NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH ENAM: AMUKAN HASRAT

Waktu seolah berputar dengan kecepatan yang menakutkan, atau mungkin hanya Seraphina yang merasa dirinya semakin kehilangan pegangan di tengah pusaran persiapan pernikahan yang megah namun menyesakkan. Tinggal satu minggu lagi menuju hari yang oleh dunia dianggap sebagai penyatuan agung dua jiwa, namun bagi Seraphina, itu adalah hitung mundur menuju penjaranya yang abadi. Giselle semakin tenggelam dalam histeria persiapan; setiap detail dekorasi, daftar tamu undangan dari kalangan elit, hingga pernak-pernik terkecil pengantin haruslah sempurna. Ia bahkan bersikeras agar gaun pengantin Seraphina dihiasi dengan berlian sungguhan, berdalih bahwa putri kesayangannya harus menjadi bintang yang paling menyilaukan.

Seraphina kini bergerak layaknya sebuah robot porselen yang kehilangan nyawanya. Ia tersenyum saat kamera diarahkan padanya, mengangguk patuh saat instruksi diberikan, namun sepasang matanya yang indah kini tampak kosong. Jiwanya telah merosot ke dasar jurang yang paling kelam. Ia makan, ia tidur, dan melakukan semua rutinitas yang diperintahkan, namun di balik tabir itu, hanya ada kehampaan dan ketakutan yang mengakar. Setiap malam yang berlalu telah mengikis harga dirinya, menghancurkan sisa-sisa gadis panti asuhan yang dulu memiliki mimpi sederhana.

Orion, sang pemangsa, justru semakin mengencangkan cengkeramannya. Dengan restu dingin dari Oskar dan tanggal pernikahan yang tinggal menghitung hari, pria itu bertindak seolah-olah Seraphina adalah aset yang sudah sepenuhnya ia kuasai, bahkan di siang hari yang terang benderang. Ia tidak lagi peduli pada norma atau siapa pun yang mungkin mendengarnya. Hasratnya yang buas seolah-olah telah meluap dari bendungannya, menuntut untuk disalurkan tanpa kenal waktu.

Suatu sore, di tengah kesibukan Giselle yang sedang mencoba gaun kebaya mewah untuk acara resepsi di sebuah ruang ganti yang dipenuhi cermin, Orion tiba-tiba muncul. Tanpa banyak bicara, ia menarik Seraphina keluar dari keramaian persiapan itu.

"Ikut aku," Orion berbisik dengan suara yang berat dan penuh otoritas yang tak terbantah. Ia menggenggam pergelangan tangan Seraphina dengan sangat erat, menyeretnya melewati lorong-lorong mansion yang sepi dan dingin, menuju ke sebuah area yang belum pernah Seraphina jamah sebelumnya: gym pribadi milik Orion.

Seraphina terkesiap saat pintu besar berbahan baja itu terbuka. Gym itu sangat luas, dipenuhi dengan berbagai alat kebugaran yang terbuat dari baja hitam yang berkilat dingin. Udara di dalamnya berbau maskulin, perpaduan antara aroma besi dan wangi kayu yang tajam. Tidak ada seorang pun di sana, memberikan privasi yang mematikan bagi rencana Orion.

"Orion! Apa yang kau lakukan? Jangan di sini... Nyonya Giselle bisa mencari kita!" Seraphina memohon dengan suara yang bergetar hebat, tubuhnya menggigil karena firasat buruk.

Orion hanya memberikan seringai tipis yang penuh dengan aura gelap. "Mama bilang, aku harus sering berinteraksi denganmu agar kita terlihat serasi. Dan aku punya cara sendiri untuk membuatmu merasa benar-benar menjadi milikku."

Ia menatap Seraphina dengan mata yang membara oleh keinginan yang sangat primitif. "Aku ingin kau melepaskan semua kepura-puraanmu di sini. Sekarang juga."

Tanpa peringatan, tangan Orion bergerak dengan kasar. Ia merobek gaun yang dikenakan Seraphina. Bunyi kain yang koyak terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu, meninggalkan Seraphina dalam keadaan yang paling rentan. Kulitnya yang putih mulus tampak sangat kontras dengan alat-alat olahraga yang berwarna gelap dan dingin di sekeliling mereka. Payudaranya yang montok langsung bereaksi terhadap suhu ruangan, putingnya menegang dengan sangat jelas sebagai reaksi atas rasa takut dan kedinginan yang menyerangnya secara bersamaan.

Orion melangkah mendekat, auranya yang dominan seolah-olah menghimpit udara di paru-paru Seraphina. Tangannya meraih payudara Seraphina, meremasnya dengan kekuatan yang membuat Seraphina merintih. Ia kemudian menunduk, menghisap puting Seraphina dengan sangat ganas, memberikan tekanan yang sangat kuat hingga terdengar suara hisapan yang basah.

"A-ahh... Orion... sakit... nngghh..." Seraphina menjerit kecil, punggungnya melengkung secara otomatis. Siksaan lembut namun kasar itu mengirimkan kejutan listrik ke seluruh sarafnya, membuat area pribadinya mulai bereaksi di luar kendalinya.

"Putingmu ini adalah milikku untuk kurusak," Orion bergumam dengan nada yang dipenuhi kepuasan. Ia beralih ke sisi yang lain, memperlakukannya dengan intensitas yang sama, sementara tangannya yang lain meluncur ke bawah, menjelajahi bagian sensitif Seraphina yang kini sudah mulai mengeluarkan cairan alami sebagai respon dari tubuhnya yang dikhianati oleh rangsangan.

