Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pilihan Sang Serigala
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai kamar rumah sakit, tempat Devan akhirnya menyerah untuk dirawat secara medis setelah insiden kudeta yang berdarah itu. Ruangan itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, bercampur dengan wangi bunga lili putih yang dibawa Lia. Devan terbaring dengan dada terbebat perban tebal, namun wajahnya tampak jauh lebih tenang. Di samping tempat tidurnya, Lia tertidur lelap dalam posisi duduk, kepalanya bersandar pada lengan tempat tidur dengan jemari yang masih menggenggam erat tangan Devan.
Pintu ruangan terbuka perlahan, menimbulkan bunyi decit halus yang membuat Lia tersentak bangun. Ia segera merapikan kacamata dan rambutnya yang berantakan saat melihat siapa yang datang.
"Ayah?" gumam Lia, suaranya serak.
Pak Gunawan berdiri di sana, mengenakan kemeja kantoran yang rapi namun wajahnya menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Ia menatap putrinya, lalu beralih menatap Devan yang kini sudah membuka mata. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit.
"Lia, bisakah kamu menunggu di luar sebentar? Ayah ingin bicara berdua dengan pria ini," ucap Pak Gunawan dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Lia menatap Devan dengan cemas, namun Devan memberikan anggukan kecil yang meyakinkan. "Tidak apa-apa, Lia. Pergilah minum kopi sebentar."
Setelah Lia keluar, Pak Gunawan menarik kursi dan duduk tepat di samping tempat tidur Devan.
Ia meletakkan sebuah map cokelat di atas meja nakas. "Di dalam sini ada laporan kepolisian tentang kejadian di gudang pelabuhan, rumah persembunyian, dan markasmu. Nama kamu ada di mana-mana, Devan."
Devan mencoba duduk tegak meski rasa nyeri menusuk punggungnya. "Saya bisa menjelaskan semuanya, Om. Saya melakukannya untuk melindungi Lia."
"Aku tahu," sela Pak Gunawan cepat. "Dan itulah masalahnya. Kamu melindunginya dari bahaya yang sebenarnya datang dari dirimu sendiri. Jika Lia tidak mengenalmu, dia tidak akan pernah diseret ke atas motor oleh penjahat, dia tidak akan pernah bergulat di lumpur dengan wanita gila, dan dia tidak akan pernah memiliki risiko tertembak."
Pak Gunawan menatap mata Devan dengan tajam. "Aku menghargai keberanianmu. Tapi sebagai seorang ayah, aku tidak bisa membiarkan putriku hidup dalam ketakutan setiap kali dia mendengar suara deru mesin motor di depan rumah. Aku ingin dia lulus kuliah, bekerja di perpustakaan yang tenang, dan menikah dengan pria yang bisa menjamin dia akan pulang dengan selamat setiap sore."
Devan terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan Raka. Kebenaran di balik ucapan Pak Gunawan tidak bisa ia sangkal.
"Lalu apa syaratnya, Om?" tanya Devan, suaranya terdengar pasrah.
"Tinggalkan dunia itu, Devan. Keluar dari Black Roses. Bubarkan geng itu atau serahkan kepemimpinannya pada orang lain. Jadilah pria biasa. Jika kamu ingin terus bersama Lia, kamu harus melepaskan jaket kulitmu dan semua kekacauan yang melekat padanya. Jika tidak... aku akan membawa Lia pergi dari kota ini, sejauh mungkin hingga kamu tidak bisa menemukannya."
Dada Devan terasa sesak. Black Roses bukan sekadar geng baginya; itu adalah keluarganya, warisan dari rasa sakitnya, dan tempat berlindung bagi orang-orang yang dibuang masyarakat. Namun di sisi lain, ada Lia—cahaya yang memberinya harapan untuk hidup normal.
Sore harinya, setelah ayahnya pergi, Lia kembali ke ruangan itu. Ia menemukan Devan sedang menatap keluar jendela, melihat hiruk pikuk jalanan Jakarta dari lantai empat.
