Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kasih
SELAMAT MEMBACA!
🦕
"Maaf, No, cuma bisa kasih jam tangan," ujar Dara. Dia menarik sudut bibirnya dengan tipis. Dara berpikir suaminya akan kecewa melihat kado yang diberikan. "Aku bingung mau kasih apa lagi." Senyum Dara melebar, memperlihatkan barisan giginya.
"Harusnya mobil sih, Ra," celetuk Dino. Dino membuat istrinya membulatkan mata, kemudian menunduk.
"Kalau mobil, aku nggak sanggup beli." Gadis itu menundukkan kepala, hadiahnya murahan sekali yang pasti Dino tidak menyukainya.
Dara membuat suaminya gemas. Lalu, Dino meletakkan bungkus kado tersebut setelah mengambil jam tangan di sebuah kotak kecil berwarna biru tua. "Mau bantu pasangin?" ujar Dino, sontak membuat Dara mengangkat kepalanya.
Melihat senyuman lebar Dino yang langka, Dara mengedipkan mata hampir tidak percaya melihatnya. "Gue gak keberatan lo kasih apapun itu sama gue. Lo inget hari ini, gue udah seneng, Ra," kata Dino, kemudian dia mengelus pucuk kepala Dara dengan lembut. "Makasih, ya."
Dara puas. Menghabiskan gajinya selama sebulan demi jam tangan itu, membuahkan hasil. "Sama-sama, No," jawab Dara. Lalu, dia mengambil jam tangan berwarna hitam dengan model jelas terlihat untuk laki-laki, kemudian memasangkannya pada pergelangan Dino.
Dara terhanyut menatap jam yang sudah melingkar di tangan Dino. Dia menatap Dino yang membulatkan mata dan tersenyum aneh kepadanya. "Kenapa?" tanya Dara.
"Sebenernya, ada satu hal yang gue pengen banget, Ra," ungkap Dino. Ia menunduk sejenak, kemudian menatap wajah istrinya yang cantik itu. Tangan kekar Dino bergerak membelai pipi Dara, membuat gadis itu membeku tenggelam ke dalam tatapan menusuk suaminya. "Lo, Ra."
Udara di malam itu berubah menjadi sangat dingin, membuat bulu-bulu di tubuh Dara berdiri. Ia merinding melihat wajah Dino yang semakin dekat dengannya. Lalu, tatapan Dino turun ke arah bibir Dara.
Bibir tipis berwarna merah muda dan sedikit berkilau karena serum itu memaku sepasang manik Dino. Ia terpikat hingga semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri.
Jemari tangan milik Dino bergerak meraba wajah gadis itu. Membelainya lembut hingga menyentuh bibir tipis Dara. "Ra, lo perlu tahu, kalau lo adalah cewek yang bisa buat gue ngerasain cinta sepenuh hati," kata Dino. "Sebelumnya, kalau gue cinta sama cewek, gak pernah penuh, cuma seperempat dari hati gue."
Sedikit merinding. Dara meremas kain gaunnya dengan erat, menahan sentuhan yang terasa menekan dari Dino. Bibirnya bergerak perlahan. "Mama kamu?" ucap Dara.
Dino menghela napas berat. "Iya, hati gue selama ini selalu penuh sama Mama. Tapi, lo udah buat itu gak berlaku lagi."
"Tempat di hati gue buat Mama, berubah jadi seperempat. Sisanya buat lo." Dino menggelengkan kepala. "Ralat. Gue udah buat tempat yang lebih luas buat lo. Dan, diisi lo seorang diri."
"Cuma aku?" tanya Dara, terdengar begitu lembut. Lalu, Dino menganggukkan kepala.
Gadis itu terdiam. Ia tak tahu, apa dia seperti Dino, atau malah tidak sama sekali. "Gimana kamu tahu, kalau kamu cinta sama aku?" tanya Dara. Tanpa ilmu pengetahuan tentang cinta, Dara belum mengerti bagaimana seseorang merasa jatuh cinta.
"Lo selalu gak bisa jauh dari orang itu. Kalau lo deket sama orang itu, lo ngerasain sesuatu di dalam diri lo, Ra."
Dara terdiam lagi. Ia mencerna ucapan suaminya. Saat ini, jantung Dara berdetak kencang, terasa panas tapi Dara tidak tahu di mana titik pastinya. Lalu, matanya selalu ingin menatap wajah Dino di depannya. "Aku ngerasain itu, No," kata Dara. "Jadi, aku cinta sama kamu?"
Sekilas senyuman Dino perlihatkan tepat di depan gadis itu. Jemarinya masih tidak berhenti membelai kulit lembut Dara. "Maaf, No, selama ini aku belum bisa jadi istri yang sempurna buat kamu," ucap Dara.
"Gak apa-apa, Ra." Dino menjauh dari sana, melepas tatapan yang saling mengikat itu. Lalu, Dino meraih tangan Dara dan menggenggamnya di pangkuannya. "Sekarang, lo mau gak kalau gue ajak? Jadi suami dan istri yang sempurna," kata Dino.
