Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Balik Retakan




Aira sedang membacakan sebuah surat dari salah satu guru kimia Kara—berisi lelucon tentang tabel periodik yang membuat Kara tertawa kecil—ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Ibu Kara berdiri di sana. Ia membawa keranjang buah dan sebuah buket bunga lili putih. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya: Kamar yang biasanya sunyi dan suram itu kini penuh dengan burung bangau kertas berwarna-warni yang digantung Genta di dekat jendela, dan suara tawa anaknya yang sudah lama menghilang.
Aira segera berdiri, melipat surat itu dengan rapi. "Sore, Tante," sapanya pelan, sedikit menunduk.
Ibu Kara tidak menjawab dengan ketus seperti biasanya. Ia berjalan mendekat ke ranjang, matanya menatap wajah Kara yang tampak lebih hidup meski masih pucat.
"Ibu?" tanya Kara. Ia mengenali aroma parfum lili milik ibunya.
"Iya, Yasa. Ini Ibu," jawabnya sambil meletakkan bunga di nakas. Matanya beralih ke tumpukan surat di pangkuan Aira. "Apa itu?"
"Ini surat-surat dari teman-teman sekolah Kara, Tante," Aira menjelaskan dengan suara rendah. "Mereka juga mengirimkan rekaman suara agar Kara tidak merasa sendirian."
Ibu Kara terdiam. Ia melihat papan Braille di sisi tempat tidur yang ujungnya tampak sering diraba, dan ia melihat kalung matahari tua yang melingkar di pergelangan tangan Kara seperti gelang. Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: Selama ini ia mencoba "melindungi" Kara dengan cara mengurungnya dalam keheningan dan kebencian pada Aira, namun Aira justru membawa dunia luar masuk dan memberi Kara alasan untuk berjuang.
"Yasa..." Ibu Kara menyentuh dahi anaknya. "Maafkan Ibu yang selama ini terlalu egois."
Kara meraih tangan ibunya, merabanya perlahan hingga menemukan jemarinya. "Ibu tidak egois. Ibu hanya takut. Sama seperti Aira yang sempat takut."
Kara menoleh ke arah suara napas Aira. "Tapi Aira benar, Bu. Cahaya itu tidak hilang, dia hanya berpindah ke hati. Teman-temanku tidak melihatku sebagai 'ketua yang gagal'. Mereka melihatku sebagai teman yang sedang sakit. Dan Aira... dia bukan pembawa sial. Dia adalah orang yang membantuku mengeja huruf-huruf ini saat aku merasa duniaku sudah kiamat."
Ibu Kara menatap Aira cukup lama. Ada pergulatan batin yang hebat di matanya. Rasa bersalah, gengsi, dan kasih sayang seorang ibu berperang di sana. Akhirnya, ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang seolah melepaskan beban berton-ton dari pundaknya.
"Aira," panggil Ibu Kara.
"Iya, Tante?"
"Terima kasih... sudah tidak menyerah pada anak saya, meskipun saya sudah mengusirmu berkali-kali."
Suara Ibu Kara bergetar. Ia menyadari bahwa di balik "kutukan" yang ia takuti, ada kesetiaan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kara mungkin tidak akan pernah sembuh secara total, tapi Kara bisa bahagia. Dan kebahagiaan itu kuncinya ada pada gadis yang selama ini ia benci.
Aira menggeleng pelan, air mata haru menggenang di matanya. "Saya tidak bisa pergi, Tante. Karena matahari tidak bisa terbit tanpa samudera yang menunggunya di cakrawala."
Sore itu, untuk pertama kalinya, mereka bertiga duduk bersama tanpa ada dinding kebencian. Retakan dalam keluarga itu mulai merapat, bukan karena kesembuhan fisik Kara, tapi karena penerimaan yang tulus atas takdir yang ada.