"Kau sudah sangat siap untukku," Orion mendesis puas. Ia kemudian mengangkat tubuh Seraphina yang lemas dan membaringkannya di atas sebuah bangku latihan berbahan kulit yang dingin dan keras. Seraphina menggigil hebat saat kulit telanjangnya menyentuh permukaan bench press tersebut.

Orion naik ke atasnya, menindih Seraphina dengan berat tubuhnya yang kekar. Ia membelah paha Seraphina lebar-lebar, membiarkan area pribadinya yang bengkak terpapar sepenuhnya di bawah cahaya lampu gym yang terang. Orion mencengkeram pergelangan tangan Seraphina, mengangkatnya ke atas kepala, dan menguncinya dengan lilitan handuk kecil yang ia ambil dari rak terdekat. Kini, Seraphina benar-benar menjadi mangsa yang tak berdaya.

Orion menekan bagian paling sensitif dari miliknya ke pintu lubang Seraphina yang sudah basah dan berdenyut. "Kau merindukan ini, kan? Katakan padaku betapa kau menginginkannya."

Jleb!

Orion mendorong miliknya masuk ke dalam diri Seraphina dengan satu hentakan yang sangat dalam dan brutal, menghujam langsung ke arah titik terdalamnya.

"AAAAAHHHH! SAKIT! ORION, MOHON...!" Jeritan Seraphina bergema di seluruh ruangan gym yang luas itu. Rasa perih yang tajam kembali ia rasakan, seolah-olah tubuhnya sedang dipaksa untuk memuat sesuatu yang jauh melampaui kapasitasnya. Ia merasakan kehangatan dan ukuran Orion yang luar biasa memenuhi dirinya, merenggut napasnya hingga ia hanya bisa terengah-engah.

"Sempit. Panas. Dan benar-benar milikku," Orion mendesis dengan mata yang membelalak puas. Ia membiarkan sejenak tubuh Seraphina beradaptasi dengan invasi yang ia lakukan.

Di dalam pikirannya, Orion merasa sangat berkuasa. Ia akan menghantam gadis ini sampai Seraphina tidak bisa lagi menyebutkan nama lain selain namanya. Ia ingin menanamkan eksistensinya begitu dalam hingga ke sumsum tulang Seraphina.

Orion mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya lambat dan penuh tekanan, namun dengan cepat berubah menjadi irama yang sangat cepat dan bertenaga. Clep! Plok! Clep! Suara penyatuan mereka yang basah dan nyata terdengar di antara deru napas yang memburu.

"Ahh... ahh... nngghh... Orion... le-lebih... da-dalam..." Rintihan yang awalnya penuh penderitaan perlahan-lahan berubah warna. Saraf-saraf Seraphina mulai mengirimkan sinyal kenikmatan yang memabukkan di tengah rasa sakit yang mendera. Setiap dorongan Orion, meskipun kasar, mengirimkan gelombang panas yang membuat seluruh tubuhnya gemetar dan rahimnya berdenyut gila.

Orion semakin meningkatkan kecepatannya, menghantam Seraphina dari atas dengan kekuatan yang tak terkendali. Ia mencengkeram pinggul Seraphina, mengangkatnya sedikit untuk memberikan sudut yang lebih dalam, lalu menumbuknya kembali ke arah bangku latihan dengan brutal.

"Kau menyukai ini, bukan? Katakan bahwa kau menyukai bagaimana aku mengoyakmu!" Orion menggeram dengan suara yang serak akibat gairah yang sudah di puncak.

"AHHH! AKU MENYUKAINYA! SUNGGUH! LEBIH CEPAT... LEBIH DALAM! AHHH!" Seraphina menjerit, suaranya pecah di tengah ruangan yang sunyi itu. Pinggulnya bergerak secara naluriah, mencoba mengikuti irama genjotan Orion yang mematikan. Air mata membasahi wajahnya, namun matanya yang terpejam menunjukkan bahwa ia telah tersesat dalam labirin sensasi yang diciptakan Orion.

Orion kembali meremas payudara Seraphina dengan sangat kuat, menghisap putingnya yang sudah sangat bengkak dan memerah karena perlakuan kasarnya. Ia bisa merasakan bagaimana dinding-dinding dalam diri Seraphina menjepit miliknya dengan sangat ketat, menghisapnya seolah tidak ingin melepaskannya.

"AKU AKAN MENGISIMU SEPENUHNYA! KAU ADALAH WADAH BAGI HASRATKU!" Orion meraung keras. Dengan satu dorongan terakhir yang sangat dalam dan tak terbendung, ia memuntahkan seluruh isinya ke dalam rahim Seraphina. Cairan yang sangat panas dan kental membanjiri bagian dalam gadis itu, membuat Seraphina melengkung tinggi dengan jeritan yang memecah keheningan, tubuhnya mengejang hebat saat ia mencapai puncaknya sendiri di tengah isak tangis dan desahan yang bercampur baur.

Orion akhirnya ambruk di atas tubuh Seraphina, terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat. Miliknya masih terbenam di dalam diri Seraphina yang kini basah oleh keringat, cairan alami, dan benihnya yang melimpah. Ruangan gym itu kini dipenuhi oleh aroma gairah yang sangat pekat dan aroma kotor dari sebuah penaklukan fisik yang intens. Seraphina terbaring tak berdaya di atas bangku baja yang dingin itu, merasa jiwanya telah benar-benar hancur, namun tubuhnya masih berdenyut mengikuti sisa-sisa guncangan yang baru saja terjadi.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!