Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7. Ruang Harta
Koridor menuju kamar pribadi Arthur kini terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Ia melangkah perlahan, menahan setiap gerakan agar tetap tampak tenang. Setiap prajurit yang berpapasan segera memberi penghormatan, sementara para pelayan menundukkan kepala dengan penuh takzim.
Arthur membalasnya dengan anggukan singkat atau senyum tipis—cukup untuk menjaga citra The Crimson Aegis yang dikenal kuat dan berkuasa.
Namun, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, meski udara kastil terasa sejuk. Tubuhnya melemah akibat terlalu lama duduk, membuat kondisinya semakin memburuk seiring langkah yang dipaksakan.
Tahan. Sedikit lagi.
Akhirnya, setelah perjalanan yang butuh waktu cukup lama, Arthur bisa sampai dan berdiri di hadapan pintu besar dari kayu mahoni yang terukir lambang keluarga Vancroft. Disana ada 2 prajurit Crimson Guard berjaga di kanan dan kiri, armor merah-hitam mereka berkilau di bawah cahaya kristal kastil.
“Yang Mulia.”
Keduanya memberi penghormatan serempak.
“Aku akan beristirahat,” ucap Arthur singkat.
“Aku tidak ingin diganggu malam ini. Apa pun alasannya.”
“Dipahami, Yang Mulia!”
Arthur mendorong pintu itu, melangkah masuk, lalu menutupnya hingga terdengar bunyi klik keras. Sesaat kemudian, ia bersandar di balik pintu, mata terpejam, napasnya terengah-engah.
“Sial…” erangnya pelan.
Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan kunci besar dari saku dan memutarnya—
CLACK.
Ia mengunci pintu dari dalam.
Dengan langkah terseret, Arthur berjalan menuju kamar tidur bagian dalam.
Saat memasuki kamar, perhatiannya tertarik pada cermin besar di hadapannya. Ia berhenti, berdiri tepat di depan cermin dan menatap dirinya yang kini terlihat semakin buruk saja karena wajah pucat dengan keringat yang masih membasahi dahi.
Aku tidak bisa terus seperti ini, pikirnya.
Tangannya terangkat ke leher. Jari-jarinya meraba rantai tipis yang tersembunyi di balik kerah kemeja.
Kalung
Arthur menariknya keluar—sebuah kalung perak halus dengan liontin berbentuk naga. Bukan naga yang lucu atau sekadar hiasan. Ini adalah representasi sempurna dari naga kuno: tubuhnya melingkar seperti ouroboros, sayap terlipat rapat seolah sedang beristirahat, dan sepasang mata ruby kecil yang tampak menyala oleh api abadi. Setiap sisik diukir dengan detail luar biasa, begitu nyata hingga tampak seolah akan bergerak kapan saja.
Ukurannya tak lebih besar dari ibu jari, namun aura sihir yang terpancar darinya membuat udara di sekitarnya bergetar halus.
“Sudah lama…” bisik Arthur, menggenggam liontin itu dengan kedua tangan.
Dari ingatan Arthur yang asli, ia tahu persis apa benda ini—Dragon’s Hoard, sebuah artefak sihir ruang yang ia ciptakan sendiri lima tahun lalu. Butuh dua tahun penuh penelitian, ratusan grimoire kuno, dan nyaris menguras Mana Core-nya hanya demi menyempurnakan satu benda ini.
Namun, hasilnya sepadan. Arthur memiliki ruang dimensi pribadi yang tidak dapat dilacak maupun dibobol dan hanya dapat diakses oleh pemiliknya sendiri.
Di kediaman ini, semua orang mengira cadangan pribadinya tersimpan di gudang harta: tempat Arthur menyimpan berbagai kekayaan, dijaga ketat oleh Sebastian, penasihat keluarga Vancroft dan hanya bisa diakses oleh tiga orang—Arthur, Valerine, dan Sebastian.
Padahal kenyataannya, gudang harta tersebut hanyalah sebagian kecil dari kekayaannya.
