Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kepulangan Sang Singa Yang Lapar
Pagi pertama setelah kepergian Erlaga untuk tugas, di rumah besar itu tidak sesunyi hari pertama. Syafina sedang menyeduh teh di dapur ketika suara ketukan di gerbang dan sapaan ramah terdengar dari luar. Benar saja, Erlaga tidak pernah ingkar janji. Di depan gerbang, berdiri seorang wanita paruh baya dengan senyum yang sangat tulus, menjinjing tas kain besar.
"Punten, Neng Syafina? Saya Bi Imas, saudaranya Bi Dasim yang dipiwarang sama Bapak Kapten buat nemenin Neng di sini," sapa wanita itu dengan logat Sunda yang kental.
Syafina bernapas lega. Rasa was-was yang menghantuinya semalam seketika menguap. "Aduh, Bibi... mari masuk. Saya senang sekali Bibi datang. Kak Laga memang bilang mau kirim orang, tapi saya nggak nyangka secepat ini."
Kehadiran Bi Imas membawa nyawa baru di rumah pribadi Erlaga. Syafina tidak lagi merasa seperti tawanan di rumah sendiri. Sambil mengerjakan draf skripsinya, sayup-sayup ia mendengar suara sapu lidi di halaman dan aroma masakan rumahan yang mulai memenuhi ruangan.
Bi Imas adalah tipe ART yang cekatan namun tahu batasan, ia tidak banyak bicara jika tidak ditanya, namun sangat perhatian pada kenyamanan Syafina.
"Neng, Bapak Kapten itu orangnya keras di luar, tapi kelihatannya sayang pisan sama Neng ya. Tadi sebelum saya ke sini, ajudannya nelepon berkali-kali mastiin saya sudah sampai apa belum," cerita Bi Imas sambil mengulek sambal di dapur.
Syafina tersenyum kecil. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Erlaga, meski di tengah hutan dan sibuk dengan taktik tempur, tetap memastikan keamanannya sampai sedetail itu. Namun, tetap saja, kehadiran Bi Imas hanya mengobati rasa takut, bukan rasa rindu.
Akhirnya hari ketiga tiba. Syafina bolak-balik melihat jam di dinding. Sejak subuh, ia sudah sibuk menata diri. Ia memilih daster terbaiknya yang berwarna merah jambu dengan bahan yang lembut, menyisir rambutnya hingga rapi, dan memakai parfum yang paling disukai Erlaga.
"Neng, itu ada suara mobil di depan!" seru Bi Imas dari arah ruang tamu.
Syafina hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia berlari kecil menuju pintu depan. Sebuah mobil berwarna navy berhenti, dan perlahan pintu kemudi terbuka. Sosok gagah nan rupawan dengan seragam loreng yang penuh debu dan bercak tanah turun dari sana. Wajah Erlaga terlihat lelah, ada bayangan hitam di bawah matanya, namun begitu melihat Syafina berdiri di teras, wajah lesu itu seketika berganti dengan binar yang buas.
Erlaga melangkah lebar, mengabaikan ransel besarnya yang masih ada di bagasi. Begitu sampai di depan Syafina, tanpa mempedulikan Bi Imas yang berdehem pelan di balik pintu, Erlaga langsung menyambar pinggang Syafina dan mengangkat dan membawanya berputar.
"Kak... turunin! Malu ada Bi Imas," cicit Syafina, meski tangannya melingkar erat di leher suaminya.
"Kakak nggak peduli. Tiga hari di hutan rasanya mau gila kepikiran kamu terus," gumam Erlaga. Suaranya serak dan berat, menandakan betapa ia menahan rindu yang luar biasa.
Ia menurunkan Syafina, namun tidak melepaskan pelukannya. Erlaga menghirup dalam-dalam aroma rambut Syafina, seolah aroma itu adalah oksigen yang ia butuhkan setelah tiga hari menghirup bau mesiu dan tanah basah.
