NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pahit yang Harus Ditelan

“Bagaimana keadaannya?”

Suara berat itu menembus kabut tipis di benak Shasha. Ia menggeliat pelan, kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh demam yang masih tersisa. Di tengah kesadarannya yang mulai kembali, ia mendengar denting logam peralatan yang sedang dirapikan.

“Stres berlebih dan kekurangan nutrisi,” sahut sebuah suara asing yang tenang namun tegas, “Sebaiknya lebih memerhatikan kesehatannya. Jika tidak, kondisinya bisa berakibat lebih buruk lagi.”

Perlahan, Shasha memaksa matanya terbuka. Langit-langit kamar yang mewah menjadi pemandangan pertama yang ia tangkap. Di sudut pandangnya, ia melihat dua sosok yang sangat ia kenali, serta satu sosok asing yang tengah menenteng tas hardcase.

“Ini resep obat untuknya,” ucap dokter itu sambil menyerahkan secarik kertas kepada Jake. Shasha menatap punggung tegap Jake, yang kini tampak mendengarkan instruksi dokter dengan saksama.

“Aku pergi dulu,” pamit dokter itu singkat, lalu melangkah keluar kamar.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, sebelum Jake memecahnya dengan perintah dingin, “Beli obatnya, dan siapkan makanan untuknya,” ucapnya pada Kevin. Kevin hanya mengangguk patuh dan menyusul dokter itu keluar.

Kini, hanya ada mereka berdua.

Menyadari situasi itu, jantung Shasha berdegup kencang. Ia buru-buru memejamkan mata kembali, berusaha mengatur napas agar terlihat seperti orang yang masih terlelap. Ia sama sekali tidak ingin bicara, apalagi berhadapan dengan pria yang selalu menyakitinya.

Langkah kaki Jake terdengar mendekat. Detik demi detik berlalu dalam keterdiaman yang mencekam. Shasha bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di sisi tempat tidurnya. Hingga kemudian, suara helaan napas yang keras dan berat terdengar memenuhi ruangan.

“Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu kau sudah sadar.”

Shasha tersentak. Ia membuka mata dengan cepat, menatap Jake dengan sorot terkejut sekaligus kesal karena aktingnya terbongkar begitu mudah.

“Salahmu sendiri karena menolak makanan yang dibawa anak buahku,” ucap Jake tanpa ekspresi. Wajahnya keras, sama sekali tidak menunjukkan raut kekhawatiran.

Shasha tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela yang tertutup rapat. Dalam hatinya, ia berteriak bahwa semua ini adalah kesalahan Jake. Jika pria itu tidak menyekapnya di mansion ini, ia tidak akan stres, dan ia tidak akan jatuh sakit.

“Apa kau tidak punya mulut?!” sentak Jake, suaranya naik satu oktav karena diabaikan.

Shasha tetap bergeming, bibirnya terkatup rapat seperti kerang. Ia menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki yaitu kebungkaman.

“Dasar gadis tidak tahu diri,” desis Jake tajam. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan melangkah keluar kamar dengan hentakan kaki yang menunjukkan kemarahan. Bahkan pintu ditutup dengan keras hingga membuat Shasha sedikit berjengit.

Shasha kemudian melirik ke arah pintu untuk memastikan pria itu benar-benar pergi. Begitu yakin, ia mendesah lega dan mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Ia memijat pelipisnya, berusaha merangkai kembali potongan ingatannya yang terakhir.

Ia ingat rencananya yang gagal, ia ingat keputusasaannya saat dicegat pengawal, lalu ingatannya berakhir saat ia berbaring di sofa ruang tamu sambil menangis hebat. Setelahnya, ia tidak mengingat apapun lagi.

“Lalu... siapa yang membawaku ke kamar ini?” gumam Shasha lirih. Matanya menatap selimut tebal yang membungkus tubuhnya dengan rapi.

“Apa pria asing tadi adalah seorang dokter?” gumamnya lagi, sambil berusaha menepis kemungkinan bahwa pria berhati dingin seperti Jake-lah yang telah menyelamatkannya.

Sementara di lantai bawah, hanya derap langkah Jake yang menggema dingin di atas lantai. Ia berjalan menuju sebuah lemari kaca besar yang tertanam di bawah tangga, sebuah sudut yang memancarkan kemewahan sekaligus sisi gelapnya.

Di balik pintu-pintu kaca dengan bingkai kayu gelap, berderet koleksi minuman keras yang harganya mungkin setara dengan satu nyawa manusia. Cahaya hangat dari dalam kabinet memantul pada kaca-kaca botol, menampilkan siluet cairan berwarna emas yang mahal.

Dengan gerakan kasar, Jake menyambar gagang pintu kaca, dan membukanya hingga menimbulkan derit halus yang tertahan. Tangannya meraih satu botol wiski secara acak dan sebuah gelas kristal yang berat. Ia menutup kembali pintu kabinet itu dengan asal, membiarkan bunyi benturan kaca dan kayu menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu.

Jake kemudian melangkah lebar menuju sofa ruang tamu, tempat Shasha tadi ditemukan tidak sadarkan diri. Ia menghempaskan tubuhnya ke sana, lalu meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan dentuman pelan. Suara gemericik yang tajam terdengar begitu kentara saat wiski itu memenuhi gelas hingga hampir meluap.

