Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga yang Berisik
"SEMANGAT! HARI INI AKU AKAN LEBIH KUAT DARI KEMARIN!"
Teriakan penuh semangat itu menembus dinding kayu gubuk Han Luo tepat saat matahari baru mengintip di ufuk timur.
Han Luo membuka matanya dengan kesal. Urat di dahinya berkedut.
Sejak Long Tian pindah ke gubuk sebelah tiga hari yang lalu, pagi Han Luo yang tenang telah musnah. Long Tian memiliki kebiasaan meneriakkan afirmasi positif setiap pagi sebelum melakukan 1000 kali ayunan pedang.
"Dia benar-benar protagonis," gerutu Han Luo, bangkit dari tempat tidur dan menendang dinding pemisah gubuk mereka. BUGH!
"Berisik! Orang mau tidur!" teriak Han Luo dengan suara serak yang dibuat-buat.
Di sebelah, suara pedang berhenti. "Ah! Maaf, Saudara Han! Aku terlalu bersemangat! Aku akan mengecilkan suaraku!"
Han Luo mendengus. Dia mengintip dari celah jendela.
Long Tian sedang berlatih di halaman sempit antar gubuk. Keringat bercucuran, wajahnya berseri-seri. Qi di tubuhnya stabil di Tingkat 3 Puncak. Racun Gu dari Peri Lin tampaknya bekerja sangat efektif sebagai steroid kultivasi.
"Nikmatilah energimu, Tetangga," bisik Han Luo. "Sebentar lagi kau akan butuh lebih dari sekadar semangat untuk bertahan hidup."
Han Luo menutup jendela. Hari ini dia punya agenda bisnis.
Pengumuman turnamen yang dipercepat membuat seluruh Sekte Luar panik. Murid-murid yang biasanya malas kini berlatih gila-gilaan. Harga pil pemulihan dan jimat pelindung di toko resmi sekte melonjak tiga kali lipat karena panic buying.
Bagi pedagang biasa, ini adalah kesempatan menaikkan harga. Bagi Han Luo, ini adalah kesempatan menjual "Solusi Alternatif".
Dia membuka Cincin Penyimpanannya. Di dalamnya, tertumpuk rapi 50 butir Bola Kabut Hitam (Bom Asap) dan 30 paket Serbuk Gatal Neraka (Versi lemah dari racun lumpuh, yang hanya menyebabkan gatal luar biasa dan gangguan konsentrasi).
"Jika semua orang bermain bersih, Long Tian dan Liu Feng akan mendominasi," analisis Han Luo. "Tapi jika aku membanjiri turnamen dengan senjata kotor... medan perang akan menjadi kacau. Dan dalam kekacauan, yang paling licik yang menang, bukan yang paling kuat."
Dia mengenakan jubah hitam sederhana, memakai topeng kain hitam murahan (bukan topeng Sarjana Mo yang ikonik, hanya topeng bandit pasar biasa), dan menyelinap keluar menuju "Pasar Murid Luar"—sebuah area perdagangan informal di belakang kantin.
Pasar Murid Luar.
Suasana pasar sangat bising. Murid-murid berteriak-teriak mencari senjata atau pil.
"Dicari! Pil Penguat Otot! Berani bayar mahal!" "Jual Pedang Baja! Bekas pakai tapi masih tajam!"
Han Luo menggelar tikar kecil di sudut yang agak gelap, di bawah pohon beringin. Dia tidak berteriak. Dia hanya meletakkan sebuah papan kayu bertuliskan:
[BARANG KHUSUS TURNAMEN] Bagi yang sadar bakatnya pas-pasan tapi ingin menang.
Kalimat itu provokatif. Dalam lima menit, seorang murid kurus dengan wajah putus asa mendekat. Dia melirik kiri-kanan, lalu berjongkok.
"Apa yang kau jual?" bisiknya.
Han Luo mengeluarkan satu butir bola hitam.
"Ini namanya Bola Hantu," Han Luo menggunakan suara yang diubah menjadi cempreng. "Lempar ke tanah, dan dalam sekejap musuhmu akan buta oleh asap pekat selama sepuluh napas. Cukup waktu untuk menendang selangkangannya atau melemparnya keluar arena."
Mata murid itu berbinar. "B-Benarkah? Tidak melanggar aturan?"
"Aturan turnamen melarang 'bantuan luar tingkat tinggi' dan 'racun mematikan'. Ini cuma asap dan kembang api," Han Luo berdusta halus. Sebenarnya ini area abu-abu. "Harganya 1 Batu Roh untuk 3 butir."
Murid itu menelan ludah. Itu murah. "Aku beli!"
Transaksi pertama berhasil.
Seperti virus, kabar tentang "Penjual Barang Licik" menyebar dari mulut ke mulut di kalangan murid lemah. Dalam satu jam, antrean kecil terbentuk di depan tikar Han Luo.
"Aku mau Serbuk Gatal itu!" "Beri aku Bola Hantu!"
Han Luo melayani mereka dengan cepat. Kantong uangnya mulai terisi.
Tiba-tiba, kerumunan terbelah. Para murid yang antre menyingkir dengan takut.
Seorang pemuda berjubah putih dengan sulaman benang emas berjalan mendekat. Wajahnya tampan tapi sombong, dagunya terangkat tinggi. Di belakangnya, dua pengawal membawa pedang besar.
Liu Feng. Adik Liu Ming. Si Jenius Akar Roh Emas.
Jantung Han Luo berdetak tenang. Dia sudah menduga orang-orang seperti ini akan muncul. Orang kuat yang insecure.
Liu Feng menatap dagangan Han Luo dengan jijik. "Barang sampah untuk orang lemah."
