NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Aku bersiap-siap untuk segera pergi. Tanganku bergerak cepat mengambil koper dari atas lemari, memasukkan beberapa helai pakaian, dokumen penting, dan barang-barang yang sekiranya tidak bisa kutinggalkan. Setiap lipatan baju terasa seperti keputusan yang semakin bulat di dalam hati.

Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.

Mas Bram masuk dengan langkah lebar, wajahnya tegang.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan nada tinggi.

Aku menutup koper dengan keras.

"Pergi!!"

"Tidak!! Kau tetap di sini!" suaranya menggelegar, seolah perintahnya adalah hukum mutlak.

Aku menatapnya tajam, dada ini masih naik turun menahan amarah dan trauma yang belum sepenuhnya reda.

"Tidak akan!! Kamu tahu, Mas, tadi aku hampir saja dicelakai oleh preman-preman. Aku menghubungi kamu, tapi apa? Ponselmu tidak aktif! Aku menelepon Arumi, dia tidak angkat. Lalu aku telepon Leon! Dia datang di saat yang tepat!"

Napas Mas Bram memburu. Rahangnya mengeras.

"Halah, bohong kamu!!"

Kata-katanya seperti tamparan kedua setelah yang ia layangkan sebelumnya. Dadaku sesak. Di matanya, bukan kekhawatiran yang kulihat—melainkan kecurigaan.

Air mata menggenang tanpa bisa kutahan lagi.

"Bohong?" suaraku bergetar. "Mas, aku hampir diseret paksa! Kalau saja Leon terlambat sedikit—" kalimatku terputus, bayangan tangan-tangan kasar itu kembali menghantui pikiranku.

Alih-alih mereda, emosi Mas Bram justru semakin meledak.

"Kenapa harus Leon lagi?! Kenapa selalu dia yang kamu hubungi?!"

Aku tertawa getir.

"Karena hanya dia yang datang, Mas. Hanya dia."

Apa jangan-jangan kamu punya hubungan sama dia?!”

Tuduhan itu meluncur begitu saja dari bibir Mas Bram, tajam dan menyakitkan. Seolah harga diriku begitu murah untuk dipermainkan dengan prasangka.

“Jaga mulutmu, Mas!” bentakku, emosiku akhirnya meledak. “Dan kamu tahu siapa yang hampir membuatku celaka? Monika!!”

Mas Bram tertegun sesaat, tapi hanya sepersekian detik.

“Apa?! Monika? Gak mungkin! Jangan ngarang kamu, Rania! Jangan mengkambinghitamkan Monika. Dia baik, loh, sama kamu!”

Aku tertawa hambar. Baik?

“Baik?” ulangku lirih namun penuh penekanan. “Mas benar-benar tidak melihat bagaimana caranya menatapku? Cara bicaranya? Atau Mas memang pura-pura tidak tahu?”

Wajah Mas Bram memerah.

“Cukup, Rania! Aku kenal Monika lebih lama dari kamu!”

“Ya, tentu,” sahutku cepat. “Karena dari dulu sampai sekarang, Mas selalu percaya dia dibanding aku.”

Mas Bram terlihat ragu sesaat, namun egonya terlalu besar untuk mengalah.

“Kamu menuduh tanpa bukti!”

"Aku tidak akan menahanku lagi, Rania."

Suara Bram terdengar dingin, datar, seolah semua yang pernah kami lalui tak pernah berarti.

Aku tertawa kecil, pahit.

"Sejak kapan kamu pernah menahanku?"

Bram mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras setiap kali nama itu disebut.

"Jangan bawa-bawa Monika lagi!"

"Kenapa? Takut topengnya terlepas?" suaraku meninggi. "Aku sudah bilang dari awal, Monika tidak sebaik yang kamu kira!"

"CUKUP!" bentaknya. "Kamu hanya iri padanya!"

