Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Ulangtahun untuk Angkasa
"Mbak, saya mau ambil kue yang saya pesan kemaren." Senja sudah berada di toko kue ulangtahun. Dia sudah memesan kue ulangtahun untuk Angkasa dan tinggal mengambilnya sekarang.
"Tunggu sebentar ya, mbak!" Karyawan toko kue tersebut masuk ke dalam mengambil pesanan Senja.
"Ehemm.." Senja menoleh saat terdengar suara wanita berdehem dari belakang.
"Kamu Senja, kan?" Ternyata perempuan itu yang ternyata adalah Rea.
"Iya..Kamu.." Jawab Senja ragu.
"Rea.." Rea menjulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Senja.
"Senja," Jawab Senja membalas jabatan tangan Rea.
"Lagi beli kue?" Rea menatap karyawan di depan Senja yang sibuk memasukkan kue tart tersebut ke dalam kotaknya.
"Iya, mbak. Anak saya lagi ulangtahun." Angguk Senja.
"Owh.." Rea mengangguk.
"Mbak, sendiri?"
" Aku lagi beliin Sean brownis coklat. Akhir-akhir ini dia lagi sibuk kerja terus banyak fikiran. Kata orang dengan coklat bisa menenangkan fikiran." Ucap Rea menatap barusan brownis di dalam etalase kaca.
"Kamu kan temanan sama Sean dari SMA, pasti kamu tau Sean sukanya apa." Ciletuk Rea.
"Saya gak begitu begitu dekat dengan dia. Jadi saya juga tak begitu tau dengan apa yang dia suka!" jawab Senja tegas,karena dia paham kalau Rea sedang memancingnya.
"Maaf..jangan tersinggung . Aku kira kamu sedekat itu dengan Sean seperti yang lainnya."
"Gak apa-apa."
"Mbak.. Ini kuenya sudah siap!" Panggil pelayan toko ke Senja.
" Saya pulang dulu,mbak Rea!" Ucap Senja mengakhiri obrolan.
" Semuanya tiga ratus lima puluh ribu, mbak! " ucap karyawan toko lagi.
Senja kemudian ingin mengambil dompet di dalam tasnya, namun malah tak menemukannya.
" Dompetku?"lirihnya pelan sambil membongkar semua isi tasnya, namun masih tetap tak menemukannya.
Rea yang sedari tadi memperhatikan nya akhirnya memberanikan diri menghampiri Senja lagi.
"Ada apa Senja?"
" Dompet aku hilang. " Senja terlihat semakin cemas. Apalagi uang buat bayar kue tersebut ada di dalam dompet tersebut.
" Bagaimana jadi-nya mbak?" Karyawan toko menatap curiga Senja.
" Dompet saya hilang, mbak. "
"Gimana ini, mbak? Kue-nya udah jadi." Karyawan toko mulai memasang muka masam sama Senja.
"Biar saya yang bayar!" Potong Rea.
"Sekalian yang ini juga!" Rea menyodorkan kartu ATM nya ke karyawan toko.
"Ini kue nya Senja! Kamu bisa bawa pulang, pasti anak kamu udah nungguin." ucap Rea memberikan kotak kue tersebut ke Senja. Bagaimanapun Rea taunya kalau ayah dari anak Senja sudah meninggal. Jadi dia cukup kasihan.
"Tapi mbak.." Senja sedikit ragu mau menerimanya.
"Gak apa-apa. Kamu temannya Sean, berarti kamu temannya aku juga."
"Terimakasih, mbak. Saya pasti akan ganti uangnya, mbak!"
" Gak usah Senja." Rea menggeleng.
"Anggap saja ini kado untuk anak kamu!"
"Sekali lagi terimakasih, mbak! " Ucap Senja tersenyum dan buru-buru pulang ke rumah.
Sesampainya di depan warung makan buk Asni, Senja melihat Angkasa yang membantu buk Asni mau menutup warung makannya. Senja dengan perasaan haru menghampiri anak laki-lakinya itu.
"Assalamualaikum.." Ucap Senja.
"Walaikumsalam," Jawab Angkasa dan Bun Asni bersamaan.
"Ibuk bawa apa?" Mata Angkasa berbinar menatap kotak yang ditenteng Senja.
" Kue ulangtahun untuk kamu! Sesuai pesanan kamu."
Senja kemudian mengeluarkan kue tersebut dan memegang beberapa lilin di atasnya.Lalu menyalakannya.
Angkasa terlihat begitu senang dan antusias,saat nyanyian ulang tahun di nyanyikan.
"Sekarang kamu tiup lilin dulu!"
Angkasa mengangguk namun tiba-tiba memejamkan mata sambil mengucapkan keinginannya.
