Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kembali ke Ibukota Negara.
Kesepakatan pun menemukan titik temu. Rembulan dan William datang ke ibukota. Perbincangan di hape dengan Ricky Pranajaya, berisi kesediaan dirinya ke ibukota dan membawa koin tersebut untuk diperlihatkan kepada rekannya yang berasal dari Singapura bernama Jhon Lee karena orang tersebut yang memiliki banyak uang dan berminat.
Rembulan pun paham maksudnya. Menjual koin emas tidak semudah menjual kacang goreng. Banyak intrik dan juga banyak tangan. Jadi dia sudah mempersiapkan segala kemungkinan resiko yang akan dihadapi.
Gadis cantik itu menyanggupi ke Jakarta menemui taipan Singapura yang diceritakan. Jhon Lee dan meminta William Arisandi, kenalan Ricky Pranajaya, untuk mengantarkan wanita muda itu ke kediaman Ricky di Jakarta. Maka berangkatlah William ke tempat Ricky jam dan hari itu juga agar tak membuang banyak waktu.
Jhon Lee segera melesat ke Jakarta dengan jet pribadi. Dia adalah salah satu taipan berpengaruh negeri Singapura. Tentu saja Rembulan tidak mengetahuinya. Selama bersembunyi, dia tidak memegang alat komunikasi dan bersentuhan dengan alat komunikasi modern seperti hape dan televisi. Praktis, tertutup dari dunia luar.
Dia sengaja, supaya tak ada yang melacaknya. Dia sadar, seluruh identitasnya yang berada di tas pasti sudah diambil pihak yang mencelakainya.
Orang besar yang akan ditemuinya adalah taipan serta kolektor barang antik. Mr. Jhon Lee memiliki rumah pegadaian serta toko lelang barang antik turun temurun dari leluhurnya, terbesar di Singapura (kantor pusat) dan beberapa negara Asia, Amerika dan Eropa. Tapi menurutnya pada dua rekanannya itu, barang antik yang dia dapatkan saat ini, yang paling spektakuler baik dari harga maupun materialnya!
Sebagai taipan keturunan China daratan, yang menjadi Warga Negara negeri kepala Singa, jaringan Jhon Lee sangatlah luas dan beragam. Terkadang, tempat lelangnya menjadi ajang berkumpul para konglomerat dari berbagai negara sehingga bisnisnya semakin besar dan lancar. Dan dia pun ingin menjalin kerjasama secara berkesinambungan dengan gadis muda itu.
"Akhirnya aku kembali menghirup udara Jakarta setelah tiga tahun lamanya bertapa. Begitu banyak perubahan dari kota ini. Apakah aku bisa menaklukan kota ini beserta penghuninya sehingga dendamku terbalaskan!?" batinnya di balik kaca jendela mobil milik William Arisandi yang membawanya ke ibukota.
Setelah hampir 3 jam berkendara, keduanya memasuki kediaman yang asri dan luas di kawasan Menteng, Jakarta. Dari penuturan William, ternyata Ricky Pranajaya pun seorang konglomerat yang cukup disegani di ibukota walau masih kalah jumlah dari Mr. Lee ini, menurut William Pranajaya. Dan William maupun Ricky mengenal keluarga Orion, Ambrosia dan Hendrio.
Ricky mengatakan, kekayaan dirinya, tidak ada seujung kuku kekayaan Ambrosia dan Orion. Rembulan tidak mengatakan bahwa dirinya bagian dari keluarga tersebut. Dirinya cukup terkesan dengan kerendahan hati seorang Ricky Pranajaya dan tidak berprasangka jelek. Toh, kalau pun jahat, dirinya saat ini, sanggup melindungi diri berkat ilmu kanuragan yang diajari kedua bestie-nya dan MANNA yang di dapat dari kultivasi.
Jhon Lee terkesan dengan sosok seorang Rembulan Senja yang memiliki rupa campuran Asia-Eropa (sesuai yang dideskripsikan koleganya), tapi lebih ke Asia. Selain kagum pada sosoknya yang lembut, ramah dan pintar juga apa yang dimiliki saat ini!
Koin kuno emas dari peradaban yang telah punah!
Keduanya berbincang dalam bahasa Inggeris tentunya Rembulan bisa mengimbangi sebab mendapat pencerahan ilmu pengetahuan ketika kultivasi.
Dirinya melihat dengan mata kepalanya peradaban kuno yang sudah punah ada dalam genggaman seorang gadis belia yang diperkirakan seusia puterinya.
Tak tanggung-tanggung, Rembulan membuka penawaran 100 miliar per koin!
Jhon Lee dan lainnya begitu tercengang mendengar harga penawaran yang fantastis dari gadis yang terlihat lugu dan bersahaja namun ternyata tidak sesederhana itu!
