cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20
Harry tidak banyak mengirim pesan. Hanya satu atau dua kalimat singkat setiap hari.
sudah makan
minum obat
jangan pulang malam
Tidak ada tuntutan. Tidak ada kalimat panjang. Seolah ia sengaja menjaga jarak agar Aura tidak merasa tertekan.
Hari ketiga, Aura memutuskan kembali ke kampus. Fakultas terlihat ramai seperti biasa. Ia berjalan pelan menyusuri koridor, beberapa mahasiswa melirik sekilas. Bukan karena ia sakit. Tapi karena ia dikenal sebagai gadis yang disukai Harry.
Putri berdiri tak jauh dari tangga, sedang berbincang dengan temannya. Ia melirik Aura sekilas lalu berbisik kecil, cukup terdengar samar.
“Itu Aura ya? Yang katanya disukain Harry.”
Temannya mengangguk. “Iya, katanya dia sempat sakit.”
Putri tidak pernah benar-benar mengenal Aura. Mereka hanya satu fakultas. Tidak satu kelas. Tidak satu lingkaran pertemanan. Putri hanya tahu namanya dari cerita yang beredar dan dari cara Harry kadang terlihat berbeda saat menyebutnya.
Aura tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan seperti itu.
Saat jam istirahat, Aura berdiri sendirian di balkon lantai dua. Angin siang meniup rambut panjangnya pelan. Ia menyukai tempat itu karena cukup sepi. Ia bisa berpikir tanpa suara orang lain.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Aku kira kamu masih di rumah.”
Aura langsung mengenali suara itu. Ia menoleh dan mendapati Harry berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya terlihat sedikit lega.
“Aku udah baikan,” jawab Aura tenang.
Harry menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan masih capek.”
“Aku cuma nggak mau ketinggalan.”
Harry mengangguk kecil. Ia tidak berdiri terlalu dekat, seolah masih menjaga batas yang dulu Aura minta.
Beberapa detik hanya ada angin dan suara mahasiswa dari kejauhan.
“Aku nggak maksa kamu buat cepat sembuh,” ucap Harry pelan. “Tapi jangan paksa diri juga.”
Aura menatap ke depan. “Kamu selalu begitu.”
“Begitu gimana?”
“Selalu tenang. Seolah nggak ada yang berubah.”
Harry tersenyum tipis. “Kalau aku berubah, kamu makin jauh.”
Jawaban itu membuat Aura terdiam. Ia sadar selama ini justru dirinya yang terus menghindar saat keadaan terasa terlalu dekat.
Dari ujung balkon, Putri tanpa sengaja melihat mereka. Ia memperhatikan sekilas, lalu berbisik pada temannya lagi.
“Seriusan dia cuma sama Aura begitu.”
Temannya tertawa kecil. “Makanya banyak yang bilang Harry beda kalau urusan dia.”
Aura tidak mendengar percakapan itu. Tapi ia bisa merasakan bagaimana tatapan orang-orang sering kali terasa berat di punggungnya.
“Aku nggak suka jadi bahan omongan,” katanya pelan tanpa menatap Harry.
Harry memahami arah pembicaraannya. “Karena aku?”
Aura mengangguk kecil.
Harry menarik napas pelan. “Aku nggak bisa atur orang lain buat diam. Tapi aku bisa pastiin kamu nggak sendirian hadapin itu.”
Aura menoleh menatapnya. Ada keseriusan yang berbeda di wajah Harry hari ini. Bukan hanya tentang rasa. Tapi tentang pilihan.
“Aku nggak mau kamu merasa harus jaga jarak cuma karena orang lain,” lanjut Harry.
“Aku bukan jaga jarak karena mereka,” jawab Aura lirih. “Aku jaga jarak karena aku takut.”
Harry tidak langsung bertanya takut apa. Ia tahu Aura tidak suka ditekan.
Bel berbunyi. Suasana balkon mulai sepi. Aura hendak masuk, tapi Harry berkata lagi, suaranya rendah dan jelas.
“Aku nggak pernah anggap kamu beban. Dan aku nggak pernah malu nunjukin kalau aku suka kamu.”
Jantung Aura berdetak lebih cepat.
Ia melangkah masuk kelas dengan perasaan yang jauh lebih rumit. Di dalam ruangan, beberapa mahasiswa masih membicarakan hal lain. Putri duduk di deretan belakang, sesekali melirik Aura tanpa benar-benar berinteraksi.
Sepulang kuliah, langit tiba-tiba mendung. Hujan turun deras saat Aura hampir sampai gerbang. Ia berdiri di bawah atap, memandangi jalan yang mulai basah.
Motor berhenti di depannya.
Harry membuka helmnya. “Naik. Hujannya nggak bakal cepat reda.”
“Aku bisa pesan ojek,” jawab Aura pelan.
“Bisa. Tapi aku udah di sini.”
Nada suaranya tidak memaksa. Hanya menawarkan.
Beberapa detik Aura ragu, lalu akhirnya naik. Sepanjang perjalanan, ia tidak memeluknya. Tangannya hanya memegang bagian belakang jaketnya dengan jarak yang masih terjaga.
Hujan membuat perjalanan terasa lebih sunyi.
Sampai di depan rumah, Aura turun dan melepas helm. Rambutnya sedikit basah di ujungnya.
“Terima kasih,” ucapnya.
Harry mengangguk. “Istirahat lagi nanti.”
Aura tidak langsung masuk. Ia berdiri beberapa detik, menatapnya.
“Kamu nggak capek?” tanyanya tiba-tiba.
“Capek apa?”
“Nunggu aku.”
Harry tersenyum tipis. “Aku nggak nunggu tanpa arah. Aku tahu aku nunggu siapa.”
Jawaban itu membuat Aura terdiam. Tidak ada pengakuan berlebihan. Tidak ada janji yang terlalu tinggi. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa hangat.
Hujan masih turun saat Harry menyalakan motornya lagi.
Aura berdiri di depan pintu rumah, memperhatikan sampai lampu motornya menghilang di tikungan.
Di kampus mungkin ia hanya dikenal sebagai gadis yang disukai Harry.
Tapi bagi Harry, ia bukan sekadar itu.
Dan untuk pertama kalinya, Aura mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apa ia masih mau terus berpura-pura tidak merasakan hal yang sama.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