"Apa yang Ayah katakan?" tanya Lia pelan.
Devan menoleh, ia menarik Lia ke dalam pelukannya. "Dia memberiku pilihan, Lia. Pilihan antara duniaku yang lama, atau masa depanku bersamamu."
Lia terdiam sejenak, ia bisa merasakan beban berat di bahu Devan. "Dan apa jawabanmu?"
"Aku belum menjawabnya," bisik Devan. "Karena aku tahu, meninggalkan Black Roses berarti mengkhianati saudara-saudaraku yang sudah bertaruh nyawa untukku. Tapi kehilanganmu... itu berarti aku kehilangan jiwaku."
Selama beberapa hari berikutnya, markas Black Roses diliputi suasana duka sekaligus ketidakpastian. Baron dan anggota inti lainnya sudah mendengar kabar tentang syarat Pak Gunawan. Mereka berkumpul di bengkel bawah, menunggu keputusan sang pemimpin.
"Bos tidak mungkin pergi, kan?" tanya salah satu anggota termuda dengan cemas.
Baron mengisap rokoknya dalam-dalam. "Dia mencintai gadis itu lebih dari nyawanya sendiri. Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk."
Malam terakhir sebelum Devan keluar dari rumah sakit, ia meminta Baron membawakannya sesuatu. Bukan senjata, bukan pula uang, melainkan sebuah dokumen resmi notaris. Devan memanggil Lia dan ayahnya untuk bertemu di taman rumah sakit yang sepi.
"Om," Devan memulai, ia berdiri dengan bantuan tongkat, namun tetap terlihat gagah. "Saya sudah mengambil keputusan. Saya tidak akan membubarkan Black Roses, karena ada ratusan orang di sana yang menggantungkan hidupnya pada organisasi ini. Tapi... saya resmi mengundurkan diri sebagai Ketua Umum malam ini."
Lia membelalakkan mata, tak percaya dengan pengorbanan Devan.
"Saya sudah menyerahkan kepemimpinan sepenuhnya kepada Baron. Saya sudah menjual saham saya di bengkel pusat dan akan menggunakan uangnya untuk membangun usaha baru yang legal—sebuah bengkel restorasi motor klasik yang jauh dari urusan jalanan,"
lanjut Devan. Ia kemudian melepaskan rompi kulit kebanggaannya yang penuh emblem mawar hitam, lalu menyerahkannya pada Baron yang berdiri di belakangnya.
"Ini bukan lagi milikku, Baron. Jaga anak-anak," ucap Devan dengan mata berkaca-kaca.
Baron menerima rompi itu dengan tangan gemetar. Ia memberikan hormat terakhir yang diikuti oleh puluhan anggota geng yang diam-diam hadir di kegelapan taman itu. Mereka melakukan revving mesin motor mereka secara serempak sebagai tanda penghormatan terakhir untuk sang Serigala Hitam.
Devan berbalik menatap Pak Gunawan. "Sekarang saya hanyalah Devan. Seorang pria biasa yang ingin mencintai putri Anda tanpa membawa bayang-bayang maut. Apakah ini cukup?"
Pak Gunawan melihat kesungguhan di mata Devan, lalu ia melihat ke arah Lia yang menangis haru. Perlahan, Pak Gunawan mengangguk. "Jangan buat aku menyesali keputusan ini, Nak."
Lia berlari dan memeluk Devan dengan segala rasa syukur yang ia miliki. Pengorbanan Devan adalah bukti tertinggi dari cinta yang melampaui segala ego dan kekuasaan. Devan mungkin telah kehilangan mahkotanya sebagai raja jalanan, namun ia memenangkan sesuatu yang jauh lebih abadi.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan kecil tetap menghantui. Melepaskan jabatan ketua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Ada musuh-musuh lama yang mungkin melihat pengunduran diri Devan sebagai kesempatan untuk membalas dendam tanpa perlindungan geng. Tantangan baru telah menanti, namun kali ini, mereka akan menghadapinya sebagai warga sipil biasa yang hanya bersenjatakan cinta.