NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 DEEPTALK SEORANG PUTRI

​Sabtu, 19 April 2025, Musim Semi

​Pagi hari di Rumah Sakit Pusat Monako menyapa dengan aroma antiseptik yang khas dan sinar matahari yang mencoba menerobos masuk melalui celah gorden kamar VVIP yang ditempati oleh Olivia Elenora Aurevyn. Ini adalah hari ketiga Olive mendekam di dalam ruangan yang serba putih itu. Baginya, dinding-dinding pucat ini mulai terasa seperti jeruji besi yang mengurung kebebasannya. Sebagai seseorang yang dijuluki The Golden Butterfly, berada di satu tempat dalam waktu lama tanpa bisa mengepakkan sayap adalah siksaan batin yang nyata.

​Olive menghela napas panjang, menatap langit-langit plafon dengan pandangan kosong. Rasa bosan mulai merayap, membuat dadanya terasa sesak bukan karena cidera, melainkan karena rasa monoton yang mencekik. Lima tahun pelariannya di London memang penuh perjuangan, namun setidaknya ia selalu bergerak, bekerja, dan menjaga Alex. Kini, dalam keheningan rumah sakit, memori tentang masa-masa sulit itu sering kali kembali membayang.

​Karin Felicya, atau yang akrab disapa Bunda Feli, yang sedang merapikan beberapa pakaian Olive di sudut ruangan, segera menyadari perubahan raut wajah putrinya. Sebagai seorang ibu, Feli memiliki radar yang sangat peka terhadap kegundahan hati Olive. Ia tahu, putrinya sedang berada di titik jenuh.

​"Sayang, kau terlihat sangat bosan. Mau Bunda ajak jalan-jalan keluar sebentar?" tanya Feli dengan nada lembut yang menenangkan.

​Mata Hazel Olive seketika berbinar. "Bolehkah, Bun? Olive rasanya hampir gila kalau hanya melihat tembok putih ini terus-menerus."

​"Tentu saja boleh. Dokter bilang kau butuh udara segar agar ritme jantungmu lebih stabil. Tunggu sebentar, Bunda siapkan kursi rodanya," jawab Feli sambil tersenyum hangat.

​Feli membantu Olive berpindah ke kursi roda dengan sangat hati-hati, memastikan kaki Olive yang masih dibebat perban tidak terbentur. Mereka kemudian keluar menyusuri lorong rumah sakit menuju taman kecil yang terletak di bagian belakang gedung. Meskipun hanya sebuah taman rumah sakit yang luasnya tidak seberapa, bagi Olive, melihat dedaunan hijau dan bunga-bunga yang sedang bermekaran di musim semi adalah sebuah kemewahan.

​Feli mendorong kursi roda itu perlahan, lalu berhenti di dekat sebuah bangku taman yang dinaungi pohon rindang. Feli duduk di bangku tersebut, tepat di samping kursi roda Olive. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah porselen Olive, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang halus.

​Untuk sejenak, mereka hanya terdiam, menikmati kicauan burung dan suasana tenang. Keheningan itu justru membawa suasana nostalgia yang kental. Olive menatap jemari Bundanya, menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak waktu selama lima tahun terakhir. Kehilangan peran orang tua, terutama bimbingan seorang ibu, sering kali membuatnya kehilangan arah di London dulu.

​"Bunda," panggil Olive pelan.

​"Iya, Sayang?"

​"Terima kasih karena masih menerimaku dengan tangan terbuka. Aku... aku sempat takut kalau kembali ke sini, Bunda dan Ayah akan membenciku karena membawa Alex tanpa kabar selama bertahun-tahun."

​Feli meraih tangan Olive, menggenggamnya erat. "Olive, seorang ibu tidak akan pernah bisa membenci anaknya, apa pun yang terjadi. Kehilanganmu selama lima tahun adalah luka terdalam bagi Bunda. Melihatmu kembali, apalagi membawa Alex yang begitu tampan dan pintar, adalah anugerah terbesar. Bunda justru bangga padamu karena kau bisa bertahan sendirian di sana."

​Olive merasakan matanya memanas. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan kini merasuk hingga ke sumsum tulangnya. Mereka mulai berbicara lebih dalam sebuah deeptalk yang sudah lama tertunda. Mereka membicarakan tentang Liam Maximilian Valerius, pria yang dalam waktu dekat akan menjadi pendamping hidup Olive.

​"Bagaimana perasaanmu tentang Liam? Dia sangat protektif padamu, Olive. Bahkan semalam dia tidak mau pulang sebelum dipaksa," tanya Feli menyelidik namun lembut.

​Olive terdiam sejenak, membayangkan wajah tegas Liam. "Dia... berbeda, Bun. Liam sangat dingin pada dunia, tapi entah kenapa dia bisa begitu hangat pada Alex. Aku masih merasa ini seperti mimpi. Seorang Monarch seperti dia mau menerima aku yang sudah memiliki anak."

​"Darah tidak pernah berbohong, Olive. Liam melihat dirinya sendiri di dalam diri Alex. Dan Bunda rasa, Liam adalah pria yang tepat untuk menjagamu. Dia punya kekuatan untuk melindungimu dari siapa pun yang ingin menyakitimu lagi," ujar Feli bijak.

