Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 menyeludupkan rasa
Udara malam di sekitar area Dapur Luar Sekte Awan Merah terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis merayap di antara bangunan-bangunan kayu yang menghitam oleh jelaga bertahun-tahun. Han Shuo bergerak dengan ketangkasan yang tidak wajar bagi seorang pelayan. Di punggungnya, sebuah bungkusan kain rami yang besar mengeluarkan aroma amis yang samar namun tajam—aroma yang hanya bisa berasal dari darah binatang buas tingkat tinggi.
Li Mei mengikuti di belakangnya dengan langkah yang hampir tak bersuara. Sebagai seorang murid jenius Aula Pengobatan, ia memiliki teknik langkah kaki yang elegan, namun ia terkejut melihat betapa efisiennya Han Shuo memanfaatkan bayangan bangunan untuk menghindar dari pandangan para penjaga malam.
"Dapur akan sangat ramai saat ini. Para koki sedang menyiapkan sarapan untuk murid luar yang akan memulai latihan pagi," bisik Li Mei saat mereka mendekati pintu belakang.
"Justru karena ramai, aroma daging ini akan tersamarkan oleh ratusan bahan lainnya," jawab Han Shuo tanpa menoleh. "Kunci dari menyembunyikan rasa bukanlah menghilangkannya, tapi mencampurnya ke dalam harmoni yang membingungkan lidah."
Saat mereka memasuki area gudang bumbu yang pengap, Han Shuo segera meletakkan bungkusan daging Harimau Bertaring Kristal di atas meja kayu yang sudah lapuk. Cahaya bulan yang masuk dari ventilasi kecil memperlihatkan otot-otot daging harimau yang masih berdenyut pelan, memancarkan cahaya biru redup yang mistis.
"Cahaya itu..." Li Mei berbisik, matanya melebar. "Energi spiritual dalam daging ini terlalu kuat. Jika Koki Liu atau siapa pun masuk, mereka akan segera tahu ini bukan daging babi biasa."
Han Shuo tidak panik. Ia mengambil sekeranjang buah Kesemek Hitam yang hampir busuk dan segenggam besar Garam Laut Kasar. Dengan gerakan cepat, ia mulai melumuri daging harimau itu dengan campuran buah busuk dan garam.
"Apa yang kau lakukan? Kau merusak bahan berharga itu!" seru Li Mei tertahan.
"Aku sedang melakukan 'Penyekapan Aroma'," jelas Han Shuo sambil terus bekerja. "Buah Kesemek Hitam yang busuk memiliki kandungan asam yang sangat tinggi. Ia akan bereaksi dengan kristal di permukaan daging ini, menciptakan lapisan tipis yang menahan energi spiritual agar tidak menguap keluar. Bagimu ini terlihat seperti sampah, tapi bagi daging ini, ini adalah pelindung."
Benar saja, hanya dalam hitungan menit, cahaya biru dari daging itu meredup dan menghilang, digantikan oleh lapisan warna cokelat gelap yang terlihat menjijikkan. Aromanya pun berubah menjadi bau fermentasi yang tajam dan tidak enak, persis seperti daging sisa yang sudah dibuang berhari-hari.
Tepat saat Han Shuo selesai menyembunyikan bungkusan itu di bawah tumpukan tulang sapi, pintu gudang terbuka dengan suara derit yang keras.
Koki Liu masuk dengan wajah mengantuk, memegang lampion yang cahayanya bergoyang-goyang. Ia terhenti saat melihat Han Shuo, dan lebih terkejut lagi saat melihat sosok Li Mei yang berdiri di kegelapan.
"Han Shuo? Dan... Nona Li Mei?" Koki Liu segera membungkuk rendah, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh ketakutan. "Apa yang dilakukan Nona dari Aula Pengobatan di tempat kotor ini pada jam seperti ini?"
Li Mei dengan cepat menguasai dirinya. Ia mengangkat dagunya, kembali ke persona murid elit yang dingin. "Aku sedang melakukan audit mendadak terhadap bahan-bahan herbal yang masuk ke dapur. Han Shuo membantuku memeriksa beberapa stok yang mencurigakan."
Koki Liu melirik ke arah tumpukan tulang di mana Han Shuo berdiri. Bau busuk dari buah kesemek menyengat hidungnya. "Ah, maafkan saya, Nona. Gudang ini memang sedikit berantakan. Han Shuo, kau pelayan malas! Kenapa kau membiarkan Nona Li berada di dekat tumpukan sampah itu? Cepat bawa Nona ke kantor depan!"
"Baik, Paman Liu," jawab Han Shuo dengan nada merendah yang sempurna.
Setelah Li Mei berhasil membawa Koki Liu pergi dengan berbagai alasan administratif, Han Shuo akhirnya sendirian. Ia menarik napas lega. Namun, ia tahu waktunya terbatas. Ia harus segera memproses jantung dan hati harimau tersebut sebelum energi murninya benar-benar membeku menjadi kristal yang tak bisa dicerna.
