NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

buku penerjemah mimpi

"Jadi... tidak ada artinya?" tanya Kenny datar, masih dalam kondisi melongo tak percaya.

Sang ayah kembali tertawa, "Tepat sekali! Hahaha!"

Kenny terdiam sejenak, menatap ayahnya dengan tatapan kosong sekaligus bingung. "Terus, untuk apa aku sekolah kalau tidak ada artinya? Untuk apa aku bangun tiap pagi dan berangkat? Untuk apa aku belajar? Memang sih, nilaiku tidak hebat-hebat amat, tapi setidaknya aku tidak pernah keluar dari peringkat 15 besar dari 50 siswa. Dan itu butuh usaha, Yah! Bukankah lebih baik aku fokus ke teater saja kalau memang begitu?"

Pria berambut perak itu menghisap pipanya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara. "Oh, tidak juga, Kenny. Sesuatu yang tidak memiliki arti... bukan berarti akan menjadi sesuatu yang sia-sia."

Kenny mengernyitkan dahi, semakin tidak mengerti. "Maksudnya?"

"Dengarkan aku, Nak..." Pria itu menaruh pipanya, lalu menatap Kenny dengan pandangan yang dalam dan teduh. "Memang tidak ada artinya pada awalnya. Kalau kau hanya sekadar datang untuk belajar, lalu pulang, maka setelah lulus nanti kau pun hanya akan berakhir menjadi pekerja di teater ini," ujarnya sembari terkekeh pelan.

Ia menjeda sejenak, lalu menyambung dengan senyum yang tulus. "Tapi kau tahu, Nak? Kau bisa memberikan makna sendiri pada sesuatu yang awalnya tidak berarti, bukan?"

"Eh?" gumam Kenny, terpaku.

"Tentukan sendiri artimu. Jangan terus mengekor padaku hanya karena aku ini ayahmu. Kau adalah dirimu sendiri, dan kau mungkin saja ditakdirkan untuk sesuatu yang berbeda," lanjut sang ayah sembari menyandarkan punggungnya. "Sekarang lihatlah... Tadi kau bilang Luce memintamu untuk mengajarinya, kan? Bukankah itu sudah membuat sekolahmu terasa lebih bermakna?" lanjut ayahnya pelan.

Kenny terdiam. Kata-kata itu menarik ingatannya kembali pada momen di dalam kereta kuda sore tadi. Wajah Luce yang biasanya penuh tawa, kini tampil dengan gurat kemuakan dan tekad yang begitu pekat.

"Ken, tolong ajari aku summon dasar... Aku muak begini terus. Aku lelah diremehkan terus-menerus," ujar Luce saat itu, suaranya rendah namun sarat akan amarah yang tertahan.

Kenny kembali menatap ayahnya. Sang ayah hanya membalas dengan senyum simpul sembari kembali menyesap pipa tembakaunya, asap tipis mengepul di antara mereka.

"Sudah, pergi tidur sana. Jangan cuma dipikirkan terus, nanti otakmu bisa meledak," ujar ayahnya sembari terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang sempat serius.

Kenny pun ikut tersenyum, merasa sedikit lebih ringan. Ia berdiri dari kursinya. "Baik, Yah. Selamat malam," pamitnya sembari melangkah keluar, meninggalkan ayahnya yang masih asyik menghisap tembakaunya, menikmati kesunyian malam di ruangannya yang mirip museum seni.

****************

Luce sedang mengacak-acak isi lemari tua di rumah kayunya yang terasa lembab. Di meja tengah ruangan, berbagai jenis botol, tabung reaksi, wadah bahan, buku ramuan, hingga kompor kecil terhampar berantakan. Hanya beberapa botol berisi cairan misterius yang tersusun rapi di sudut ruangan.

Aroma di dalam rumah itu bercampur aduk antara bau udara lembab dan wangi tajam bahan-bahan ramuan. Di salah satu sudut dinding, tertempel sebuah foto usang yang mulai menguning dengan bingkai oval dari kayu. Foto itu memperlihatkan seorang pria bermata hijau dengan rambut cokelat, seorang wanita pirang bermata cokelat yang tengah hamil besar, dan seorang nenek tua.

Ditemani cahaya lampu sihir di langit-langit yang mulai meredup karena kehabisan daya, Luce terus mencari buku penerjemah mimpi milik mendiang ibunya.

"Di mana, ya...?" gumamnya lirih.

Ia menelusuri tumpukan buku yang mulai berdebu tebal, namun benda yang dicarinya tak kunjung tampak. Ia kemudian beralih ke peti kayu di sudut ruangan, mengeluarkan seluruh isinya hingga tumpukan kertas tua berserakan di lantai. Nihil.

