Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Balik Sunyi (Epilog)
#Epilog
Pintu kamar terbuka dengan suara gaduh yang sudah sangat dikenal. Genta masuk membawa aroma makanan luar yang sangat menggoda—martabak manis kesukaan mereka dulu. Namun, kali ini Genta tidak datang dengan cengiran konyolnya yang biasa. Wajahnya tampak sedikit lebih serius, dan ia membawa sebuah jas sekolah yang tersampul rapi.
"Ra, Kara," Genta duduk di kursi samping ranjang. "Besok... besok itu acara kelulusan kita."
Keheningan sejenak menyergap ruangan itu. Kelulusan. Sebuah kata yang seharusnya menjadi puncak kejayaan Kara sebagai Ketua OSIS terbaik sepanjang sejarah sekolah mereka. Namun sekarang, ia berada di sini, di ruang rehabilitasi dengan kursi roda di sampingnya.
"Gue baru balik dari sekolah," lanjut Genta pelan. "Kepala sekolah dan anak-anak... mereka nggak mau acara itu lewat gitu aja tanpa lo. Mereka minta lo ngasih sesuatu. Bukan pidato panjang, tapi apa pun yang bisa mereka kenang dari lo."
Kara terdiam. Jemarinya meraba tepian sprei. "Genta, aku bahkan nggak bisa berdiri tegak lebih dari sepuluh detik. Aku bukan lagi 'Ketua' yang mereka kenal."
"Tapi lo masih Kara yang mereka cintai, Ra," sahut Genta mantap. "Lo adalah orang yang paling kuat di antara kita semua. Lo berhasil pulang dari tidur setahun. Itu jauh lebih hebat daripada sekadar dapet nilai A di ujian nasional."
Aira menggenggam tangan Kara, memberikan dukungan tanpa suara. "Kara, kamu punya suara. Kamu punya cerita. Pakai itu."
Malam harinya, dengan bantuan Aira yang memegang ponsel untuk merekam, Kara duduk bersandar di bantalnya. Ruangan dibuat sunyi. Kara menarik napas panjang, mencoba menata kata-kata yang lahir dari kegelapan yang kini menjadi sahabatnya.
"Halo, teman-teman..." suara Kara terdengar serak namun dalam.
"Mungkin saat kalian mendengar rekaman ini, kalian sedang memakai toga dan bersiap melempar topi ke langit. Aku minta maaf karena tidak bisa berdiri di sana, di podium yang dulu sering aku impikan."
Kara terjeda sejenak, ia tersenyum tipis.
"Selama setahun ini, aku belajar satu hal yang tidak ada di buku pelajaran kimia atau fisika. Aku belajar bahwa mata bisa menipu kita dengan keindahan yang semu, tapi hati tidak pernah bohong tentang rasa sakit dan cinta. Jangan takut pada kegelapan. Jangan takut jika rencana kalian gagal atau jika hidup kalian berbelok ke arah yang tidak kalian inginkan."
"Karena terkadang, Tuhan harus mematikan lampu di dunia kita, supaya kita bisa melihat bintang-bintang yang selama ini tertutup cahaya lampu yang terlalu terang. Selamat lulus, teman-teman. Teruslah berjalan, meskipun kalian harus meraba dalam gelap. Selama ada orang yang kalian cintai di samping kalian, kalian tidak akan pernah benar-benar tersesat."
Kara mengakhiri rekamannya. Aira menekan tombol berhenti dengan air mata yang mengalir di pipinya.
***
Keesokan harinya, di aula sekolah yang megah, suasana mendadak hening saat suara Kara menggema dari speaker besar. Ratusan siswa yang memakai toga menundukkan kepala. Beberapa guru terlihat menyeka air mata. Genta berdiri di barisan depan, memegang kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Kara.
Di rumah sakit, Kara mendengarkan riuh tepuk tangan yang dikirimkan Genta lewat panggilan telepon yang tetap tersambung.
"Mereka denger, Kara. Mereka denger kamu," bisik Aira sambil memeluk bahu Kara.
Kara mendongak, meskipun matanya tidak melihat apa pun, wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa. Ia bukan lagi sang Matahari yang sombong dengan cahayanya yang menyilaukan. Ia adalah cahaya kecil yang tetap bersinar di tengah badai, membuktikan bahwa "kutukan" itu telah kalah oleh ketulusan sebuah doa.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