Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: CAHAYA YANG PADAM DI MATA ARLAN
BAB 18: CAHAYA YANG PADAM DI MATA ARLAN
Malam di Delhi terasa mencekam di balik gerbang besi kediaman keluarga Vashishth. Rayhan baru saja kembali dari perbatasan dengan sebuah misi rahasia yang tidak ia ceritakan pada siapa pun. Di dalam mobil militernya, ia membawa seseorang yang ia temukan terkapar di pinggir jalan tol dalam kondisi yang mengerikan. Rayhan, sebagai seorang prajurit yang memiliki hati nurani, tidak bisa membiarkan pria itu mati begitu saja, tanpa menyadari bahwa pria itu adalah kunci dari seluruh penderitaan istrinya.
Di dalam rumah, Vanya sedang duduk di depan cermin, menatap kosong pada bayangannya sendiri. Ia masih mengenakan perhiasan pengantin yang terasa seperti duri di kulitnya. Tiba-tiba, suara deru mobil militer di halaman membuatnya tersentak. Instingnya berteriak bahwa sesuatu yang besar telah tiba.
Vanya berlari menuruni tangga. Di aula utama, ia melihat Rayhan masuk dengan terengah-engah, seragamnya ternoda debu dan darah.
"Rayhan! Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang dengan keadaan seperti ini?" teriak Vanya.
Rayhan menoleh, wajahnya tampak sangat lelah. "Vanya, aku menemukan seseorang. Dia terluka parah di kepala. Aku membawanya ke sini karena rumah sakit pusat sedang penuh dengan evakuasi darurat. Aku butuh bantuanmu untuk membersihkan lukanya sebelum dokter pribadi kita datang."
Pintu depan terbuka luas. Dua orang prajurit membopong seorang pria masuk. Pria itu menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat, dan ia terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Saat para prajurit itu mendudukkannya di kursi kayu besar di tengah aula, kepala pria itu perlahan mendongak.
Waktu seolah berhenti bagi Vanya. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dunianya runtuh berkeping-keping tepat di depan matanya sendiri.
"Arlan...?" bisik Vanya. Suaranya sangat kecil, hampir tenggelam dalam kesunyian malam.
Pria itu adalah Arlan. Namun, dia bukan Arlan yang gagah, sombong, dan cerdas yang Vanya cintai di Simla. Pria di hadapannya memiliki tatapan mata yang kosong, bibirnya gemetar, dan ada ketakutan yang murni terpancar dari wajahnya. Luka besar di pelipisnya menunjukkan betapa kerasnya hantaman balok kayu yang diberikan oleh anak buah Hendra.
Vanya berlari mendekat, ia menjatuhkan dirinya di kaki Arlan. "Arlan! Ini aku! Ini Vanya-mu! Lihat aku, Sayang! Kau hidup... kau benar-benar hidup!" Vanya menangis histeris, mencoba memegang tangan Arlan.
Namun, reaksi Arlan membuat semua orang di ruangan itu terpaku. Arlan berteriak ketakutan. Ia menarik tangannya dengan kasar dan meringkuk di pojok kursi, menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Jangan! Jangan pukul aku! Ibu... Ibu... Tuan Tentara, suruh wanita ini pergi! Dia menakutkan! Dia terus menangis!" suara Arlan melengking tinggi, suaranya terdengar seperti anak kecil berusia lima tahun yang sedang ketakutan.
Vanya membeku. Tangannya gemetar di udara. "Arlan... apa yang kau katakan? Ini aku, Vanya. Kita akan menikah, ingat? Kita punya janji di bawah pohon itu..."
Arlan menatap Vanya dengan mata bulat yang polos. Ia memiringkan kepalanya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. "Menikah? Apa itu menikah? Apakah itu sejenis permainan? Tuan Tentara," Arlan menarik-narik ujung baju Rayhan dengan manja, "Apakah wanita ini ingin mengajakku bermain? Aku lelah, aku ingin manisan."
Rayhan memejamkan mata, menahan rasa sakit di dadanya melihat pemandangan itu. Ia mendekati Vanya dan memegang bahunya. "Vanya... cukup. Dia tidak mengenalmu. Dokter di perbatasan tadi bilang, hantaman di kepalanya terlalu berat. Dia mengalami kemunduran mental. Ingatannya terkunci di masa kanak-kanak. Baginya, kita semua adalah orang asing."