Tamparan itu masih terasa membekas di pipiku. Tapi kali ini bukan rasa sakit yang mendominasi—melainkan kecewa.

Aku menatapnya lama. Pria yang dulu kuanggap pelindung, kini berdiri seperti orang asing.

"Kamu mantap untuk pergi?" tanyanya lagi, nada suaranya melembut, namun masih dipenuhi ego.

"Iya," jawabku mantap. "Aku lelah harus terus membuktikan bahwa aku bukan musuhmu."

Hening.

Beberapa detik yang terasa begitu panjang.

"Aku tidak akan menjemputmu kembali," ucapnya pelan.

Aku tersenyum tipis.

"Tenang saja. Aku tidak akan menunggu."

Tanganku meraih tas di atas meja. Langkahku terasa berat, tapi hatiku jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Saat pintu hampir tertutup, suara Bram kembali terdengar—lebih pelan, hampir tak terdengar.

"Jangan menyesal, Rania…"

Aku berhenti sesaat.

Tanpa menoleh, aku menjawab,

"Yang paling menyakitkan bukan pergi, Mas. Tapi bertahan di tempat yang tak lagi menginginkan kita."

Dan kali ini, aku benar-benar pergi.

Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, suara Mas Bram menggelegar memecah udara sore itu.

“Jangan pakai semua fasilitas dari aku! Termasuk kartu kamu, sebentar lagi akan aku blokir! Aku mau tahu sejauh apa kamu bisa bertahan hidup tanpa aku dan uang dariku!”

Langkahku terhenti.

Ancaman itu jelas. Disengaja. Ingin menjatuhkanku sebelum aku benar-benar pergi.

Aku menoleh perlahan.

Mas Bram berdiri beberapa langkah di belakangku, dengan wajah penuh keangkuhan. Di sampingnya, Monika berdiri manis. Terlihat begitu puas, begitu menang. Tatapannya seperti mengatakan bahwa inilah momen yang ia tunggu-tunggu.

Aku berjalan mendekat.

Bukan untuk memohon.

Bukan untuk menjelaskan.

Hanya untuk memastikan mereka melihatku baik-baik.

“Mas pikir aku gak bisa hidup tanpa uang Mas?” tanyaku tenang, meski dadaku bergetar hebat.

Mas Bram tersenyum miring. “Tiga hari juga kamu balik nangis minta maaf.”

Betapa mudahnya dia meremehkanku.

dua tahun pernikahan, dan dia masih menganggapku perempuan lemah yang tak mampu berdiri tanpa sandaran.

Aku menggeleng pelan.

“dua tahun aku hidup sama Mas. Dan dua tahun itu cukup buat aku belajar satu hal… jangan pernah menggantungkan hidup sepenuhnya pada orang yang mudah berubah.”

Wajah Monika sedikit menegang. Senyum kemenangannya mulai pudar.

“Oh iya,” lanjutku sambil menatap Mas Bram tepat di matanya, “Mas mau blokir kartu? Silakan. Itu hak Mas.”

Aku menarik napas dalam.

“Tapi satu hal yang Mas gak bisa blokir…”

Mas Bram mengernyit. “Apa?”

“Harga diriku.”

Sunyi.

Tak ada sahutan.

Hanya suara angin dan napas tertahan.

Monika mencoba menyela. “Kamu terlalu percaya diri, Rania.”

Aku tersenyum tipis padanya. “Percaya diri beda sama ambisi merebut suami orang.”

Wajahnya memucat seketika.

“Jaga mulut kamu!” bentak Mas Bram.

“Aku cuma menyebut fakta,” jawabku tenang.

Tanganku meraih koper di samping mobil.

“Mas mau tahu sejauh apa aku bisa bertahan tanpa Mas? Baik. Kita lihat nanti siapa yang lebih dulu menyesal.”

Aku membuka pintu mobil dan masuk tanpa menoleh lagi.

Begitu pintu tertutup, duniaku seperti runtuh.

