Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: ADRIAN SI PEJUANG KECIL
#
Aku keluar dari toilet dengan mata merah.
Udah aku basuh muka berkali-kali. Tapi tetep keliatan udah nangis.
Bel istirahat berbunyi.
Anak-anak pada keluar kelas. Berisik. Rame. Pada ketawa-ketawa.
Aku jalan ke perpustakaan. Tempat pelarian aku. Tempat aku bisa sendiri tanpa diliatin orang.
Tapi ternyata perpustakaan lagi penuh. Ada anak-anak kelas sepuluh yang lagi ngerjain tugas kelompok.
Aku berbalik mau keluar.
"Sat!"
Aku toleh.
Adrian. Dia lari kecil ke arah aku. Napasnya ngos-ngosan. Mukanya merah kepanasan.
"Akhirnya ketemu juga. Gue nyariin lu dari tadi. Lu ke mana aja?"
"Gak ke mana-mana... cuma... cuma jalan-jalan..."
Adrian natap aku. Lama. Matanya menyipit.
"Lu abis nangis ya?"
Aku langsung nunduk. "Enggak kok..."
"Bohong. Mata lu merah. Lu pasti abis nangis."
Aku diam.
Adrian pegang pundak aku. "Sat... gue tau lu lagi susah. Gue tau lu lagi... lagi berat banget pikiran lu. Tapi lu gak sendirian. Lu punya gue sekarang. Ngomong aja sama gue. Gue dengerin."
Aku angkat kepala. Aku liat Adrian.
Cowok gendut ini. Cowok yang baru kenal aku beberapa hari. Tapi dia lebih peduli dari siapapun yang pernah aku kenal di sekolah ini.
"Adrian... aku... aku takut..."
Suaraku gemetar.
"Takut kenapa?"
"Takut... takut aku gak bakal dapet beasiswa itu. Aku dengar... aku dengar hasilnya udah diatur. Bagas udah... udah kasih uang suap. Aku... aku gak punya apa-apa. Aku cuma punya nilai bagus. Tapi apa gunanya nilai bagus kalau... kalau mereka mainin sistem pake uang...?"
Adrian diam. Mukanya serius.
Terus dia senyum. Senyum yang aneh. Senyum yang... yang penuh harapan meskipun situasinya hopeless.
"Sat... lu mau ke rumah gue?"
Aku bengong. "Hah?"
"Rumah gue. Sekarang. Yuk. Gue ajak lu belajar bareng. Kita persiapan buat seleksi beasiswa itu. Gue juga daftar soalnya."
"Lu... lu juga daftar?"
Adrian ngangguk. "Iya lah. Bokap gue guru honorer. Gajinya recehan. Gue butuh beasiswa juga kalau mau kuliah. Jadi kita sama, Sat. Kita sama-sama anak yang... yang butuh beasiswa ini buat masa depan."
Aku megang tas aku yang udah compang-camping. "Tapi... tapi aku harus kerja nanti sore..."
"Lu libur hari ini aja. Satu hari gak papa kan? Gue janji lu gak bakal nyesel. Yuk."
Adrian narik tangan aku. Dan entah kenapa, aku ikut dia.
***
Rumah Adrian ternyata gak jauh dari sekolah. Cuma sepuluh menit jalan kaki.
Kontrakan juga. Tapi lebih gede dari kontrakan aku. Ada dua kamar. Ada ruang tamu kecil. Ada dapur yang sempit tapi bersih.
Di depan rumah, ada gerobak gorengan. Masih ada sisa-sisa gorengan yang belum laku. Pisang goreng, tahu isi, tempe goreng.
"Nyokap! Gue pulang! Gue bawa temen!"
Adrian teriak dari pintu.
Dari dalam keluar seorang wanita gemuk. Rambutnya diiket kuncir kuda. Bajunya kaos oblong lusuh sama sarung. Mukanya penuh keringat. Tapi senyumnya... senyumnya hangat.
"Eh, Dri pulang. Ini siapa?"
"Ini Satria, Nyokap. Temen gue. Yang pinter itu lho. Kami mau belajar bareng buat persiapan beasiswa."
Ibu Adrian liat aku. Dia senyum makin lebar. "Wah, Satria ya? Dri sering cerita tentang kamu. Sini sini, masuk. Jangan malu-malu."
Aku masuk dengan canggung. Rumah ini sederhana. Tapi... hangat. Ada aroma masakan dari dapur. Ada tawa. Ada kehidupan.
Beda banget sama rumah aku yang gelap dan penuh tangisan.
"Satria udah makan belum? Tante masakin mie ya. Sebentar."
"Eh, gak usah repot-repot, Tante..."
"Gak repot kok. Tante seneng kalau ada tamu. Apalagi temen Dri. Dri jarang bawa temen ke rumah soalnya."
Ibu Adrian langsung masuk ke dapur. Aku denger suara kompor nyala. Suara air mendidih.