Han Shuo menyalakan kompor kecil di sudut paling belakang dapur yang jarang digunakan. Ia tidak menggunakan kayu bakar biasa. Ia menggunakan arang dari pohon Pinus Guntur yang ia curi dari stok khusus para tetua. Arang ini terbakar dengan api biru yang sangat panas namun hampir tidak mengeluarkan asap.
Ia membuka kembali Kitab Rasa Semesta ke bab tentang "Sari Pati Jantung Raja".
Jantung adalah pusat dari keberanian. Hati adalah pusat dari ketenangan. Memasaknya bersama adalah menyatukan dua kutub yang berlawanan menjadi satu kekuatan yang utuh.
Han Shuo mulai mengiris jantung harimau itu. Setiap irisan harus setipis sayap jangkrik. Saat pisau dapurnya menyentuh daging, ia merasakan perlawanan dari energi es yang masih tersisa. Han Shuo menutup matanya, menyalurkan sedikit Qi yang baru ia kumpulkan ke ujung pisaunya.
Sret. Sret. Sret.
Irama potongannya terdengar seperti lagu pendek. Di bawah teknik "Cincangan Angin", daging yang sekeras batu itu melunak seperti mentega. Ia memasukkannya ke dalam kuali tanah liat bersama dengan beberapa butir Lada Langit dan air mata air yang diambil dari puncak tebing.
Saat sup itu mulai mendidih, aroma yang keluar sangat aneh. Awalnya tercium bau amis yang kuat, lalu mendadak berubah menjadi harum bunga krisan, dan terakhir menjadi bau seperti besi panas. Ini adalah tanda bahwa transformasi energi sedang terjadi.
"Sekarang, bagian yang tersulit," gumam Han Shuo.
Ia harus memasukkan "bumbu" terakhir: Lidah Roh. Ini adalah bagian kecil dari lidahnya sendiri yang harus ia gunakan untuk mencicipi sup tersebut saat masih mendidih untuk menyelaraskan frekuensi energinya dengan tubuhnya sendiri. Jika ia gagal, sup itu akan menjadi racun yang membekukan jantungnya.
Han Shuo mengambil sendok kayu, mengambil sedikit cairan biru kental itu, dan meminumnya.
BOOM!
Dunia di sekitar Han Shuo mendadak meledak dalam warna-warna cerah. Ia merasa seolah-olah seekor harimau raksasa sedang berlari di dalam dadanya, mencakar setiap inci pembuluh darahnya. Rasa dingin yang ekstrem membekukan paru-parunya, sementara panas yang membara membakar perutnya.
Inilah proses Penyulangan Qi (Qi Distillation) melalui jalur kuliner. Jika kultivator biasa bermeditasi selama berbulan-bulan untuk memurnikan Qi dari udara, Han Shuo melakukannya dalam hitungan menit melalui konsentrasi sari pati makanan yang ekstrem.
Tubuhnya mulai bergetar. Keringat yang keluar dari dahinya berubah menjadi butiran es kecil sebelum jatuh ke lantai. Han Shuo mengepalkan tangannya, memaksakan energi harimau itu untuk mengikuti alur Sembilan Lapisan Api.
"Masuk... ke dalam dantians-ku!" geramnya.
Tiba-tiba, suara krak terdengar dari dalam tubuhnya. Itu adalah suara hambatan kultivasi yang pecah. Han Shuo merasakan ledakan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia bukan lagi sekadar pelayan yang baru membersihkan tulang.
Ia telah resmi melangkah ke Tahap Penyulangan Qi - Tingkat Satu.
Penglihatannya menjadi sangat tajam. Ia bisa melihat partikel debu yang menari di udara, bahkan bisa mendengar detak jantung tikus di balik dinding gudang. Dan yang paling penting, pisaunya kini terasa seringan bulu, seolah-olah pisau itu adalah bagian dari jiwanya.
Namun, kejutan belum berakhir. Saat ia sedang menikmati kekuatan barunya, Li Mei kembali masuk ke dapur dengan wajah pucat.
"Han Shuo! Sembunyikan sup itu sekarang juga!" bisiknya panik. "Penatua Lu dari Aula Penegak Disiplin sedang menuju ke sini. Dia membawa anjing pelacak roh. Tampaknya mereka curiga bahwa ada seseorang yang membawa bangkai harimau itu masuk ke dalam sekte!"
Han Shuo menatap kuali supnya. Masih ada sekitar tiga mangkuk tersisa. Ia tidak mungkin membuangnya—ini adalah harta karun yang tak ternilai. Namun, ia juga tidak bisa meminumnya sekaligus tanpa meledakkan tubuhnya sendiri.
Mata Han Shuo beralih ke arah tumpukan piring yang sudah berisi bubur pagi untuk para murid luar. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"Nona Li, apakah kau percaya padaku?" tanya Han Shuo dengan tenang.
Li Mei tertegun melihat perubahan pada aura Han Shuo. "Kau... kau sudah tembus ke Tahap Penyulangan? Bagaimana mungkin secepat ini?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Bantu aku menuangkan satu sendok sup ini ke dalam setiap mangkuk bubur itu. Cepat!"
