NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Didunia Tanpa Jarum

Keheningan adalah hal pertama yang Kala rasakan. Bukan keheningan hampa yang menakutkan seperti di dimensi Pemulih, melainkan keheningan pagi yang damai—jenis kesunyian yang hanya bisa kamu temukan saat dunia baru saja terbangun dari mimpi panjang.

Kala membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat bukan lagi langit ungu atau mata raksasa Dewan Realitas. Ia melihat langit-langit kamar berwarna putih gading dengan tekstur semen yang halus. Bau kopi yang baru diseduh dan aroma roti panggang merayap masuk ke indra penciumannya.

Ia mencoba duduk. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk di pergelangan tangannya. Ia melihat tangan kirinya. Bersih. Tidak ada bekas luka, tidak ada luka bakar mekanis, tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah mesin waktu pernah tertanam di sana.

"Sudah bangun?"

Kala tersentak. Di ambang pintu kamar, berdiri Arumi. Ia mengenakan kemeja kebesaran dan celana kain santai. Rambutnya sedikit berantakan, dan di tangannya ada dua cangkir keramik yang mengepulkan uap.

Kala terpaku. Ia menatap Arumi seolah-olah gadis itu adalah hantu. "Arumi? Kita... kita di mana?"

Arumi berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang, dan menyerahkan salah satu cangkir itu kepada Kala. "Kita di rumah, Kala. Di tempat yang kamu buat."

Kala menyesap kopinya. Rasanya pahit, manis, dan nyata. "Detik ke-603?"

Arumi mengangguk sambil tersenyum tipis. "Garis waktu yang kamu ciptakan saat kamu menghantam menara itu. Dewan Realitas tidak bisa menemukan kita di sini karena tempat ini tidak berjalan berdasarkan hukum mereka. Di sini, waktu tidak mengalir seperti sungai yang lurus, tapi seperti danau. Kita bisa memilih untuk tinggal di momen mana pun yang kita mau."

Kala meletakkan cangkirnya dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengakses ingatannya. Ia memikirkan nama ibunya: Dewi. Ia memikirkan rasa es krim favoritnya: Pistachio. Ia memikirkan alasan kenapa Arumi menangis saat ulang tahunnya yang ke-17.

Semuanya ada di sana. Lengkap. Utuh. Tanpa ada satu pun kepingan yang hilang.

"Aku ingat semuanya, Arumi," bisik Kala. Suaranya pecah oleh emosi yang meluap. "Aku ingat saat pertama kali aku melihatmu di perpustakaan. Kamu pakai pita biru, dan kamu sedang marah-marah karena rak bukunya terlalu tinggi."

Arumi tertawa kecil, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Dan kamu datang sok pahlawan, padahal kamu sendiri hampir menjatuhkan rak itu."

Kala menarik Arumi ke dalam pelukannya. Rasa hangat tubuh gadis itu, detak jantungnya, dan wangi parfum vanilanya terasa begitu nyata hingga Kala takut untuk berkedip. Ia takut jika ia berkedip, semua ini akan menghilang dan ia akan kembali terjatuh di gang sempit yang becek di Jakarta.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan melintas di jendela kamar mereka.

Kala melepaskan pelukannya dan berjalan menuju jendela. Ia menyibakkan tirai dan tertegun. Di luar sana, dunianya tampak seperti Jakarta, tapi ada yang berbeda. Gedung-gedung tinggi berdiri berdampingan dengan hutan tropis yang lebat. Kendaraan melayang tanpa suara di antara pepohonan. Dan yang paling aneh, di tengah kota itu, Menara Jam tak berjarum yang ia lihat di Detik ke-602 berdiri dengan megahnya, memancarkan cahaya biru lembut ke seluruh penjuru langit.

"Indah, kan?" Arumi berdiri di sampingnya. "Tapi ada harganya, Kala."

Kala menoleh. "Apa harganya?"

"Dunia ini stabil hanya selama kita berdua ada di dalamnya," Arumi menatap Menara Jam itu. "Kita adalah 'baterai' untuk realitas ini. Jika salah satu dari kita pergi, atau jika kita berhenti saling mencintai, dunia ini akan mulai retak lagi."

Kala mengerutkan kening. "Maksudmu, kita tidak bisa keluar dari sini?"

"Kita bisa keluar," suara lain menyahut dari arah ruang tamu.

