Bastian, siswa pindahan yang mengundang sorotan publik karena ketampanannya. Ia juga lihai dalam bermain sepak bola
yang menambah nilai plus dari setiap mata yang menyaksikannya. Ia dipertemukan dengan Aleksa sang ketua OSIS yang tidak menyukai pemain bola. Namun mereka ditakdirkan untuk menjalani hari-hari bersama.
Seperti apakah kelanjutannya?
Mari, temukan dalam cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak
Seluruh siswa berbaris di lapangan untuk mendengarkan arahan dan bimbingan oleh Kepala Sekolah. Hal ini menjadi budaya jika ada yang memenangkan lomba maka seluruh siswa dibariskan di lapangan untuk memberikan penghargaan serta apresiasi karena telah membawa nama baik sekolah.
Bastian dan Aleksa sudah berdiri di belakang podium sedari tadi. Bagitu juga dengan Siska yang mendampingi. Tak lama mereka diundang naik ke atas mimbar untuk menerima penghargaan. Siska sudah naik duluan, diikuti oleh Bastian, sementara Aleksa teringat sangat grogi.
“Yuk”Bastian menjulurkan tangannya. Bastian menyambut tangan Aleksa sehingga ia terbantu untuk menaiki anak tangga. Aktivitas itu mengundang perhatian, terkhususnya para fans Bastian.
“Huuuuuuuu”sorak mereka secara bersamaan, Siska tertawa melihat kedua siswa bimbingan itu. Ia akui bahwa Bastian sedikit tanggap dengan hal-hal kecil seperti itu.
Aleksa terlihat kikuk, sementara Bastian biasa saja. Percaya diri Bastian lebih tinggi dibandingkan Aleksa.
“Beri tepuk tangan untuk tim hebat yang dibentuk oleh ibu Siska. Semoga ke depannya kita bisa memperoleh lebih dari ini.’’ujar Kepala Sekolah memberi selamat. Wanita itu menjabat tangan mereka satu per satu. Seluruh siswa bergemuruh menyaksikan itu.
“Bas….. besok aku jadi pasanganmu ya!”teriak siswa satu.
“Aaa Aleksa beruntung banget!’’
Kepala Sekolah mengheningkan mereka sejenak. Setelah itu ia memberikan microphone kepada Siska untuk memberikan kata-kata motivasi untuk siswa yang lain.
Lagi-lagi mereka bertepuk tangan karena kata motivasi dari Siska yang memberikan semangat kepada seluruh siswa. Selanjutnya Siska memberikan microphone kepada kedua siswanya itu.
“Bas, kamu aja yang ngomong.”bisik Aleksa.
“Dih, kamu ketua OSIS ini kesempatan kamu.’’tolak Bastian. Ia menyodorkan microphonenya ke arah Aleksa yang terpaksa menerimanya. Namun Aleksa kembali menyodorkannya. Bastian terpaksa menerimanya. “Selamat pagi semuanya’’sapa Bastian ramah. Ia memberikan kata penghomatan kepada kepala sekolah, guru, dan staff pegawai yang ada di sana. “Baiklah, saya serahkan kepada kerabat saya terlebih dahulu.’’candanya sambil tersenyum. Aleksa mengernyitkan wajahnya. Bastian tertawa.
“Saya bercanda!’’ujarnya sambil tertawa. “Sebelum Aleksa memberikan kata-katanya, izinkanlah saya menyampaikan sesuatu.’’ujarnya sambil tersenyum.
“Iya sayang, kami dengarkan kok’’teriak para fans kepadanya.
“Saya dan Aleksa berdiri di sini. Bukan karena kami hebat. Kami hanyalah siswa biasa yang mencoba berkompetisi dan mengembangkan potensi yang kami miliki. Kami di sini memperoleh juara ini, berkat dukungan dari teman-teman semua, dan karena dukungan dari pihak sekolah yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.’’ujarnya. Ia menghentikan sejenak perkataannya.
“Iya sayang, kami selalu mendukungmu!!!!”teriak para siswa lagi.
