Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Tenda Malam
Malam semakin larut.
Angin desa berdesir pelan, membuat dinding tenda bergoyang lembut. Lampu kecil di dalam tenda Lian menyala redup, memberi cahaya kekuningan yang hangat. Setelah keheningan tadi, mereka duduk berhadapan—tidak terlalu dekat, tidak pula berjauhan.
Ada jarak yang tidak kasat mata.
Haikal duduk di bangku lipat, siku bertumpu di lutut, kepalanya sedikit tertunduk. Lian kembali duduk di alas tidurnya, melipat pakaian terakhir dengan rapi—kali ini gerakannya lebih lambat, lebih hati-hati, seolah tidak ingin memecah suasana.
Haikal mengamati istrinya dalam diam.
Rambut panjang itu kini terurai, menyentuh punggungnya. Wajah yang dulu selalu menantang dunia, kini menyimpan ketenangan yang asing—namun indah.
Ia menarik napas.
“Humairah—”
Kata itu lolos begitu saja.
Tanpa rencana.
Tanpa sengaja.
Begitu nama itu keluar dari bibirnya, Haikal langsung membeku.
Jantungnya seperti berhenti berdetak sepersekian detik.
Refleks, ia mendongak.
Lian.
Haikal menunggu reaksi yang sudah ia hafal: sendok membeku di udara, bahu menegang, tatapan kosong yang diikuti napas tersengal. Ia siap meminta maaf. Siap menarik kata itu kembali.
Namun—
Tidak ada apa-apa.
Lian hanya berhenti melipat pakaian. Perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya tidak melebar.
Tidak ada tangan yang mengepal.
Tidak ada napas memburu.
Ia hanya… menatap Haikal.
Tenang.
Hening mengalir di antara mereka, namun kali ini tidak menyesakkan.
“Maaf,” kata Haikal cepat, suaranya rendah dan penuh penyesalan. “Aku nggak sengaja.”
Lian tersenyum kecil.
Bukan senyum dipaksakan.
Bukan senyum pura-pura kuat.
Senyum yang jujur.
“Aku tahu,” ucapnya lembut.
Haikal mengernyit. “Kamu… nggak apa-apa?”
Lian meletakkan pakaian yang baru saja dilipat. Tangannya bertumpu di alas tidur, lalu ia sedikit memiringkan kepala, memperhatikan Haikal—tatapan itu penuh pengertian.
“Mas,” katanya pelan, “aku dengar kamu manggil namaku.”
Haikal menegang lagi.
“Dan aku sadar…” lanjut Lian, suaranya stabil, “…aku nggak sakit seperti dulu.”
Haikal menatapnya lekat.
Lian menghela napas kecil, lalu tersenyum lagi. Kali ini senyum itu lebih dalam, lebih rapuh.
“Aku mencoba sembuh, Mas,” katanya jujur.
“Aku mencoba berdamai sama diriku sendiri.”
Kalimat itu jatuh perlahan.
Namun berat.
Haikal merasakan dadanya menghangat sekaligus sesak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata itu terlalu besar untuk ditanggapi dengan kalimat sederhana.
“Kamu tahu…” Lian melanjutkan, matanya menatap lantai tenda, “…nama itu dulu selalu datang barengan sama tuntutan.”
Ia tersenyum tipis, getir.
“Harus sempurna. Harus diam. Harus kuat. Harus jadi Humairah yang semua orang mau.”
Haikal menelan ludah.
“Aku capek,” lanjut Lian pelan. “Makanya aku minta dipanggil Lian. Biar aku bisa napas. Biar aku bisa jadi aku.”
Ia mendongak, menatap Haikal lagi.
“Tapi sekarang…” katanya, suaranya sedikit bergetar, “…waktu kamu manggil namaku tadi, yang aku dengar bukan tuntutan.”
Haikal menahan napas.
“Yang aku dengar,” lanjut Lian, “cuma suamiku.”
Sunyi.
Haikal berdiri tanpa sadar. Langkahnya pelan saat mendekati Lian, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan momen ini.
Ia berhenti tepat di depan Lian.
Tangannya terangkat—ragu—lalu berhenti di udara.