Dara langsung merasa hatinya penuh dengan api, panas yang membakar sekali. Gadis itu tersenyum tanpa sadar. "Mau, No," jawab Dara.
Rambut pengganggu, Dino menyisipkan helaian lurus dan lembut istrinya itu ke belakang telinga. Dino mengulas senyum tipis, melihat wajah Dara yang cantik dengan polesan makeup. Dino tidak pernah tersenyum sebanyak ini. "Gue mau lo jadi sepenuhnya milik gue, Ra. Gue gak mau lo pergi dari gue," kata Dino.
Dara membalas senyuman Dino. "Aku akan selalu di samping kamu, No."
Bintang dan bulan ikut tersenyum melihat sepasang insan itu saling mengakui perasaannya. Sejauh ini, Dino sama sekali tidak mengatakannya secara langsung kepada Dara. Namun, malam ini ia akan benar-benar mengikat Dara menjadi miliknya, dan Dara tak bisa pergi dari Dino.
Malam berbicara, senja itu datang dengan keindahannya hanya sementara. Namun, manusia selalu menunggu kedatangannya, meski sudah jelas, senja akan pergi lagi. Walau begitu, tanpa sebuah janji yang diucap, senja pasti datang kembali.
Mereka tidak perlu berbicara untuk sebuah janji. Namun, manusia yang selalu mengucapkannya janji, terkadang tak menepati.
...🦕...
Segelas susu coklat menemani pagi Dara. Ia sangat ingin meminumnya akhir-akhir ini, jadi Dara membeli banyak bubuk susu coklat. Dia duduk di balkon, dengan meluruskan kakinya sambil mendongak agar dapat melihat langit cerah. Awan terbang seperti perasaan Dara malam tadi.
Dara menoleh, mendapati Dino yang datang menghampirinya dan duduk di sampingnya. Dino mengelus pucuk kepala Dara sambil tersenyum tipis. "Mama tadi telpon, gue disuruh ke rumah," ucap Dino. "Lo mau ikut?" Lelaki itu mengambil gelas dari tangan Dara, kemudian meneguknya hingga menyisakan setengah.
"Nggak deh, No. Aku di rumah aja," jawab Dara. Lalu, dia melihat susunya sisa setengah. Dara mengambilnya dari tangan Dino, kemudian mengerut kesal. "Tadi ditawari nggak mau!" Dara menegur.
Dino hanya tersenyum memperlihatkan barisan giginya. Lelaki itu jari sering memperlihatkan senyumnya, yang dulu sangat jarang untuk seseorang melihatnya. "Kalau gitu, gue pergi, ya?" Dia berdiri dari sana, kemudian mengambil jaket yang tergeletak di atas sofa. "Lo di rumah aja! Kalau ada apa-apa, telpon gue!" ujar Dino.
"Siap, Bos!" sahut Dara. Lalu, Dino pergi dari sana dengan kaos yang terbalut jaket kebanggaan.
Dara pikir, suaminya telah berubah. Dulunya cuek dan tak acuh, sekarang ia menjadi terbuka. Namun, Dara juga berpikir, dirinya sedikit merasa lebih canggung kepada Dino dibanding hari biasanya.
Bukan masalah besar, Dara tidak banyak berpikir juga untuk itu. Ia hanya sedikit merasa janggal, tetapi hal ini juga tak berpengaruh buruk terhadap rumah tangganya. Selama Dara bisa terus belajar mencintai suaminya, ia akan bertahan.
Dara mendapatkan libur kerja selama satu minggu. Ia harus berada di rumah sepanjang waktu, sebab suaminya pun menyuruhnya untuk tetap di rumah. Tidak bisa hanya diam seperti patung, Dara memutuskan untuk mengambil sapu dan kemoceng.
Gadis itu membuka jendela kamar, membiarkan cahaya masuk menerangi ruangan. Dara mulai menyapu debu dari sudut ruangan, kemudian membersihkan nakas yang cukup kotor. Pakaian suaminya tergeletak di sofa, menyita perhatian Dara.
Sebuah celana jeans, Dara ambil dari sofa, kemudian ia bawa ke kamar mandi. Sebuah kertas muncul dari dalam saku, membuat kening Dara mengernyit. Gadis itu pun menarik kertas tersebut. "Kartu apaan ini?" gumam Dara.
Sebuah kartu menyerupai black card, tetapi bukan. "Bar?"
Dara menyipitkan matanya, mencoba membaca tulisan yang terlihat kecil di sana. "Bar young passion. Get 50 percent off for the first visit."
(Bar Gairah muda. Dapatkan diskon 50 persen untuk kunjungan pertama.)
"Nanti aja aku translate." Dara meletakkan benda itu di atas meja makan yang tadi dilaluinya, kemudian Dara membawa celana itu ke kamar mandi untuk dicuci.
🦕♥️