Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biaya Pengobatan
Dr. Syarif Sudrajat tertegun sejenak, tubuhnya membeku di tempat ketika menyaksikan tindakan Fauzan Arfariza yang sama sekali tidak masuk akal di matanya. Sorot matanya berubah dari heran menjadi marah, lalu meledak dalam teriakan kasar yang menggema di ruang ICU yang dingin dan steril itu.
“Bocah! Orangnya sudah mati! Untuk apa kau masih membuat keributan di sini?”
Nada suaranya sarat ejekan dan penghinaan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah palu yang hendak menghancurkan harga diri Fauzan Arfariza hingga berkeping-keping. Ia mengenali pemuda itu—anak dari pasien miskin yang sebelumnya tak sanggup membayar biaya operasi. Ingatan itu membuat rasa jijiknya semakin mengental.
“Berpura-pura berbakti, ya? Kalau kau benar-benar punya sedikit saja bakti kepada orang tua, seharusnya sejak awal kau membawa lima puluh juta rupiah untuk operasi! Kalau begitu, ibumu tidak akan mati seperti ini!”
Ia mendengus keras, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tajam, lebih kejam.
“Kau tidak punya uang, tapi paling pandai berlagak! Aku paling muak dengan orang-orang sepertimu!”
Kata-kata itu terus mengalir, berderai seperti hujan racun, menghantam udara di sekeliling. Namun Fauzan Arfariza sama sekali tidak bereaksi. Ia seakan terpisah dari dunia luar, pikirannya terfokus sepenuhnya pada tubuh ibunya yang terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit.
Tangannya bergerak dengan mantap dan terlatih, meski wajahnya tampak muda. Satu demi satu jarum perak menusuk titik-titik penting di tubuh Masni Mulyadi, tepat, presisi, seolah ia sedang menulis takdir baru di atas daging dan darah.
“Bocah! Aku sedang berbicara denganmu! Apa kau tuli?”
Melihat dirinya diabaikan begitu saja, amarah Dr. Syarif Sudrajat pun meledak sepenuhnya. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menegang.
“Kau ini dokter atau dukun? Untuk apa menusukkan jarum rusak ke sana kemari? Apa kau ingin ibumu bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang setelah mati?”
Ia melangkah maju dengan kasar, menunjuk sekeliling ruangan.
“Ini ruang ICU! Biayanya dihitung per jam! Biaya sebelumnya saja belum dibayar, dan sekarang kau masih berani main trik di sini?”
“Berhenti sekarang juga!”
Saat teriakan itu menggema, Fauzan Arfariza akhirnya menusukkan jarum terakhir. Nafas panjang keluar dari dadanya, seolah beban gunung yang menekan jiwanya perlahan terangkat.
Ibunya mengalami pendarahan otak mendadak—penyakit yang bagi dunia medis modern adalah vonis berat, namun bagi warisan kuno Sekte Medis Purba, hanyalah luka kecil yang dapat disembuhkan. Untunglah ia kembali tepat waktu. Seandainya terlambat sedikit saja, bahkan kekuatan surga pun tak akan mampu menarik kembali jiwa yang telah menyeberang batas keseimbangan dan kestabilan.
Dr. Syarif Sudrajat masih belum berhenti.
“Sudah puas membuat kekacauan? Waktu yang terbuang ini juga akan kami tagih!”
Ia lalu menoleh ke arah perawat di sampingnya.
“Indah Purnama, segera hubungi rumah duka. Suruh mereka datang dan membawa mayatnya pergi.”
Suasana di ruangan itu terasa beku. Kata mayat menggantung di udara, dingin dan kejam.
Namun pada saat itu, suara Fauzan Arfariza terdengar—tenang, dingin, namun mengandung kemarahan yang membara seperti api di balik es.
“Dokter gadungan,” katanya pelan namun jelas, “omong kosong apa yang kau ucapkan? Ibuku masih hidup.”
Syarif Sudrajat tertawa sinis, tawa yang penuh penghinaan.
“Hidup? Apa kau gila? Tidak waras, ya?”
Ia mengibaskan tangan dengan angkuh.
“Kalau ibumu bisa hidup kembali, aku bersedia menyerahkan jabatanku sebagai kepala dokter kepadamu!”
Belum sempat tawa itu menghilang, sebuah bunyi bip terdengar dari monitor di samping ranjang.
Satu bunyi.
Lalu satu lagi.
Lambat, namun nyata.
Detak jantung.
Perlahan, grafik di layar monitor mulai bergerak kembali, denyut nadi yang semula lenyap kini kembali berdetak, semakin stabil, semakin kuat, hingga akhirnya kembali ke ritme normal.
