NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rahasia di Balik Kaus Oblong

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca-kaca kedai kopi yang sedikit berdebu. Gia duduk di kursi bar, menopang dagu sambil memperhatikan jalanan desa yang mulai sepi. Ucapan Niko tadi siang masih terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepalanya. “Tempat kumuh,” katanya. Gia menghela napas, matanya beralih ke jemarinya yang kini kasar karena terlalu sering terkena air cucian dan bubuk kopi. Dulu, jemari ini selalu cantik dengan manikur mahal.

"Dunia memang berputar terlalu cepat, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, suara tak-tek-tak-tek yang sudah mulai familiar di telinganya terdengar. Tapi kali ini ada yang berbeda. Rian tidak datang sendirian. Ia berjalan bersama seorang pria tua yang memikul cangkul, keduanya tampak tertawa akrab.

"Neng Gia! Masih buka, kan? Ini Pak kades mau nyobain kopi 'amarah' bikinan kamu," seru Rian sambil melambaikan tangan dengan semangat.

Gia buru-buru berdiri dan merapikan celemeknya. "Eh, iya, Pak Kades. Silakan duduk."

Pak Kades duduk dengan tenang, sementara Rian langsung nyelonong ke arah belakang bar—sesuatu yang biasanya akan membuat Gia berteriak marah. Namun entah kenapa, sore ini Gia membiarkannya. Rian mengambil botol air mineral dan membasuh wajahnya di wastafel sudut.

Saat itulah, Gia tertegun.

Ketika Rian membasuh leher dan wajahnya, air mengalir membasahi kaus oblong hitamnya yang tipis, membuatnya menempel ke kulit. Di balik kain pudar itu, Gia melihat sekilas siluet tubuh yang tidak tampak seperti kuli bangunan biasa. Postur tubuhnya tegak, bahunya bidang, dan ada cara berdiri yang sangat... berwibawa. Bukan tipe orang yang tumbuh besar dengan memikul beban semen.

Lebih dari itu, saat Rian menyeka wajah dengan handuk kecil yang ia gantung di bahu, Gia menangkap sesuatu di pergelangan tangan pria itu. Sebuah jam tangan hitam yang sangat kontras dengan penampilannya. Jam itu tidak berkilau seperti milik Niko, tapi Gia yang dulu sering bergaul dengan kalangan atas tahu persis: itu adalah jam tangan taktis militer yang harganya bisa untuk membeli tiga motor baru.

Kenapa seorang tukang bangunan serabutan pakai jam tangan seharga itu? batin Gia.

"Neng? Heii... Neng Gia? Melamun ya lihat kegantengan saya yang alami ini?" celetuk Rian sambil mengibaskan tangan di depan wajah Gia.

Gia tersentak, wajahnya mendadak panas. "Apa sih! Siapa juga yang melamun. Aku cuma... cuma bingung mau kasih Pak Kades kopi apa."

"Kopi yang paling enak dong. Pak Kades ini yang punya lahan di ujung sana, tempat saya lagi ngerjain proyek," kata Rian sambil duduk di samping Pak Kades.

Pak Kades terkekeh. "Rian ini pinter promosi, Gia. Dia bilang kopi buatanmu lebih enak dari kafe manapun di kota. Oh ya, gimana tadi siang? Rian bilang ada tamu jauh dari Jakarta?"

Gia melirik Rian dengan tajam. Tukang gosip! batinnya. Namun Rian hanya mengedipkan sebelah mata sambil asyik mengupil pelan—tingkah yang sangat tidak estetik tapi entah kenapa malah membuat Gia ingin tertawa.

"Cuma teman lama, Pak. Nggak penting," jawab Gia singkat sambil mulai menyeduh kopi.

"Oh, syukurlah kalau nggak penting. Soalnya Rian tadi bilang ke saya, kalau orang itu datang lagi, dia mau minta izin saya buat pasang papan 'Dilarang Masuk' khusus buat mobil mewah itu," Pak Kades tertawa lebar.

Gia hanya bisa tersenyum getir. Setelah Pak Kades pulang, kedai kembali sunyi. Rian masih di sana, asyik membersihkan sisa kopi di meja tanpa diminta.

"Rian," panggil Gia pelan.

"Ya, Neng Bos?"

"Jam tangan kamu... bagus."

Rian sempat terhenti sejenak. Gerakannya sedikit kaku, namun hanya sepersekian detik sebelum ia kembali santai. Ia melirik pergelangan tangannya, lalu terkekeh. "Oh, ini? Ini mah barang loakan, Neng. Saya beli di pasar loak deket terminal. Kelihatan keren ya? Ya iyalah, yang pakai kan emang sudah keren dari lahir."

"Jangan bohong. Aku tahu itu jam mahal," desak Gia, melangkah mendekat.

Rian berdiri, tingginya yang hampir kepala lebih tinggi dari Gia membuat gadis itu harus mendongak. Tatapan jail yang biasanya ada di mata Rian mendadak hilang, digantikan oleh tatapan dalam yang membuat jantung Gia berdegup sedikit lebih kencang.

"Neng Gia," suara Rian merendah, terdengar jauh lebih serius dan "mahal" dari biasanya. "Ada alasan kenapa orang lebih suka pakai kaus oblong daripada jas. Jas itu panas, kaku, dan seringkali dipakai buat nutupin borok di dalam hati. Kaus oblong ini... meski bolong, dia jujur. Sama kayak saya."

Rian kemudian tersenyum lagi, senyum miring yang menyebalkan itu kembali. "Sudah ah, jangan diinterogasi terus. Saya belum mau daftar jadi menantu Bapak kamu kok. Belum sanggup bayar maharnya pakai utang kopi."

Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Gia yang masih mematung dengan beribu pertanyaan. Rian bukan sekadar tukang bangunan yang berutang seribu rupiah. Cara dia bicara, cara dia menatap, dan jam tangan itu... semuanya tidak masuk akal.

Gia kembali menatap catatan utang. Nama 'Rian' di sana kini terasa memiliki misteri yang lebih besar daripada angka-angka yang tertulis.

Siapa kamu sebenarnya, Rian?

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!