“Saya juga mengucapkan terima kasih, kepada guru pembimbing Ibu Siska yang dengan sabar membimbing kami, mulanya tidak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya. Tak lupa pula saya ucapkan kepada rekan perjuangan saya Aleksa Frandini, yang banyak memberikan kontribusi, terhadap karya ini.”Bastian memuji Aleksa. Mendengar hal itu Aleksa tersipu malu. Setelah ia menutup perkataannya dengan terima kasih, Bastian menyerahkan microphonenya kepada Aleksa.
Aleksa memulai sambutannya. Ia tidak banyak berkata seperti Bastian, karena rasanya semua sudah disampaikan oleh Bastian. Kata-kata mereka diberikan tepuk yang meriah oleh seluruh siswa. Setelah foto bersama, mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Saat di kelas, Aleksa masih senyum-senyum sendiri. Masih terngiang ucapan Bastian yang memujinya di hadapan umum. Ditambah lagi beberapa siswa mengajaknya foto bersama. Sebenarnya Aleksa tahu, bahwa ajakan itu, untuk mengenal Bastian lebih dekat bukan karena tulusnya mereka ingin foto bersama Aleksa, namun ia tidak peduli, setidaknya dengan Bastian berlaku seperti itu, menambah kepercayaan diri Aleksa.
“Sehat Leks? “Bastian melayangkan jarinya ke wajah Aleksa. “Kamu lagi mikir jorok ya?’’ledek Bastian kepadanya.
“Hem. Kamu itu ! Ganggu aja!”
“Dih, aku nyadarin kamu dari gangguan jiwa. Harusnya kamu berterima kasih kepadaku!’’ujarnya sambil tersenyum.
“Enak aja kamu bilang aku gangguan jiwa. “
“Hehe. Bercanda loh ibu ketua, habisnya kamu senyum-senyum sendiri. Kan aku jadi takut.’’ledeknya lagi.
“Bodo ah!”Aleksa meninggalkan Bastian. Kebetulan jam istirahat telah tiba. Ia langsung ke kantin. Memesan makanan berat, karena sedari pagi ia belum sarapan.
Setelah pesanan datang, Aleksa meletakkan handphonenya di atas meja. Ia mulai menikmati makanannya. Tere tak sengaja melintas di hadapan Aleksa dan meilirik handpone Aleksa yang tak sengaja menyala. Terlihat foto ia berdua dengan Bastian.
Tere dan gengnya mengurungkan niatnya untuk memesan makanan. Ia duduk di hadapan Aleksa dengan sangat kesal.
“Eh, ada ketua OSIS yang menang lomba ini.’’cetusnya dengan kesal. Ia menyunggingkan bibirnya menandakan ketidaksukaannya kepada Aleksa.
Aleksa tak menyahut. Ia tetap menikmati makanannya. Semakin memancing emosi Tere.
“Berani banget nyuekin kita.’’sambung Angel yang juga kesal kepadanya.
“Hm!”Tere mengambil minuman Aleksa dan menuangnya ke piring makannya. Sehingga nasi yang Aleksa makan dipenuhi air yang berlimpah. Aleksa menatapnya tajam. Ia menyiramkan sisa air itu langsung ke wajah Tere dengan penuh amarah.
“Auuuwww’’pekik Tere kuat ia mengundang perhatian pengunjung kantin.
Sementara itu Aleksa beranjak pergi, tidak ingin mengundang keributan lebih dalam lagi. Ia mengambil handphonenya lalu mencoba menghindari mereka.
Angel dan Clara menahan langkah Aleksa.
“Bawa dia ke pojok!’’perintah Tere. Angel dan Clara mengikuti. Dengan sekuat tenaga mereka menarik Aleksa keluar dari kantin.
Semua perhatian terpusat kepada mereka. Aleksa meronta-ronta minta tolong. Pada saat itu Deren juga ada di sana, tetapi ia tidak berani membela Aleksa karena ia takut kepada Tere yang mempunyai kekuasaan lebih dari segala-galanya.
Tere menarik seragam Aleksa kuat. “Centil banget kamu ya!’’hardiknya kesal.
“Aku enggak punya salah sama kalian!’’teriak Aleksa keras. Ia juga meminta tolong kepada siswa yang menyaksikan.
