buru sampai ke tujuan masing-masing. Hari itu sangat berat sekali bagi Karina, Antono, dan Arga. Mereka disuruh memberi penjelasan tapi semuanya saja masih kabur, membuat pernyataan palsu bukanlah pekerjaan mereka.
Sesampainya di kantor, mereka tidak langsung masuk ke ruang rapat, nampaknya Antono ingin menyampaikan sesuatu dengan Arga.
"Arga kamu tahu Karina akhir-akhir kenapa?" tanya Antono yang melihat Karina berubah akhir-akhir ini.
"Eh, saya juga bingung, pak," jawab Arga dengan sungkan, "Tidak biasanya dia seperti itu."
Antono memang sudah mengamati perubahan perilaku Karina, apalagi akhir-akhir Karina berubah menjadi pendiam.
...****************...
Media nasional, Sosial media, dan Internet tidak pernah berhenti memberitakan kasus-kasus yang tidak pernah usai. Bahkan komentar pedas langsung diberikan oleh pemerintahan pusat kepada kepolisian tersebut yang dinilai lamban. Mereka ingin setidaknya ada titik terang dari kasus ini.
Hari demi hari, tidak ada laporan pembunuhan seperti seminggu terakhir. Namun, hal itu tidak membuat media mereda, merekan justru semakin mempertanyakan.
Apakah pelaku berhenti?
Atau polisi sedang menutup-nutupi sesuatu?
Seolah semakin memberi tekanan ke kepolisian untuk segera memberika. Pernyataan ke publik, setidak membuat masyarakat tenang.
Matahari saat itu belum sampai mencapai puncaknya, tapi suasana di kantor saat itu tidak seramai seperti biasa, orang-orang bekerja tapi tidak berisik, hanya berbicara seadanya, seakan ada sesuatu yang mereka takuti.
Tidak adanya kasus terbaru beberapa hari terakhir membuat masyarakat berpikir apakah semuanya sudah berakhir. Mereka beraktifitas seperti biasa, tidak ada yang ditakuti hanya sesekali merasakan kecemasan dan itu wajar.
...----------------...
Bip... Bip... Bip...
Suara alarm itu menembus keheningan kamar, dinginnya udara pagi merayap ke tulang, membuat Karina ingin sekali kembali menutupi diri di bawah selimut. Tapi rutinitas menuntutnya bangkit. Dengan langkah berat, ia menatap cermin, mencoba menenangkan wajahnya yang mulai pucat.
Sejak beberapa hari terakhir, perasaan aneh itu terus menghantuinya. Seperti ada mata yang selalu mengawasinya, meski ia tahu itu mungkin hanya paranoia. Setiap langkah kecilnya di kantor seolah diamati, setiap keputusan yang ia ambil terasa salah.
Di lorong kantor, tatapan rekan kerja yang singgah sebentar di matanya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Bisikan samar di sudut ruangan seakan menyindirnya. Orang-orang tiba-tiba berhenti bicara begitu ia muncul.
“Apakah mereka menertawakanku?” pikirnya, napasnya terasa berat. “Atau Antono sedang mengujiku?”
Pertanyaan itu terus berputar di kepala. Bahkan bayangan si pelaku—yang tak pernah muncul—menjadi ancaman yang nyata di pikirannya. Apakah orang itu sengaja menghilang, menunggu momen tertentu?
Tidak ada bukti nyata. Hanya perasaan.
Di meja kerjanya, Karina mencoba fokus pada tumpukan dokumen, tapi setiap suara—ketukan keyboard, derit kursi, langkah kaki di lorong—membuatnya terkejut. Ia merasa dunia di sekitarnya semakin sempit, seolah ruangan kantor menjadi labirin yang dipenuhi mata-mata tak terlihat.
Setiap tatapan yang sekilas menatapnya, setiap bisikan yang terdengar samar, mulai menjadi bukti yang memperkuat paranoia-nya. Ia mulai mempertanyakan segalanya: Apakah tim benar-benar mempercayainya? Apakah Antono menyembunyikan sesuatu? Atau semua ini hanyalah tipu muslihat orang yang tak terlihat, yang menunggu sesuatu dari dirinya?
