Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Iblis
Di tengah rimba lebat yang diselimuti kabut tipis pegunungan, seorang pemuda berdiri tegak bak tombak yang tertancap di bumi. Kedua kakinya menapak kokoh di atas tanah yang retak, sementara dedaunan di sekelilingnya masih bergetar oleh sisa hempasan angin dari jurus yang baru saja dilepaskannya.
Pemuda itu adalah Lin Zhantian.
Ia perlahan menarik napas panjang. Di dalam tubuhnya, gelombang energi yang semula bergemuruh kini mereda, menyisakan rasa lemah yang samar namun jelas terasa hingga ke tulang. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kehampaan di dalam benih Yuan Li yang bersemayam di pusat tubuhnya.
Untuk sekali mengerahkan Segel Qimen, hampir separuh cadangan Yuan Li yang tersimpan di dalam benih itu terkuras habis.
Namun tatapannya tetap tenang.
Pengorbanan itu sepadan.
“Benih Yuan Li memang tak mampu menyimpan terlalu banyak energi…” batinnya dalam kesunyian hutan. “Jika telah mencapai Tingkat Kesembilan Tempering Tubuh dan membuka Dantian… segalanya akan berbeda.”
Pada Tingkat Kesembilan, Dantian akan terbuka—ruang sejati bagi lautan energi. Dibandingkan dengannya, benih Yuan Li hanyalah cawan kecil di hadapan samudra. Saat Dantian terbentuk, barulah seseorang memiliki modal untuk menghamburkan kekuatan tanpa takut kehabisan.
Namun memikirkan hal itu, alis Lin Zhantian sedikit berkerut.
Selama satu setengah bulan terakhir, ia telah berlatih tanpa mengenal siang dan malam. Cairan spiritual dari jimat batu telah ia gunakan entah berapa kali. Dua pil dari Buah Kristal Zhu telah habis tak bersisa. Bahkan enam pil hasil pemurnian Jamur Darah Api kini hanya tersisa dua butir.
Hampir seluruh simpanannya terkuras.
“Harus mencari obat spiritual lagi…”
Ia menghela napas lirih. Dengan kekuatan yang kini ia perlihatkan, sebenarnya ia sudah layak memperoleh sebagian sumber daya dari Keluarga Lin. Namun pil dari ramuan biasa sudah tak lagi memuaskan kebutuhannya. Yang ia perlukan adalah obat spiritual tingkat tiga—sesuatu yang bahkan bagi keluarga sebesar Lin pun bukan barang melimpah.
Dua batang Jamur Darah Api yang pernah ia terima sebagai hadiah sudah merupakan perlakuan istimewa.
Sementara ia tenggelam dalam perenungan, suara lembut bak lonceng perak tiba-tiba memecah kesunyian.
“Gege Lin Zhantian!”
Suara itu datang dari luar rimba, disusul sosok gadis kecil yang melesat masuk seperti kupu-kupu musim semi. Wajahnya merona merah, napasnya sedikit terengah, namun matanya berkilau penuh kegembiraan.
Itu adalah Qing Tan.
Lin Zhantian menoleh sekilas. Dengan santai ia membungkuk, mengangkat kembali bongkahan batu yang tadi terbelah akibat jurusnya.
“Ada apa, Qing Tan?” tanyanya ringan.
Namun jawaban gadis itu membuat batu besar di tangannya terlepas begitu saja.
“Aku sudah melahirkan Yuan Li!”
“Dentang!”
Batu itu jatuh menghantam tanah, meninggalkan lubang besar. Lin Zhantian berbalik dengan wajah membeku.
“Yuan Li? Kau sudah mencapai Tingkat Keenam Tempering Tubuh?! Bagaimana mungkin?!”
Keterkejutan memenuhi wajahnya. Selama ini Qing Tan memang kerap berkata ingin berlatih, tetapi ia tahu benar gadis itu tak pernah benar-benar tekun. Tempering Tubuh sembilan tingkat adalah jalan penuh penderitaan, bahkan bagi pria sekalipun, apalagi bagi gadis seusianya.