Harta yang sesungguhnya… telah ia sembunyikan di dalam kalung ini.
Arthur memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan pikirannya. Dengan hati-hati, ia menyalurkan sedikit mana ke dalam liontin.
Rasa sakit langsung menusuk dadanya, tajam hingga membuat napasnya tersendat. Dada terasa seperti diremas dari dalam, namun Arthur tetap bertahan, menahan erangan yang nyaris lolos dari bibirnya.
VVVVOOOOMM¹
Udara bergetar hebat.
Liontin itu bersinar dengan cahaya emas lembut. Mata ruby sang naga menyala, berpendar seperti api kecil yang baru terbangun. Dalam sekejap, dunia di sekelilingnya runtuh dan berubah—
...***...
Di Dalam Dragon’s Hoard
Transisi terjadi dalam sekejap mata. Tidak ada sensasi jatuh ataupun sensasi melayang yang dia rasakan hanya seperti berkedip saja—dan tiba-tiba telah berdiri di tempat yang sepenuhnya berbeda.
Ruang dimensi itu terbentang luas di hadapannya.
Begitu luas… hingga mustahil untuk diukur
Ruang itu menjulang seperti katedral raksasa yang dibangun untuk menyembah kekayaan itu sendiri. Langit-langitnya menghilang dalam cahaya keemasan yang tak jelas sumbernya, sementara lantai luas terbentang sejauh mata memandang.
Di sana… berbagai harta berhamburan.
Gunung-gunung koin emas menjulang tinggi, tumpukannya membentuk lereng seperti bukit alami—kilauannya cukup untuk menyilaukan mata. Di dekatnya, perak tersusun rapi membentuk piramida-piramida besar. Peti-peti kayu ebony terbuka sebagian, memperlihatkan berlian dan permata berukuran tak masuk akal, masing-masing memancarkan cahaya dan aura yang membuat udara di sekitarnya terasa hidup.
Namun disitu bukan cuman kekayaan duniawi.
Arthur bisa melihat senjata-senjata spiritual berjajar rapi—pedang suci dengan bilah mithril, tombak dan busur yang memancarkan tekanan halus namun mengintimidasi. Armor-armor lengkap berdiri tegak, dipenuhi energi naga yang masih berdenyut pelan, seolah menunggu pemiliknya kembali. Tongkat-tongkat sihir dengan kristal bercahaya, jubah-jubah kuno berbordir benang emas murni, dan artefak-artefak dengan bentuk aneh yang jelas melampaui pemahaman sihir biasa.
Rak-rak tinggi dipenuhi buku langka dan grimoire terlarang, sebagian memancarkan cahaya samar, sebagian lain terasa seperti hidup dan sedang “mengamati”. Di sudut-sudut tertentu, tanaman spiritual tumbuh subur dalam wadah kristal—kehidupan murni yang energinya saja cukup untuk memulihkan tanah mati. Botol-botol kecil berisi pil spiritual tersusun rapi, masing-masing menyimpan kekuatan yang bisa mengubah nasib seseorang… atau bahkan sebuah kerajaan.
Arthur berdiri di tengah lautan harta itu. Mata merahnya memantulkan kilauan emas, sementara bibirnya sedikit terbuka—bukan karena keserakahan, melainkan kekaguman.
Ia tahu, di dalam kalung ini memang tersimpan banyak kekayaan. Namun ia sama sekali tidak menyangka… akan sebanyak ini.
Harta itu tersusun rapi, terorganisir dengan sempurna, membentang sejauh mata memandang. Ke mana pun ia melihat, masih ada tumpukan demi tumpukan lain yang belum tersentuh pandangan.
Tidak diragukan lagi, pikir Arthur dengan senyum kagum yang sulit disembunyikan.
Arthur yang asli benar-benar keturunan naga. Obsesinya terhadap benda berkilauan tak perlu dipertanyakan lagi.
Kini Arthur benar benar percaya.
Darah naga memang mengalir di dalam tubuh Arthur.