Karina menarik napas dalam-dalam, mencoba tersenyum di depan rekan kerjanya. Tapi senyum itu terasa kaku, dipaksakan. Hatinya berdebar kencang, dan pikirannya mulai gelap, penuh kemungkinan-kemungkinan yang menakutkan.
Saat jam kerja dimulai, Karina mulai bertindak. Ia memperhatikan setiap gerakan di sekitar, mencatat hal-hal kecil di pikirannya—siapa yang menatapnya lebih lama, siapa yang tiba-tiba diam, bahkan siapa yang lewat lorong tanpa menoleh. Semua hal itu, sekecil apa pun, terasa penting.
Di satu sisi, ia berusaha tetap profesional. Di sisi lain, rasa diawasi itu membuatnya waspada setiap saat. Kadang ia mendekat ke meja Antono, hanya untuk memastikan tidak ada yang aneh. Kadang ia sengaja berdiri di lorong untuk melihat rekan kerjanya dari kejauhan, menilai apakah tatapan mereka berarti sesuatu.
Dunia Karina mulai terasa seperti labirin psikologis. Setiap langkah dan keputusan dipertanyakan, setiap tatapan menjadi teka-teki. Suara-suara samar—bisikan, ketukan, langkah kaki—mulai terdengar lebih keras dalam kepalanya. Bahkan bayangan-bayangan yang ia lihat di sudut matanya terasa nyata. Ia mulai merasa bahwa ada sesuatu atau seseorang yang selalu mengikuti, menunggu untuk menguji ketenangannya.
Saat ia menundukkan kepala menatap dokumen, bayangan itu bergerak di tepi penglihatannya. Ia menoleh, tapi lorong tetap kosong. Napasnya memburu. Jantungnya seperti diperas. Dunia seolah menutup di sekitarnya, penuh pengawasan yang tak terlihat. Dan di setiap langkah, rasa takut itu menempel, halus tapi tak terbantahkan—membuat Karina mulai mempertanyakan tidak hanya sekitarnya, tapi juga kewarasannya sendiri.
...----------------...
Malam itu, Karina terbangun lagi dari mimpi buruknya. Bayangan samar yang sama selalu muncul: lorong kantor yang gelap, bisikan tak terdengar jelas, tatapan kosong yang menghantuinya. Tubuhnya dingin, keringat membasahi punggung. Jam tidur nyaris hilang; matanya merah, kantung di bawah mata semakin dalam.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. “Ini gila,” gumamnya. “Aku tidak boleh merasa seperti ini… bukan aku yang seharusnya takut.”
Namun keesokan paginya, ketika alarm berbunyi, rasa takut itu ikut bangun bersamanya.
Bip… Bip… Bip…
Suara itu menembus kesunyian kamar, dan Karina hanya ingin mengabaikannya. Tapi rutinitas menuntutnya keluar dari selimut, menyongsong hari yang berat.
Di kantor, fokusnya mulai pecah. Laporan-laporan lama berbaris di meja, setiap angka dan kalimat tampak salah dalam pikirannya. Ia membaca ulang, membolak-balik halaman, mencari kesalahan yang mungkin ia buat.
“Apakah aku melewatkan sesuatu?” tanyanya pelan pada diri sendiri. Tapi tidak ada jawaban pasti.
Ketika Arga lewat meja, ia tersenyum lemah. “Karina, semuanya baik?” tanya Arga, tapi Karina hanya mengangguk.
“Sepertinya… ya. Aku cuma ingin memastikan dokumen ini lengkap,” jawab Karina, suara bergetar sedikit.
Arga menatapnya agak lama. “Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja.”
Karina tersenyum tipis, tapi dalam hatinya ia merasa segala bantuan akan sia-sia. Ia terlalu fokus pada bayangan kemungkinan—bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa fatal, bahwa pelaku mungkin masih mengawasinya, atau lebih parah: bahwa kesalahan itu ada karena dirinya sendiri.
Saat istirahat, Karina duduk sendiri di pantry, gelas kopi di tangan. Rekan-rekannya tertawa di sudut ruangan, tapi ia merasa seperti dinding kaca memisahkannya dari mereka. Bisikan-bisikan kecil yang samar terdengar di lorong membuatnya menoleh, tapi tidak ada siapa pun.
