NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Sang Pemangsa

Malam telah melarut, membungkus kediaman Aeru dalam kemewahan yang sunyi. Di ruang tamu utama yang berlangit-langit tinggi, aroma cerutu Kuba dan whisky berumur dua puluh tahun menguar, menciptakan atmosfer maskulin yang kaku. Seldin Aeru duduk di sofa kulit premiumnya, menyesap minumannya dengan gerakan elegan, sementara di hadapannya, Jasen Admire duduk dengan santai namun penuh percaya diri.

"Ayahmu mengirimkan salam lewat surel pagi ini, Jasen," ujar Seldin, suaranya berat dan berwibawa. "Dia sangat puas dengan progres merger proyek pelabuhan di sektor selatan. Keluarga Admire selalu tahu bagaimana cara menjaga stabilitas Phoenix Group."

Jasen tersenyum tipis, menyesap gelasnya sendiri. "Ayah selalu bilang, kerja sama antara Admire dan Aeru adalah fondasi utama grup ini. Tanpa ayahmu dan ayahku dulu, Phoenix Group mungkin hanya akan menjadi tumpukan debu di tangan para birokrat."

Seldin mengangguk tipis. Baginya, bisnis adalah agama, dan kesetiaan antarkeluarga pendiri adalah hukum tertinggi. Ayah Jasen bukan sekadar pemegang saham; dia adalah tangan kanan di balik layar yang memastikan setiap lawan politik Phoenix Group bungkam. Mempertahankan hubungan dengan keluarga Admire berarti mengamankan takhta Seldin dari rongrongan direksi lain yang haus kekuasaan.

"Lalu, apa tujuanmu menemuiku secara pribadi malam ini? Kurasa ini bukan sekadar kunjungan sosial antaranak mitra bisnis," pancing Seldin, matanya yang tajam menatap Jasen tanpa berkedip.

Jasen meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi klik yang pelan. Ia menegakkan punggungnya. "Aku ingin membicarakan Seraphina, Seldin."

Alis Seldin terangkat sedikit.

"Aku tahu banyak kompetitor kita—keluarga Miller atau kolega dari sektor energi—yang mulai mendekati Sera. Mereka mengincar posisinya sebagai ahli waris kedua Aeru hanya untuk melakukan merger paksa atau melemahkan pengaruhmu di dewan direksi," Jasen menjeda sejenak, mengamati reaksi Seldin. "Aku tidak ingin melihat Sera jatuh ke tangan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkannya. Aku ingin mengikatnya secara resmi. Aku ingin bertunangan dengan Seraphina sampai kami lulus kuliah, lalu segera menikah setelahnya."

Seldin terdiam. Pikirannya bekerja cepat seperti mesin hitung. Tunangan dengan Jasen berarti menyatukan dua kekuatan terbesar di Phoenix Group. Itu akan menutup celah bagi siapa pun yang ingin merusak dominasi Aeru. Terlebih lagi, Jasen adalah sosok yang "bersih" di mata Seldin—brilian, kaya, dan berasal dari garis keturunan yang setara.

"Kau tahu Sera sulit diatur, Jasen," ujar Seldin datar. "Dia keras kepala seperti mendiang Ibu kami."

"Aku bisa menanganinya, Seldin. Berikan aku restumu, dan aku akan memastikan dia tetap aman di bawah naungan keluarga Admire. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang merger perusahaan dari luar yang mengancam bisnismu," Jasen menekankan poin terakhirnya, tahu benar bahwa itu adalah titik lemah Seldin.

Seldin baru saja hendak menyalakan cerutu barunya ketika suara pintu utama yang berat terbuka. Suara tawa pelan Seraphina terdengar menggema di lorong, diikuti oleh langkah kaki yang mantap dan berat milik Dareen.

Sera melangkah masuk ke ruang tamu dengan perasaan yang masih melambung tinggi. Rambutnya sedikit acak-acak karena angin di atap gedung tua tadi, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan yang jarang terlihat. Namun, binar itu padam seketika saat ia melihat siapa yang duduk di hadapan kakaknya.

"Jasen?" gumam Sera, langkahnya terhenti.

Di belakangnya, Dareen Christ seketika berubah menjadi patung es. Seluruh otot di tubuhnya menegang saat ia melihat pria yang beberapa jam lalu ia intimidasi di toilet kampus kini sedang duduk manis di rumah majikannya. Tatapan mata Dareen dan Jasen beradu di udara, tajam dan penuh permusuhan yang tak terucap.

"Sera, akhirnya kau pulang," suara Seldin yang dingin memecah kebekuan. "Duduklah. Kita sedang membicarakan sesuatu yang penting."

Sera melirik ke arah Dareen, mencari pegangan secara mental, sebelum akhirnya duduk di sofa tunggal di samping Seldin. Dareen tetap berdiri di belakang Sera, tangannya berada di belakang punggung, namun matanya terus memantau setiap gerak-gerik Jasen dengan kewaspadaan tingkat militer.

"Ada apa ini, Kak? Kenapa Jasen ada di sini?" tanya Sera, suaranya kembali ke mode angkuh untuk menutupi kegelisahannya.

Jasen tersenyum lebar, jenis senyum kemenangan yang membuat Dareen ingin menghantamkan wajah pria itu ke meja marmer. "Aku baru saja berdiskusi dengan Seldin tentang masa depan kita, Sera. Tentang bagaimana kita bisa menjaga warisan keluarga kita tetap utuh."

Seldin berdehem, menarik perhatian Sera sepenuhnya. "Sera, keluarga Admire dan Aeru sudah bekerja sama sejak zaman orang tua kita masih muda. Ayah Jasen adalah pilar penting dalam Phoenix Group. Mengingat situasi politik perusahaan saat ini yang semakin memanas, aku dan Jasen telah sepakat."

Seldin menjeda sejenak, matanya melirik ke arah Dareen yang berdiri membatu di belakang adiknya, sebelum kembali ke Sera. "Aku merestui lamaran Jasen. Kalian akan bertunangan dalam waktu dekat. Ini adalah langkah terbaik untuk melindungimu dari spekulan bisnis di luar sana yang ingin memanfaatkanku lewat dirimu."

Sera merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah disedot keluar. "Tunangan? Kak, kau bercanda? Aku bahkan belum lulus kuliah! Dan aku tidak pernah setuju untuk dijodohkan dengan siapa pun!"

"Ini bukan sekadar perjodohan, Sera. Ini adalah aliansi strategis," Seldin menyahut tanpa emosi, nada bicaranya tidak menerima bantahan. "Jasen adalah satu-satunya pria yang memiliki kapasitas untuk melindungimu dan menjaga aset kita. Aku sudah memutuskan."

Jasen mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Sera dengan tatapan yang sok peduli. "Aku tahu ini mendadak, Sera. Tapi percayalah, ini demi kebaikanmu. Aku tidak ingin melihatmu dalam bahaya. Kau butuh seseorang yang bisa memberikanmu masa depan yang pasti, bukan sekadar... penjagaan."

Jasen melirik sinis ke arah Dareen, sengaja menekankan kata 'penjagaan' untuk merendahkan posisi pria itu. Di mata Jasen, Dareen hanyalah anjing penjaga yang sebentar lagi akan kehilangan fungsinya jika Sera berada di bawah perlindungannya.

Sera bangkit berdiri, wajahnya memerah karena amarah. "Aku bukan aset bisnismu, Kak! Dan kau, Jasen ... kau pikir dengan membawa ayahmu dan sahammu, kau bisa memilikiku?"

Dareen, yang sedari tadi hanya diam, merasakan amarah yang membara di dadanya. Tangannya yang berada di belakang punggung mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia ingin berteriak, ingin menarik Sera pergi dari sana, namun ia tahu posisinya. Di ruangan ini, di hadapan Seldin dan kekuasaan Phoenix Group, ia hanyalah "objek" yang tidak memiliki suara.

"Sera, jaga bicaramu," tegur Seldin tajam. "Atau aku akan menarik semua fasilitasmu, termasuk pengawal pribadimu ini. Jika kau merasa sudah cukup dewasa untuk menolak keputusanku, maka kau harus siap menanggung konsekuensinya sendirian."

Sera terdiam. Ancaman Seldin tentang menarik Dareen adalah senjata paling ampuh. Ia menatap kakaknya dengan kebencian yang mendalam, lalu melirik ke arah Dareen. Ia melihat mata Dareen yang memberikan isyarat agar ia tetap tenang. Dareen tahu, jika mereka meledak sekarang, Seldin akan segera memisahkan mereka selamanya.

"Baiklah," Sera berkata dengan suara gemetar, mencoba menahan isak tangis. "Tapi jangan harap aku akan menjadi tunangan yang patuh. Dan kau, Jasen ... jangan pernah mengira kau sudah menang."

Sera berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Dareen segera mengikuti di belakangnya. Namun, saat Dareen melewati Jasen, pria itu berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Dareen.

"Permainan selesai, Letnan. Kau hanya penonton sekarang," ejek Jasen dengan suara rendah yang penuh kebencian.

Dareen berhenti sejenak, bahunya menegang. Ia menatap Jasen dari sudut matanya, sebuah tatapan yang mengandung janji akan kehancuran. Tanpa membalas sepatah kata pun, Dareen melanjutkan langkahnya mengikuti Sera ke lantai atas.

Di ruang tamu, Seldin kembali menyalakan cerutunya. "Maafkan sifat manjanya, Jasen. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri."

"Tidak masalah, Seldin," sahut Jasen sambil tersenyum licik, matanya menatap tangga tempat Sera dan Dareen baru saja menghilang. "Aku punya banyak waktu untuk membuatnya menyadari siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini."

Di balik tembok kamarnya, Sera jatuh ke pelukan Dareen begitu pintu terkunci. Ia menangis tanpa suara di dada pria itu, sementara Dareen memeluknya dengan erat, seolah-olah dunianya sedang runtuh berkeping-keping.

"Jangan biarkan dia membawaku, Babe," isak Sera.

Dareen mencium puncak kepala Sera, matanya menatap tajam ke arah pintu. "Tidak akan pernah, Sera. Meski aku harus menghancurkan seluruh Phoenix Group, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."

Konspirasi itu kini semakin nyata. Musuh mereka bukan lagi sekadar masa lalu yang terkubur, tapi kini berdiri tepat di hadapan mereka, mengenakan setelan mahal dan memegang restu dari orang paling berkuasa di hidup Sera. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!