Tanganku gemetar. Jantungku berdegup tak karuan. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh satu per satu.

Aku bukan tidak takut.

Aku takut.

Takut tidak punya tempat. Takut masa depan yang tidak pasti. Takut harus memulai dari nol.

Tapi ada satu hal yang lebih menakutkan daripada semua itu.

Tinggal bersama orang yang sudah tidak lagi menghargai keberadaanku.

Mesin mobil kunyalakan.

Kali ini aku pergi bukan karena emosi.

Aku pergi karena sadar.

Aku melangkah keluar dari halaman rumah itu dengan koper di tangan.

Tidak ada mobil.

Tidak ada kartu.

Tidak ada tempat tujuan yang jelas.

Suara Mas Bram masih terngiang.

“Jangan pakai semua fasilitas dari aku!”

Baik.

Aku tidak akan menyentuh apa pun miliknya.

Angin sore terasa lebih dingin dari biasanya. Satpam kompleks hanya menatap iba, tapi tak berani bertanya.

Monika pasti masih tersenyum puas di dalam sana.

Langkahku terasa berat, tapi aku tidak boleh berhenti.

Satu koper. Satu tas kecil. Dan harga diri yang tersisa.

Beberapa meter dari gerbang kompleks, aku berhenti. Tanganku mulai pegal. Air mataku hampir jatuh lagi, tapi kutahan.

Tiba-tiba suara klakson pelan terdengar di belakangku.

Aku menoleh.

Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dariku.

Kaca jendela perlahan turun.

Leon.

Aku langsung membuang muka.

Pintu mobilnya terbuka. Ia keluar, berjalan cepat ke arahku, lalu tanpa banyak bicara mengambil koper dari tanganku.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku refleks.

“Koper ini berat,” jawabnya singkat.

“Aku masih sanggup.”

“Aku tahu,” katanya tenang. “Tapi bukan berarti kamu harus memaksakan semuanya sendirian.”

Kalimat itu menohokku.

Leon menatap ke arah rumah besar yang kini terasa seperti penjara yang baru saja kutinggalkan.

“Dia benar-benar menyuruhmu pergi tanpa apa-apa?”

Aku tidak menjawab.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Rahang Leon mengeras. “Bram memang keterlaluan.”

“Jangan ikut campur,” kataku cepat, meski suaraku tak sekuat tadi.

Leon menatapku dalam. “Kalau aku tidak ikut campur, kamu mau ke mana sekarang? Jalan kaki dengan koper sebesar ini?”

Aku terdiam.

Karena memang… aku tidak tahu harus ke mana.

“Naik,” ucapnya pelan sambil membuka pintu mobilnya.

“Aku gak punya uang untuk bayar kamu,” kataku jujur.

Leon hampir tersenyum. “Aku bukan ojek online, Rania.”

Aku mendesah pelan.

“Aku gak mau dikasihani.”

“Aku juga gak sedang mengasihanimu,” jawabnya tegas. “Aku hanya tidak suka melihat perempuan diperlakukan seperti barang yang bisa dibuang kapan saja.”

Dadaku bergetar.

Untuk pertama kalinya hari ini… ada seseorang yang tidak meremehkanku.

“Anggap saja ini tumpangan biasa,” lanjutnya. “Sampai kamu benar-benar siap berdiri sendiri.”

Aku menatap mobil itu.

Menatap jalanan di depan.

Menatap kembali ke arah rumah yang tak lagi menjadi tempatku.

Akhirnya aku membuka pintu dan masuk.

Leon menutup pintu dengan tenang lalu kembali ke kursi kemudi.

Mobil melaju perlahan meninggalkan kompleks itu.

Aku bersandar, memejamkan mata.

Hari ini aku kehilangan banyak hal.

Tapi mungkin…

Aku juga sedang menuju sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Dan entah kenapa, kehadiran Leon di saat aku benar-benar tak punya apa-apa… terasa bukan kebetulan.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!