Keheningan menelan ruangan itu.
“Apa… apa yang terjadi?”
Dr. Syarif dan Indah Purnama sama-sama terpaku, mata mereka membelalak tak percaya. Beberapa saat yang lalu, pasien ini jelas-jelas telah kehilangan seluruh tanda kehidupan. Tidak ada detak jantung. Tidak ada pernapasan. Tidak ada harapan.
Jika ini bukan ruang ICU dengan peralatan canggih, mereka mungkin akan mengira sedang menyaksikan kebangkitan mayat hidup.
Fauzan Arfariza, seolah telah memperhitungkan segalanya, mengangkat tangan dan dengan cepat mencabut satu per satu jarum perak dari tubuh ibunya. Gerakannya lembut, penuh hormat, seolah sedang membangunkan seseorang dari mimpi panjang.
Ia lalu melepas alat-alat monitor dari tubuh Masni Mulyadi.
Saat semua selesai, tubuh Masni Mulyadi tiba-tiba bergerak.
Ia duduk tegak dengan terkejut, matanya terbuka lebar, nafasnya tersengal ringan. Ia memandang sekeliling ruangan asing itu dengan kebingungan.
“Anakku… ini di mana?”
“Bu… Ibu akhirnya bangun.”
Suara Fauzan Arfariza bergetar. Ia segera menggenggam tangan ibunya erat-erat, seolah takut kehilangan lagi. Dalam hatinya, ia tahu—jika bukan karena kebetulan memperoleh warisan Sekte Medis Purba, ia dan ibunya pasti telah terpisah selamanya oleh batas hidup dan mati.
Mata Dr. Syarif Sudrajat hampir keluar dari rongganya. Apa yang ia saksikan benar-benar melampaui pemahamannya. Ia mengenal kondisi Masni Mulyadi lebih baik dari siapa pun di ruangan itu. Bahkan jika ia tidak mati, mustahil bisa pulih secepat ini.
Masni Mulyadi menatap wajah putranya dengan cemas.
“Apa yang terjadi, Nak? Ibu ingat tadi tiba-tiba pingsan. Apakah Ibu sakit parah?”
Ia menggenggam lengan Fauzan Arfariza.
“Apakah… apakah biayanya mahal?”
“TIDAK, Bu,” jawab Fauzan Arfariza cepat, tersenyum lembut.
“Ibu sudah sembuh. Kita pulang sekarang.”
Ia tidak hanya menyembuhkan pendarahan otak ibunya, tetapi juga membersihkan berbagai penyakit tersembunyi yang telah lama menggerogoti tubuh wanita itu akibat kerja keras dan kelelahan bertahun-tahun.
Kini, tubuh Masni Mulyadi lebih sehat daripada kebanyakan orang seusianya.
“Syukurlah…”
Masni Mulyadi menghela napas lega.
“Kalau begitu, ayo pulang. Dari dulu Ibu selalu bilang, penyakit kecil tidak perlu ke rumah sakit. Istirahat sebentar juga cukup.”
Wanita itu telah membesarkan Fauzan Arfariza dan saudara-saudaranya seorang diri, melalui hari-hari yang keras dan penuh pengorbanan. Tidak ada yang lebih ia takuti selain menghabiskan uang—terutama di rumah sakit, tempat di mana setiap detik memiliki harga, dan setiap nafas terasa seperti hutang.
Di balik pintu ruang ICU itu, takdir telah berubah arah.
Dan di hadapan dunia yang meremehkannya, Fauzan Arfariza telah melangkah ke panggung nasibnya—bukan lagi sebagai anak miskin yang hina, melainkan sebagai pewaris kekuatan kuno yang akan mengguncang langit dan bumi.
-----
Sambil berbicara, Masni Mulyadi perlahan menurunkan kakinya dari ranjang rumah sakit. Tubuhnya terasa ringan, jauh berbeda dari rasa berat dan nyeri yang biasanya menyelimutinya. Ia berdiri dengan bantuan Fauzan Arfariza, lalu melangkah hendak meninggalkan ruang ICU itu—ruang yang hampir saja menjadi tempat perpisahan terakhir antara ibu dan anak.
Namun baru beberapa langkah mereka melangkah, sebuah suara keras memecah udara.
“Berhenti! Kalian belum boleh pergi!”
Dr. Syarif membentangkan kedua lengannya lebar-lebar, berdiri tepat di hadapan pintu, seperti tembok dingin yang menghalangi jalan pulang mereka. Wajahnya masih pucat, bekas cekikan Fauzan Arfariza belum sepenuhnya hilang, tetapi sorot matanya kembali dipenuhi keserakahan dan keangkuhan.
