Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Kaisar masih berdiri di depan Shelina, tangannya belum sepenuhnya lepas dari pinggang istrinya itu.
“Ayo pulang,” ucapnya tegas.
“Kita nggak bisa lama di sini.”
Shelina menarik napas pelan, lalu menunjuk ke arah mobilnya.
“Kai … mobilku nggak bisa dipakai.”
Kaisar menoleh.
Lampu parkiran memantulkan bayangan ban yang benar-benar tak berbentuk. Ia berjongkok, menyentuh permukaan karet itu. Tangannya berhenti ketika merasakan sobekan panjang di sisi ban.
Bukan tertusuk paku tetapi di sobek. Rahang Kaisar mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Kurang ajar…” gumamnya pelan.
Shelina berdiri di belakangnya, kedua tangannya terlipat di dada menahan dingin sekaligus kesal. “Aku tadi pikir cuma kempes biasa.”
Kaisar berdiri, menatap sekeliling parkiran yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ada api yang menyala di matanya, tapi ia menahannya.
“Ayo naik motorku dulu,” katanya lembut pada Shelina, nada suaranya berubah protektif. “Jangan berdiri di sini.”
Shelina menurut. Ia berjalan menuju motor Kaisar yang terparkir tak jauh, sementara Kaisar mengeluarkan ponselnya.
Ia menekan nomor bengkel langganan keluarganya, bengkel yang biasa menangani mobil-mobil rumah Pramudya.
Telepon tersambung cepat.
“Pak Darto, saya Kaisar Pramudya.”
[Oh, Tuan Muda Kaisar. Ada apa nelpon malam-malam?]
“Bisa kirim towing ke kampus Universitas Pratama sekarang? Ban mobil istri saya disobek. Sekalian ganti satu set. Jangan tambal.”
Hening sesaat di ujung sana.
[Disobek, Aden?]
“Iya. Saya nggak mau risiko. Ganti baru semua. Kirim yang terbaik.”
[Siap, Den. Tiga puluh menit sampai.]
Kaisar mematikan telepon, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi. Shelina menoleh padanya.
“Harus ganti semua?” tanya Shelina pelan.
Kaisar mengangguk. “Kalau satu disobek, yang lain bisa aja udah dilemahkan. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan.”
Nada suaranya serius. Tidak ada nada bercanda seperti biasanya.
Shelina memperhatikannya. Wajah Kaisar terlihat berbeda malam ini dan itu terlihat lebih dewasa, lebih tegas. Bukan lagi mahasiswa yang caper di kelasnya.
“Kai…” panggilnya lembut.
Kaisar menoleh. “Hm?”
“Terima kasih sudah datang.”
Tatapan Kaisar melunak. Ia menghela napas panjang, lalu meraih tangan Shelina dan menggenggamnya erat.
“Aku panik waktu telepon kamu nggak aktif,” akunya jujur.
“Aku sempat mikir … aneh-aneh.”
Shelina tersenyum tipis. “Maaf, tadi sinyalnya jelek di ruang rapat. Terus ponselnya habis baterai.”
Kaisar mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya. Gerakan kecil, tapi penuh rasa.
“Mulai sekarang,” katanya pelan namun penuh tekanan, “kalau kamu lembur, aku yang jemput. Nggak ada tawar-menawar.”
Shelina menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
“Baik, Pak Suami.”
Kaisar tersenyum tipis mendengar itu. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Shelina dengan lembut.
“Aku nggak peduli mereka mau main apa,” ucapnya pelan.
“Tapi selama aku masih bisa berdiri di depan kamu, nggak akan ada yang berani sentuh kamu lagi.”
Jantung Shelina berdebar.
Di luar, angin malam bertiup pelan. Lampu motor mereka menyala hangat di tengah parkiran yang sepi. Beberapa menit kemudian, suara truk towing terdengar memasuki area kampus.
Kaisar keluar lebih dulu, berbicara singkat dengan teknisi bengkel, memastikan mobil Shelina diangkat dengan aman.
Sebelum pintu mobil derek tertutup, Kaisar menoleh pada ban yang tersobek itu sekali lagi.
Mesin motor Kaisar sudah menyala pelan ketika langkah kaki terdengar dari arah lorong parkiran.
Kaisar yang sedang membantu Shelina mengenakan helm tiba-tiba menghentikan gerakannya. Tatapannya menajam ke satu arah.
Tiga sosok berjalan mendekat.
Kaisar menelan ludah pelan. Situasinya terasa janggal. Mereka semua punya sejarah kurang menyenangkan dengan Shelina dan pernah teguran pedas, tugas tambahan, bahkan pernah dikeluarkan dari kelas. Biasanya kalau bertemu di luar jam kuliah pun mereka memilih menghindar.
Tapi malam ini berbeda, tak satu pun dari mereka memasang wajah menantang.
Mereka berhenti beberapa langkah di depan Kaisar dan Shelina. Lalu, hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, ketiganya sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
“Selamat malam, Miss,” ucap Bima lebih dulu, suaranya jauh lebih sopan dari biasanya.
Shelina sempat terdiam sepersekian detik, lalu membalas dengan anggukan tipis. “Malam.”
Suasana terasa kaku.