"Ah... sial..."

Rasa lelah mulai menggerogoti tubuh dan pikirannya. Putus asa, Luce akhirnya menjatuhkan diri ke atas kasur jeraminya. Dalam keheningan malam, pandangannya tertuju pada foto di dinding kayu, sesuatu yang menyimpan jejak hangat yang tersisa di rumah yang dingin itu.

Luce menatapnya kosong, ingatannya melompat mundur belasan tahun lalu ketika tempat ini masih terasa lebih hangat.

****************

Mentari baru saja terbit di ufuk timur, membiarkan sinarnya menerobos masuk ke dalam rumah kayu kecil di pinggiran kota. Aroma rempah yang wangi menguar dari tanaman herbal di sekitar rumah, diiringi nyanyian burung-burung gereja.

"Huaaa!! Nenek!!"

Seorang anak kecil berambut cokelat berhamburan keluar dari kamar dengan air mata yang membanjiri pipi. Ia berlari kencang dan langsung memeluk erat kaki wanita tua yang sedang sibuk mencuci piring. Tangisnya pecah, sesenggukan.

"Astaga, Luce... Ada apa, Nak? Hmm?" tanya sang nenek lembut. Ia segera mengeringkan tangannya dan mengelus rambut cucunya dengan kasih sayang.

"Ular! Ada ular, Nek!" jawab Luce kecil di sela tangisnya. "Luce digigit ular!"

"Hah?! Di mana?!" Sang nenek panik. Ia segera berlutut, memeriksa tubuh kecil Luce dengan teliti.

"Di sini, Nek..." Luce menunjuk lehernya sendiri sambil terus terisak. Sang nenek memeriksa bagian leher itu dengan saksama, namun ia tidak menemukan bekas luka, darah, ataupun kemerahan sedikit pun.

"Tidak ada apa-apa di sini," ujar sang nenek. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau bohong ya, Sayang?"

Luce kecil yang tadinya ketakutan kini justru bertambah bingung. "Tidak, Nek! Luce jujur! Ularnya besar sekali, sebesar pohon!" serunya membela diri.

Wanita tua itu tertawa tulus, suara tawanya menenangkan kegelisahan Luce. Ia kembali mengelus kepala Luce dengan lembut. "Itu namanya mimpi, Nak..."

"Mimpi?" tanya Luce polos.

"Iya... Kemari." Wanita tua itu beranjak sejenak, mengambil sebuah buku tua dari dalam lemari kayu, lalu duduk di kursi goyangnya. Ia memberi isyarat agar Luce mendekat. Luce pun menurut dan diduk di pangkuan hangat neneknya.

"Mimpi itu... seperti melihat sesuatu saat kita sedang tertidur," jelas neneknya lembut sembari mulai membuka sampul buku tua tersebut.

"Melihat sesuatu dalam tidur?" ulang Luce, matanya terpaku pada deretan tulisan dan ilustrasi di halaman buku itu.

"Iya. Sering kali memang tidak ada artinya, tapi terkadang... ada pesan di baliknya," lanjut sang nenek sembari membalik lembaran kertas yang sudah mulai menguning. "Mau coba kita cari artinya, Nak Luce?"

"Eh? Iya, Nek!" seru Luce penuh antusias, rasa takutnya akan ular raksasa tadi seketika menguap berganti rasa penasaran.

Nenek Luce tertawa kecil, jemarinya bergerak lincah membalik halaman demi halaman. "Dulu, Emilia suka sekali dengan ilmu-ilmu semacam ini. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mempelajarinya," kenangnya dengan nada suara yang bergetar haru.

"Oh? Ibu ya, Nek?" tanya Luce mendongak. Neneknya hanya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum rindu yang dalam.

"Nah, ini dia! Digigit ular raksasa... artinya, kau akan mendapatkan sesuatu yang baik!" ujar sang nenek sembari menunjuk sebuah baris kalimat. Seketika, mata kecil Luce berbinar cerah.

"Wah... sesuatu yang baik? Seperti apa, Nek?" tanya Luce tidak sabar.

Sang nenek hanya terkekeh misterius. "Entahlah... Nenek juga tidak tahu pasti," ujarnya sembari menyerahkan buku berat itu ke dalam pelukan Luce. Ia kemudian menuntun Luce untuk turun dari pangkuannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring yang tertunda.

Luce mematung sejenak, menatap buku yang terasa sangat besar di tangan mungilnya. Namun, tepat saat ia hendak membuka halaman lain, terdengar suara pintu diketuk.

Tok! Tok! Tok!

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!