Tanpa jeda, ia menyambar gelas itu dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Sensasi terbakar yang menjalar di tenggorokan sama sekali tidak membuat matanya berkedip. Gerakan itu terus berulang, hingga botol di tangannya kini hanya menyisakan separuh isi.

Kuatnya kadar alkohol sama sekali tidak berpengaruh padanya. Tubuh Jake seolah memiliki benteng pertahanan alami karena ia memiliki toleransi tinggi terhadap jenis alkohol mana pun. Ia sendiri sering bimbang, apakah kemampuan metabolisme tubuhnya ini adalah sebuah kelebihan yang patut disyukuri atau justru kekurangan yang menyebalkan. Karena faktanya, bagi Jake, minuman keras hanyalah media hiburan yang dangkal. Cairan itu mungkin bisa mematikan saraf orang lain, tapi tidak pernah cukup kuat untuk memadamkan amarah yang terus membara di dalam dadanya.

Gema langkah kaki Kevin dari arah pintu utama akhirnya memecah keheningan yang menyesakkan di lantai bawah.

“Tuan,” panggil Kevin, langkahnya tertahan saat merasakan aura kemarahan yang memancar dari tubuh Jake.

Jake tidak melirik sedikit pun. Ia tetap fokus menuang sisa wiski ke dalam gelasnya. Kevin hanya bisa menghela napas panjang. Pemandangan sang Tuan yang menenggelamkan diri dalam alkohol saat emosi memuncak sudah menjadi hal biasa baginya.

“Aku sudah membeli obat dan makanan untuk gadis itu. Apa Tuan berniat untuk mengantarnya...?” tanya Kevin ragu, menggantungkan kalimatnya di udara.

“Apa kau tidak punya kaki?!” sentak Jake tajam.

“Siap, Tuan!” Kevin menjawab secepat kilat, lalu melangkah terbirit-birit menuju dapur.

Sambil menuang sup ayam hangat ke dalam mangkuk, mata Kevin terus menyipit ke arah ruang tamu. Pikirannya bekerja keras. Apa yang terjadi di kamar tadi hingga membuat kekhawatiran Jake yang menggebu saat Shasha pingsan menguap begitu saja, berganti dengan amarah yang dingin?

Setelah menata nampan berisi sup, obat-obatan, dan segelas air hangat, Kevin kembali menaiki tangga. Ia sempat melirik punggung Jake yang tampak kaku dan keras dari kejauhan, lalu mengedikkan bahu acuh sebelum melanjutkan langkahnya. Sesampainya di kamar Shasha, ia menemukan gadis itu tengah duduk di tengah ranjang sambil memijat pelipisnya.

“Ternyata kau sudah sadar,” ucap Kevin sambil meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur.

Shasha mendongak, menatap pria itu dengan mata menyipit penuh selidik.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Kevin heran.

“Nada bicaramu sangat berbeda daripada tadi pagi.”

Kevin memasukkan tangan ke saku celananya sambil sedikit melunakkan ekspresi, “Anggap saja karena kau sedang sakit.”

Shasha beralih menatap nampan itu, “Terima kasih,” ucapnya tulus.

Sebuah kelembutan yang baru pertama kali Kevin dengar sejak gadis itu tinggal di mansion.

“Terima kasih juga karena membawaku ke kamar dan memanggil dokter untukku,” lanjutnya.

Mata Kevin membelalak. Sekarang ia paham mengapa Jake terlihat begitu murka di lantai bawah, “Tunggu dulu, aku rasa ada kesalahpahaman.”

Shasha menaikkan alisnya, bingung.

“Memang benar aku yang menghubungi dokter itu, tapi semuanya atas perintah Tuan Jake. Dokter tadi adalah dokter pribadinya. Jika saja kau melihat betapa khawatirnya Tuan Jake saat menemukanmu pingsan, lalu betapa terburu-burunya saat menggendongmu ke kamar ini, kau pasti akan terkejut.”

Tubuh Shasha seketika mematung bahkan jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kenyataan itu.

“Maka dari itu,” lanjut Kevin, “Berhentilah berbuat macam-macam. Di tempat ini, selama kau menurut pada Tuan Jake, maka hidupmu akan tetap aman.”

Shasha meremas selimutnya dengan kuat. Rasa syukur yang nyaris tumbuh seketika hancur berkeping-keping.

“Menurut?” Shasha tertawa sumbang, matanya mulai memerah menahan badai emosi, “Apa aku harus menurut pada pria yang menculikku? Apa aku harus melemparkan tubuhku pada pria sejahat dia? Apa aku harus...” Suaranya melirih, penuh keputusasaan, “Apa aku harus terkurung di tempat ini selamanya?”

Kevin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa iba yang coba ia tepis di sana, “Setidaknya kau harus makan dan meminum obat,” ucap Kevin akhirnya, lalu ia keluar dan menutup pintu dengan gerakan yang sangat pelan.

Di dalam kamar yang sunyi, air mata Shasha kembali luruh. Ia mengusapnya dengan kasar. Benar, ia harus pulih. Ia harus kuat untuk menghadapi pria sebejat Jake. Dengan tangan gemetar, ia meraih gelas air putih, meminumnya beberapa teguk, lalu mulai menyuap sup ayam itu. Meski terasa pahit dan seperti benda tajam saat melewati tenggorokannya yang sakit, ia tetap memaksanya masuk.

1
kalea rizuky
kacian bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!