Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Kebebasan
Malam itu, kemarahan Anastasia meledak di apartemen Stevani. Ia mondar-mandir seperti singa lapar, memaki keteledoran mulut Stevani di kantin tadi.
"Kau gila, Stev! Sky mulai curiga! Kalau sampai dia tahu, habislah aku!" teriak Anastasia sambil mengacak rambutnya frustrasi. Untuk meredakan stres yang menghimpitnya, ia segera menelepon pria bayarannya.
"Cepat ke apartemen Stevani sekarang! Aku butuh pelampiasan!"
Tak butuh waktu lama, gairah pun membara di kamar ujung apartemen itu. Di tengah pergulatan mereka, bel pintu berbunyi. Phoenix muncul dengan senyum santai yang sulit dibaca.
"Hai, Stev. Aku lewat dan berpikir ingin mampir," ucap Phoenix ringan sambil melangkah masuk. Namun langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara-suara ambigu dari arah kamar.
"Wah, siapa itu, Stev? Sepertinya gairahnya sedang sangat tinggi, ya?" sindir Phoenix dengan nada mengejek.
Stevani tampak pucat, tak sempat menjawab saat tiba-tiba pintu apartemen terbuka lebar. Sky Remington masuk dengan langkah mantap. Wajahnya tenang, namun tangannya memegang kamera yang sudah merekam segala bukti keberadaan mobil Anastasia dan kehadirannya di tempat ini.
Tanpa basa-basi, Sky berjalan lurus menuju kamar ujung. Stevani hanya bisa berdiri kaku, tak berani menghalangi. Saat Sky mendorong pintu yang tidak terkunci itu, pemandangan yang paling menjijikkan sekaligus paling dinantikan Sky terhampar di depan mata.
Anastasia memekik, mencoba menutupi tubuhnya dengan sprei, namun kilatan lampu flash kamera Sky sudah lebih dulu mengabadikan segalanya. Pria bayaran itu tampak kaget dan ketakutan.
Malam itu, Moskow seolah membeku di bawah lapisan salju yang kian menebal, namun di dalam apartemen mewah milik Stevani, suhu terasa panas oleh pengkhianatan yang memuakkan.
Anastasia Romanov, sang primadona kampus yang selalu diagung-agungkan karena kehormatannya, kini tampak seperti reruntuhan martabat yang berserakan di atas ranjang yang kacau.
Sky Remington berdiri di ambang pintu kamar yang baru saja ia dobrak. Tangannya masih menggenggam kamera profesional dengan kokoh. Tidak ada amarah yang meledak di wajahnya. Sebaliknya, sebuah ketenangan yang mematikan terpancar dari matanya yang biru sedingin es.
"Sky... ini tidak seperti yang kau lihat... aku bisa menjelaskan..." suara Anastasia bergetar hebat, giginya gemeletuk bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang melumpuhkan. Ia mencoba menarik sprei sutra untuk menutupi tubuhnya, namun gerakannya sia-sia karena bukti sudah terekam sempurna.
Sky hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Jangan membuang tenagamu untuk berbohong, Ana. Kau sudah terlalu banyak bicara selama empat bulan ini," ucapnya dengan nada datar namun sangat tajam.
Di belakangnya, Phoenix masuk dengan gaya santai yang provokatif. Ia menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menatap pemandangan di depan mata dengan binar jenaka yang menyakitkan.
"Woahhh, Anastasia... kau sangat seksi dengan posisi di atas tadi. Ternyata kau punya bakat terpendam selain menghabiskan uang ayahmu untuk menyewa pria brondong," katanya sambil memberikan tepuk tangan kecil yang menghina.