Menurut perhitungannya, sekalipun ia diam-diam membantu, Qing Tan memerlukan setidaknya setengah tahun untuk mencapai tingkat keenam.
Namun kini—
Gadis itu mengangkat telapak tangannya. Di sana, sinar redup berpendar lembut. Fluktuasi energi yang akrab terasa jelas.
Itu benar-benar Yuan Li.
Bagaimana mungkin?
Jika kecepatan kultivasi Lin Zhantian bisa disebut mencengangkan, maka apa yang terjadi pada Qing Tan hanya bisa digambarkan dengan satu kata—
Iblis jenius.
“Aku juga tidak tahu…” Qing Tan menjulurkan lidahnya dengan polos. “Tadi pagi saat bangun, tubuhku terasa aneh. Lalu tiba-tiba sudah seperti ini.”
Ekspresi Lin Zhantian perlahan berubah serius. Ia melangkah mendekat, menggenggam tangan Qing Tan.
Sentuhannya lembut, kulitnya halus. Namun ketika ia sedikit meningkatkan tekanan, ia merasakan sesuatu yang membuat hatinya terguncang.
Tulang-tulang Qing Tan memiliki kelenturan dan kekuatan yang tak wajar.
Itu adalah kualitas yang biasanya hanya terbentuk setelah latihan keras bertahun-tahun.
Lebih dari itu—di balik kekuatan tersebut, tersembunyi hawa dingin samar yang menusuk.
Kilatan kesadaran melintas di benaknya.
“Energi dingin dalam tubuh Qing Tan!”
Sejak kecil, setiap beberapa waktu sekali, hawa dingin misterius dalam tubuh Qing Tan akan meledak, menyiksanya hingga hampir pingsan. Energi itu brutal, namun kini Lin Zhantian menyadari sisi lain darinya.
Energi itu telah menempa tubuh Qing Tan selama lebih dari sepuluh tahun.
Tanpa disadari, setiap ledakan hawa dingin telah memurnikan tulang dan darahnya, menyusup hingga ke sumsum terdalam. Tempaan itu tak terlihat dari luar, tetapi terjadi sedikit demi sedikit, tanpa henti.
Kini hasilnya tampak jelas.
Tubuh Qing Tan telah mencapai tingkat kekuatan tinggi tanpa perlu latihan berat.
Lahirnya benih Yuan Li hanyalah konsekuensi alami—air yang mengalir mengikuti jalurnya.
Ia bahkan tak perlu berlatih keras untuk mencapainya.
Lin Zhantian terdiam lama.
Hal semacam ini… belum pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
Jika kabar ini tersebar, entah berapa banyak orang yang masih bersusah payah mendaki Tingkat Keenam akan memuntahkan darah karena iri.
Namun di balik keberuntungan itu, tersembunyi harga yang tak kecil.
Setiap kali hawa dingin itu meledak, Qing Tan menderita kesakitan luar biasa. Air mata dan jeritan yang tak pernah diketahui orang lain adalah bayaran bagi benih Yuan Li yang kini muncul begitu alami.
“Tubuh Qing Tan pasti menyimpan rahasia luar biasa…”
Getar kegelisahan muncul dalam hati Lin Zhantian. Ia tak tahu apakah itu berkah atau bencana.
Setelah hening sejenak, ia berkata pelan, “Jangan ceritakan ini kepada siapa pun dulu. Tunggu sampai Ayah kembali. Kita lihat apa pendapatnya.”
Qing Tan mengangguk patuh. Ia pun menyadari keanehan situasi ini. Dunia kultivasi tak pernah sepenuhnya bersahabat. Keistimewaan yang terlalu mencolok bisa mengundang malapetaka.
Melihat ekspresi serius Lin Zhantian, Qing Tan tiba-tiba tersenyum cerah.
“Gege, kebetulan beberapa hari ini akhir bulan. Pasar dagang di Kota Qingyang sedang ramai sekali. Kita pergi berjalan-jalan, ya?”