Li Mei, meski bingung, segera membantu. Dengan presisi seorang alkemis, ia membagikan sari pati sup harimau itu ke dalam lima puluh mangkuk bubur hambar milik murid luar. Aroma sup yang tajam segera terserap oleh bubur gandum yang tebal, membuatnya terlihat sedikit lebih gelap namun tidak mencurigakan.
Tepat saat mangkuk terakhir selesai diisi, pintu depan dapur ditendang terbuka.
Penatua Lu, seorang pria tua dengan jenggot kambing dan mata yang tajam seperti elang, masuk dengan langkah angkuh. Di sampingnya, seekor anjing hitam besar dengan hidung yang terus mengendus lantai mengikuti. Wang He dan Wang Lin mengekor di belakang, wajah mereka penuh dengan dendam yang belum terbalas.
"Koki Liu! Kumpulkan semua pelayanmu!" teriak Penatua Lu. "Kami menerima laporan bahwa ada pencuri yang membawa masuk energi binatang buas ilegal ke area ini."
Koki Liu keluar sambil gemetar, diikuti oleh Han Shuo yang sudah kembali memasang wajah bodoh dan tunduk.
Anjing pelacak roh itu mulai berputar-putar di tengah dapur. Ia mengendus ke arah tumpukan tulang sapi, lalu menuju ke arah meja bubur. Anjing itu berhenti di depan mangkuk-mangkuk bubur tersebut, menggonggong dengan keras dan ekornya berdiri tegak.
Wang He tersenyum licik. "Penatua, lihat itu! Anjing itu menemukan sesuatu di bubur yang disiapkan oleh Han Shuo!"
Penatua Lu mendekati meja tersebut. Ia mengambil satu mangkuk bubur, memperhatikannya dengan saksama. "Bubur ini... mengandung energi spiritual yang cukup stabil. Han Shuo, jelaskan dari mana kau mendapatkan energi ini untuk memberi makan murid luar?"
Han Shuo membungkuk dalam-dalam. "Melapor pada Penatua yang bijaksana. Kemarin Nona Li Mei dari Aula Pengobatan memberikan saya beberapa sisa akar herbal yang hampir busuk. Beliau mengatakan bahwa daripada dibuang, lebih baik digunakan untuk meningkatkan stamina para murid luar agar mereka bisa bekerja lebih keras untuk sekte. Saya hanya menjalankan saran beliau."
Penatua Lu menoleh ke arah Li Mei yang berdiri di sudut. Li Mei mengangguk perlahan. "Benar, Penatua Lu. Itu hanyalah Akar Langit kualitas rendah yang sudah tidak bisa digunakan untuk pil. Saya tidak menyangka pelayan ini begitu kreatif dalam menggunakannya."
Penatua Lu mendengus. Ia mencicipi sedikit bubur tersebut. Memang ada energi yang mengalir, namun karena sudah diencerkan dengan bubur gandum dalam jumlah besar, energi Harimau Bertaring Kristal itu kini terasa seperti suplemen kesehatan biasa, tidak menunjukkan jejak binatang tingkat tiga yang ganas.
"Kreativitas yang bagus, tapi jangan pernah membawa bahan apa pun tanpa seizin petugas gudang lagi," kata Penatua Lu, tampak kecewa karena tidak menemukan bukti kejahatan. "Wang He, kau bilang kau mencium aroma darah harimau di sini? Mana?"
Wang He tergagap, wajahnya memerah. "Tapi Penatua... saya yakin..."
"Cukup! Jangan buang-buang waktuku dengan delusimu!" Penatua Lu berbalik dan pergi dengan gusar, diikuti oleh anjingnya yang tampak bingung karena aroma yang tadi ia cari mendadak tersebar di mana-mana.
Setelah mereka pergi, Wang He mendekati Han Shuo, membisikkan ancaman tepat di telinganya. "Ini belum selesai, pelayan. Kau mungkin bisa bersembunyi di balik jubah Nona Li hari ini, tapi di Turnamen Dapur Sekte bulan depan, aku akan memastikan kau tidak punya tangan lagi untuk memegang pisau."
Han Shuo hanya tersenyum tipis. "Saya akan menantikannya, Tuan Muda Wang."
Setelah semua orang pergi, Li Mei mendekati Han Shuo. "Turnamen Dapur Sekte? Itu adalah acara besar di mana para murid elit mencari koki pribadi. Jika kau ikut, rahasiamu akan semakin sulit dijaga."
Han Shuo menatap pisaunya yang kini bersih berkilau. "Justru di tengah keramaianlah tempat persembunyian terbaik berada, Nona Li. Dan aku baru saja menyadari sesuatu... energi harimau ini tidak hilang begitu saja. Lima puluh murid luar yang memakan bubur itu... mereka semua sekarang secara tidak langsung berhutang nyawa padaku."
Mata Han Shuo berkilat. Ia mulai mengerti bahwa Kitab Rasa Semesta bukan hanya tentang memasak untuk dirinya sendiri, tapi tentang bagaimana mengendalikan sebuah sekte melalui lidah mereka.