Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JARAK SATU METER
Angin panas Surabaya yang berhembus di rooftop SMA Cakrawala Terpadu siang itu terasa seperti kipas angin raksasa yang dinyalakan pada kecepatan maksimal. Namun, bagi Keyla Aluna, dunia terasa membeku.
Di tangannya, secarik kertas HVS yang disobek rapi dari buku tulis Bintang Rigel bergetar pelan. Bukan karena angin, tapi karena tangannya yang gemetar hebat. Di sebelahnya, Dinda Pertiwi sedang mengunyah cilok yang ia selundupkan dari kantin, matanya melotot menatap kertas itu.
"Wocoen, Key! Ojo meneng ae! (Bacalah, Key! Jangan diam saja!)" desak Dinda tidak sabar, menyenggol bahu Keyla.
Keyla menelan ludah. Tulisan tangan Bintang ternyata tidak seperti dugaan Keyla yang mengira akan kaku dan tegas. Tulisannya tegak bersambung, sedikit miring ke kanan, rapi namun menyiratkan ketergesaan.
*Untuk Cassiopeia,*
*Jujur, gue nggak tahu harus mulai dari mana. Gue nggak pernah nulis surat seumur hidup gue, apalagi buat seseorang yang bahkan gue nggak tahu wajahnya. Tapi anehnya, gue ngerasa lo lebih kenal gue daripada orang-orang yang tiap hari manggil nama gue di lapangan basket.*
*Lo bener soal Paradoks Olbers. Gue sering ngerasa kayak gitu. Di tengah keramaian sorak-sorai penonton, di tengah pujian guru-guru, gue ngerasa gelap. Kosong.*
Keyla menahan napas. Jantungnya berdebar menyakitkan.
*Bokap gue mau gue ambil Kedokteran di UI. Nyokap gue mau gue tetep jadi atlet basket profesional. Nggak ada yang pernah nanya, gue maunya apa. Kadang gue mikir, gue ini cuma trofi berjalan buat mereka. Gue capek, Cass. Gue capek harus selalu jadi 'Bintang Rigel' yang bersinar sempurna. Gue cuma pengen jadi Bintang yang biasa aja, yang boleh redup sesekali tanpa ngecewain satu galaksi.*
*Thanks udah ngirim surat-surat itu. Gue nunggu surat lo selanjutnya. Please, jangan berhenti nulis.*
*—Rigel.*
Keyla menurunkan kertas itu perlahan. Matanya terasa panas. Ia mengira selama ini Bintang adalah sosok yang hidupnya sempurna tanpa celah. Ternyata, di balik senyum menawan yang selalu dipamerkan di koridor, ada retakan besar yang berusaha disembunyikan.
"Anjir..." Dinda berhenti mengunyah ciloknya. Wajahnya yang biasanya jahil berubah serius. "Dalem banget, Cuk. Sumpah, aku merinding. Iki Bintang Rigel sing iku? Sing nek mlaku wae kayak model catwalk?"
Keyla mengangguk lemah. "Dia kesepian, Din. Dia sendirian di tengah keramaian."
"Dan dia butuh awakmu, Key," Dinda menunjuk dada Keyla dengan tusuk ciloknya. "Denger nggak tuh kalimat terakhir? 'Jangan berhenti nulis'. Itu kode keras, Nduk! Dia butuh tempat sampah buat curhat, dan dia milih kamu—maksudku, Cassiopeia."
Keyla menatap langit Surabaya yang silau. Perasaan bersalah dan bahagia bercampur aduk menjadi nebula emosi yang rumit di dadanya. Ia bahagia karena Bintang membuka diri padanya, tapi ia merasa bersalah karena Bintang membuka diri pada sebuah bayangan, bukan pada Keyla yang nyata.
***
Malam harinya, di kamarnya yang dipenuhi poster rasi bintang dan tumpukan novel, Keyla duduk di depan meja belajar. Lampu belajar menyorot kertas berwarna *navy blue*—kertas khusus yang baru ia beli kemarin di Gramedia Tunjungan Plaza.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Suara deru kendaraan di jalan raya masih terdengar samar, khas hiruk-pikuk kota pahlawan yang tak pernah benar-benar tidur. Keyla memutar pena di jarinya, mencari metafora yang tepat untuk membalas kejujuran Bintang.
Ia mulai menulis. Kali ini, ia tidak hanya membahas astronomi. Ia membahas perasaan.
*Untuk Rigel,*
*Tahukah kamu tentang Nebula? Itu adalah awan debu dan gas raksasa di luar angkasa. Tempat di mana bintang-bintang baru dilahirkan. Proses kelahirannya tidak tenang dan damai, Rigel. Itu terjadi karena gravitasi yang meruntuhkan material gas, memanaskannya, menekannya hingga intinya menyala.*
*Tekanan itulah yang menciptakan cahaya.*
*Mungkin apa yang kamu rasakan sekarang—tekanan dari orang tua, ekspektasi sekolah, topeng yang harus kamu pakai—adalah gravitasi yang sedang mencoba membentukmu menjadi sesuatu yang baru. Tapi kamu berhak menentukan seberapa terang kamu ingin bersinar. Kamu bukan satelit yang hanya memantulkan cahaya orang lain. Kamu bintang yang punya fusi nuklirmu sendiri.*
*Jangan takut untuk redup sebentar. Bahkan matahari pun butuh malam untuk dirindukan paginya.*
*Ps: Kamu boleh cerita apa saja. Di sini, di atas kertas biru ini, kamu nggak perlu jadi kapten basket. Just be Rigel.*
*—Cassiopeia.*
Keyla melipat surat itu dengan hati-hati. Ia merasa seolah baru saja mengirimkan potongan jiwanya.