“Pasar dagang?”
Lin Zhantian sedikit tertegun.
Kota Qingyang adalah pusat aktivitas di wilayah ini. Setiap akhir bulan, pasar dagangnya berubah menjadi lautan manusia. Pedagang dari berbagai penjuru membawa barang langka—ramuan spiritual, bahan langka, senjata, hingga teknik bela diri.
Jika ia ingin mencari obat spiritual tingkat tinggi, tempat itu memang pilihan terbaik.
Tatapan Lin Zhantian perlahan berubah dalam.
Ia memandang Qing Tan yang menatapnya penuh harap. Gadis itu jarang meminta sesuatu. Wajahnya yang bersinar membuat hati siapa pun luluh.
Setelah mempertimbangkan sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Baiklah. Kita pergi.”
Di balik keputusan sederhana itu, takdir perlahan mulai bergerak.
Kota Qingyang yang hiruk-pikuk, pasar yang penuh intrik, ramuan langka yang tersembunyi, dan mungkin—pertemuan dengan para jenius lain yang tengah bangkit.
Langit senja mulai meredup di atas rimba.
Lin Zhantian berdiri tegap, sementara angin gunung berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan. Di sampingnya, Qing Tan tersenyum ceria, tak menyadari bahwa keberadaan Yuan Li yang baru lahir dalam tubuhnya telah membuka gerbang takdir yang lebih luas.
Di dunia kultivasi, kelahiran seorang jenius sering kali menjadi awal dari badai.
Dan Qing Tan—
Adalah badai yang bahkan belum menyadari kekuatannya sendiri.
Lin Zhantian tertegun sejenak mendengar ajakan itu.
Pasar dagang yang dimaksud Qing Tan bukanlah pasar biasa. Itu adalah pertemuan besar yang diselenggarakan bersama oleh para pedagang utama Kota Qingyang. Setiap akhir bulan, tempat itu berubah menjadi lautan manusia—ramai, riuh, dan dipenuhi aura kekayaan. Beragam barang diperjualbelikan di sana, mulai dari bahan obat spiritual, senjata, teknik bela diri, hingga benda-benda langka yang bahkan sulit ditemukan di dalam keluarga besar sekalipun.
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa pasar dagang itu adalah salah satu pusat kehidupan paling bergairah di Kota Qingyang.
“Benar, benar sekali! Kak Lin Xia dan yang lain juga sudah pergi…” Qing Tan mengangguk berulang kali, rambutnya yang hitam berkilau ikut bergoyang mengikuti gerakan itu. Wataknya yang lincah dan ceria memang sangat menyukai suasana ramai seperti itu. Namun karena ia sedang dalam masa dilarang keluar rumah, ia tak berani menyelinap sendirian. Maka satu-satunya harapan adalah menarik Lin Zhantian untuk menemaninya.
Lin Zhantian bergumam pelan, seolah tak terlalu tertarik. Namun jauh di dalam benaknya, sebuah gagasan tiba-tiba berkilat seperti petir membelah awan.
Ia tengah sangat membutuhkan obat-obatan spiritual.
Pasar dagang… mungkin menjadi solusi.
Tentu saja, membeli obat spiritual bukan perkara kecil. Harga barang-barang semacam itu sering kali membuat orang biasa hanya bisa menelan ludah. Uang yang dimiliki Lin Zhantian jelas jauh dari cukup untuk membeli sesuatu yang benar-benar ia butuhkan.
Namun—
Ia memiliki cairan spiritual dari jimat batu.
Dan juga dua pil terakhir hasil pemurnian Jamur Darah Api.
Nilai kedua benda itu tidak mungkin rendah.
Terutama dua pil yang berasal dari Jamur Darah Api tingkat tiga—kemurniannya jauh melampaui ramuan biasa. Energi yang terkandung di dalamnya murni dan pekat, hasil penyulingan jimat batu yang misterius. Dibandingkan pil yang beredar di pasaran, kualitasnya berada pada tingkat yang berbeda.