Bima melirik ke arah motor, lalu kembali pada Kaisar. “Ngapain kalian malam-malam di sini?”
Kaisar menjawab singkat, nada suaranya datar tapi tegas. “Gue jemput Miss Shelina.”
Jawaban itu membuat Sakti dan Bima saling pandang cepat.
Sakti mengerutkan kening. “Jemput?”
“Iya.”
Bima menyilangkan tangan di dada, menatap Kaisar lebih lama. “Sejak kapan lo jadi ojek pribadi dosen killer?”
Biasanya Kaisar akan membalas dengan sindiran atau tawa santai. Tapi kali ini tidak. Ia hanya menatap balik tanpa senyum.
“Sejak gue mau.”
Nada itu membuat ketiganya menangkap sesuatu yang berbeda.
Sakti mengamati interaksi mereka lebih jeli. Cara Kaisar berdiri sedikit di depan Shelina. Cara tangannya refleks menyentuh siku wanita itu saat angin bertiup lebih kencang. Cara tatapan Kaisar berubah lembut setiap kali menoleh padanya.
Ada yang aneh.
“Jangan bilang…” gumam Sakti pelan, hampir tak terdengar.
Bima menoleh. “Apa?”
Sakti tidak menjawab langsung. Tatapannya kembali pada Kaisar, lalu pada Shelina. Kaisar yang menyadari arah pikiran sahabatnya langsung menatap tajam, seolah memberi peringatan tanpa kata.
Sakti mengangkat kedua tangannya sedikit, tanda menyerah. “Santai, Gue nggak nanya apa-apa.”
Shelina bisa merasakan ketegangan tipis di udara. Ia berdiri tenang, wajahnya tetap dingin seperti biasa.
Bima menghela napas. “Yaudah, hati-hati di jalan.”
Alex ikut mengangguk. “Parkiran tadi agak rame anak Meteor. Kalian jangan lewat belakang.”
Kaisar terdiam sesaat. Ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya mendengar itu peringatan, bukan ancaman.
“Oke,” jawabnya singkat.
Sebelum naik motor, Kaisar menoleh pada ketiganya. “Makasih.”
Satu kata yang jarang keluar dari mulutnya.
Bima terkekeh pelan. “Cie … sekarang udah berubah.”
"Kamu punya utang penjelasan besok sama aku," kata Bima pelan.
Kaisar mendengus kecil, tapi tak membalas.
Motor melaju meninggalkan gerbang kampus. Angin malam menerpa wajah mereka, membawa sisa ketegangan yang belum benar-benar hilang.
Shelina memeluk pinggang Kaisar sedikit lebih erat dari biasanya.
“Kamu gemetar,” ucap Kaisar tanpa menoleh.
“Aku kedinginan,” jawab Shelina pelan, meski ia tahu bukan hanya itu alasannya.
Kaisar memperlambat laju motor, satu tangannya sempat menepuk lembut tangan Shelina yang melingkar di perutnya. “Pegangan yang kuat.”
Shelina tersenyum kecil di balik helmnya. “Iya, Pak Suami.”
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Lampu jalan berderet panjang seperti garis cahaya yang mengantar mereka pulang.
Namun, di sudut lain kampus, Bima, Sakti, dan Alex masih berdiri di parkiran.
Sakti bersandar di motornya. “Gue nggak salah lihat kan?”
Bima mendesah. “Cara dia ngomong tadi beda.”
Alex mengangguk pelan. “Dan lo lihat nggak? Miss Shelina nggak galak sama sekali ke dia.”
Itu yang paling mencurigakan.
Sakti menyeringai tipis. “Kalau benar Kaisar ada hubungan sama dosen sendiri … itu bisa jadi masalah besar.”
Bima menatapnya tajam. “Lo mau bikin masalah?”
Sakti terdiam, beberapa detik suasana hening.
“Enggak,” jawabnya akhirnya. “Tapi kalau Meteor tahu duluan, bisa berantakan.”
Nama Meteor membuat mereka semua teringat pada Riko.
Bima mengusap wajahnya kasar. “Kaisar udah keluar dari Kobra. Gue nggak mau dia tambah ribut gara-gara ini.”
Alex menatap ke arah gerbang tempat motor Kaisar tadi menghilang. “Kita jagain aja dari jauh.”
Tak ada sumpah persahabatan dramatis. Hanya kesepakatan diam-diam yang lahir dari rasa peduli.
Sementara itu, di atas motor, Shelina menyandarkan kepalanya pelan di punggung Kaisar.
“Kai…” panggilnya lembut.
“Hm?”
“Kalau tadi kamu nggak datang…”
Kaisar langsung memotong, suaranya rendah tapi tegas.
“Aku pasti datang.”
Shelina terdiam.
“Aku nggak peduli siapa yang ada di sana,” lanjut Kaisar.
“Selama aku tahu kamu sendirian, aku bakal datang.”
Nada suaranya bukan sekadar janji.
Motor berhenti di lampu merah. Kaisar menoleh sedikit, cukup untuk memastikan Shelina baik-baik saja.
“Takut?” tanyanya.
Shelina menggeleng pelan.
“Enggak … cuma nggak suka diintimidasi.”
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.