“Ini memang aku yang terlalu paranoid,” pikirnya. “Tapi kalau ini nyata… kalau aku salah langkah…”
Pikiran-pikiran yang tidak ingin ia akui mulai muncul. Bagaimana kalau pelaku berhenti karena aku? Bagaimana kalau diam-diam aku justru menguntungkannya?
Karina menarik napas dalam-dalam, menatap laporan di depannya, dan mencoba menyibukkan diri. Tapi dunia di sekitarnya mulai terasa tidak stabil. Setiap langkahnya dipertanyakan, setiap gerakan terasa penting.
...----------------...
Seiring ketegangan internal Karina meningkat, Antono mulai bertindak berbeda. Instruksinya semakin sedikit, kata-katanya minim. Tapi setiap kalimat—tenang, dingin, mematikan—meninggalkan bekas mendalam.
Di ruang rapat kecil, Antono menatap Karina hanya dengan satu kalimat singkat:
“Laporan ini perlu lebih tepat.”
Karina menelan ludah. “Baik, Pak… saya akan revisi,” jawabnya, walaupun ia yakin laporannya sudah sempurna.
Antono menatapnya tanpa komentar lebih lanjut, hanya diam, dan kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Tekanan itu menempel seperti asap dingin. Karina merasa seperti diuji—bukan oleh Antono, tapi oleh ketenangan mematikannya.
Di meja, Arga duduk di seberang. “Karina, kamu terlihat… tegang. Apa Pak Antono sudah bicara lagi?”
Karina hanya menggeleng. “Tidak. Dia… dia hanya melihat laporan dan… diam.”
Arga menatapnya. “Aku tahu. Itu membuat semua orang tegang. Tapi kamu harus tetap fokus.”
Karina menunduk, mencoba tersenyum. Namun senyum itu terasa palsu, dipaksakan. Satu kalimat Antono saja bisa menghancurkan kepercayaan diri selama berhari-hari. Dan tanpa arahan, Karina merasa seperti berjalan di lorong gelap tanpa penerangan.
Ia mulai memeriksa ulang setiap keputusan kecil yang pernah ia buat, mengingat setiap momen yang mungkin dianggap salah. “Apakah aku cukup baik?” pikirnya. “Atau semua ini… ujian untuk melihat apakah aku bisa bertahan di bawah tekanan?”
...----------------...
Tekanan itu mulai merambat ke tim. Tidak ada musuh yang nyata, tapi semua mulai saling mencurigai.
Di ruang kerja, Arga mengerutkan dahi, menatap papan strategi. “Apakah kalian yakin ini langkah yang tepat? Kita terlalu pasif,” ujarnya.
Seorang anggota tim lain, Fajar, menyahut, “Kalau kita terlalu agresif, risikonya terlalu besar. Kita harus menunggu keputusan Pak Antono.”
Percakapan itu menegangkan. Karina duduk di antara mereka, merasa terjepit. Loyalitasnya pada Antono bertabrakan dengan tanggung jawabnya pada tim. Ia mencoba menengahi: “Kita harus menemukan titik tengah. Kita tidak bisa terus menunggu atau bertindak sembrono.”
Arga menatapnya tajam. “Kamu yakin? Aku mulai meragukan strategi kita.”
Karina menelan ludah. Ia tahu tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar. Segala keputusan menjadi abu-abu, dan beban itu terasa semakin berat di pundaknya.
Di sudut lain ruang kerja, rekan-rekan lain saling menatap, ragu untuk berbicara. Kepercayaan mulai retak, komunikasi terganggu, dan ketegangan psikologis menyebar.
Karina menarik napas, mencoba mengumpulkan diri. “Aku harus tetap tenang,” gumamnya dalam hati. Tapi dunia di sekitarnya terasa seperti permainan psikologis. Setiap gerakan, setiap kata, bisa menimbulkan implikasi yang salah. Dan di tengah semua itu, ia mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri—apakah ia mampu menjaga keseimbangan, atau semuanya akan runtuh, termasuk dirinya sendiri?
...----------------...
Karina duduk di ruang rapat yang hampir kosong. Hanya deru pendingin ruangan dan ketukan jam digital yang terdengar. Tim sudah pulang, tapi ia tetap di mejanya, memeriksa laporan terakhir sekali lagi.
Antono masuk tanpa suara, menatap dokumen yang ada di meja Karina. Tidak ada senyum, tidak ada komentar panjang. Hanya satu kalimat:
“Pelaku tidak berhenti.”
