"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan di Sarang Ular
Malam perjamuan keluarga besar Arkananta tiba dengan suasana yang mencekam. Kediaman utama keluarga Arkananta bukan sekadar rumah; itu adalah sebuah mansion kolonial yang berdiri angkuh di pinggiran Jakarta, dikelilingi taman labirin dan penjagaan yang lebih ketat daripada kedutaan besar.
Alana menatap pantulan dirinya di cermin penthouse sebelum berangkat. Ia mengenakan gaun emerald green berbahan beledu yang menutup pundak, memberikan kesan elegan namun tetap sopan—pilihan yang Arkan klaim akan "menenangkan" amarah kakeknya. Cincin berlian biru di jari manisnya berkilau, namun bagi Alana, beratnya terasa seperti beban berton-ton.
"Ingat," suara Arkan terdengar dari arah pintu. Pria itu sudah rapi dengan setelan tuksedo abu-abu gelap. "Paman Wijaya akan mencoba memancingmu tentang saham properti, dan Bibi Sofia akan mencoba merendahkan seleramu. Jangan terpancing. Jika kamu merasa terdesak, pegang lenganku. Itu kodenya agar aku mengambil alih pembicaraan."
Alana mengangguk pelan. "Bagaimana jika mereka bertanya tentang masa kecilku sebagai 'bangsawan'?"
"Gunakan cerita yang sudah kubuat di map kemarin. Kamu tumbuh di asrama Inggris, keluargamu tertutup, dan kamu tidak suka membicarakan masa lalu karena trauma kebangkrutan. Itu alasan yang paling aman," Arkan berjalan mendekat, merapikan anak rambut Alana yang terlepas. "Wajahmu pucat. Jangan biarkan mereka melihat ketakutanmu."
Begitu mereka tiba di perjamuan, Alana merasa seperti seekor domba yang berjalan masuk ke kandang serigala. Meja makan panjang itu terbuat dari kayu jati kuno, di atasnya tersedia peralatan makan perak yang mengkilap. Kakek Arkan, sang patriark, duduk di ujung meja dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Duduklah," perintah Sang Kakek.
Di samping kiri Arkan duduk Bibi Sofia, wanita paruh baya dengan riasan setebal tembok yang sejak awal menatap Alana dengan pandangan menghina. Di sampingnya adalah sepupu Arkan, Kevin, yang dikenal sebagai rival utama Arkan dalam memperebutkan posisi pewaris tunggal.
"Jadi, Alana..." Bibi Sofia membuka suara saat hidangan pembuka disajikan. "Arkan bilang kamu lulusan sastra di Inggris. Aneh sekali, aku sering ke London, tapi tidak pernah mendengar nama keluarga 'Wiryodinoto' di kalangan sosialita sana. Padahal katamu keluargamu cukup terpandang sebelum bangkrut?"
Jantung Alana berdegup kencang. Ia teringat instruksi Arkan. "Keluarga saya memang sangat tertutup, Bibi Sofia. Ayah saya lebih suka menghabiskan waktu di perkebunan kami di Jawa Tengah daripada di pesta-pesta London. Kebangkrutan itu membuat kami semakin menarik diri."
"Sangat praktis," sahut Kevin sambil tersenyum miring. "Identitas yang sulit dilacak biasanya adalah identitas yang palsu. Bukankah begitu, Arkan?"
Arkan meletakkan garpunya dengan dentingan yang pelan namun penuh penekanan. "Kevin, jika kamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk riset pasar daripada riset gosip, mungkin divisi propertimu tidak akan merugi bulan lalu."
Wajah Kevin memerah. Suasana meja makan menjadi tegang. Namun, Kakek Arkan tiba-tiba bersuara.
"Cukup. Alana, aku tidak peduli siapa kakekmu atau dari mana asalmu. Yang kupeduli adalah kegunaanmu bagi Arkan. Arkananta Group butuh citra yang stabil. Pernikahan ini harus dilakukan bulan depan."
Bulan depan?! Alana hampir tersedak air yang tengah diminumnya. Kontraknya mengatakan satu tahun untuk status tunangan, tapi kakeknya ingin mempercepat segalanya.
"Kakek, bukankah itu terlalu cepat?" tanya Arkan, suaranya tetap tenang meski Alana bisa merasakan otot lengan Arkan yang ia pegang menegang.
"Lebih cepat lebih baik. Dan selama masa persiapan, Alana harus tinggal di mansion ini. Dia perlu dididik oleh Sofia agar tahu cara menjadi istri seorang Arkananta," putus Sang Kakek.
Alana menatap Arkan dengan panik. Tinggal di sini? Itu artinya ia akan diawasi 24 jam. Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan Elena yang sedang bersembunyi?
"Dia akan tetap tinggal bersamaku di penthouse," tegas Arkan. "Pekerjaannya sebagai sekretaris pribadiku masih sangat dibutuhkan."
"Sejak kapan seorang sekretaris lebih penting daripada pendidikan calon istri?" sahut Bibi Sofia tajam. "Atau jangan-jangan... ada sesuatu yang kalian sembunyikan di penthouse itu?"
Sebelum perdebatan berlanjut, seorang pelayan mendekat dan membisikkan sesuatu pada Kakek Arkan. Sang Kakek mengernyit, lalu menatap Alana dengan pandangan yang aneh.
"Ada seseorang di depan gerbang. Dia mengaku sebagai saudaramu dan membawa dokumen penting," ucap Sang Kakek dengan nada penuh selidik.