***
Keesokan harinya di SMA Cakrawala Terpadu.
Proses pengiriman surat ke-21 berjalan lancar namun menegangkan. Keyla berhasil menyelipkannya saat piket kelas XI IPA 1 sedang sibuk menghapus papan tulis dan tidak memperhatikan area meja belakang. Sensasi adrenalin itu sudah menjadi candu baginya.
Namun, masalah sebenarnya muncul saat jam istirahat kedua.
Keyla dan Dinda sedang berjalan menuju perpustakaan, melewati koridor utama yang menghubungkan gedung kelas XI dan XII. Koridor itu padat. Tiba-tiba, kerumunan terbelah.
Bintang Rigel berjalan berlawanan arah, diapit oleh Aldi dan dua anggota tim basket lainnya. Bintang terlihat tertawa menanggapi lelucon Aldi, tapi tawanya tidak mencapai mata. Ia terlihat lelah.
Jantung Keyla berhenti berdetak. Jarak mereka semakin dekat. Sepuluh meter. Lima meter.
"Key, santai, Key. Ojo koyok maling ayam (Jangan kayak maling ayam)," bisik Dinda di telinganya, menyadari langkah Keyla yang tiba-tiba kaku seperti robot.
Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Bintang menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Dalam surat, Keyla bisa menjadi Cassiopeia yang bijak, puitis, dan berani. Tapi di sini, di koridor berlantai marmer dingin ini, ia hanyalah Keyla Aluna si gadis *invisible*.
Refleks tubuhnya mengkhianati hatinya. Keyla langsung menunduk dalam, memutus kontak mata, dan secara tidak sadar menggeser tubuhnya ke belakang punggung Dinda, seolah ingin menghilang.
Bintang mengernyit sedikit. Langkahnya melambat sepersekian detik saat melihat gadis yang tiba-tiba bersembunyi itu. Ia merasa familiar dengan gestur ketakutan itu—mengingatkannya pada insiden tabrakan tempo hari.
"Woi, Bin! Buruan, keburu bakso Pak Min abis!" seru Aldi, menarik lengan Bintang.
Bintang tersentak, lalu kembali berjalan. "Iya, sabar elah."
Setelah rombongan 'The Royals' itu lewat, Keyla merosot lemas bersandar pada loker besi. Napasnya memburu.
"Heh!" Dinda menepuk jidat Keyla. "Lapapo kon ndelik? (Kenapa kamu sembunyi?) Padahal tadi Bintang ngeliatin kamu lho! Itu kesempatan buat senyum kek, nyapa kek!"
"Gak bisa, Din..." cicit Keyla, wajahnya pucat. "Di surat aku berani bilang 'jangan takut redup', tapi aslinya aku sendiri takut kena cahaya dia. Aku munafik banget ya?"
"Bukan munafik, itu jenenge *insecure* tingkat dewa," gerutu Dinda, tapi tangannya merangkul bahu sahabatnya. "Wes ayo ke perpus, ademin otakmu."
***
Di Kantin Utama yang bising, Vanya Clarissa duduk di meja 'kekuasaan'-nya bersama para anggota *cheerleader*. Namun, pikirannya tidak berada di sana. Matanya yang tajam seperti elang mengawasi satu titik di seberang kantin.
Di meja sudut, Bintang duduk sendirian sementara teman-temannya sedang memesan makanan. Tangan Bintang merogoh saku celana, mengeluarkan kertas berwarna biru tua—warna yang berbeda dari surat-surat sebelumnya yang biasanya biru muda.
Bintang membacanya. Dan untuk pertama kalinya dalam minggu ini, Vanya melihat senyum tulus terbit di bibir cowok itu. Senyum yang lembut, rapuh, dan... penuh harapan.
Rahang Vanya mengeras. Ia meremas kaleng soda di tangannya hingga penyok.
"Van, lo kenapa?" tanya salah satu temannya kaget.
"Nggak," jawab Vanya dingin. Ia kembali menatap Bintang yang kini sedang melipat surat itu dengan sangat hati-hati, memperlakukannya seperti barang keramat, lalu memasukkannya kembali ke saku.
Vanya mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. Foto punggung Keyla yang ia ambil kemarin terpampang di layar. Gadis dengan tas ransel cokelat usang dan gantungan kunci berbentuk planet Saturnus.
Ia membandingkan visual di otaknya. Tadi pagi, saat ia 'tidak sengaja' lewat depan kelas XI IPA 2, ia melihat tas yang sama persis di bangku barisan ketiga dari jendela. Pemiliknya adalah gadis berkacamata yang selalu menunduk.
Keyla Aluna.
Jadi, Keyla yang menulis surat-surat puitis itu? Si kutu buku yang bicara saja jarang terdengar suaranya?
"Menarik," gumam Vanya pelan, seringai licik mulai terbentuk di wajah cantiknya. "Bintang butuh teman curhat soal tekanan hidup, ya? Dan si Keyla ini sok-sokan jadi psikolog pribadinya."
Strategi baru muncul di benak Vanya. Jika Bintang jatuh cinta pada *isi* surat itu, maka Vanya hanya perlu menjadi *wajah* dari isi surat itu. Dan untuk Keyla... Vanya akan memastikan gadis itu tetap berada di tempatnya: dalam kegelapan.
"Guys," panggil Vanya pada teman-temannya. "Kalian tahu anak IPA 2 yang namanya Keyla?"
"Keyla? Yang mana? Nggak terkenal deh kayaknya," sahut temannya.
"Cari tahu jadwal piket dia di perpustakaan atau klub sastranya," perintah Vanya sambil berdiri, mengibaskan rambut indahnya. "Gue mau 'kenalan' lebih dekat."