Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Empat Kosong Dua
Deru mesin SUV hitam itu terdengar seperti geraman rendah di tengah kesunyian jalanan pinggiran kota yang jarang dilalui. Di balik kemudi, Dareen Christ mencengkeram stir dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya lurus menatap aspal, namun seluruh sensor tubuhnya terpusat pada sosok wanita yang duduk di kursi belakang. Melalui spion tengah, ia bisa melihat Seraphina Aeru sedang memperhatikannya dengan tatapan yang bisa menghanguskan logika pria mana pun.
"Dareen," panggil Sera, suaranya seperti aliran madu yang kental dan panas. "Belok kiri di persimpangan depan. Ada motel dengan privasi tinggi di sana."
Dareen berdehem, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan profesional. "Nona, jadwal Anda hari ini sangat padat. Tuan Seldin sudah memesan tempat di butik utama pukul empat sore untuk fiting gaun pertunangan Anda dengan Tuan Jasen. Kita sudah terlambat sepuluh menit."
Sera mendengus, sebuah suara remeh yang elegan. Ia memajukan tubuhnya, menyelinap di antara celah kursi depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Dareen. Aroma parfum black opium yang melekat di kulitnya seketika memenuhi rongga paru-paru Dareen, memicu memori-memori terlarang yang seharusnya dikubur dalam-dalam.
"Biarkan kakakku menunggu," bisik Sera, jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang Dareen yang tegas, berakhir dengan sentuhan ringan di cuping telinganya. "Aku merindukan sentuhan manis 'Babe'-ku. Apa kau tidak merasa haus setelah pertunjukan hebatmu di kantin tadi? Aku tahu kau butuh pelampiasan, dan aku butuh kau."
"Sera, jangan sekarang ..." Dareen memprotes lemah, namun tangannya justru mengarahkan kemudi ke arah yang diminta. Ia selalu kalah. Di hadapan Seraphina, protokol keamanan dan sumpah setianya kepada keluarga Aeru hanyalah tumpukan kertas yang mudah terbakar.
Begitu pintu kamar nomor 402 itu tertutup dengan bantingan pelan namun sarat akan urgensi, udara di ruangan remang-remang itu seketika berubah pekat. Bunyi kunci yang diputar dari dalam seolah menjadi tanda dimulainya sebuah upacara rahasia. Cahaya temaram dari lampu dinding yang kekuningan memberikan rona emas pada kulit Sera yang porselen, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
Sera berdiri di tengah ruangan, membelakangi ranjang dengan sprei putih yang masih rapi. Ia tidak segera bergerak, hanya menatap Dareen yang masih berdiri tegak di depan pintu, seolah-olah pria itu sedang menahan dirinya agar tidak segera menerjang majikannya sendiri.
"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung, Dareen," suara Sera meluncur rendah. "Tugasmu belum selesai."
Dareen menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang berat hingga bahu lebarnya naik-turun dengan kentara. Ia melangkah maju, setiap derap sepatunya di atas karpet motel terdengar seperti detak jantung yang memburu. Ia berhenti tepat di depan Sera, menyisakan jarak yang cukup dekat untuk merasakan panas yang memancar dari tubuh satu sama lain.
"Bukakan jaket ini, Dareen," perintah Sera. "Ini perintah majikanmu."
Tangan Dareen yang besar dan kapalan bergerak gemetar saat menyentuh ritsleting jaket kulit mahal yang dikenakan Sera. Jemarinya perlahan menurunkannya, menciptakan bunyi gesekan logam yang terasa sangat nyaring di kesunyian kamar itu. Saat jaket itu luruh dari bahu Sera dan jatuh ke lantai dengan suara tumpul, Sera tidak membiarkan Dareen menarik tangannya kembali.
Dengan gerakan nakal yang sudah menjadi ciri khasnya, Sera menangkap pergelangan tangan Dareen dan menuntunnya untuk tetap menyentuh kulit lengannya yang halus. Namun, Sera sendiri memiliki rencana lain. Ia mulai melakukan penjelajahan yang jauh lebih berani. Jemarinya merayap naik ke wajah Dareen, menelusuri bekas luka kecil di pelipis pria itu, lalu turun ke lehernya yang berdenyut kencang.
"Kau sangat hebat di kantin tadi," bisik Sera, bibirnya hampir menyentuh bibir Dareen. "Cara kau menekan Jasen hingga dia memohon ... itu sangat seksi."
Tangan Sera terus turun, melewati kancing kemeja taktis Dareen yang kaku, meluncur ke dada yang bidang, hingga akhirnya berhenti tepat di area kejantanan Dareen yang sudah menegang keras. Ia meraba bentuknya yang kokoh melalui kain celana, memberikan tekanan yang disengaja yang membuat Dareen mengerang tertahan.
"Sera ... hentikan," geram Dareen, mencoba menangkap tangan Sera meskipun seluruh sel di tubuhnya berteriak untuk menyerah. "Ingat siapa Anda. Minggu depan adalah pertunangan resmi Anda dengan Jasen Admire. Anda akan menjadi miliknya."
Sera tertawa, sebuah tawa yang sarat akan kepahitan dan pemberontakan. "Jasen boleh memiliki namaku di atas kertas kontrak, tapi dia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya memilikiku seperti ini. Aku akan tetap bermain-main denganmu, Dareen. Selamanya. Kau adalah canduku, dan aku tidak punya niat untuk sembuh."
Mendengar kata-kata "bermain-main", ekspresi Dareen berubah. Ada kilatan kekecewaan yang mendalam di matanya. Ia melepaskan tangan Sera dan mundur satu langkah, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa sangat dingin.
"Jadi itu semua bagimu?" suara Dareen berubah dingin dan datar. "Sebuah permainan? Aku hanya sebuah hiburan untuk mengisi kekosonganmu sebelum kau sah menjadi nyonya Admire? Kau menyebut ini cinta, tapi kau dengan mudahnya membicarakan pertunangan itu seolah itu hal yang wajar."
Dareen menatap langit-langit kamar dengan getir. "Aku meragukan cintamu, Sera. Aku merasa aku hanya pion yang kau gunakan untuk membalas dendam pada kakakmu atau sekadar memuaskan rasa penasaranmu pada pria dari kasta rendah sepertiku."
Sera tertegun. Wajahnya yang semula penuh gairah seketika berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak. Ia merasa terhina. Bagaimana mungkin pria yang selalu ia lindungi dari balik layar berani meragukan pengorbanannya?
"Kau berani meragukanku?!" teriak Sera. Ia memukul dada Dareen dengan kedua tangannya, pukulan-pukulan yang tidak menyakitkan secara fisik namun sarat akan frustrasi. "Setelah semua yang kulakukan? Aku hampir mempertaruhkan hak warisku hanya agar kau tetap menjadi pengawalku! Dan kau menyebutnya permainan?!"
Sera berbalik dengan kasar, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Pergi, Dareen! Jika kau pikir aku serendah itu, keluar sekarang! Kembali ke mobil dan jadilah robot tanpa perasaan lagi!"
Namun, Dareen tidak bergerak menuju pintu. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan kecepatan predator. Sebelum Sera sempat menjauh, Dareen sudah memeluknya dari belakang, mengunci tubuh mungil itu dalam dekapan lengannya yang perkasa.
"Maafkan aku," bisik Dareen tepat di ceruk leher Sera. Suaranya kini lembut, penuh penyesalan yang tulus. "Aku hanya pecemburu, Sera. Membayangkan pria lain menyentuhmu membuatku kehilangan akal sehat."
Dareen mulai memberikan sentuhan yang berbeda—bukan lagi sentuhan seorang pengawal, melainkan seorang pria yang memuja wanitanya. Bibirnya mulai menjelajahi bahu Sera, memberikan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan tanda kemerahan yang samar. Tangannya yang besar mulai bergerak dengan ritme yang ahli, membelai titik-titik sensitif di pinggang dan perut Sera.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi ke tangan pria itu tanpa perlawanan," bisik Dareen lagi, jari-jarinya kini menelusuri lekukan tubuh Sera dengan lembut namun menuntut.
Sera memejamkan matanya, amarahnya luruh seketika digantikan oleh rasa lemas yang menyenangkan. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Dareen, membiarkan tangan pria itu menuntunnya ke dalam sensasi yang lebih dalam. Sentuhan Dareen begitu pas, begitu tahu di mana harus menekan dan di mana harus membelai.
"Ah ... Dareen ... Babe ..." Sera akhirnya mengeluarkan lenguhan indah yang panjang, sebuah suara yang melambangkan penyerahan diri sepenuhnya.
Di kamar motel yang temaram itu, identitas mereka sebagai Nona dan Pelayan lenyap. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang mencoba mencuri waktu dari takdir yang sebentar lagi akan memaksa mereka kembali ke dalam sandiwara yang melelahkan. Bagi Sera, lenguhan itu adalah bukti bahwa hatinya telah lama tertambat pada sang pengawal, terlepas dari apa pun yang dikatakan dunia.
Dan semoga Sera sdh sadar, dan bisa bahagia juga dengan Jasen..
Dan Sera, astaga,,, makin hari makin kelihatan sifat manipulatifmu jalang ... 😠
Darren jngn sampai goyah... hapus total perasaan pernah sukamu sama perempuan jalang itu...👊👊
Buktikan kepada Seldin Aeru yg sombong, bahwa kau bisa berharga sebagai manusia di luar kediaman megah mereka 💪
Kau terlahir dgn kecerdasan bisnis yg luar biasa, Kau pasti bisa... 💪💪
Dari awal kau yg gatal terhadap Darren. Saat Darren memutuskan berhenti jadi budak nafsu mu, kau ingin masih ingin menghancurkannya.
Kau salah... Lihat saja...Darren malahan akan perlahan membencimu...👊👊
Jangan biarkan Seraphina menang...👊👊
Ayo,, bicakan berdua, jngn buat celah utk wanita tak tau malu seperti Sera menghancurkan mimpimu...