Alis Fauzan Arfariza berkerut, matanya menyipit tajam.
“Apa lagi yang ingin kau lakukan?” tanyanya dingin, setiap kata mengandung tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Dr. Syarif Sudrajat mendengus, lalu berkata dengan nada resmi seolah-olah dirinya berada di posisi yang sepenuhnya benar.
“Kalian boleh pergi,” katanya, “tapi sebelum itu, biaya pengobatan harus diselesaikan.”
Masni Mulyadi yang polos dan sederhana langsung menoleh. Dalam benaknya, rumah sakit adalah tempat yang harus dihormati, dokter adalah orang yang tak boleh dilawan. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan konflik atau pertikaian.
“Oh… tentu saja,” katanya dengan nada ragu.
“Dokter, berapa biaya yang masih harus kami bayar?”
Dr. Syarif tanpa ragu menjawab, suaranya dingin dan datar, seolah menyebutkan angka kecil yang tak berarti.
“Tiga puluh sembilan juta delapan ratus.”
“Apa?!”
Wajah Masni Mulyadi langsung memucat. Tubuhnya bergoyang ringan. Jika saja Fauzan Arfariza tidak menopangnya, kemungkinan besar ia akan terjatuh kembali ke atas ranjang. Jumlah itu bagi keluarga mereka bukan sekadar angka—itu adalah gunung besar yang mustahil dipanjat.
“Terlalu… terlalu banyak…”
Napasnya tercekat. Seumur hidupnya, ia hidup hemat, menghitung setiap sen dengan cermat. Jumlah sebesar itu bisa membuatnya tidak tidur berbulan-bulan.
Tatapan Fauzan Arfariza langsung berubah. Amarah yang sebelumnya terpendam kini meledak tanpa sisa.
“Ibuku diselamatkan olehku,” katanya dengan suara bergetar karena marah, “lalu atas dasar apa aku harus membayar uang sebanyak itu?”
Syarif Sudrajat melipat tangan di dada.
“Ini ruang ICU,” jawabnya singkat.
“Biayanya dihitung per jam. Ditambah obat-obatan penyelamatan nyawa. Jumlahnya sudah sesuai prosedur.”
Ia lalu melempar setumpuk rincian tagihan obat ke tangan Masni Mulyadi dengan gerakan kasar.
“Lihat sendiri,” katanya ketus.
“Kami mengerahkan banyak tenaga medis dan obat-obatan mahal untuk menyelamatkan nyawamu. Kalau bukan karena kami, kau sudah mati sejak lama. Mana mungkin sekarang bisa berdiri dan berbicara seperti ini?”
Kertas-kertas itu bergetar di tangan Masni Mulyadi. Ia tidak mengerti istilah medis yang tertulis di sana. Nama-nama obat asing baginya. Namun satu hal yang ia pahami dengan sangat jelas: deretan angka yang mencengangkan, jumlah uang yang seakan hendak menelan hidupnya bulat-bulat.
Fauzan Arfariza mengambil tagihan itu, sekilas saja matanya menyapu isi kertas. Seketika, wajahnya menggelap seperti langit sebelum badai.
“Apakah kau berani bersumpah,” katanya perlahan namun menusuk,
“bahwa semua obat ini benar-benar digunakan untuk ibuku?”
Ia adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Kedokteran Jakarta. Meski belum lulus, ia memahami cukup banyak tentang obat-obatan dasar dan prosedur medis. Apa yang tertulis di hadapannya jelas tidak masuk akal.
“Tentu saja!” bentak Xie Haitao.
“Berhenti bertele-tele dan cepat bayar!”
Saat itu, kesabaran Fauzan Arfariza hancur sepenuhnya.
Dalam sekejap, ia melangkah maju, tangannya mencengkeram leher Dr. Syarif Sudrajat dan menghantam tubuh dokter itu ke dinding dengan suara keras.
“BRAK!”
“Kau manusia seperti apa sebenarnya?” teriak Fauzan Arfariza, suaranya menggema di ruang sempit itu.
“Tidak becus sebagai dokter saja sudah cukup memalukan, tapi berhati sehitam ini—apa kau masih pantas menyandang gelar dokter?!”
Leher Dr. Syarif Sudrajat terjepit kuat. Napasnya tersengal, wajahnya memerah keunguan. Ia berusaha meronta, menendang, mencakar, namun tangan Fauzan Arfariza seperti penjepit baja, tak bergeser sedikit pun.
