"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: SINGA YANG TERLUKA
BAB 20: SINGA YANG TERLUKA
Jakarta masih dibalut sisa hujan semalam, namun suasana di kantor pusat Dirgantara Group terasa jauh lebih dingin daripada udara luar. Kenzo Dirgantara berdiri di depan jendela kaca raksasanya di lantai 50. Kepalanya masih dibalut perban tipis yang kontras dengan rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Wajahnya yang dulu selalu terlihat tenang dan terkendali, kini hanya menyisakan guratan kemarahan yang tertahan.
Di belakangnya, Elvan Adiwangsa duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot. Di atas meja di antara mereka, tergeletak surat perpisahan Alana yang sudah lecek karena terlalu sering diremas.
"Kau membiarkannya pergi, Elvan," suara Kenzo terdengar rendah, seperti geraman singa yang sedang menahan rasa sakit di lukanya. "Kau adalah kakaknya. Kau membiarkan orang-orang asing itu menyeretnya ke atas pesawat saat aku sedang sekarat di meja operasi."
Elvan mendongak, matanya merah karena kurang tidur. "Apa yang bisa kulakukan, Kenzo?! Mereka bukan sekadar pengusaha. Mereka membawa pasukan! Maximilian memberi tahu kami bahwa jika Alana tidak ikut, rumah sakit itu akan diledakkan. Kau akan mati, aku akan mati, dan Alana akan tetap dibawa paksa sebagai mayat atau tawanan. Dia memilih untuk pergi agar kau tetap bernapas!"
Kenzo berbalik dengan cepat, langkahnya masih sedikit goyah namun auranya sangat mengintimidasi. Ia mencengkeram tepi meja hingga buku-bukunya memutih. "Aku lebih baik mati daripada hidup di dunia di mana dia harus mengorbankan dirinya untukku! Kau tahu siapa Alana? Dia wanita yang menghabiskan sepuluh tahun dalam kesengsaraan karena ulah keluarga kita. Dan sekarang, saat dia baru saja mulai tersenyum, kalian membiarkannya masuk ke sarang serigala yang lebih besar!"
"Kami sedang melacaknya!" balas Elvan dengan suara yang mulai meninggi karena frustrasi. "Satya sudah mencoba meretas satelit, tapi jet itu menghilang di wilayah udara internasional. Von Heist memiliki teknologi yang jauh di atas kita. Mereka bukan sekadar keluarga kaya, Kenzo. Mereka adalah dinasti bayangan di Eropa."
Kenzo terdiam. Ia memejamkan matanya, mencoba menekan denyut menyakitkan di pelipisnya. Bayangan wajah Alana yang menangis saat terakhir kali mereka bertemu di lobi apartemen menghantuinya. Ia merasa gagal. Sebagai seorang pria, ia gagal menjaga wanita yang ia cintai.
"Aku tidak butuh alasan," ucap Kenzo, kini suaranya lebih tenang namun terasa jauh lebih berbahaya. "Jika kau tidak bisa menemukannya lewat jalur Adiwangsa, maka aku akan menggunakan caraku sendiri. Aku sudah mencairkan dana darurat Dirgantara sebesar lima ratus juta dolar pagi ini."
Elvan terbelalak. "Lima ratus juta?! Kenzo, dewan direksimu akan memberontak! Kau bisa kehilangan kendali perusahaan!"
"Biarkan mereka mengambil gedung ini jika mereka mau," Kenzo mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor internasional yang terenkripsi. "Aku akan menyewa Blackwater atau siapa pun tentara bayaran terbaik di dunia. Jika aku harus membakar seluruh tanah Jerman untuk menemukan Alana, maka aku akan melakukannya."
Sementara itu, di Kastil Schwarzrose, Jerman.
Pukul tiga pagi waktu setempat. Alana duduk di tepi ranjangnya yang luas namun terasa sangat dingin. Kamar ini berukuran sebesar apartemennya di Jakarta, namun terasa seperti peti mati yang mewah. Dinding-dindingnya dilapisi permadani tua yang menggambarkan adegan perburuan yang kejam.
Tangannya masih gemetar karena latihan fisik yang ia jalani siang tadi. Memar di lengannya mulai berubah warna menjadi ungu gelap. Ia menatap cermin besar di depannya. Di sana, ia melihat seorang wanita yang hampir tidak ia kenali. Mata yang dulunya penuh dengan kehangatan kini mulai dilapisi oleh lapisan es yang keras.
Pintu kamar diketuk dua kali. Maximilian masuk tanpa menunggu izin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sebuah amplop putih.
"Anda harus minum ini, Nona. Tubuh Anda butuh nutrisi untuk latihan menembak besok pagi," ujar Maximilian tanpa ekspresi.
Alana tidak menyentuh susu itu. Matanya terpaku pada amplop di nampan tersebut. "Apa itu?"
"Laporan harian dari Jakarta. Seperti yang Anda minta."
Alana segera menyambar amplop itu. Ia membukanya dengan terburu-buru. Isinya adalah beberapa lembar foto hasil jepretan kamera tersembunyi. Foto pertama menunjukkan Kenzo yang baru keluar dari rumah sakit, wajahnya terlihat jauh lebih kurus namun matanya memancarkan api yang menakutkan. Foto kedua menunjukkan Kenzo sedang berbicara dengan seorang pria asing yang dikenal sebagai perantara tentara bayaran di Singapura.
Alana merasakan hatinya mencelos. "Dia mencariku... pria bodoh itu benar-benar mencariku."