​Pembicaraan itu berlanjut hingga membahas masa depan Alex. Olive merasa lega karena keluarganya sangat mendukung tumbuh kembang Alex di Monako. Rasa kehilangan arah yang selama ini ia rasakan perlahan mulai terkikis, digantikan oleh fondasi baru yang kuat dari dukungan keluarga besarnya.

​Siang harinya, saat matahari mulai terasa terik, Feli membawa Olive kembali ke kamar. Olive merasa jauh lebih segar secara mental. Namun, kejutan belum berakhir. Begitu pintu kamar terbuka, dua suara cempreng yang sangat ia kenal langsung menyambutnya.

​"OLIVE! YA AMPUN, KUPU-KUPU KECILKU!" teriak Zee dengan heboh, hampir menjatuhkan keranjang buah yang ia bawa.

​Vera berdiri di sampingnya, meski terlihat lebih tenang, matanya menunjukkan kekhawatiran yang nyata. "Maaf kami terlambat menjenguk. Dosen-dosen gila itu benar-benar memperbudak kami di kampus," gerutu Vera sambil membantu Olive kembali ke ranjang.

​Bunda Feli, yang mengerti bahwa para sahabat muda itu butuh waktu untuk berbicara bebas, segera mencari alasan. "Wah, sepertinya kalian butuh waktu untuk bergosip. Bunda mau cari makan siang dulu di kantin ya. Zee, Vera, tolong jaga Olive sebentar."

​Begitu Bunda Feli keluar, suasana kamar langsung berubah menjadi riuh. Zee langsung memeriksa kaki Olive dengan teliti. "Dengar, Olive! Aku hampir saja meledakkan butik tempatmu tertabrak itu kalau Kenzo tidak menahanku. Siapa pun yang menabrakmu, dia pasti tidak tahu berurusan dengan siapa!"

​Olive tertawa kecil melihat tingkah laku sahabatnya. "Aku baik-baik saja, Zee. Hanya luka ringan."

​Vera duduk di tepi ranjang sambil mengupas apel. "Kau tertawa sekarang, tapi kau tidak tahu betapa menderitanya kami di kampus. Dosen killer itu benar-benar memberikan tugas yang tidak manusiawi. Aku merasa otakku hampir mencair!"

​"Benar!" timpal Zee. "Dan bayangkan, aku dihukum hanya karena terlambat lima menit! Padahal aku harus memilih outfit yang sempurna untuk menjengukmu. Dasar dosen tidak punya selera fashion!"

​Vera menghela napas dramatis. "Itu belum seberapa. Koleksi make-up terbatas milikku disita karena aku tertangkap menggunakan lip serum saat kelas berlangsung. Aku ingin menangis!"

​Tawa Olive pecah mendengarnya. Kamar yang tadinya terasa sepi dan membosankan kini penuh dengan tawa dan keceriaan. Cerita-cerita konyol dari Zee dan Vera berhasil mengalihkan perhatian Olive dari rasa sakit dan traumanya. Kehadiran mereka benar-benar menjadi obat terbaik bagi pemulihannya.

​Sementara itu, di dimensi lain yang penuh dengan ketegangan dan berkas-berkas penting, Liam Maximilian Valerius sedang berada di titik jenuhnya sendiri. Hari itu ia benar-benar tidak bisa meninggalkan kantor. Operasi balas dendam yang ia jalankan terhadap Duke Alistair sedang berada di tahap krusial, ditambah lagi urusan keamanan global yang terus menuntut perhatiannya.

​Liam duduk di kursi kebesarannya, namun matanya terus melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja. Sepanjang hari, ia telah mengirimkan lebih dari sepuluh pesan singkat kepada Olive.

​“Sudah makan siang?”

“Apakah kakimu masih sakit?”

“Bunda Feli sudah datang?”

“Aku merindukanmu.”

​Namun, balasan dari Olive sangatlah singkat.

“Sudah, Liam.”

“Sedikit.”

“Sudah.”

​Terkadang, Olive bahkan hanya membaca pesannya tanpa membalas karena sibuk berbicara dengan Zee dan Vera. Liam merasa seperti remaja yang sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Sang Monarch Besi yang ditakuti dunia kini merasa tersiksa hanya karena dicueki oleh seorang wanita.

​"Apakah dia marah padaku karena tidak datang?" gumam Liam gelisah.

​Marcus yang masuk untuk memberikan laporan melihat tuannya tampak kacau. "Tuan, Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sangat tertekan."

​"Marcus, apakah perempuan biasanya bersikap dingin jika calon suaminya tidak datang menjenguk?" tanya Liam serius.

​Marcus terdiam sesaat, mencoba menahan tawa. "Mungkin saja, Tuan. Atau mungkin Nona Olive hanya sedang istirahat."

​Liam menghela napas berat. Ia kembali menatap layar ponselnya. Di satu sisi, ia adalah predator yang kejam dalam dunia bisnis dan keamanan, namun di hadapan Olive, ia hanyalah seorang pria yang haus akan perhatian. Ia merasa cemburu pada siapa pun yang saat ini sedang berada di dekat Olive, sementara dirinya harus terjebak di antara tumpukan berkas.

​"Selesaikan semua dokumen ini dalam satu jam, Marcus. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga," perintah Liam mutlak.

​Marcus hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu, jika sang Monarch sudah merindu, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menahannya. Cinta telah mengubah sang pemangsa menjadi seseorang yang rela melakukan apa saja demi satu senyuman dari Kupu-Kupu Emasnya.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!