Masni Mulyadi dan Indah Purnama terkejut setengah mati. Mereka tidak pernah melihat Fauzan Arfariza semurka ini. Amarahnya bukan amarah biasa—itu adalah ledakan dari luka, penghinaan, dan ketidakadilan yang menumpuk terlalu lama.
Indah buru-buru maju, menarik lengan Fauzan Arfariza.
“Lepaskan dia!” serunya panik.
Namun betapa terkejutnya ia ketika menyadari lengan yang tampak ramping itu terasa seperti gunung besar—tak bisa digerakkan sedikit pun.
“Fauzan!”
Masni Mulyadi ikut maju, suaranya gemetar.
“Lepaskan dia, Nak. Memukul orang itu melanggar hukum…”
Mendengar suara ibunya, hati Fauzan Arfariza terguncang. Tangannya perlahan mengendur, lalu melepaskan cekikannya.
“Batuk… batuk… batuk!”
Dr. Syarif Sudrajat terjatuh ke lantai, terengah-engah, menghirup udara seperti ikan yang baru dilempar ke darat.
Masni Mulyadi menatap putranya dengan bingung dan cemas.
“Anakku… apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau begitu marah?”
Fauzan Arfariza mengepalkan tinjunya.
“Dokter keparat ini,” katanya dengan suara gemetar oleh emosi,
“sebelumnya meminta lima puluh juta rupiah untuk operasi. Saat aku tidak mampu membayar, dia membiarkan Ibu menunggu mati!”
“Baru saja,” lanjutnya, “dia salah mendiagnosis Ibu sebagai meninggal. Itu sama saja menginjak-injak nyawa manusia!”
“Sekarang,” katanya sambil mengangkat tagihan itu,
“dia memalsukan laporan, meresepkan obat sembarangan. Sebagian besar obat ini bahkan tidak pernah masuk ke tubuh Ibu. Namun dia masih berani menagih uang dari kita!”
“Orang seperti ini… bagaimana bisa disebut dokter?!”
Dr. Syarif Sudrajat akhirnya berhasil berdiri. Wajahnya masih pucat, tetapi suaranya kembali keras, penuh kepanikan yang disamarkan sebagai kemarahan.
“Omong kosong!” teriaknya.
“Itu semua adalah obat penyelamatan nyawa ibumu! Hari ini kalian harus bayar! Kalau tidak, aku akan menyerahkan kalian ke kantor polisi!”
Fauzan Arfariza tersenyum dingin.
“Benarkah?” katanya.
Ia mengangkat rincian tagihan itu tinggi-tinggi.
“Ibuku menderita pendarahan otak berat. Lalu mengapa di sini ada obat analgesik?”
Ia menunjuk baris lain.
“Dan apa gunanya Suntikan Ginseng dan Tanduk Rusa?”
Ia menatap tajam Syarif Sudrajat.
“Lebih lucu lagi,” lanjutnya,
“total jumlah suntikan ini mencapai lebih dari dua puluh lima kilogram.”
“Apakah kau ingin mengatakan bahwa semua cairan ini masuk ke tubuh ibuku?”
“Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?”
“Bahkan seekor gajah pun tidak akan sanggup menerima infus sebanyak itu, bukan?”
“I… aku…”
Mulut Syarif Sudrajat terbuka, tetapi tidak satu kata pun keluar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia selalu mengira ibu dan anak ini tidak tahu apa-apa. Dengan mudah ia menuliskan resep berlebihan—sebagian untuk komisi rumah sakit, sebagian lagi untuk keuntungan pribadinya melalui penjualan obat.
Ia telah melakukan ini berkali-kali, dan selalu berhasil.
Namun kali ini… ia bertemu orang yang salah.
Saat ia terpojok tanpa jalan keluar, tiba-tiba pintu ruang gawat darurat terbuka dengan keras.
Seorang pria paruh baya berlari masuk dengan wajah panik, menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun di punggungnya.
“Dokter!” teriak pria itu putus asa.
“Tolong periksa anak saya! Cepat!”
Perawat di samping segera mendekat dan berkata dengan nada tergesa kepada Dr. Syarif Sudrajat.
“Dr. Syarif, ini pasien yang diatur langsung oleh Direktur Hendarto dari Dinas Kesehatan.”
“Beliau berpesan agar kita mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelamatkannya.”
Udara di ruangan itu kembali berubah.
Takdir lain tengah menunggu.
Dan bagi Fauzan Arfariza, ini baru permulaan dari jalan panjang yang akan mengungkap wajah dunia medis yang busuk—dan kebangkitan seorang dokter sejati yang ditakdirkan mengubah segalanya.
Lanjut ke Bab berikutnya......
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT