Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
Distrik Esu di malam hari adalah mosaik cahaya neon yang terpantul di genangan air hujan, namun bagi Mitsuki, keindahan kota ini hanyalah gangguan visual. Di dalam kantor agensi Fat Gum yang dipenuhi tumpukan kotak takoyaki kosong dan laporan kriminal, Mitsuki duduk di depan deretan layar komputer yang memancarkan cahaya biru pucat ke wajahnya.
Sesuai sanksi dari kepolisian Hosu, Mitsuki dilarang melakukan patroli lapangan selama tiga hari terakhir masa magangnya. Namun, bagi seorang ninja yang dilatih oleh Orochimaru, "dikurung" di dalam ruangan bukanlah sebuah hukuman, melainkan kesempatan untuk melakukan infiltrasi informasi.
"Kau masih bangun, Nak?" suara berat Fat Gum memecah keheningan. Pria besar itu berjalan masuk sambil membawa dua bungkus besar nikuman (bakpao daging) yang masih mengepul. "Ini sudah jam dua pagi. Bahkan pahlawan profesional pun butuh tidur agar lemak tubuhnya tidak menyusut sia-sia."
"Lemak adalah cadangan energi yang efisien untukmu, Fat-san," jawab Mitsuki tanpa menoleh dari layar. "Tapi aku sedang membedah struktur yang lebih rumit dari metabolisme. Aku sedang melihat pola distribusi brosur yang kita temukan di gang kemarin."
Fat Gum meletakkan bakpao di meja Mitsuki. Ekspresi cerianya sedikit meredup saat melihat data di layar. "Hassaikai... Kau benar-benar terobsesi pada mereka, ya?"
"Bukan terobsesi," koreksi Mitsuki. "Hanya saja, ada anomali. Kelompok Yakuza ini seharusnya sudah punah di era pahlawan. Namun, frekuensi peredaran obat 'Trigger' jenis baru di distrik ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya hidup, tapi sedang berevolusi."
Mitsuki menunjukkan sebuah grafik pada Fat Gum. Ia telah memetakan lokasi penangkapan pengedar kecil di seluruh wilayah Kansai selama enam bulan terakhir.
"Lihat ini," Mitsuki menunjuk titik-titik merah yang membentuk pola spiral. "Mereka tidak bergerak secara acak. Mereka menghindari wilayah yang dijaga oleh agensi besar, namun mereka sangat aktif di area yang memiliki tingkat populasi anak-anak tunawisma yang tinggi. Kenapa kelompok kriminal kuno peduli pada wilayah kumuh?"
Fat Gum terdiam, mengunyah bakpaonya dengan perlahan. Ia mulai menyadari bahwa murid magangnya ini memiliki kemampuan analisis yang jauh melampaui standar murid SMA. "Mungkin karena di sana tidak ada kamera pengawas?"
"Itu jawaban logis," kata Mitsuki. "Tapi ada aroma lain. Aku menemukan laporan medis yang terenkripsi dari klinik bawah tanah. Ada peningkatan kasus 'hilangnya Quirk' secara sementara di antara para penjahat kecil yang tertangkap. Sesuatu sedang dikembangkan, Fat-san. Sesuatu yang menyerang fondasi biologis dari kekuatan kita."
Di pojok ruangan, Tamaki Amajiki yang tadinya tampak tertidur di sofa, perlahan duduk. Wajahnya yang pucat terlihat semakin cemas. "M-Mitsuki... kau bicara seolah-olah... seolah-olah kau tahu bagaimana cara membedah sebuah kekuatan. Kata-katamu... menakutkan."
Mitsuki menoleh ke arah seniornya. "Aku hanya bicara tentang fakta biologis, Amajiki-senpai. Tubuh kita adalah mesin. Dan mesin apa pun bisa dimatikan jika kau tahu di mana tombol power-nya."
Tamaki langsung membalikkan tubuhnya, menghadap dinding. "Dia bicara tentang mematikan orang... aku ingin pulang... dunia ini terlalu gelap..."
Karena tidak bisa keluar, Mitsuki menghabiskan waktunya dengan berlatih bersama Tamaki di dojo pribadi milik agensi. Ini adalah momen unik di mana dua orang dengan kemampuan modifikasi tubuh saling berhadapan.
"Amajiki-senpai, kau makan untuk bertransformasi," ucap Mitsuki sambil menghindari tentakel gurita yang keluar dari jari Tamaki. "Tapi kau memiliki jeda sekitar 0,5 detik antara konsumsi dan manifestasi. Jika musuhmu mengetahui dietmu hari ini, mereka bisa memprediksi seranganmu."