Phoenix melirik ke arah pria bayaran yang kini gemetar di pojok ranjang. "Kau pilih waktu yang salah untuk mencari uang tambahan, kawan," gumamnya dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Sky tidak sudi menatap Anastasia lebih lama lagi. Ia memutar tubuhnya, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu ek yang mahal. "Phoenix, kirimkan semua file ini ke pengacara pribadiku sekarang. Dan pastikan satu salinan sampai di meja makan orang tua Anastasia besok pagi sebelum sarapan dimulai," perintahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Dengan senang hati, Remington. Aku akan memastikan resolusi fotonya cukup tajam untuk membuat Ayah mertuamu tersedak kopinya," balas Phoenix dengan seringai lebar.
Sky keluar dari apartemen itu dengan perasaan yang luar biasa ringan. Saat ia menuruni lift, ia menarik napas dalam-dalam, merasakan oksigen seolah kembali memenuhi paru-parunya setelah berbulan-bulan tercekik oleh kepalsuan.
"Akhirnya..." gumamnya lirih di dalam lift yang sunyi. Ia merogoh ponselnya, jemarinya bergerak cepat mencari kontak yang paling sering ia pikirkan belakangan ini. Ozora.
Ia tidak mengirim pesan. Ia langsung menekan tombol telepon.
Di seberang sana, Ozora baru saja selesai mandi. Ia sedang menyisir rambut hitamnya yang basah saat ponselnya bergetar di atas meja rias.
"Halo, Sky?" ucapnya dengan nada ragu.
"Aku sedang menuju tempatmu. Tunggu aku di depan gerbang belakang," katanya singkat namun penuh penekanan.
"Sky? Ada apa? Suaramu terdengar... berbeda," bisik Ozora cemas.
"Hanya tunggu aku, Ozora. Aku punya kabar yang akan mengubah segalanya," ucap Sky sebelum memutuskan sambungan.
Sky memacu mobilnya membelah jalanan Moskow yang licin. Pikirannya melayang pada Ozora, gadis yang dianggap kutu buku, gadis yang menyembunyikan tato indah di pinggangnya, gadis yang memberinya kedamaian di tengah kebisingan dunia elitnya. Baginya, Ozora adalah satu-satunya realitas yang ia inginkan.
Tepat pukul sebelas malam, mobil Sky berhenti di gerbang belakang Mansion Bellvania. Ozora sudah berdiri di sana, terbungkus mantel wol putih yang membuatnya tampak seperti malaikat di tengah salju.
Sky keluar dari mobil, tidak memedulikan salju yang mulai membasahi mantelnya. Ia berlari kecil ke arah Ozora dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memeluknya begitu erat, seolah-olah takut gadis itu akan menghilang ditelan kabut malam.
"Sky, ada apa? Kamu menakutiku," bisik Ozora di balik dada bidang Sky.
Sky melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Ozora dengan kedua tangan hangatnya. "Semuanya sudah berakhir, Ozora. Semuanya," ucapnya dengan mata yang berbinar penuh kelegaan.
"Apa maksudmu?"
"Anastasia. Aku menangkapnya basah malam ini di apartemen Stevani. Dengan pria lain," katanya dengan nada puas.
"Aku sudah punya buktinya. Tidak akan ada pertunangan, tidak akan ada tuntutan dari keluarga Romanov. Aku bebas untuk bersamamu sekarang."
Ozora terpaku. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di kesunyian malam itu. "Kamu... kamu benar-benar akan melepaskan semuanya untukku?" tanyanya dengan suara yang hampir pecah.
Sky mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat Ozora yang kini berkaca-kaca.
"Bukan melepaskan, Ozora. Aku justru baru saja memenangkan segalanya. Aku memenangkan hakku untuk mencintaimu tanpa harus bersembunyi di bawah meja marmer lagi," gumamnya dengan suara yang serak karena emosi.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Sky menunduk dan menyatukan bibir mereka. Ciuman kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak ada rasa takut, tidak ada urgensi untuk sembunyi. Ini adalah ciuman kemenangan, ciuman yang menjanjikan masa depan.
Setelah beberapa saat, Sky melepaskan ciumannya dan menatap Ozora dengan tatapan menggoda. Ia melirik ke arah mantel Ozora yang sedikit terbuka. "Jadi... Nona Bellvania, karena aku sudah menjadi pria bebas, apakah aku boleh melihat seni favoritku malam ini?" ucapnya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Ozora berdiri.
Ozora tersipu, namun ia tidak lagi menghindar. Ia meraih tangan Sky dan menuntunnya masuk melalui pintu belakang yang tersembunyi.
"Ibuku sedang tidak ada di rumah," bisik Ozora sambil menarik Sky menuju kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar yang temaram, Ozora melepas mantelnya. Ia hanya mengenakan baju tidur satin yang sangat tipis. Sky berdiri terpaku di depan pintu yang terkunci. Ia berjalan perlahan mendekati Ozora, jemarinya menyentuh pinggang Ozora yang tertutup kain tipis.
"Aku merindukan ini," gumam Sky saat ia perlahan mengangkat ujung baju satin Ozora, menyingkap tato bunga lili yang melingkar indah di kulit putih itu.
Sky berlutut di depan Ozora, ia mengecup tato itu berkali-kali dengan penuh pemujaan. "Kamu indah, Ozora. Jauh lebih indah dari ribuan berlian milik keluarga Romanov," ucapnya tulus.
Ozora membelai rambut pirang Sky dengan lembut. "Dan kamu pria paling keras kepala yang pernah kutemui, Sky Remington," katanya sambil tersenyum manis.
Sky berdiri kembali, mengurung tubuh mungil Ozora di antara dadanya dan meja gambar. "Mulai besok, seluruh kampus akan tahu siapa pemilik hatiku yang sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menganggap mu gadis bayangan lagi," ucapnya dengan janji yang mutlak.
"Tapi bagaimana dengan Phoenix?" tanya Ozora teringat sahabat Sky yang jail itu.
Sky terkekeh pelan. "Dia mungkin akan menggoda kita sampai telinga kita merah, tapi dia adalah saksi pertama bahwa aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri," ucap Sky sebelum kembali meraup bibir Ozora dalam ciuman yang lebih dalam.
Malam itu, di bawah perlindungan dinding Mansion Bellvania, dua jiwa yang selama ini terperangkap dalam ekspektasi dunia akhirnya menemukan kebebasan mereka. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pengkhianatan, hanya ada detak jantung yang beradu selaras dengan jatuhnya butiran salju di luar jendela.
Keesokan paginya, suasana di Universitas Moskow gempar. Foto-foto Anastasia yang memalukan telah tersebar di kalangan elit melalui pesan berantai rahasia.
Anastasia tidak muncul di kampus, kabarnya ia langsung dikirim ke pengasingan di luar negeri oleh keluarganya untuk menutupi aib.
Sky berjalan memasuki lobi kampus dengan langkah yang sangat bangga. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian di depan. Ia berjalan berdampingan dengan Ozora, jemari mereka bertautan erat di depan semua orang.
Stevani yang melihat mereka hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tidak berani melontarkan satu kata pun.
Phoenix muncul dari arah kafetaria dengan kacamata hitamnya, ia bersandar di tembok sambil mengangkat gelas kopinya ke arah Sky dan Ozora. "Pemandangan yang sangat luar biasa untuk memulai semester baru!" serunya keras hingga semua orang menoleh.
Sky hanya tersenyum tipis ke arah Phoenix, lalu menunduk untuk membisikkan sesuatu di telinga Ozora. "Ayo kita ke kelas. Kita punya banyak waktu untuk membuat kenangan baru yang tidak perlu kita sembunyikan lagi," ucapnya.
Ozora mengangguk, ia menatap Sky dengan penuh cinta, menyadari bahwa mulai saat ini, dia bukan lagi gadis yang hanya bisa melamun di pojok perpustakaan. Dia adalah wanita yang telah memenangkan hati sang pangeran kaku, Sky Remington.
"Aku mencintaimu, Sky," bisik Ozora.
"Aku jauh lebih mencintaimu, gadisku," balas Sky dengan penuh keyakinan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