(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Arena Utama Sekte Awan Rusak – Babak Semi-Final.
Matahari sore menyinari arena yang kini penuh noda darah dan bekas hangus. Dari ratusan peserta, hanya tersisa empat orang.
Ye Xing (Kuda Hitam)
Chen Feng (Si Kilat - Peringkat 3)
Fang Que (Jenius Iblis - Peringkat 1)
Seorang Murid Senior Acak (Peringkat 4 - Tumbal Fang Que)
"Pertandingan Semi-Final Pertama: Ye Xing vs Chen Feng!"
Chen Feng melompat ke arena dengan ringan seperti kapas. Dia mengenakan jubah hijau muda yang ketat, membawa dua belati kembar. Kakinya dibalut perban angin.
"Ye Xing," kata Chen Feng sambil memutar-mutar belatinya. "Aku akui kau kuat. Kau punya tenaga monster. Tapi di dunia bela diri, kecepatan adalah raja. Pedang peti matimu itu tidak akan pernah bisa menyentuh ujung jubahku."
Ye Xing berjalan naik tangga dengan santai, langkahnya berat berdebum. Dia mencabut Pedang Tulang Naga Hitam dari punggungnya, lalu menancapkan ujung tumpulnya ke lantai batu.
KRAK.
Lantai retak hanya karena berat pedang itu.
"Kecepatan adalah raja?" Ye Xing tersenyum tipis. "Itu kata-kata nyamuk sebelum dipukul."
"Sombong!" Chen Feng menghentakkan kakinya.
[Langkah Bayangan Angin!]
WUSH!
Chen Feng menghilang.
Penonton hanya bisa melihat kilatan hijau berputar mengelilingi Ye Xing. Satu menjadi dua, dua menjadi empat. Dalam sekejap, ada delapan bayangan Chen Feng yang mengepung Ye Xing dari segala arah.
"Mati!"
Delapan bayangan itu menyerang serentak. Belati mereka mengarah ke titik vital Ye Xing: mata, leher, jantung, ginjal.
Ye Xing berdiri diam. Dia tidak mengangkat pedangnya untuk menangkis. Dia bahkan memejamkan mata.
"Dia menyerah?" "Dia tidak bisa melihat serangannya!"
Tapi di dalam kegelapan matanya, Mata Bintang Ye Xing melihat segalanya. Dia melihat aliran udara yang terganggu. Dia melihat satu tubuh asli di antara tujuh ilusi optik.
Tepat saat belati Chen Feng berjarak sepuluh sentimeter dari lehernya, Ye Xing membuka mata. Pupil emasnya bersinar.
Dia tidak mengayunkan pedang. Dia menekan gagang pedang yang tertancap di tanah itu ke bawah, menyalurkan Qi-nya ke dalam bumi.
[Domain Berat: Zona Gravitasi 10x!]
BOOM.
Bukan suara ledakan api, tapi suara tekanan udara yang runtuh.
Tiba-tiba, seluruh debu di arena jatuh ke tanah seketika.
"UGH!"
Di udara, Chen Feng yang sedang melesat cepat merasakan tubuhnya yang tadinya seringan bulu mendadak seberat batu besar. Momentum kecepatannya menjadi bumerang.
Chen Feng jatuh dari udara, wajahnya menghantam lantai arena dengan keras tepat di depan kaki Ye Xing.
BRAK!
"Argh... Kakiku..." Chen Feng mengerang. Tulang keringnya retak karena hantaman momentumnya sendiri. Dia mencoba bangun, tapi rasanya ada gunung tak terlihat yang menindih punggungnya.
Tujuh bayangan ilusi lainnya lenyap seketika.
Ye Xing menunduk, menatap Chen Feng yang menempel di lantai seperti cicak.
"Kau benar. Aku lambat," kata Ye Xing santai. "Tapi masalahnya, di dalam wilayahku... kau juga tidak bisa lari."
Ye Xing mengangkat pedang besarnya, lalu menjatuhkannya pelan ke samping kepala Chen Feng.
DUM!
Lantai di samping telinga Chen Feng hancur berantakan. Getarannya membuat Chen Feng pingsan karena ketakutan.
"Pemenang... Ye Xing!" wasit mengumumkan dengan suara gemetar.
Ye Xing menang tanpa melangkah satu pun dari posisi awalnya.
Penonton terdiam, lalu bersorak gila-gilaan. Dominasi macam apa ini?!
Pertandingan Semi-Final Kedua: Fang Que vs Murid Senior.
Pertandingan ini berlangsung sangat singkat dan mengerikan.
Lawan Fang Que, mengetahui nasib Li Kuang sebelumnya, berniat langsung menyerah begitu gong berbunyi.
"Aku menye—"
SRET.
Sebelum kata "rah" keluar, Fang Que sudah ada di depannya. Tangan pucat Fang Que menembus dada murid itu bukan melubangi, tapi menembus secara non fisik dan mencengkeram jantungnya.
"Terlalu lambat," bisik Fang Que.
Dia menyedot sedikit esensi darah lawannya, cukup untuk membuat orang itu pingsan dan koma berbulan-bulan, tapi tidak mati (agar tidak didiskualifikasi). Fang Que melempar tubuh lawannya keluar ring seperti sampah.
"Pemenang... Fang Que!"
Kini, panggung telah siap.
Matahari mulai terbenam, menciptakan langit merah darah di atas Sekte Awan Rusak.
Ye Xing berdiri di satu sisi arena. Fang Que berdiri di sisi lain.
Dua monster muda saling bertatapan.
Satu membawa warisan Dewa Bintang. Satu membawa warisan Raja Void.
"Akhirnya," kata Fang Que, suaranya diperkuat Qi sehingga terdengar ke seluruh stadion. "Hidangan utamaku sudah siap."
Ye Xing mencabut pedang besarnya, mengarahkannya lurus ke wajah Fang Que.
"Makanlah kalau bisa," tantang Ye Xing. "Tapi hati-hati, dagingku keras. Kau bisa tersedak dan mati."
Tetua Han mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"FINAL TURNAMEN WILAYAH! YE XING LAWAN FANG QUE! MULAI!"
GONG!
Suara gong terakhir itu bukan hanya penanda duel, tapi penanda dimulainya bencana yang akan meruntuhkan langit sekte kecil ini.