Kala dan Arumi keluar dari kamar. Di sana, duduk Vera. Ia tidak lagi berbentuk glitch digital atau hantu mesin. Ia tampak seperti manusia biasa, mengenakan pakaian laboratorium putih yang bersih. Ia sedang sibuk mengutak-atik sebuah perangkat kecil yang mirip dengan jam saku Kala yang dulu.

"Vera? Kamu juga ikut terbawa?" tanya Kala.

"Aku yang membantu menstabilkan frekuensinya saat kamu menghantam menara itu, Bodoh," ujar Vera tanpa menoleh, tapi ada nada lega di suaranya. "Kala, kamu tidak hanya membuat dimensi baru. Kamu meretas sistem operasi alam semesta. Tapi jangan senang dulu. Dewan Realitas belum menyerah. Mereka tidak bisa masuk ke sini secara fisik, tapi mereka mengirimkan 'Gema'."

"Gema?"

"Sisa-sisa memori buruk yang pernah kamu buang," Vera berdiri dan menunjukkan layar perangkatnya. "Pria tua itu... dia belum benar-benar hilang. Dia adalah manifestasi dari rasa bersalahmu. Dia akan terus mencoba meyakinkanmu bahwa dunia ini palsu, bahwa Arumi hanya imajinasimu."

Tepat saat Vera bicara, langit di luar mendadak berubah gelap. Mata raksasa itu tidak muncul, tapi awan mulai membentuk wajah si Pria Tua yang tersenyum sinis.

"Kala... apa kamu benar-benar yakin ini nyata?" suara itu bergema dari segala arah, membuat kaca-kaca jendela bergetar. "Atau ini hanya memori terakhir yang diberikan otakmu sebelum kamu mati di reruntuhan gedung itu?"

Kala mencengkeram pinggiran meja. Keraguan mulai merayap di hatinya. Benarkah ini nyata? Ataukah ini hanya simulasi indah yang diciptakan jam sakunya di detik-detik terakhir hidupnya?

Arumi menggenggam tangan Kala. "Jangan dengarkan dia, Kala. Rasakan tanganku. Ini nyata."

"Vera, bagaimana cara menghentikan Gema ini?" tanya Kala tegas.

"Hanya ada satu cara," Vera menatap Kala dengan serius. "Kamu harus menghancurkan sisa-sisa Chronos-10 yang masih ada di dalam jiwamu. Kamu harus benar-benar melepaskan keinginan untuk mengontrol waktu. Kamu harus membiarkan waktu mengalir secara alami, meskipun itu artinya kita semua bisa menua dan mati."

Kala melihat ke arah tangannya yang bersih. Ia menyadari bahwa meski jamnya hilang, mentalitasnya masih mentalitas seorang pencuri waktu. Ia selalu ingin mengamankan hari esok.

"Lakukan," ujar Kala. "Hancurkan sistemnya. Aku tidak butuh keabadian. Aku hanya butuh kenyataan."

Vera mengangguk. Ia menekan tombol pada perangkatnya.

KRIIIIIIING!

Suara alarm yang sangat keras memekakkan telinga. Menara jam di tengah kota mulai berputar. Tapi kali ini, jarum-jarumnya muncul. Satu jarum panjang, satu jarum pendek, dan satu jarum detik yang tipis.

Jarum detik itu mulai bergerak. Tik. Tok. Tik. Tok.

Seketika, dunia di sekitar mereka mulai menua. Cat di dinding mulai sedikit mengelupas. Daun-daun di pohon mulai berguguran. Arumi menarik napas panjang, wajahnya tampak lebih hidup karena sekarang ia memiliki masa depan yang tidak pasti.

"Waktunya dimulai sekarang, Kala," bisik Vera. "Selamat datang di kehidupan yang sebenarnya."

Namun, di saat jarum detik itu bergerak ke angka dua belas, pintu apartemen mereka diketuk dengan keras.

Kala membukanya, dan ia terpaku. Di sana berdiri seorang pria paruh baya dengan topi kumal—sopir taksi dari Bab 2. Tapi kali ini, ia menyerahkan sebuah amplop hitam.

"Surat dari Dewan, Mas," ujar sopir itu dengan nada datar. "Mereka bilang, 'Selamat atas eksperimennya. Mari kita lihat seberapa lama cinta bisa bertahan dalam waktu yang bergerak'."

Kala mengambil amplop itu. Di dalamnya bukan berisi ancaman, melainkan sebuah foto bayi yang baru lahir dengan tanda lahir berbentuk jam di bahunya.

Kala menatap Arumi dengan ngeri. "Arumi... kelihatannya permainan ini belum benar-benar berakhir."

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!