Adrian nyuruh aku duduk di kursi plastik. Dia ambil buku-buku dari kamarnya.
"Kita belajar matematika dulu ya, Sat. Soal integral sama turunan. Itu yang paling sering keluar."
Aku ngangguk. Aku keluarin buku catatan aku.
Kami belajar. Adrian nanya-nanya. Aku jelasin. Adrian pinter juga ternyata. Dia ngerti cepet. Cuma kadang suka lupa rumus.
Lima belas menit kemudian, ibu Adrian keluar bawa dua piring mie goreng. Porsinya gede banget. Ada telor ceplok di atasnya. Ada sayuran.
"Ini, makan dulu. Belajar sambil makan biar gak lemes."
Ibu Adrian taro piring itu di depan kami.
Aku liat piring itu.
Wanginya... enak banget.
Perutku langsung bunyi keras.
KRUYUUUUK.
Adrian ketawa. "Lu laper kan? Makan aja, Sat. Jangan sungkan."
Aku ambil garpu. Aku makan satu suap.
Rasanya...
Enak.
Enak banget.
Gurih. Pedes dikit. Ada rasa manis dari kecap.
Aku makan cepet. Gak tau kenapa aku kayak kelaparan banget. Padahal tadi pagi aku udah makan roti tawar satu potong.
Tapi ini... ini mie goreng paling enak yang pernah aku makan.
Ibu Adrian duduk di kursi sebelah sambil ngelap keringat pake ujung kainnya.
"Satria, kamu satu sekolah sama Dri ya?"
"Iya, Tante."
"Kelas berapa?"
"Kelas dua belas juga, Tante. Tapi beda kelas. Saya IPA satu, Adrian IPA dua."
Ibu Adrian ngangguk-ngangguk. "Bagus. Dri butuh temen yang pinter kayak kamu. Dia suka males belajar soalnya."
"Ah, Nyokap lebay. Gue gak males kok. Cuma... gue lebih suka main."
Kami ketawa. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, aku ketawa.
Ketawa yang tulus. Bukan ketawa pura-pura.
Tiba-tiba pintu depan terbuka.
Seorang laki-laki kurus masuk. Pake kemeja putih kusam sama celana kain cokelat. Wajahnya lelah. Rambutnya udah mulai memutih meskipun kayaknya masih empat puluhan.
"Bokap!" Adrian berdiri.
Ayah Adrian senyum tipis. "Dri... udah pulang. Ini temenmu?"
"Iya, Bok. Ini Satria. Temen gue."
Ayah Adrian ngangguk ke aku. "Selamat siang, Satria."
Aku langsung berdiri. Aku salam. "Selamat siang, Pak."
Ayah Adrian duduk di kursi. Dia lepas sepatu. Kakinya keliatan capek banget.
Ibu Adrian langsung ambil air. "Bang, mau makan?"
"Nanti aja, Mah. Bapak capek. Mau istirahat dulu."
Tapi ayah Adrian gak langsung masuk kamar. Dia duduk di kursi sambil liat aku dan Adrian yang lagi belajar.
"Kalian belajar apa?"
"Persiapan beasiswa prestasi kedokteran, Bok. Seleksinya Senin depan."
Ayah Adrian ngangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.
"Bagus. Kalian harus belajar yang rajin. Beasiswa itu kesempatan langka. Jangan disia-siain."
Adrian senyum. "Siap, Bok!"
Ayah Adrian natap aku. "Satria... ayahmu kerja apa?"
Pertanyaan itu kayak tusukan.
Aku nelen ludah. "Ayah saya... ayah saya lumpuh, Pak. Kecelakaan kerja lima tahun lalu. Sekarang cuma terbaring di rumah."
Ayah Adrian diam sebentar. Terus dia ngangguk pelan. "Pasti berat ya, Nak. Tapi kamu kuat. Bapak liat dari matamu. Kamu anak yang kuat."
Aku gak tau harus jawab apa. Aku cuma ngangguk.
Ayah Adrian berdiri. Dia jalan ke kamarnya.
Tapi sebelum masuk, dia berbalik. "Satria... jangan pernah menyerah. Anak kayak kita, anak dari keluarga pas-pasan, kita cuma punya satu modal. Usaha. Kita gak punya uang. Gak punya koneksi. Tapi kita punya usaha. Dan usaha itu... kalau dilakuin dengan ikhlas, dengan doa, dengan kerja keras... Allah pasti kasih jalan. Percaya sama bapak."
Aku megang dada.
Kata-kata itu... kata-kata itu masuk dalam banget.
"Terima kasih, Pak..."
Ayah Adrian senyum. Dia masuk kamar.
Ibu Adrian ngelap mata. Dia nangis. Tapi dia senyum.