“Boleh?” tanyanya pelan.
Lian mengangguk.
Haikal menurunkan tangannya, menyentuh kepala Lian dengan sangat lembut, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh. Jarinya menyusup ke rambut panjang itu, bukan untuk mengikat atau menarik—hanya menenangkan.
“Aku bangga sama kamu,” katanya lirih.
“Dan aku minta maaf… karena nggak ada waktu kamu mulai belajar berdamai.”
Lian menutup mata.
Kata-kata itu menembus lebih dalam dari yang ia duga.
“Aku nggak nyalahin kamu,” jawabnya pelan. “Aku cuma… senang kamu ada sekarang.”
Haikal tersenyum kecil—senyum yang jarang muncul, tapi nyata.
“Sekarang,” ulangnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya, nama yang dulu melukai—
tidak lagi terasa seperti luka.
Melainkan tanda bahwa penyembuhan sedang berjalan.
Pelan.
Namun pasti.
----
Haikal melepaskan sentuhan itu perlahan.
Ia melangkah mundur satu langkah, lalu dua. Seolah mengingat kembali di mana ia berada—di wilayah tugas, di tengah penjagaan, di dunia yang menuntutnya selalu siap pergi.
“Aku harus kembali,” ucapnya pelan.
“Nanti ada pergantian jaga lagi.”
Ia berbalik.
Satu langkah.
Lalu—
Jari Lian menangkap pergelangan tangannya.
Tidak kuat.
Tidak memaksa.
Namun cukup untuk menghentikannya.
Haikal berhenti seketika.
Di belakangnya, suara Lian terdengar. Tidak keras. Tidak juga gemetar. Hanya jujur.
“Mas…”
Haikal menoleh.
Lian berdiri, jarak mereka hanya sejengkal. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Haikal, seolah takut jika dilepas, pria itu akan benar-benar menghilang lagi.
“Tetap di sini,” katanya pelan.
Haikal menatapnya, matanya gelap oleh konflik yang sulit disembunyikan.
“Aku tahu kamu sedang bertugas,” lanjut Lian. “Aku ngerti kamu tentara.”
Ia menarik napas dalam.
“Tapi aku istri kamu.”
Kata itu sederhana. Namun berat.
Dan sebelum Haikal sempat menjawab, Lian melanjutkan—suaranya sedikit lebih rendah, lebih personal.
“Aku kangen,” katanya jujur.
“Kangen suamiku… yang baru bisa aku lihat lagi setelah dua tahun lebih.”
Genggaman di pergelangan tangannya mengencang sedikit.
Haikal merasakan sesuatu runtuh di dadanya.
Ia sudah bertahan dari tembakan.
Dari ledakan.
Dari kehilangan rekan.
Namun kalimat itu—
ia tidak punya pelindung untuk itu.
“Lian…” ucapnya lirih.
“Aku nggak minta apa-apa,” lanjut Lian cepat, seolah takut disalahpahami. “Aku cuma… pengin kamu di sini. Malam ini.”
Tatapan mereka terkunci.
Haikal menelan ludah. Pikirannya berputar cepat—aturan, tanggung jawab, garis batas. Ia bisa pergi sekarang, berpura-pura kuat seperti biasa.
Atau—
Ia bisa mengakui bahwa ia juga manusia.
Perlahan, Haikal membalikkan tubuh sepenuhnya menghadap Lian.
Tangannya terangkat, menutup genggaman Lian di pergelangan tangannya. Bukan untuk melepaskan.
Melainkan untuk menahan.
“Aku cuma bisa sebentar,” katanya akhirnya.
“Sampai waktu jaga berikutnya.”
Mata Lian berbinar kecil.
“Itu cukup,” jawabnya cepat.
Haikal menghembuskan napas, menyerah dengan caranya sendiri. Ia duduk di tepi alas tidur, punggungnya tegak, masih kaku—seolah tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa ia boleh berada di sini.
Lian duduk di sampingnya.
Tidak bersentuhan.
Hanya dekat.
Beberapa detik berlalu dalam hening yang nyaman.
“Aku pikir,” ucap Haikal tiba-tiba, suaranya pelan, “kamu bakal marah sama aku.”
Lian menggeleng. “Aku capek marah.”
Ia menoleh padanya. “Aku cuma pengin kamu pulang.”
Haikal menutup mata sejenak.
Ia mengangkat tangan, ragu, lalu akhirnya meletakkannya di bahu Lian. Sentuhan itu ringan—namun penuh makna.
“Aku di sini,” katanya lirih.
“Dan kali ini… aku nggak pergi tanpa pamit.”
Lian bersandar pelan ke bahunya.
Tidak menangis.
Tidak bicara.
Hanya menarik napas panjang, seolah baru sekarang ia benar-benar bisa bernapas.
Di luar tenda, malam tetap sunyi.
Namun di dalam—
dua jiwa yang lama terpisah akhirnya duduk dalam jarak yang tidak lagi menyakitkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu,
kerinduan tidak lagi terasa sendirian.
----
Lian membuka matanya perlahan.
Matanya masih setengah mengantuk, kelopak terasa berat. Selimut tipis menutupi tubuhnya hingga ke leher, hangat—bukan hanya karena kainnya, tapi karena rasa aman yang menyelimuti dadanya.
Ia mengedip pelan.
Cahaya lampu tenda yang redup menyusup lembut ke dalam pandangannya.
Di sana—
Haikal.
Pria itu berdiri membelakanginya, sedang mengenakan seragam militernya. Gerakannya tenang, terlatih, seperti biasa. Setiap kancing ditutup rapi, setiap lipatan dirapikan dengan teliti. Namun ada sesuatu yang berbeda malam ini.
Punggung itu tidak lagi terasa jauh.
Lian terdiam, menatapnya tanpa suara.
Ia tidak menyangka…
malam pertama mereka sebagai suami istri—sepenuhnya, tanpa jarak, tanpa dinding penghalang—harus dilalui di kamar tenda sederhana ini. Bukan rumah. Bukan ranjang empuk. Hanya alas tidur tipis dan dinding kain yang bergoyang pelan tertiup angin malam desa.
Namun dadanya terasa penuh.
Lengkap.
Lian menarik napas pelan, merasakan tubuhnya masih hangat, hatinya masih berdebar pelan—bukan karena cemas, melainkan karena perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata.
Kini ia tahu.
Ia tidak lagi hanya menunggu.
Tidak lagi berdiri sendiri.
Ia adalah istri Haikal.
Sepenuhnya.
Haikal seolah merasakan tatapannya.
Ia berhenti mengancingkan seragamnya, lalu menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Haikal mendekat, langkahnya pelan agar tidak membuat suara. Ia duduk di tepi alas tidur, menatap Lian yang setengah tenggelam di balik selimut.
“Kebangun?” tanyanya lirih.
Lian mengangguk kecil.
Tatapannya lembut, tidak malu, tidak ragu—hanya tenang.
“Kamu mau pergi?” tanyanya pelan.
Haikal mengangguk. “Sebentar lagi ganti jaga.”
Ia mengangkat tangannya, menyentuh rambut Lian dengan sangat lembut, jari-jarinya berhenti di sana seolah ingin mengingat rasa ini baik-baik.
“Tidur lagi,” katanya pelan.
“Aku di dekat sini.”
Lian mengangguk.
Namun sebelum memejamkan mata, ia berkata—suaranya serak karena kantuk dan perasaan yang masih mengendap,
“Mas…”
Haikal menunduk.
“Terima kasih,” ucap Lian pelan.
“Sudah pulang… dan memilih tinggal.”
Haikal menahan napas sejenak.
Ia menunduk, mencium kening Lian dengan lembut—bukan sebagai prajurit, bukan sebagai lelaki yang selalu siap pergi.
Tapi sebagai suami.
“Aku akan selalu kembali,” bisiknya.
Lian tersenyum kecil, lalu memejamkan mata lagi.
Selimut tetap menutupinya hingga leher.
Dan di balik dinding tenda yang sederhana itu,
dua hati yang lama tertunda akhirnya menemukan tempat pulang—
bukan pada bangunan,
melainkan pada satu sama lain.