Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka - Teki
## SELAMAT MEMBACA ##
Suasana di markas bawah tanah *The Unit* terasa mencekam. Bau asap dari gaun malam Aira (24 Tahun) yang terbakar sedikit di bagian ujung masih tercium. Wira (21 Tahun) bekerja dengan kemarahan yang tenang, jarinya menghantam keyboard seolah-olah setiap ketukan adalah pukulan bagi musuh yang telah membobol sistemnya.
Arsen (26 tahun) berdiri di tengah ruangan, menatap koin hitam yang kini tergeletak di atas meja kaca. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat. Di sudut ruangan, Aurora (21 tahun) sedang mengobati luka gores di lengan Arkan (22 tahun) akibat pecahan kaca di hotel tadi.
"Oliver, kau masih di sana?" Arsen berbicara ke arah layar monitor besar yang menampilkan wajah Oliver yang tampak lelah di sebuah kamar hotel aman di Jakarta Pusat.
"Masih, kawan. Aku sedang menelusuri data pria yang menarik Aira di hotel tadi. Tapi ini aneh," sahut Oliver. "Sistemku terus memental setiap kali aku mencoba mencocokkan wajahnya dengan basis data Interpol."
"Baiklah, tetap lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai membahayakan dirimu juga".
"Jangan remehkan aku, tenang saja. Kau tinggal menunggu nanti hasilnya", ucap Oliver sedikit arogan.
Sedangkan Aira duduk di kursi putar, masih menggenggam segelas air dingin yang diberikan Aurora. Ia menatap Arsen yang sejak tadi tidak mau memandangnya secara langsung.
"Arsen, berhenti mondar-mandir seperti harimau dalam kandang. Aku baik-baik saja."
Arsen berhenti mendadak dan berbalik, "Kau hampir mati, Aira! Jika pria itu tidak menarikmu, atau jika dia sebenarnya adalah penembaknya, kita akan memakamkanmu besok. Kenapa kau tidak mendengarkan perintahku untuk tetap di titik aman?"
Aira langsung membalas dengan tegas ucapan Arsen.
"Karena titik aman itu tidak ada! Pria itu... dia mengenaliku. Dia menyebut namaku seolah-olah kami pernah minum kopi bersama minggu lalu. Dan kau tahu apa yang paling aneh? Aku merasa pernah melihat matanya sebelumnya."
Arsen tersentak dengan penuturan Aira yang terakhir.
"Di mana? London?"
Aira ragu sejenak, "Mungkin. Saat aku dan Oliver sedang menyelidiki kasus pencucian uang di Canary Wharf tahun lalu, ada seseorang yang selalu membuntuti kami dari jauh. Oliver menyebutnya 'The Shadow'."
Arsen memandang Aira dengan mata menyipit, serta suaranya mendingin.
"The Shadow? Dan kau tidak pernah menceritakan ini padaku di laporan bulananmu, Aira? Berapa banyak lagi rahasia yang kau bagi dengan Oliver yang tidak aku ketahui?"
"Ini bukan soal rahasia, Arsen! Ini soal efisiensi. Oliver ada di sana, kau di sini. Dan jangan bawa-bawa nada cemburu itu ke dalam markas ini. Itu tidak profesional." Aira membalas ucapan Arsen dengan nada jengkel.
"Profesionalisme mengharuskan transparansi total dalam tim. Jika pria itu adalah kenalanmu dari London, maka integritas misi ini sudah terkompromi." Seolah Arsen mencurigai sesuatu tentang pria yang katanya selalu menjadi bayangan Aira saat di London. Dan itu semua, Arsen tidak pernah mengetahuinya dari Aira. Seperti sengaja di tutupi oleh Aira dan Oliver.
Mendengar drama keduanya, Wira merasa jenuh, semakin menambah sakit kepalanya karena insiden sebelumnya.
"Hentikan drama kalian!" (Wira memutar monitornya ke arah mereka). "Lihat ini. Pria itu bukan sekadar bayangan. Namanya, setidaknya yang digunakan di London, adalah **Julian Thorne**. Tapi lihat data rekam medis yang berhasil aku curi dari dark web."
Layar menampilkan foto masa kecil Julian. Di sampingnya, ada foto seorang pria dewasa yang sangat mereka kenal: **Paman Bram**, musuh bebuyutan Ankara dan Arindi di masa lalu.
Aurora langsung berdiri tegak, wajahnya pucat. "Dia... putra Kakek Bram? Tapi bukankah mereka bilang seluruh garis keturunan Bram sudah diawasi ketat oleh kepolisian?"
Kemudian Wira menjelaskan "Secara resmi, iya. Tapi Julian ini adalah anak yang 'dihilangkan' dari catatan sipil sebelum Bram tertangkap. Dia adalah proyek rahasia yang disiapkan untuk membalas dendam sepuluh tahun...ah tidak....dua puluh lima tahun kemudian."