Darah seolah hilang dari wajah Alana. Elena. Siapa lagi kalau bukan kakaknya yang nekat itu?
"Suruh dia masuk," perintah Kakek.
"Kakek, ini acara keluarga pribadi—" Arkan mencoba menghentikan, namun Sang Kakek mengangkat tangannya.
Pintu besar ruang makan terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Dia mengenakan pakaian yang lusuh, sangat kontras dengan kemewahan di ruangan itu. Dia adalah Elena, namun dia tampak jauh lebih buruk daripada saat di rumah sakit tadi siang.
"Alana..." panggil Elena dengan suara parau. Ia tidak menyadari bahwa di ruangan itu ada Arkan dan keluarganya. "Tolong aku... mereka menemukanku. Pria-pria itu... mereka tahu tentang bayinya..."
Keheningan yang mematikan jatuh di ruang makan. Bibi Sofia berdiri dengan mata berbinar kemenangan. "Bayi? Saudara? Arkan, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Alana berdiri, kakinya terasa seperti jeli. Ia menatap Elena yang kini jatuh terduduk di lantai sambil menangis. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama beberapa jam terakhir meledak tepat di depan orang-orang yang paling ingin menghancurkannya.
Arkan berdiri, wajahnya benar-benar seperti batu. Ia tidak menatap Elena, melainkan menatap Alana. Tatapan itu penuh dengan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan. Arkan benci pengkhianatan, dan Alana baru saja membiarkan sebuah bom meledak di tengah-tengah rencananya.
"Siapa wanita ini, Alana?" tanya Kakek Arkan dengan suara menggelegar.
"Dia... dia kakakkku," bisik Alana. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Tolong, biarkan aku menjelaskannya."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Kevin tertawa keras. "Ternyata calon pengantin pilihan Arkan hanyalah seorang penipu dengan keluarga yang berantakan. Bayi? Luar biasa. Skandal ini akan menghancurkan saham perusahaan jika sampai keluar."
Arkan berjalan mendekati Elena, lalu memberi isyarat pada pengawalnya. "Bawa wanita ini ke ruang bawah tanah. Pastikan dia tidak bicara pada siapa pun."
Lalu, Arkan berbalik menghadapi kakeknya. "Beri aku waktu satu jam. Aku akan menyelesaikan ini."
"Satu jam, Arkan. Jika dalam satu jam kamu tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal kenapa wanita ini tidak boleh diseret ke polisi, maka kontrak pertunangan ini batal, dan kamu tahu konsekuensinya bagi posisimu di perusahaan," ucap Sang Kakek dengan nada dingin.
Arkan menyambar pergelangan tangan Alana, menyeretnya keluar dari ruang makan menuju sebuah ruangan kedap suara di lantai dua. Begitu pintu tertutup, Arkan menghempaskan tangan Alana dengan kasar.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?!" suara Arkan tidak lagi dingin; itu adalah ledakan amarah. "Aku sudah bertanya padamu berkali-kali! Aku memberimu kesempatan untuk jujur!"
"Aku takut, Arkan! Aku takut kamu akan menghentikan operasi ibuku jika tahu Elena kembali dalam keadaan hamil dan bermasalah!" isak Alana. "Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku!"
"Dan dengan diam, kamu baru saja menghancurkan semuanya!" Arkan meninju dinding di samping kepala Alana, membuat gadis itu terlonjak. "Kakekku tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja. Sekarang, Elena ada di tangannya. Satu kata salah dari mulut Elena, dan kita berdua akan tamat."
Alana jatuh berlutut, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Maafkan aku... tolong, jangan sakiti Elena. Dia hanya ketakutan."
Arkan menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai dalam dirinya. Ia menatap Alana yang tampak begitu hancur. Di satu sisi, ia ingin menghukum gadis ini, tapi di sisi lain, melihat Alana bersimpuh seperti itu membangkitkan insting protektif yang seharusnya tidak ia miliki.
Arkan berjongkok di depan Alana, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Dengar baik-baik. Ini adalah kesempatan terakhirmu. Aku akan membuat cerita bahwa Elena adalah saudara jauhmu yang menderita gangguan mental dan sedang berhalusinasi tentang bayi itu. Kamu harus mendukung cerita itu, apa pun yang terjadi. Paham?"
"Tapi bagaimana dengan bayinya? Dia benar-benar hamil, Arkan."
"Aku akan mengurusnya. Dia akan dikirim ke panti rehabilitasi milik keluarga di luar kota malam ini juga. Dia akan aman di sana, tapi dia tidak boleh muncul lagi di depan publik sebagai saudara kembarmu."
"Kamu... kamu mau membantunya?" Alana menatap Arkan dengan tidak percaya.
"Aku tidak membantunya. Aku menyelamatkan posisiku," ucap Arkan ketus, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia melakukannya karena ia tidak tahan melihat Alana menderita. "Sekarang hapus air matamu. Pakai topeng 'bangsawannmu' kembali. Kita punya waktu tiga puluh menit untuk meyakinkan ular-ular di bawah sana."
Alana mengangguk lemah. Ia menyadari satu hal: di dunia Arkananta, kejujuran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli. Dan meskipun Arkan menyelamatkannya kali ini, hutang budinya pada sang Iblis kini menjadi jauh lebih besar. Ia bukan lagi sekadar tunangan kontrak; ia adalah tawanan dari rahasia yang ia ciptakan sendiri.