“Diem kamu!”Tere semakina anarkis. Ditariknya rambut Aleksa kasar. “Jangan kamu pikir kamu bisa bareng sama Bastian, kamu berhak sok oke kayak gini!”sentaknya dengan kesal.
“Iri?’’tantang Aleksa tak peduli.
Shiren yang tega dengan Aleksa, walaupun ia setuju dengan Tere namun ia memutuskan untuk memanggil Bastian ke kelas. Ia tak ingin Aleksa disiksa gitu saja. Demon Chaser memang geng paling berbahaya di sekolah. Mereka tidak peduli mau korbannya laki-laki maupun perempuan. Tentunya mereka menyamaratakan semuanya.
Bastian berlari sekencang-kencangnya karena panik mendengar berita tersebut. Didapatinya Aleksa sudah berantakan dengan rambut acak-acakan. Dengan sekuat tenaga ia melerai perkelahian itu, Bastian cukup kewalahan karena tenaga mereka menyerupai laki-laki. Bahkan seragamnya ikut robek karena tertarik salah satu dari mereka.
“Kalian enggak waras ya!’’teriak Bastian. Ia menarik Tere dari belakang, karena menurutnya Terelah penyebab utama keributan ini.
Setelah lima menit, barulah mereka terpisahkan. Aleksa terhempas jauh dari mereka.
“Leksa!’’Bastian membantu Aleksa untuk berdiri. Ia membantu merapikan seragam Aleksa. Ia lihat matanya berbinar menahan tangis. “Bisa berdiri?’’tanyanya memastikan. Kaki Aleksa lemas. “Tunggu bentar.’’Ia membalikkan badannya ke arah Tere yang masih dengan tegap berdiri.
“Puas Ter? Apa yang kamu dapat setelah menyiksa adik kelas kamu kayak gini?”sentaknya kesal. Lenyap sudah rasa hormatnya untuk Tere.
“Bas, kamu kenapa belain dia sih?’’sentaknya, ia juga menahan tangis.
“Hm, aku bela yang benar, udah cukup ya Ter! Kali ini kamu kelewatan.’’sentaknya.
“Bas, jangan kayak gitu.’’rengeknya.
Leksa menggendong Aleksa dengan bridal style. Gadis itu mengalungkan tanganya ke tengkuk Bastian. Aleksa menatapnya hangat. Ia mulai menangis.
“Maaf Leksa aku terus datang terlambat.”sesalnya. Ia menarik rok bawah Aleksa agar tak terlihat siswa yang lain.
“Hiks”Aleksa menangis tersedu-sedu. Lutut Aleksa terluka, beberapa lengannya terkena cakaran. Bastian membopongnya ke UKS. Namun penjaga UKS tidak ada di sana. Batsian meletakkan Aleksa di ranjang. Gadis itu ia dudukkan di sana. Kakinya terjulai ke lantai. Air matanya masih mengalir.
“Maaf ya Leksa.’’Bastian mengelap air mata gadis itu. “Ntar ya aku obatin”Bastian mencari obat pembersih luka. Ia berlutut di hadapan Aleksa. Meniup luka yang lumayan terbuka.
“Ssh… pedih Bas.”rengeknya manja.
“Sabar ya, “ujarnya menyemangati. Ia oleskan luka itu dengan antiseptic sambil meniupnya. Setelah selesai luka di lutut, kemudian ia mengobati lengan Aleksa, terdapat beberapa goresan.
Aleksa menatapnya hangat, hatinya berdebar tak karuan diperlakukan lembut seperti ini.
“Hm, sesakit ini mencintai kamu Bas.’’gumamnya menahan perih. Lelaki itu masih menipu goresan luka Aleksa.
“Minum dulu.’’Bastian memberi minum. “Habisin!!”pintanya. “Leksa, karena luka kamu di lutut, jadi agak lumayan perih, apalagi itu menjadi pusatnya saat kita berjalan. Di tahan ya Leks.”pintanya
Aleksa tak menyahut, ia masih menahan perih. “Bas, kalau ditanya papa sama mama, nanti bilang aja aku jatuh ya.”
Bastian mengangguk. Ia melepaskan senyumannya. Kemudian ia merapikan rambut Aleksa, ia menyisirinya dengan lima jarinya. “Maaf kalau agak sakit Leksa, tapi kelihatan berantakan.’’