"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN!" Vanya berteriak sambil memukul lantai marmer. "Dia Arlan! Dia pria terpintar yang pernah kukenal! Dia tidak mungkin menjadi seperti ini!"
Vanya kembali mendekati Arlan, kali ini lebih perlahan. Ia mencoba tersenyum di balik air matanya. "Arlan... lihat kalung ini. Kau ingat kalung ini? Kau yang memberikannya padaku di pasar..."
Arlan melihat kalung itu, lalu matanya berbinar senang. "Wah! Berkilau! Bagus sekali! Aku mau! Berikan padaku!" Arlan mencoba merampas kalung itu dengan gerakan yang tidak terkoordinasi, hampir mencekik leher Vanya.
Rayhan segera menarik tangan Arlan dengan lembut. "Arlan, jangan. Itu milik Vanya. Ayo, aku punya sesuatu yang lebih bagus di kamar. Ikut aku."
Arlan langsung berdiri dengan riang, melompat-lompat kecil di samping Rayhan. "Mainan baru! Mainan baru! Ayo, Tuan Tentara!"
Vanya hanya bisa menatap punggung mereka yang menjauh. Ia melihat suaminya, pria yang ia benci karena telah "menggantikan" posisi Arlan, kini justru menjadi satu-satunya orang yang dipercayai oleh Arlan. Kehancuran ini jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Melihat orang yang kau cintai masih bernapas, tapi jiwanya telah hilang, adalah neraka yang sesungguhnya.
Di lantai atas, Suman memperhatikan segalanya dari balik pilar. Wajahnya pucat pasi. Ia melihat Arlan yang kini seperti anak kecil, namun ia tahu bahwa ini adalah ancaman terbesar. Jika Arlan berada di bawah atap yang sama dengan Rayhan, maka kebenaran tentang darah mereka akan segera terungkap.
Suman segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengambil telepon dan menghubungi Hendra.
"Hendra! Kau bilang kau sudah membunuhnya! Kau bilang semuanya sudah selesai!" desis Suman dengan penuh amarah.
"Aku sudah membuangnya ke jurang, Nyonya! Bagaimana mungkin dia masih hidup?" suara Hendra terdengar gemetar di seberang sana.
"Dia ada di sini! Di rumahku! Rayhan membawanya pulang! Dan yang lebih buruk, Vanya sekarang tahu dia hidup. Tapi ada satu hal... anak itu kehilangan ingatannya. Dia bertingkah seperti anak kecil. Tapi kau tahu kan? Ingatan bisa kembali kapan saja. Jika dia mengingat siapa ayahnya, kita berdua akan hancur!"
"Tenanglah, Nyonya Suman. Jika dia sudah gila, tidak akan ada yang percaya padanya. Kita hanya perlu memastikan dia tidak pernah sembuh."
Malam itu, Vanya tidak masuk ke kamarnya. Ia duduk di depan pintu kamar paviliun tempat Arlan ditidurkan. Ia mendengar suara tawa Arlan dari dalam yang sedang berbicara dengan bayangannya sendiri.
Rayhan keluar dari kamar itu dan menemukan Vanya masih di sana. Rayhan duduk di sampingnya, memberikan keheningan yang sangat dibutuhkan Vanya.
"Kenapa kau menyelamatkannya, Rayhan?" tanya Vanya pelan.
"Karena itu tugas seorang manusia, Vanya. Aku tidak tahu dia adalah Arlan-mu sampai kau menyebut namanya tadi," jawab Rayhan jujur. "Tapi sekarang aku tahu... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi. Di rumah ini, dia di bawah perlindungan hukum militerku."
Vanya menatap Rayhan. Untuk pertama kalinya, kebenciannya pada Rayhan mulai luntur, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam. Namun, di saat yang sama, ia merasa takdir begitu kejam. Ia mencintai Arlan yang sudah "hilang", dan ia kini terikat pada Rayhan yang merupakan musuh bagi cintanya.
Di dalam kamar, Arlan tiba-tiba berhenti tertawa. Ia menempelkan telinganya ke pintu, mendengar suara Vanya. Untuk sekejap, matanya menunjukkan kilatan kesedihan yang sangat dalam, sebelum akhirnya ia kembali melompat di atas tempat tidur sambil berteriak, "Kuda! Aku punya kuda besar!"