"Semoga ibuk dan Nini sehat selalu. Semoga ibuk tidak sedih dan mimpi buruk lagi. Semoga pekerjaan ibuk lancar dan semoga ibuk mendapatkan pendamping,agar tak kesusahan sendirian mengurus Angkasa. Dan semoga...Ayah masuk surga." Doa Angkasa membuat Senja tak berkata apa-apa dan memeluk erat anaknya.
"Semoga,Angkasa menjadi anak yang Sholeh,pintar dan berguna buat orang banyak!" Ucap Senja.
"Ibuk..Angkasa bangga sama ibuk!"
"Ibuk yang lebih bangga sama kamu,nak!"
"Tapi Nini yang bangga dengan kalian berdua!" Potong buk Asni membuat suasana malam ini menjadi terlihat bahagia.
**
"Beb..." Panggil Rea saat melihat Sean keluar dari lobby perusahan.
Rea berlari kecil sambil memeluk tunangannya itu.
" Tumben kamu ke sini?"
" Aku kan kangen sama kamu. Kamu sibuk sampai melupakan aku!" Rea memasang wajah cemberut.
"Bukan begitu sayang..Aku kan baru masuk kerja, jadi banyak hal yang harus aku benahi."
" Aku belikan kamu sesuatu! " ucap Rea begitu semangat.
" Apa emangnya? "
" Di dalam mobil aja. Sekalian kita pulang." ajak Rea menarik manja tangan Sean ke dalam mobil.
" Emangnya kamu belikan aku apa? " Tanya Sean penasaran saat mereka sudah di dalam mobil.
"Aku belikan kamu brownies coklat. Aku tau banget akhir-akhir ini kamu lagi banyak beban fikiran. Dan coklat adalah salah satu makanan yang membuat kita sedikit rileks." oceh Rea mengeluarkan brownis coklat dari paper bag.
"Hah?" Sean menatap bingung brownis di depannya.
Sean hanya tak menyangka, padahal hubungannya dengan Rea udah di tahap tunangan, ternyata Rea masih belum tau tentang apa yang di sukai dan tak di sukai dirinya.
" Beb.. Kok ekspresi kamu kayak gitu?" Rea menangkap ekspresi tak suka dari Sean.
" Bukan apa-apa. Cuma.. " Ucap Sean ragu.
"Cuma apa, beb?"
"Aku setiap makan makanan yang berbau coklat, sering merasa mual."
" Oh ya? " Rea merasa sedikit tak percaya.
" Jadi selama ini kamu gak pernah makan coklat?".
Sean menggeleng.
" Maaf beb.. Aku benar-benar gak tau." Rea merasa bersalah dibuatnya.
"Udah gak apa-apa. Kamu niatnya juga baik kok." Sean buru-buru menghibur Rea.
"Tetap saja, sudah sejauh ini hubungan kita dan aku masih belum benar-benar memahami kamu!" Rea menunduk sedih.
"Gak apa-apa sekarang kamu belum bisa. Nanti beriringan waktu, kamu pasti bisa kok!" Sean mengusap lembut kepalanya Rea.
" Padahal tadi aku udah nanya Senja. Tapi dia bilang gak begitu dekat sama kamu dan tak begitu tau kesukaan kamu."
"Kenapa kamu harus nanya Senja?" Sean menaikkan sedikit nada bicaranya.
" Kamu jangan salah paham dulu. Aku gak sengaja ketemu dia tadi di toko kue, jadi aku nanya sama dia. "
" Rea.. Jika kamu ingin memahami aku, kamu gak perlu bertanya pada siapapun. Seharusnya kamu nanya langsung ke aku."
" Sean.. Aku hanya.. "
" Hanya apa? Hanya penasaran dengan hubungan ku dulu sama Senja? Sehingga hal seperti ini kamu tanyakan langsung ke dia?" Sean terlihat kesal.
" Sean.. Aku benar-benar gak bermaksud apa-apa. Aku ketemunya juga gak sengaja sama dia yang lagi beli kue ulangtahun untuk anaknya."
" Angkasa ulangtahun? "lirih Sean dalam hati.
"Sungguh Sean, aku gak berniat kepoin hubungan kalian yang lalu." Rea memasang wajah memohon.
" Bukankah kamu penasaran dan selalu bahas ada apa antara aku dan Senja? Kamu sudah mendapatkan jawabannya kan dari dia? Kami gak terlalu dekat sehingga dia tak akan tau apa kesukaan dan apa yang enggak aku suka! " Ucap Sean tegas.
Sean menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya sedikit ngebut. Entah mengapa dia menjadi emosi seperti ini. Bukan saja karena sikap Rea yang sembarangan, namun lebih kecewa dengan jawaban Senja yang mengatakan tak begitu tau tentang dirinya. Padahal dia tau betul, kalau Senja sangat memahami dirinya. Dan Senja juga bahkan tau, kalau dirinya tak bisa memakan sesuatu yang berbau coklat.