"Abangmu itu... udah lima belas tahun jadi guru honorer. Gaji cuma satu juta sebulan. Tapi dia gak pernah ngeluh. Dia selalu bilang, yang penting anak-anak didiknya bisa sukses. Meskipun dia sendiri... dia sendiri gak bisa kasih Dri kehidupan yang layak..."
Adrian pegang tangan ibunya. "Nyokap... gak papa. Gue bahagia kok. Gue punya Bokap sama Nyokap yang baik. Itu udah cukup."
Ibu Adrian peluk Adrian. Aku liat mereka.
Keluarga yang miskin.
Tapi penuh cinta.
Beda banget sama keluarga aku yang penuh penyesalan dan air mata.
***
Kami belajar sampe sore.
Jam lima sore, aku pamit pulang.
"Makasih ya, Dri. Makasih juga buat Tante."
Ibu Adrian senyum. "Sama-sama, Satria. Main lagi ya kapan-kapan. Tante seneng kok."
Adrian nganterin aku sampe depan gang.
"Sat... gue tau lu lagi susah. Gue tau lu lagi... lagi berat banget beban hidup lu. Tapi lu gak sendirian. Lu punya gue. Besok kita belajar lagi ya. Kita hadapin seleksi itu bareng-bareng."
Aku senyum.
Untuk pertama kalinya dalam hidup aku, aku ngerasa... ngerasa punya teman beneran.
"Makasih, Dri."
Adrian senyum lebar. Dia tepuk pundak aku. "Santai, bro. Lu temen gue sekarang. Dan gue gak bakal ninggalin temen gue."
Aku jalan pulang dengan perasaan yang... aneh. Perasaan yang lebih ringan.
Sepanjang jalan, aku senyum sendiri.
Matahari terbenam. Langitnya orange kemerahan. Indah.
"Mungkin... mungkin masih ada harapan. Mungkin masih ada kebaikan di dunia ini."
Bisikku pelan.
***
Keesokan harinya, Kamis pagi.
Aku dateng ke sekolah jam tujuh kurang sepuluh menit. Tepat waktu.
Aku jalan ke kelas. Tapi di tengah koridor, aku liat Adrian.
Adrian berdiri sendirian di pojok. Punggungnya nempel ke dinding. Kepalanya tertunduk.
Aku mendekat.
"Dri?"
Adrian angkat kepala.
Matanya merah. Bengkak. Basah.
Dia abis nangis.
"Dri... lu kenapa? Nangis?"
Adrian geleng cepet. Dia lap mata pake lengan baju. "Gak... gak papa..."
"Dri, ngomong jujur. Lu kenapa?"
Adrian diam. Napasnya gemetar. Terus dia duduk di lantai. Dia peluk lututnya.
"Nyokap... Nyokap masuk rumah sakit, Sat..."
Jantungku berhenti.
"Hah? Kenapa?"
"Kemarin sore... Nyokap jualan gorengan kayak biasa. Terus... terus ada petugas Satpol PP. Mereka bilang Nyokap jualan di tempat terlarang. Mereka tilang. Dagangan Nyokap disita. Gerobaknya juga dibawa."
Adrian nangis lagi. Isakannya keluar.
"Nyokap... Nyokap kaget. Nyokap ngejar gerobaknya. Terus Nyokap jatuh. Kejedot trotoar. Kepalanya berdarah. Tetangga bawa Nyokap ke puskesmas. Sekarang Nyokap dirawat. Harus dijahit. Harus obat-obatan. Tapi... tapi Bokap gak punya uang, Sat... Gaji Bokap baru turun minggu depan. Tabungan udah habis buat bayar kontrakan bulan ini..."
Aku duduk di sebelah Adrian.
Aku gak tau harus ngomong apa.
Adrian nangis makin keras. "Gue... gue pengen bantu. Tapi gue gak punya apa-apa. Gue cuma... gue cuma anak SMA yang gak berguna..."
"Dri... lu bukan gak berguna..."
"Terus gue apa, Sat?! Nyokap sakit gara-gara cari uang buat gue! Buat biaya sekolah gue! Buat makan gue! Dan sekarang gue gak bisa berbuat apa-apa buat Nyokap!"
Adrian teriak. Suaranya memantul di koridor kosong.
Aku peluk Adrian.
Erat.
Adrian nangis di pundak aku. Badannya getar.
"Gue... gue takut Nyokap kenapa-kenapa, Sat... gue takut..."
Aku belai punggung Adrian. "Nyokap lu kuat, Dri. Dia bakal baik-baik aja. Percaya sama gue."
Adrian cuma nangis.
Dan aku... aku nangis juga.
Karena aku ngerti.
Aku ngerti bagaimana rasanya takut kehilangan orang yang kita sayang.
Aku ngerti bagaimana rasanya ngerasa gak berguna.
Kami berdua nangis di koridor sekolah yang dingin.
Dua anak miskin yang berusaha bertahan hidup.
***
*