***
Lampu kamar rumah sakit yang biasanya terasa dingin kini memancarkan pendar yang lebih hangat. Ayah Kara, yang baru saja kembali dari kantor, membawakan beberapa kotak makanan hangat untuk mereka semua. Ia tertegun sejenak melihat pemandangan di dalam: istrinya sedang duduk di tepi ranjang, berbagi cerita dengan Aira tentang masa kecil Kara yang ternyata sangat usil.
"Dulu, waktu SD, Kara ini paling tidak mau kalah kalau lomba sains," ujar Ibu Kara sambil tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Kara yang kini hanya bisa mendengarkan. "Dia sampai tidak tidur semalaman cuma untuk memastikan roket airnya bisa meluncur paling tinggi. Persis seperti sekarang, keras kepalanya tidak ada lawan."
Kara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat jujur. "Habisnya, kalau tidak jadi yang terbaik, rasanya ada yang kurang, Bu. Tapi sekarang... aku baru sadar kalau jadi 'yang terbaik' itu tidak selalu harus jadi yang paling hebat secara fisik."
Kakek Kara yang duduk di sofa sudut kamar mengangguk-angguk setuju. "Itulah yang namanya hikmah, Le. Kadang Tuhan mematahkan dahan yang rapuh supaya pohonnya bisa tumbuh lebih kuat di bagian yang lain."
Ayah Kara kemudian duduk di kursi dekat Aira. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang jauh lebih teduh. "Aira, Tante sudah cerita banyak soal apa yang kamu lakukan di panti dan bagaimana kamu tetap menjaga Kara. Om minta maaf ya, kalau selama ini kami terlalu sibuk dengan logika kami masing-masing sampai lupa kalau dukungan emosional itu jauh lebih penting."
Aira menggeleng pelan, ia merasa bebannya terangkat. "Tidak apa-apa, Om. Saya juga banyak belajar. Saya sempat berpikir kalau kehadiran saya adalah beban, tapi melihat Om, Tante, dan Eyang tetap di sini, saya jadi sadar kalau cinta itu bukan soal siapa yang salah, tapi soal siapa yang mau bertahan."
Perbincangan mengalir seperti air. Mereka tidak lagi membahas tentang "seberapa parah kerusakan saraf" atau "berapa biaya rumah sakit". Malam itu, mereka membahas hal-hal kecil; tentang hobi Kara yang ingin belajar bermain piano lewat pendengaran, tentang keinginan Aira untuk melanjutkan studi keperawatan agar bisa menjaga Kara dengan lebih profesional, dan tentang janji Genta untuk membawa martabak paling enak ke rumah sakit besok malam.
Di tengah pembicaraan, Kara meraih tangan Aira di satu sisi dan tangan ibunya di sisi lain.
"Aku mungkin tidak bisa melihat wajah kalian lagi," bisik Kara lirih namun mantap. "Tapi aku bisa merasakan hangatnya tangan kalian. Dan bagiku, itu sudah cukup untuk membuatku merasa paling beruntung di dunia ini. Kita tidak perlu cahaya lampu untuk merasa bahagia, kan?"
Ibu Kara mencium kening putranya, sementara Ayahnya menepuk bahu Kara dengan bangga. Aira melihat pemandangan itu dan menyadari bahwa "kutukan" yang selama ini ia takuti telah melebur menjadi sebuah ikatan keluarga yang tak terpatahkan. Penyakit Kara memang masih ada, namun ketakutan mereka telah sirna, digantikan oleh keberanian untuk menghadapi hari esok bersama-sama.
Malam itu, di Kamar 304, mereka tidak lagi bicara sebagai pasien dan penjaga. Mereka bicara sebagai satu jiwa yang saling menguatkan di bawah payung takdir yang sama.
...***...
...EAK, Healing lha kalian pada...
...Seberapa puas kalian sama bab ini?...
...Tunjukkan rasa terimakasih kalian dengan apa?...
...Yaps, goodgirl....
...Jangan lupa voting nya ya O>O...



Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