Arkan mengerti maksud dari trik sang musuh "Jadi, dia bukan menyelamatkan Kak Aira karena kasihan? Dia sedang bermain-main dengan kita?"
Aurora langsung menyela "Atau... dia ingin Kak Aira melihat kita hancur dari dalam." (Aurora melirik Arsen yang tampak semakin tegang).
"Kenapa aku harus melihat kalian hancur? Bukankah itu musuh atau bisa dikatakan masih ada hubungan darah dengan kalian? Aurora dan kau....Arsen."
"Apa kakak lupa, Ayah juga ada kaitannya dengan masalah ini. Namun aku tidak tahu pasti masalah yang seperti apa. Seakan-akan para orang tua menyembunyikan sesuatu dari kita."
Mendengar penuturan Arkan, mereka semakin penasaran dengan masa lalu para orang tuanya. Namun masih ragus untuk mengulik lebih jauh.
---
Arkan mengambil mikrofon untuk bicara langsung pada Oliver di layar.
"Oliver, jujur padaku. Selama di London, seberapa dekat Julian ini dengan Kak Aira? Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."
Oliver menghela napas, suaranya terdengar lewat speaker dengan aksen berat.
"Dia pernah menyelamatkan Aira dari upaya penculikan di Oxford Street. Aira pikir itu hanya kebetulan, seorang pria asing yang baik hati. Tapi aku curiga sejak awal. Pria itu menatap Aira seolah-olah dia adalah kepingan puzzle yang hilang."
Arkan mengepalkan tanganny, "Dan kau membiarkannya?"
Mendengar tuduhan daari Arkan, tentunya Oliver tidak terima.
"Aku tidak punya bukti, Arkan! Dan saat itu, Aira sedang sangat merindukan kalian semua. Dia butuh teman, dan pria itu ada di sana, bicara tentang Jakarta, bicara tentang hal-hal yang dia sukai. Dia memanipulasi emosi Aira."
Arsen menyimak pembelaan dari Oliver. Suaranya rendah, nyaris berbisik "Dia menyusup ke hidupnya..."
Tiba-tiba, seluruh lampu di markas berkedip merah. Sistem alarm berbunyi pelan.
"Penyusupan digital!" teriak Wira. "Seseorang mencoba mengakses folder 'Project Genesis'!"
Layar utama menampilkan sebuah pesan video pendek. Julian Thorne muncul, duduk di sebuah ruangan gelap dengan latar belakang peta Jakarta yang penuh dengan titik-titik merah.
Julian (di video): *"Halo, Arsen. Halo, Aira. Maaf merusak reuni kalian yang mengharukan. Koin yang kalian pegang itu bukan hanya simbol. Itu adalah kunci. Di dalam koin itu ada pemancar frekuensi yang sekarang sudah mengunggah seluruh lokasi persembunyian orang tua kalian ke satelit kami."*
Mendengar ucapan sang musuh, Aira berteriak, "Bajingan...!"
Julian: *"Arsen, kau punya waktu 24 jam untuk menemuiku di Pelabuhan Sunda Kelapa. Sendirian. Bawa koper yang dicuri Victor, atau aku akan memastikan 'Sisi Ketiga' mengakhiri pensiun tenang Ankara dan Arindi secara permanen. Dan Aira... sampai jumpa lagi, Mawar London-ku."*
Video mati. Keheningan yang mematikan menyelimuti markas.
Tiba-tiba Arsen menyambar jaket taktisnya dan pistol Glock-17 miliknya.
Aira berusaha mencegah aksinya, "Kau tidak bisa pergi sendirian, Arsen! Itu jebakan!"
Arsen menoleh kepadanya"Dia mengancam orang tuaku, Aira. Dan dia menggunakanmu sebagai umpan untuk masuk ke sistem kami. Mulai sekarang, kau tetap di sini. Wira, kunci seluruh akses keluar. Aurora, awasi Aira!"
"Arsen, kau tidak bisa melakukan ini! Aku bukan tahanan!" Sentak Aira.
Arsen berhenti di depan pintu, menatap Aira dengan tatapan yang menghancurkan. "Aku lebih suka kau membenciku di dalam ruangan terkunci ini, daripada aku harus melihatmu tersenyum pada putra pria yang hampir membunuh ibuku."
Arsen keluar dan pintu baja tertutup otomatis. Aira berteriak memanggil namanya, tapi hanya gema suaranya yang terdengar di ruangan itu. Di layar monitor, Oliver hanya bisa menunduk, menyadari bahwa benih kehancuran yang ditanam di London kini mulai mekar di Jakarta.
---
Bersambung....