Han Luo tidak menjawab, hanya memainkan bola asap di tangannya.
"Tapi," Liu Feng melanjutkan, matanya berkilat tamak. "Kakakku bilang, di dunia ini tidak ada yang namanya curang, yang ada hanya menang. Aku dengar kau punya sesuatu yang lebih kuat dari sekadar asap?"
Liu Feng tidak butuh asap. Dia butuh jaminan. Dia takut dipermalukan jika kalah satu ronde pun.
Han Luo menatap Liu Feng. "Tuan Muda Liu, barang bagus harganya mahal."
"Uang bukan masalah bagi Klan Liu," Liu Feng melempar kantong berisi 10 Batu Roh ke atas tikar. "Tunjukkan."
Han Luo mengambil sebuah botol kecil berwarna merah dari balik jubahnya.
"Ini Minyak Api Ular," bisik Han Luo. "Oleskan di pedangmu. Saat beradu dengan senjata musuh, gesekannya akan memicu ledakan api kecil yang tidak melukaimu, tapi akan membakar tangan musuh dan merusak konsentrasi mereka. Terlihat seperti teknik pedang api, bukan senjata rahasia."
Mata Liu Feng membelalak. Itu sempurna untuknya. Efek api akan membuatnya terlihat lebih jenius.
"Bagus. Aku ambil." Liu Feng menyambar botol itu. "Jika ini bekerja, aku akan mencarimu lagi. Jika tidak... kau tahu akibatnya."
Liu Feng pergi dengan angkuh.
Han Luo menatap punggungnya sambil menyeringai di balik kain penutup wajah.
Minyak Api Ular itu asli. Tapi Han Luo "lupa" bilang bahwa minyak itu memiliki efek samping: Jika terkena keringat berlebih (seperti saat pertarungan panjang), minyak itu akan menjadi licin dan bisa membuat senjata terlepas dari genggaman penggunanya sendiri.
"Semoga beruntung memegang pedangmu di final nanti, Tuan Muda," batin Han Luo jahat.
Hari itu, Han Luo menjual habis stoknya.
Pendapatan Bersih: 45 Batu Roh.
Dia melipat tikarnya dan menghilang sebelum patroli resmi datang memeriksa keramaian.
Malam Hari - Gubuk Han Luo.
Han Luo sedang menghitung tumpukan batu rohnya. Total kekayaannya kini mencapai 71 Batu Roh. Ini adalah jumlah yang fantastis untuk murid luar.
"Cukup untuk membeli bahan pembuatan Pil Penembus Qi untuk naik ke Tingkat 6, dan mungkin... membeli teknik pertahanan," pikir Han Luo.
Tiba-tiba, Anggrek Wajah Hantu di atas meja (yang dia bawa pulang sebentar dari ruang alkimia untuk diberi makan darah) bergetar. Kelopaknya mengarah ke dinding sebelah. Ke gubuk Long Tian.
Han Luo segera menempelkan telinga ke dinding.
Di sebelah, terdengar suara Long Tian sedang berbicara dengan seseorang.
"...Terima kasih, Saudara Fang. Aku tidak menyangka kau akan datang menemuiku malam-malam begini."
"Jangan sungkan, Saudara Long. Kau pernah menyelamatkan nyawaku. Aku, Fang Yu, selalu membayar hutang."
Han Luo membeku.
Fang Yu?
Fang Yu ada di sini?! Di gubuk Long Tian?
Bagaimana bisa? Han Luo (sebagai Sarjana Mo) menyelamatkan Fang Yu agar dia menjauh dari Long Tian!
Han Luo mendengarkan dengan seksama.
"Aku menyusup masuk ke sekte ini dengan menyamar sebagai pelayan suplai makanan," suara Fang Yu terdengar rendah. "Hanya untuk memberimu ini. Ini adalah Token Darah. Jika kau butuh bantuan di luar sekte, tunjukkan ini di cabang Pasar Gelap manapun. Mereka akan membantumu."
"Ini terlalu berharga..." Long Tian ragu.
"Ambillah! Aku harus pergi. Sekteku sedang kacau. Pamanku memburu aku. Dan ada... organisasi misterius bernama Aliansi Gerhana yang juga mengincarku. Aku harus bergerak dalam bayangan."
Fang Yu pergi melompat keluar jendela.
Han Luo menarik napas panjang, menjauh dari dinding.
Dia tertawa tanpa suara. Tawa yang gila.
"Dao Langit... kau benar-benar keras kepala," Han Luo memijat pelipisnya.
Meskipun Han Luo sudah memisahkan mereka di hutan, Takdir tetap menemukan cara untuk mempertemukan Long Tian dan Fang Yu.
"Fang Yu bermain di dua kaki tanpa sadar. Tapi tidak masalah."
Han Luo menatap Anggrek Wajah Hantu.
"Selama Fang Yu takut pada Aliansi Gerhana, dia adalah milikku. Dan jika dia berteman dengan Long Tian... itu justru bagus. Aku bisa menggunakan Fang Yu untuk memata-matai Long Tian dari jarak dekat di masa depan."
Rencana tidak gagal. Rencana hanya menjadi lebih rumit.
Han Luo mengambil sebutir Pil Pengumpul Qi dan menelannya.
"Satu bulan lagi turnamen. Aku harus mencapai Tingkat 6. Dan aku harus pastikan Liu Feng dan Long Tian saling membunuh di arena menggunakan senjata yang kujual pada mereka."
Malam itu, Han Luo tidur dengan senyum iblis, sementara di luar, angin badai mulai bertiup, menandakan pergolakan yang akan datang.