Setelah mandi dan membersihkan diri dari sisa-sisa latihan, Erlaga duduk di meja makan. Bi Imas sudah menyiapkan masakan spesial, ayam goreng lengkuas dan sayur asem. Namun, mata Erlaga tidak benar-benar tertuju pada makanan. Matanya terus mengekor ke mana pun Syafina bergerak mengambilkan nasi atau menuangkan air.
Syafina yang merasa diperhatikan dengan intens seperti itu menjadi salah tingkah. "Kak, makan dulu. Katanya lapar."
"Memang lapar, tapi bukan lapar ingin makan," sahut Erlaga dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Syafina meremang.
Selesai makan, Erlaga langsung memberikan kode pada Bi Imas untuk beristirahat di kamar belakang. Begitu suasana rumah kembali sepi hanya milik mereka berdua, Erlaga menarik tangan Syafina menuju ruang tengah. Ia mendudukkan Syafina di pangkuannya, mengabaikan jarak yang biasanya masih membuat Syafina malu-malu.
"Kamu tahu, Sayang? Tadi pas simulasi serangan, yang ada di kepala Kakak cuma satu, cepat selesai, cepat pulang, terus peluk kamu kayak begini," bisik Erlaga sambil mengecupi telinga Syafina.
"Pasti sedang gombal," sahut Syafina, namun ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Erlaga.
"Bukan gombal. Ini fakta. Tiga hari nggak dengar suara kamu, nggak lihat wajah kamu... rasanya lebih berat daripada lari sepuluh kilo bawa beban dua puluh kilo."
Tangan Erlaga yang kasar karena latihan tempur mulai bergerak agresif, meraba punggung Syafina dan menariknya semakin merapat ke dada bidangnya. Sorot mata Erlaga saat ini benar-benar menyerupai singa yang sudah lama tidak mendapatkan mangsa. Ada gairah yang meledak-ledak di sana.
Erlaga tidak menunggu lama. Ia kembali menggendong Syafina menuju kamar utama mereka. Begitu pintu ditutup, segalanya menjadi milik mereka berdua. Tidak ada lagi Kapten yang tegas, yang ada hanyalah seorang suami yang haus akan kasih sayang istrinya.
"Kak Laga... pelan-pelan," pinta Syafina saat Erlaga mulai menghujaninya dengan ciuman yang menuntut.
"Nggak bisa, Sayang. Kakak sudah menahan ini terlalu lama," gumam Erlaga di sela-sela ciumannya.
Malam itu menjadi saksi betapa romantisnya hubungan mereka kembali menyatu. Erlaga memperlakukan Syafina dengan kelembutan seorang pecinta dan dominasi seorang perwira. Ia seolah ingin mengganti setiap detik kesunyian yang dirasakan Syafina selama tiga hari kemarin dengan kehadirannya yang utuh.
Di sela-sela penyatuan mereka, Erlaga berkali-kali membisikkan kata-kata cinta yang membuat hati Syafina luluh. "Terima kasih sudah menunggu Kakak pulang. Terima kasih sudah menjadi rumah buat Kakak."
Syafina hanya bisa membalas dengan pelukan yang tak kalah erat. Ia menyadari, bahwa meski tugas negara seringkali merenggut suaminya untuk sementara, namun saat Erlaga kembali, ia akan selalu menjadi prioritas utama. Singa lapar ini telah kembali ke kandangnya, dan Syafina dengan senang hati menjadi pelabuhan terakhir bagi segala lelah dan rindu sang Kapten.
Keesokan paginya, suasana rumah kembali hangat. Syafina terbangun dengan posisi yang sama, dalam dekapan erat Erlaga. Ia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas dengan sisa senyum di bibir. Syafina tahu, badai rindu mungkin akan datang lagi nanti, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati setiap detik kemesraan ini sebelum tugas negara kembali memanggil sang singa.
Punten ; permisi
Dipiwarang ; disuruh
Pisan ; Banget, sangat