“Hm, jadi pacarku kenapa sih Bas.’’ujarnya tanpa sadar mengundang perhatian Bastian.
“Ngomong apaan Leksa?”
“Lindungi aku Bas, aku udah capek diserang.’’
“Oh, ngelindungi kamu?”
“Aku enggak bisa selalu dampingi kamu Leksa”tolak Bastian. “Tapi aku akan berusaha.’’ujarnya sambil tersenyum
“Hm, aku ingin kamu jadi pacarku Bas.’’
Bastian tak menjawab, ia duduk di samping Aleksa. Ia tarik nafas dalam menikmati udara siang hari.
“Hm, nanti kamu pulang bareng aku ya.’’ajak Bastian.
“Kamu kenapa enggak jawab pernyataanku tadi Bas. Hem.”
“Kamu udah jelas Deren suka sama kamu, tapi kamu biarin.”
“Terus kalau aku sukanya sama kamu gimana?”tantang Aleksa, ia menoleh ke arah Bastian dengan serius. Bastian menutup wajah Aleksa dengan kelima jarinya.
“Jangan natap aku kayak gitu.”
“Kamu enggak peka banget sih Bas.”
“Iya aku enggak peka.”Bastian membelai pucuk kepala Aleksa. “Maafin aku ya Leks’’ujarnya.
“Jadi ceritanya aku ditolak.’’
“Kita pulang yuk.”ajak Bastian tak mengindahkan ucapan Aleksa.
Gadis itu menurut, walaupun ia merasakan sakit, tapi ia juga tidak mau memaksakan kehendaknya. Aleksa juga tidak ingin gara-gara itu Bastian menjauh darinya. Sesampainya di rumah Aleksa, tidak ada satu pun orang di rumahnya. Aleksa menelepon keluarganya, namun ibu Hana menjawab bahwa mereka sedang menghadiri acara keluarga dan Reyhan ikut bersama mereka. Hana lupa meninggalkan kunci rumahnya.
“Ya udah kita ke rumahku aja.”ucap Bastian sambil melaju ke arah rumahnya.
“Enggak usah Bas.’’
“Udah tenang aja. Tante pasti lama itu Leksa,’’ujarnya.
Sesampainya di rumah, setelah Bastian selesai memarkirkan motornya di garasi, Bastian mengajak Aleksa masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Dengan seketika Aleksa menghempaskan tubuhnya ke sofa milik Bastian.
“Ehm, aku ganti baju bentar ya Leks”
“Bas, aku pinjam bajumu kamu Bas, seragam aku udah kotor.”
“Mau mandi sekalian enggak?”tanyanya. “Biasa kamu pulang sekolah selalu mandi.’’ucapnya seketika mengingat waktu ia di rumah Aleksa.
“Boleh Bas,’’ujarnya.
Bastian mengambilkan handuk, kaos serta celananya Bastian. Gadis itu pun langsung masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dari atas rambut hingga kakinya. Beberapa area tersa perih sekali. Ia sempat merintih kesakitan. Setelah selesai mandi, ia pun keluar dengan aroma sabun yang masih menggelegar ke mana-mana.
“Leks, duduk sini.”Bastian menepuk sofa di sampingnya, Aleksa menurut. Sementara itu Bastian berlutut di hadapannya. Ia mengoleskan antiseptic lagi ke lutut Aleksa. “Masih perih ya?’’tanyanya sambil meniup luka Aleksa.
Degg
Jantung Aleksa bergetar hebatnya. Wajahnya memerah seketika. Ia menatap Bastian hangat. Matanya tak pernah mau bergerak dari wajah tulus itu. Setelah itu ia memberikan antiseptic juga ke lengan Aleksa.
“Hm, kamu kenapa terus berlaku kayak gini sih Bas?’’
Bastian mengemasi seluruh antisepticnya. Gadis itu masih belum bisa menguasai drinya.
“Kenapa Bas? Hem?’’tanyanya lagi.
“Karena kamu orang pertama yang kutemui. Kamu juga udah banyak mewarnai aku. Jadi kenapa hal yang sama enggak boleh kulakukan samamu’’ucap Bastian.