"A-aku tahu..." Tamaki terengah-engah. Ia memakan sepotong cakar ayam dan tiba-tiba kakinya berubah menjadi cakar burung yang tajam, mencoba mencengkeram Mitsuki. "Tapi ini... ini adalah batas kemampuanku sekarang."
Mitsuki memanjangkan lengannya, melilit kaki cakar Tamaki dengan lembut tanpa menyakiti. "Batas adalah dinding yang kau bangun sendiri. Kau menggunakan Quirk-mu sebagai tambahan pada tubuhmu. Cobalah untuk menjadi bagian dari apa yang kau makan. Jangan hanya 'meminjam' kekuatan mereka, tapi jadilah predator itu sendiri."
Fat Gum yang menonton dari pinggir lapangan merasa takjub. "Kau tahu, Mitsuki? Kau punya bakat jadi instruktur yang sangat kejam. Tapi kau benar. Tamaki terlalu ragu-ragu karena dia terlalu peduli pada apa yang dipikirkan orang lain."
"Di duniaku," ucap Mitsuki, melepaskan lilitannya. "Ragu-ragu adalah cara tercepat untuk menjadi mayat. Amajiki-senpai, kau adalah 'Suneater'. Kau harusnya bisa menelan apa pun, termasuk rasa takutmu sendiri."
Tamaki tertegun. Ia menatap tangannya yang perlahan kembali normal. Untuk pertama kalinya, ia melihat Mitsuki bukan sebagai junior yang mengerikan, tapi sebagai cermin yang menunjukkan kekurangannya dengan jujur.
Malam terakhir magang tiba. Mitsuki sedang mengemasi barang-barangnya saat ia merasakan getaran aneh dari ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar, namun ia tahu siapa pengirimnya.
"Delapan kaki ular tidak sebanding dengan delapan jalan kematian. Hassaikai hanyalah debu di bawah kakiku, Mitsuki. Tapi pimpinannya... Kai Chisaki... dia memiliki tangan yang bisa membongkar dunia. Jangan biarkan dirimu dibongkar sebelum aku bisa mengambil datamu."
Mitsuki menghapus pesan itu seketika. Orochimaru ternyata juga memantau pergerakan Yakuza ini. Itu artinya, Hassaikai memiliki sesuatu yang bahkan membuat penciptanya tertarik secara sains.
Ia berjalan menuju meja Fat Gum untuk berpamitan. "Terima kasih untuk semuanya, Fat-san. Aku belajar banyak tentang... makanan dan kemanusiaan."
Fat Gum tertawa besar, menepuk punggung Mitsuki hingga ia hampir tersungkur. "Sama-sama, Nak! Kau juara satu yang aneh, tapi kau punya hati yang benar di tempatnya. Jaga dirimu di UA. Dan hei, jika kau butuh takoyaki terbaik di Jepang, kau tahu ke mana harus datang!"
Tamaki berdiri di belakang Fat Gum, memberikan lambaian tangan kecil yang sangat kaku. "M-Mitsuki... jangan... jangan mati saat ujian akhir nanti. Aku ingin melihatmu... saat aku lulus."
"Aku akan mencoba, Amajiki-senpai," jawab Mitsuki.
Mitsuki duduk di kereta yang membawanya kembali ke Musutafu. Di dalam tasnya, selain oleh-oleh makanan dari Fat Gum, terdapat sebuah flashdisk berisi data-data awal tentang Hassaikai yang ia kumpulkan secara ilegal dari server bawah tanah selama magang.
Ia melihat ke luar jendela. Langit fajar mulai menyingsing. Ia tahu bahwa kembali ke UA berarti kembali ke aturan sekolah, ujian tertulis, dan kompetisi antar murid. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Kai Chisaki dan simbol delapan sumbu tersebut.
“Pahlawan melindungi dunia dari luar,” batin Mitsuki. “Tapi ninja... kami membersihkan dunia dari dalam bayangan. Hassaikai, jika kalian benar-benar sedang menciptakan senjata untuk menghapus Quirk, maka kalian sedang bermain dengan api yang bahkan Ayahku tidak berani menyentuhnya.”
Ponselnya berdering lagi. Kali ini dari grup kelas 1-A. Izuku: "Teman-teman, apa kalian sudah sampai? Aku sedang di rumah sakit menjenguk Iida-kun. Dia jauh lebih baik sekarang!" Uraraka: "Aku baru sampai di stasiun! Capek banget tapi seru!" Bakugo: "DIAM KALIAN SEMUA! AKU SEDANG TIDAK MOOD!"
Mitsuki tersenyum tipis. Ia mengetik sebuah pesan singkat. Mitsuki: "Aku sedang dalam perjalanan. Aku membawa bakpao daging untuk kalian. Mari kita hadapi ujian akhir dengan perut kenyang."
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen