Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ms. Alice
Sinar matahari sore yang oranye kemerahan menyelinap masuk melalui celah gorden putih yang tertiup angin pelan, menciptakan bayangan panjang yang melantai di ruang UKS. Suasana begitu sunyi, hanya menyisakan detak jam dinding dan aroma tajam antiseptik serta minyak kayu putih yang memenuhi ruangan.
Ruangan itu sangat mewah untuk ukuran fasilitas sekolah ranjangnya empuk dengan sprei putih bersih, dan peralatan medis di sudut ruangan tertata rapi di dalam lemari kaca.
Perlahan, kelopak mata Greta bergetar. Dunianya terasa berputar, dan kepalanya berdenyut nyeri. Ia mencoba memfokuskan pandangan yang masih samar, hingga sosok seorang wanita dengan jas putih terlihat duduk di samping ranjangnya.
"Apakah kau sudah sadar, Greta?" tanya wanita itu dengan suara lembut.
Greta mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha membaca papan nama yang tersemat di dada wanita itu. Ms. Alice.
"Ms... Alice?" gumam Greta dengan suara parau.
"Ya, ini aku," Ms. Alice menghela napas lega, namun tatapannya terlihat prihatin. "Kamu mengalami kecelakaan tadi. Murid-murid yang melihatnya mengatakan bahwa kamu tergelincir saat menuruni tangga. Sepertinya kamu sangat kelelahan."
Ms. Alice membantu Greta untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal. Setiap gerakan membuat tulang belakang Greta terasa linu.
"Oh iya, tadi temanmu terlihat sangat khawatir sekali," lanjut Ms. Alice sembari merogoh kantong jas dokternya. "Dia menunggumu cukup lama dan menitipkan sepucuk surat ini jika kamu sudah bangun."
Greta menerima amplop kecil itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Greta berusaha memfokuskan matanya untuk membaca baris demi baris:
Greta, apakah kamu baik-baik saja? Maafkan aku, saat kamu terjatuh tadi, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadiannya begitu cepat. Aku langsung membawamu ke UKS secepat mungkin.
Tapi Greta... Norah dan Revelyn sudah berada di sini lebih dulu saat aku tiba. Mereka merangkai cerita kepada Ms. Alice, seolah-olah kamu terjatuh karena kesalahanmu sendiri yang tidak berhati-hati. Aku ingin membantah, tapi mereka sangat mengintimidasi.
Aku sempat menemanimu selama dua jam, tapi orang tuaku terus menelepon agar aku segera pulang. Maafkan aku harus meninggalkanmu dalam kondisi masih pingsan. Jika kamu sudah siuman, tolong segera kabari aku, ya!
Ini nomorku: +1 416-555-0192
— Clara
Greta meremas surat itu pelan. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sesak yang muncul saat menyadari betapa liciknya Norah dalam memutarbalikkan fakta, bahkan sebelum ia sempat membuka mata.
"Terima kasih, Bu. Langit sudah mau malam... aku harus pulang," ucap Greta merintih. Setiap sendi di tubuhnya terasa seolah dihantam benda tumpul, namun keinginan untuk pergi dari tempat itu jauh lebih kuat daripada rasa sakitnya. Ia berusaha beranjak dari ranjang, tangannya meraih tas punggung yang tergeletak di kursi samping.
Ms. Alice segera mendekat, raut wajahnya dipenuhi kecemasan. "Apakah kamu sudah baikan? Ada orang yang bisa dihubungi untuk menjemputmu? Kamu bisa pakai telepon genggamku," ucap Ms. Alice sambil memegang lengan Greta, membantunya berdiri agar tidak limbung.
Greta hanya terdiam, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu UKS yang mulai menyala. Ia perlahan mengenakan tas punggungnya, yang kini terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya.
"Biar Ibu hubungi orang tuamu. Apakah kamu tahu nomornya?" Ms. Alice mengeluarkan ponselnya, jemarinya sudah bersiap di atas layar.
Greta berhenti bergerak. Ia menatap Ms. Alice dengan pandangan yang kosong dan sayu. "Orang tua saya tidak ada, Bu. Saya di sini hanya tinggal sendirian..."
Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan menyesakkan. Ms. Alice seketika membeku, ponsel di tangannya terasa berat. Ia kehilangan kata-kata melihat gadis sekecil Greta harus memikul beban hidup yang begitu besar sendirian.
"Kalau begitu... saya pamit dulu ya. Terima kasih, Bu," ucap Greta sendu. Suaranya nyaris hilang ditelan keheningan. Ia berbalik dan bergerak perlahan ke arah pintu keluar UKS, langkahnya terseret-seret.
Ms. Alice hanya bisa terdiam mematung di tengah ruangan. Ia memperhatikan punggung ringkih itu menghilang di balik pintu, menyisakan keheningan yang menyakitkan di ruang medis tersebut.
Koridor sekolah yang tadinya megah kini terasa seperti terowongan panjang yang dingin dan tak berujung. Hanya ada suara lampu neon yang mendengung rendah dan bunyi langkah kaki Greta yang terseret pelan di atas lantai marmer. Ia sesekali harus bertumpu pada dinding, menahan nyeri di pinggang dan lututnya yang membiru akibat terjatuh tadi. Sekolah yang begitu luas ini terasa sangat asing dan menakutkan saat sepi seperti sekarang.
Setibanya di depan gerbang besi besar sekolah, Greta berhenti. Udara malam mulai menusuk kulitnya yang pucat. Ia menatap jalanan di depannya yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip. Rasa lelah, sakit fisik, dan kesepian yang mendalam tiba-tiba memuncak. Ia memejamkan mata erat-erat, meremas tali tasnya, dan mencoba menahan isak tangis agar tidak pecah di tengah kegelapan.
Pagi itu, langit nampak kelabu dan lembap, seolah mencerminkan suasana hati Greta yang masih dibayangi kejadian kemarin. Greta melangkah turun dari bus kota dengan bahu yang sedikit kaku. Saat ia berjalan menyusuri trotoar menuju gerbang megah sekolah barunya, cahaya matahari yang redup menyoroti beberapa plester medis yang menempel di punggung tangan dan dahi sebelah kirinya—bekas-bekas luka akibat "sambutan hangat" Norah dan kawan-kawannya di tangga kemarin.
Luka fisik itu berdenyut setiap kali ia bergerak, namun Greta mencoba mengabaikannya. Ia meremas tali tasnya erat-erat, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari kedua di lingkungan yang terasa asing dan dingin ini.
Tiba-tiba, suara deru mesin yang halus namun bertenaga memecah keheningan pagi. Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam metalik yang berkilau sempurna meluncur perlahan dan berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah. Mobil itu nampak seperti monster baja yang elegan, dengan velg krom yang memantulkan bayangan Greta yang terlihat kusam di sampingnya.
Seorang pria berseragam pengemudi turun dengan sigap dan membukakan pintu belakang. Dari dalam sana, muncul sosok Norah. Ia turun dengan keanggunan seorang ratu, mengenakan seragam sekolah yang sangat pas di tubuhnya, lengkap dengan perhiasan minimalis namun mahal. Rambutnya tertata sempurna, seolah tidak pernah tersentuh angin.
Norah berhenti sejenak, membenarkan letak kacamata hitamnya sebelum matanya yang tajam menangkap sosok Greta yang sedang berdiri di trotoar.
Greta berhenti melangkah. Wajahnya mengeras, dan rasa kesal yang tertahan mulai meluap di dadanya. Secara refleks, ia memegang lengan kanannya yang tertutup plester di balik seragamnya, seolah rasa perih di sana mendadak bangkit kembali saat melihat pelaku utamanya berdiri dengan sombong di sana. Ia menatap Norah dengan pandangan yang tidak lagi hanya berisi ketakutan, melainkan sebuah perlawanan diam yang tajam.
Norah hanya memberikan senyum miring yang meremehkan sebuah tatapan yang seolah berkata bahwa plester di tubuh Greta hanyalah aksesori baru yang layak ia dapatkan. Tanpa sepatah kata pun, Norah melangkah masuk melewati gerbang dengan dagu terangkat.
Greta menarik napas panjang, menekan rasa perih di lengannya, lalu memaksakan kakinya untuk terus melangkah. Ia masuk ke dalam gedung sekolah yang dingin itu, siap menghadapi apa pun "badai" yang sudah disiapkan Norah untuknya hari ini.
Sesampainya di lorong sekolah yang mulai ramai oleh kebisingan siswa, langkah Greta terhenti saat mendengar suara familier memanggil namanya. Di ujung koridor, terlihat Clara yang langsung melambaikan tangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia berlari kecil ke arah Greta, mengabaikan beberapa siswa lain yang berlalu-lalang.
"Greta! Bagaimana keadaanmu kemarin?" tanya Clara terengah-engah. Namun, kalimatnya terhenti seketika saat matanya tertuju pada plester medis yang menempel di dahi dan punggung tangan Greta. Wajah Clara berubah sendu. "Oh, astaga...."
Greta mencoba memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Aku tidak apa-apa, Clara. Maaf ya, aku tidak bisa menghubungimu kemarin... ada sedikit kendala," ucapnya.
Clara tidak bertanya lebih lanjut. Ia meraih tangan Greta, menggenggamnya dengan lembut seolah ingin menyalurkan kekuatan. Ia mengangguk kecil, memberikan tatapan yang seolah berkata bahwa ia akan selalu ada di pihak Greta.
"Ayo kita masuk, kelas akan dimulai sebentar lagi. Kita tidak ingin terlambat di jam pertama," ajak Clara.
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri lorong kelas yang panjang. Sesampainya di depan ruang kelas, Clara dengan penuh perhatian mengantarkan Greta sampai ke bangkunya, memastikan temannya itu duduk dengan nyaman sebelum suasana kelas benar-benar dimulai. Greta merasakan sedikit kehangatan di hatinya di tengah dinginnya sekolah ini, setidaknya ada Clara yang tulus mempedulikannya.
oke lanjut thor.. seru ceita nya