Tentu saja, ia bukan naga sepenuhnya. Namun tujuh generasi silam, salah satu leluhurnya adalah seekor naga yang mengambil wujud manusia dan menikahi seorang manusia. Darah itu telah bercampur dan menipis seiring waktu—namun tak pernah benar-benar hilang.
Dan salah satu warisan paling jelas dari sifat alamiah naga adalah… obsesi terhadap harta dalam skala yang nyaris berlebihan.
Bukan karena itu sebuah materialisme, dan bukan pula keserakahan dalam pengertian manusia. Bagi naga, mengumpulkan harta adalah insting—seperti burung yang membangun sarang, atau tupai yang menimbun kacang untuk musim dingin.
Arthur yang asli mengumpulkan semua ini selama dua puluh dua tahun hidupnya—sejak pertama kali ia menerima sekeping koin emas dari ayahnya, di usia lima tahun.
Sejak saat itu, Arthur kecil nyaris tak pernah bisa diam di rumah. Ia sering menghilang tanpa kabar, lalu kembali setelah berminggu-minggu—terkadang bahkan sebulan penuh. Padahal, saat itu usianya baru lima tahun.
Namun keluarganya jarang mencarinya.
Bukan karena tak peduli, melainkan karena Arthur terlahir dengan Tubuh Alam—dalam dunia para penyihir, lebih dikenal sebagai Tubuh Kematian. Sebuah kondisi langka dan menakutkan, di mana pemiliknya perlahan akan dihancurkan oleh kekuatan alam itu sendiri, lalu melebur tanpa sisa, seolah kembali menjadi bagian dari dunia.
Bagi banyak orang, tubuh semacam itu adalah vonis kematian yang tertunda.
Karena itu, setiap kali Arthur menghilang, yang bisa dilakukan orang tuanya hanyalah menangis, meyakini bahwa anak mereka mungkin telah menyatu dengan alam—lenyap untuk selamanya.
Namun ternyata Arthur selalu kembali.
Pada usia dua belas tahun, ia turun ke medan perang untuk pertama kalinya. Dan sejak hari itu, setiap hadiah yang ia peroleh dari kemenangan—dan juga berbagai harta yang dia lihat selama peperangan jika tidak berkaitan langsung dengan kekaisaran—akan ia ambil dan simpan. Tanpa ragu sedikitpun.
Selain itu ia juga gemar menjelajahi dungeon, menantang bahaya, dan membawa pulang apa pun yang menarik perhatiannya.
Ia tidak pernah membelanjakan satu koin pun dari harta pribadinya—harta yang tersembunyi di dalam kalung ini.
Ia hanya… mengumpulkannya, menyimpannya lalu menatap hartanya dengan kepuasan aneh yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya pahami.
“Baiklah,” gumam Arthur akhirnya sambil menarik napas dalam-dalam. “Setidaknya aku tak perlu khawatir soal anggaran.”
Ia melangkah ke salah satu gunung emas, meraih segenggam koin—lalu perlahan melemparkannya kembali ke tumpukan.
Klang—clang—clang.
Bunyi nyaring itu menggema di ruang dimensi luas, seperti tawa pelan dari harta yang telah menunggu pemiliknya selama ini..
Arthur menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sekali lagi harta yang mengelilinginya—gunung demi gunung kekayaan yang berkilau tanpa akhir. Namun kali ini, ia memaksa dirinya untuk berpaling.
Ini bukan waktunya untuk terpesona.
Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju salah satu rak kristal dan mengambil dua botol kecil berisi pil eliksir. Cairan di dalamnya berpendar lembut, memancarkan energi murni yang menenangkan—Elixir Vitalis, ramuan kelas tinggi yang dirancang untuk menstabilkan tubuh dan memulihkan esensi hidup.
Arthur menggenggam kedua botol itu erat.
Lalu dengan kehendaknya, ia keluar dari dimensi itu.
...***...
Catatan:
¹Sumpah, aku benaran nggak tau nulis suara kalau teleport.
🤭🤭