"Tuan Kenzo sedang menghancurkan dirinya sendiri, Nona," Maximilian berkomentar sambil berdiri tegak di sudut ruangan. "Dia memusuhi ayahnya, dia mengabaikan bisnisnya, dan sekarang dia berurusan dengan dunia bawah tanah. Jika dia terus begini, keluarga Von Heist akan menganggapnya sebagai ancaman yang harus 'dihilangkan' demi ketenangan Anda."
Alana meremas foto itu ke dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. "Katakan pada kakekku... katakan pada Baron Friedrich. Aku akan mengikuti semua kemauannya. Aku akan menjadi pewaris yang dia inginkan. Tapi tolong... jangan biarkan mereka menyentuh Kenzo. Katakan pada mereka untuk mengirimkan gangguan-gangguan kecil di bisnis Kenzo agar dia sibuk dan berhenti mencariku."
"Anda ingin kami menyerang bisnisnya sendiri?" Maximilian mengangkat alis.
"Ya," bisik Alana perih. "Buat dia membenciku jika perlu. Buat dia berpikir bahwa aku yang memerintahkan serangan itu. Berikan dia musuh yang nyata di dunia bisnis agar perhatiannya teralihkan dari mencariku ke Eropa. Itu satu-satunya cara agar paman-pamanku tidak mengirim pembunuh bayaran ke Jakarta untuk melenyapkannya."
Maximilian menunduk hormat. "Strategi yang sangat cerdas, Nona. Dan sangat menyakitkan."
Alana menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang karena isak tangis yang tertahan. Maafkan aku, Kenzo. Aku harus menjadi musuhmu agar kau tetap bisa bernapas.
Satu Minggu Kemudian – Jakarta.
Kenzo sedang berada di tengah rapat dewan direksi yang sangat panas ketika asistennya masuk dengan wajah pucat.
"Tuan Kenzo... maaf mengganggu, tapi kita baru saja menerima kabar buruk. Tiga proyek infrastruktur kita di Kalimantan dan Sumatera baru saja dibatalkan sepihak oleh pemerintah. Dan alasannya adalah..." asisten itu ragu-ragu sejenak.
"Katakan!" bentak Kenzo.
"Ada perusahaan konsorsium baru bernama Rose-Heist International yang menawarkan penawaran yang jauh lebih rendah dan membawa bukti-bukti pelanggaran amdal yang dimanipulasi untuk menjatuhkan kita. Dan Tuan... pemimpin dari konsorsium itu adalah..."
Asisten itu meletakkan sebuah dokumen di depan Kenzo. Di halaman depan, terdapat foto profil pemimpin perusahaan tersebut. Itu adalah Alana. Namun bukan Alana yang lembut; itu adalah Alana dengan tatapan dingin, mengenakan setelan hitam yang sangat formal, dengan nama resmi: Alana Roseline von Heist.
Seluruh ruang rapat menjadi sunyi. Kenzo menatap foto itu dengan perasaan yang campur aduk antara rindu, sakit, dan amarah yang meledak-ledak.
"Alana..." gumamnya dengan suara yang bergetar.
Salah satu direktur tua berdiri. "Tuan Kenzo! Wanita ini adalah mantan istri Raka Ardiansyah yang dulu Anda bawa masuk ke sini! Sekarang dia menyerang kita dari Eropa? Dia mengkhianati Anda setelah semua yang Anda lakukan untuknya?!"
Kenzo tidak mendengar teriakan direktur itu. Ia hanya menatap tanda tangan Alana di dokumen pembatalan proyek tersebut. Tanda tangan itu tajam dan tegas, sangat berbeda dengan tulisan tangannya yang dulu melingkar manis.
Kenzo berdiri, menyambar jasnya, dan berjalan keluar ruangan tanpa memedulikan protes para pemegang saham. Ia masuk ke dalam lift, jantungnya berdegup kencang.
"Kau ingin bermain perang, Alana?" bisik Kenzo pada pantulan dirinya di dinding lift. "Kau pikir dengan menyerang bisnisku, aku akan berhenti mencarimu? Tidak. Kau justru memberiku alasan untuk datang ke Jerman dan menyeretmu pulang."
Kenzo segera menghubungi Elvan. "Elvan, siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Berlin malam ini. Alana baru saja menyatakan perang padaku, dan aku akan memberikan jawaban yang tidak akan pernah dia lupakan."
Di Jerman, di dalam ruangan Baron Friedrich.
Sang Baron tertawa kecil saat Maximilian melaporkan reaksi Kenzo di Jakarta. "Pria muda itu memiliki semangat. Dia ingin datang ke sini?"
"Sepertinya begitu, Tuan Baron," jawab Maximilian.
"Bagus. Biarkan dia datang," Baron Friedrich memutar gelas wiskinya. "Alana butuh ujian terakhir. Jika dia bisa berdiri di depan pria yang dicintainya dan tetap bersikap dingin sambil menghancurkan hati pria itu, maka dia benar-benar siap menjadi pemimpin Mawar Hitam. Jika tidak... maka mereka berdua akan dikubur di hutan pinus ini bersama-sama."
Di kamarnya, Alana berdiri di balkon, menatap hamparan salju yang luas. Ia tahu Kenzo akan datang. Ia tahu pria itu tidak akan mudah menyerah. Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri untuk mengingatkan dirinya akan rasa sakit yang harus ia tanggung.
"Datanglah, Kenzo," bisik Alana ke arah angin malam yang menusuk. "Datanglah agar aku bisa menyakitimu sedalam mungkin, supaya kau membenciku dan pulang dengan selamat. Biarkan aku yang menanggung dosa ini sendirian."