Karina menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu sederhana, tidak dramatis, bahkan terdengar hampir biasa. Tapi maknanya menusuk lebih dalam daripada teriakan atau peringatan.
“Dia sedang memastikan kita cukup lelah… untuk membuat kesalahan,” lanjut Antono, suaranya tenang, dingin, hampir seperti fakta yang tidak bisa dibantah.
Karina menunduk, memegang kepala dengan kedua tangan. Setiap napas terasa berat. Selama ini, tekanan, paranoia, dan rasa bersalah yang membayanginya mulai menemukan titik terang: ini bukan hanya masalah eksternal. Keheningan, pengawasan diam-diam, minimnya arahan—semua itu adalah bagian dari metode.
Tekanan psikologis adalah senjata. Ia mulai menyadari bahwa dirinya sendiri yang menjadi medan tempur. Setiap kesalahan kecil yang ia pikir mungkin terjadi terasa seperti jebakan yang bisa dipantau, dicatat, dan diuji.
Ia menatap laporan di depannya, halaman-halaman penuh angka dan strategi, tetapi tidak ada kepastian. Semua ini bukan tentang benar atau salah. Semua tentang ketahanan mental, tentang bagaimana seseorang bereaksi di bawah tekanan diam yang sistematis.
Antono berdiri, menatapnya satu kali lagi, lalu pergi. Karina tetap duduk, merasakan kesunyian itu menempel pada tubuhnya. Jantungnya masih berdegup, tapi kini terasa seperti irama yang menyesakkan. Ia sadar: pelaku tidak hilang, dia sedang menunggu. Dan ia telah mempengaruhi Karina lebih dari yang ia sadari.
Ia menarik napas panjang, mencoba fokus. Tapi malam itu, kesadaran yang tidak nyaman merayap ke setiap sudut pikirannya. Suara langkah kaki yang hilang, bisikan yang samar, tatapan yang terasa menyelidik—semua mulai menyatu dalam kepalanya.
“Ini… semua ini,” gumamnya pelan, “bagian dari permainan mereka. Bagian dari metode mereka…”
Ia menyadari bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan pelaku. Ia berhadapan dengan diri sendiri, dengan ketakutan dan paranoia yang tumbuh diam-diam, hampir seperti makhluk hidup yang memakan ketenangannya dari dalam.
...----------------...
Malam sudah larut. Lampu di kantor sebagian besar mati. Hanya layar komputer Karina yang menyala, memantulkan wajah pucatnya di monitor. Ia masih duduk di kursi yang sama, memandangi laporan-laporan yang tampak menumpuk tapi tak pernah selesai.
Hening. Sunyi. Bahkan jam digital tidak terdengar seperti biasanya.
Karina menatap jendela, melihat bayangan kota di luar, namun tidak ada rasa lega. Malah ada tekanan yang lebih berat. Ia menyadari sesuatu yang menakutkan: bahwa pelaku, meski diam, berhasil membuatnya merasa terperangkap tanpa perlu bergerak.
Ia menutup laptop, menengadahkan kepala ke langit-langit. Napasnya berat, matanya lelah, tapi pikirannya tetap berputar tanpa henti.
“Kalau tidak ada korban baru… kenapa rasa bersalahku justru semakin berat?” bisiknya dalam hati, suara nyaris tenggelam di kesunyian malam.
Langkah kaki terdengar samar di lorong. Karina menoleh, tapi tidak ada siapa pun. Bayangan gelap di sudut ruangan terasa seperti menunggu, menonton, menilai. Ia tahu bukan bayangan itu yang menakutkan, tapi keheningan, ketidakpastian, dan kesadaran bahwa setiap kesalahan bisa jadi fatal.
Ia merasakan tangan gemetar saat menatap layar mati, dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Apakah aku masih bisa menjaga kewarasan… atau semuanya akan runtuh dari dalam sebelum terjadi apa-apa?”
...****************...
Hai semuanyaaa, aku alle, author novel ini, makasih banyak yang udah stay tuned sama novel ini, jadiiii aku mau nyepill nih visual dari tokoh-tokoh utama, yaitu Karina, Antono, dan Arga.
- Karina Intan
- Antono Wijaya
- Arga Suseno
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y