Jika dibawa ke pasar dagang, pasti akan ada banyak orang yang bersedia membelinya dengan harga tinggi.
Namun ia juga sadar, ia tidak boleh menjual terlalu banyak. Terlalu mencolok hanya akan mengundang kecurigaan. Di dunia kultivasi, rahasia adalah nyawa. Terlebih lagi, ia tidak rela memberikan terlalu banyak “senjata kultivasi” kepada orang lain.
Cairan spiritual dan pil itu adalah fondasi kemajuannya.
Ia hanya akan menjual secukupnya—untuk ditukar dengan bahan yang lebih ia butuhkan.
Dengan dana yang diperoleh, membeli obat spiritual tingkat tiga bukan lagi mimpi kosong.
Memikirkan hal itu, ketegangan yang selama ini membayangi hatinya perlahan mencair. Sudut bibir Lin Zhantian terangkat, senyum lega terukir jelas di wajahnya.
Masalah paling pelik itu akhirnya menemukan jalan keluar.
Ia menatap Qing Tan, yang masih memandangnya dengan mata berbinar penuh harap.
“Baiklah,” ujarnya mantap. “Kita pergi ke pasar dagang dan melihat-lihat.”
Begitu keputusan diucapkan, ia tak lagi ragu. Tangannya terangkat memberi isyarat, dan langkahnya sudah lebih dulu bergerak menuju jalan setapak yang mengarah keluar hutan.
Qing Tan seolah tak percaya ia berhasil membujuknya. Sepasang matanya langsung melengkung seperti bulan sabit, senyumnya manis hingga membuat udara di sekitarnya terasa lebih hangat.
“Gege Lin Zhantian yang terbaik!” serunya riang.
Sinar matahari sore menyelinap di antara celah dedaunan, menyinari dua sosok yang berjalan berdampingan meninggalkan rimba. Bayangan mereka memanjang di tanah, seolah menjadi pertanda bahwa perjalanan ini bukan sekadar kunjungan santai ke pasar.
Bagi Qing Tan, itu hanyalah kesempatan untuk melihat keramaian dan menikmati hiruk-pikuk dunia luar.
Namun bagi Lin Zhantian—
Itu adalah langkah strategis dalam jalur kultivasi yang semakin menuntut pengorbanan.
Kota Qingyang, yang selama ini tampak biasa di matanya, kini menyimpan kemungkinan baru. Di pasar dagang itu, mungkin tersembunyi obat spiritual yang mampu mendorongnya lebih dekat ke Tingkat Kesembilan Tempering Tubuh. Mungkin pula ia akan bertemu orang-orang dengan latar belakang tak terduga—para jenius dari keluarga lain, atau bahkan sosok-sosok misterius yang datang dari tempat jauh.
Dunia kultivasi tidak pernah berhenti berputar.
Di satu sisi, seorang gadis dengan bakat luar biasa baru saja membangkitkan Yuan Li tanpa latihan berat—sebuah keajaiban yang nyaris tak masuk akal.
Di sisi lain, seorang pemuda dengan tekad sekeras baja tengah merancang langkah demi langkah untuk menembus batas kemampuannya.
Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah dan bunga liar. Kota Qingyang di kejauhan mulai tampak, dindingnya berdiri kokoh di bawah cahaya jingga senja.
Di balik tembok kota itu, pasar dagang telah menyalakan lentera-lenteranya. Riuh suara tawar-menawar, tawa, dan percikan ambisi manusia bercampur menjadi satu.
Takdir perlahan bergerak.
Dan Lin Zhantian—tanpa menyadarinya sepenuhnya—sedang melangkah menuju pusaran yang akan memperluas cakrawala hidupnya, sekaligus menguji keteguhan hatinya.
Perjalanan menuju puncak tidak pernah sunyi.
Ia selalu diawali oleh langkah kecil—yang pada akhirnya mengguncang langit dan bumi.
mbosenin thor
gak