“Hm. Hanya itu?”
Bastian menghempaskan tubuhnya di samping Aleksa. “Emang jawabannya mau gimana lagi?’’
“Ntah!’’ketus Aleksa.
“Ya udah yuk, makan dulu. Mbak Astri udah nyiapin makan untuk kita.’’
“Siapa itu?’
“Orang yang kerja di rumah ini. Kakek keluar sampai waktu yang tidak ditentukan, jadi mempekerjakan mbak Astri untuk menjaga rumah ini.’’jelasnya.
“Jadi selama ini kamu berdua sama Mbak Astri?’’tanyanya.
“Iya, tapi sore pulang.’’ucapnya.
“Mas Bas.’’Astri menghampiri. “Uda bisa dimakan itu Mas.’’
“Mbak, panggil nama aja. Aku enggak suka mbak panggil aku kayak gitu.’’ucapnya
“Maaf Bas. Non Leksa, makan non.’’ajaknya
“Makasih mbak.’’
Mereka pun menuju ruang makan. Kedua remaja itu menyantap makanan tanpa keluar sepatah kata pun. Setelah selesai makan mereka istirahat di ruang televisi. Ia menyalakan televisi.
“Mbak As, yuk temenin kita nonton.’’ajak Aleksa.
“Iya mbak, temenin kita,”timpa Bastian. Ia mengotak-ngatik siaran televisi yang menarik hati.
“Duh Bas, masa kalian pacaranaku gangguin.”celutuknya sambil menahan senyum. Diperkirakan umurnya masih dua puluh lima tahun. Masih dikategorikan muda.
“Dih Mbak, siapa juga yang pacaran sama Bastian, dia udah nolak aku berkali-kali.’’adu Aleksa sambil menunggu sambutan dari Bastian.
“Hm, yakin Non? Mbak enggak yakin, pasti kalian punya hubungan special.”
“Noh Mbak!”Aleksa menunjuk ke arah Bastian. “Tanya aja sama orangnya Mbak. “
“Iya Bas?’’
“Aleksa ini suka ngarang Mbak, terserah Mbak mau percaya sama siapa.”ujarnya santai.
Astri tertawa. “Ya udah deh Bas, Non, saya tinggal dulu, tugas saya menjaga rumah ini. Bukan ngusilin hubungan percintaan kalian.’’candanya sambil berlalu.
“Kamu memang enggak suka samaku Bas?’’tanyanya lagi. Mukanya terlihat lesu namun tetap mengharapkan jawaban yang pasti.
“Kamu ini. Dari tadi kenapa sih? Main game aja yuk.’’
“Jawab dulu.”
“Skip, bahas yang lain Leks. Mulai besok kamu jangan sendirian ke mana-mana. Tere makin hari makin jadi.”
“Ya udah kalau gitu mulai besok temani aku ke-mana-mana”ujarnya cuek. “Mau ke mana pun aku pergi, kamu harus stay sama aku.”titahnya mengintimidasi. Ucapan Bastian menjadi boomerang baginya.
“Kenapa harus aku?’’
“Kamu udah nolak aku berkali-kali, kamu juga yang buat aku baper segini hebatnya Bas. Dan karena kamu pula aku jadi kena serang begitu hebatnya. Aku harap kamu melindungi aku.”
Degg
Bastian terdiam. Ia masih mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Aleksa. Ia memijit kepalanya yang tak sakit.
“Terus kalau aku punya urusan gimana?”
“Aku yang nemenin kamu!”
Bastian menarik nafas dalam. Ia bingung harus bagaimana karena tingkah liar Tere yang semakin menjadi. Ia takut ketika ia semakin dekat dengan Aleksa maka semakin banyak yang menyerang gadis itu, sebaliknya jika ia tidak di dekat Aleksa maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa mereka akan menyerang Aleksa kapanpun.
Pastinya aku seneng banget akhirnya mereka jadian
Mawar buat thorthor lah
5 cukup kali buat semangat 🤗
Congrats 🤗🤗🤗
Selamat kamu keren
Akhirnya ada juga yang ngomong
Kamu mesti liat kepingan hati Alexsa