Menurutnya, itu harga yang pantas untuk sebuah peradaban dari bangsa besar dalam sejarah dan peradaban manusia yang diabadikan dalam sebuah kitab suci dan manuskrip.
"Bagaimana? Apakah anda tertarik, mister Lee!?" tantang Rembulan.
Saat diperlihatkan koin, mata pria taipan itu berbinar. Sebagai orang yang berpengalaman berdagang (ditempa 3 tahun), dia melihat binar bahagia di mata pria itu saat melihat koin tersebut tapi menjadi surut sorot matanya begitu mendengar harga yang ditawarkan.
"Bagaimana kalau setengahnya, 50 miliar!" tawar sang taipan.
Begitulah ciri umum berdagang, ada negosiasi. Semoga tidak alot sebab dia diburu waktu.
"Pastilah dia punya duit. Seperti itu ekspresi konsumen. Dia akan menawar dan akan ada tarik ulur!" batinnya.
"Tidak bisa! Harga mati, segitu (100 miliar rupiah)!" Rembulan bersikukuh.
"Kalau tidak, saya akan mencari buyer lain!" ucapnya tarik ulur.
Trik selanjutnya, dirinya bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu keluar. Sementara sang taipan masih termenung memikirkan harga penawaran yang cukup menguras koceknya.
Sedangkan kedua penghubungnya sepakat diam dan membiarkan keduanya bernegosiasi. Ricky yakin koleganya dari Singapura itu akan mencari cara akan koin tersebut jatuh di tangannya sebab dia kolektor koin kuno dan berbisnis utama di bidang itu.
"Nona! Tunggu sebentar! Duduklah dahulu. Kita belum mencapai kesepakatan!" rayunya.
Gotchaaa!
Rembulan tersenyum tipis dan berbalik badan. Kemudian keduanya berhadapan kembali.
"Benar-benar tak bisa dikurangi harganya, yah!" tawar sang taipan harap-harap cemas.
"Ini bukan barang pada umumnya, ini langka tuan!" tegasnya masih dengan intonasi lembut.
Jhon Lee menarik nafas panjang dan dalam sebab negosiasi ini termahal sepanjang hidupnya. Bila tak mengingat keuntungan fantastis yang akan didapatkan selanjutnya, segan juga mengeluarkan modal sebesar itu. Tapi itu sebanding. Di dunia, tak ada seorang pun yang memilikinya. Berarti, dia adalah orang pertama.
"Baiklah! Aku setuju membeli koin tersebut. Tapi aku belum bisa memberikan uang muka sebelum uji karbon!"
"Bagaimana? Deal!?"
"Baiklah. Setuju!" ucap Rembulan sumringah.
Rembulan lantas mengeluarkan hanya mengeluarkan dua koin (khawatir Jhon Lee jantungan he he) karena pria gaek berusia 55 tahun baru pasang ring jantung (menurut penuturannya).
Benar saja! Pria yang digadang sebagai taipan berpengaruh itu mengurut dada setelah melihat dua koin emas yang dikatakan dari peradaban kuno yang banyak dicari para kolektor.
Pria taipan itu ingin uji karbon di Amerika namun Rembulan ingin di Indonesia, kalau perlu kolaborasi sebagai jalan tengah (dengan biaya tanggung renteng).
Akhirnya, tercapai kesepakatan, uji karbon merupakan kolaborasi kedua negara (Jhon Lee memiliki akses tenaga ahli Amerika) dan Ricky Pranajaya memiliki akses petugas uji dalam negeri) tapi dilaksanakan di Indonesia. Jhon Lee menyanggupi dan juga meminta berita tidak keluar dari ruangan! Yang hadir pun bersedia.
Rembulan menerima kesepakatan dan bersedia tinggal di rumah Ricky beserta isteri sebagai komitmen dia bukan penipu. Sambil menunggu unit uji karbon datang dia meminta izin pada Ricky mengurus KTP yang hilang dan akhirnya berterus terang bahwa di warga kota ini. Dia pun mengurus rekening tabungannya karena seluruh transaksi sebesar itu harus melewati rekening. Wanita itu masih mengingat nomer rekening dari Bank ABC.
Seminggu kemudian, petugas Uji Karbon datang dan kedua negara berkolaborasi. Seminggu kemudia, tibalah hasil dan menyatakan koin tersebut adalah koin asli dari peradaban yang hilang! Sertifikat pun keluar.
Akhirnya transaksi pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan drama!
Betapa bahagianya Rembulan bahwa misi pertamanya berhasil yaitu mengumpulkan uang! Uang 100 miliar sudah nangkring di rekeningnya. Rembulan pun mengeluarkan delapan koin lainnya (periode yang sama) membuat mata Jhon Lee dan lainnya terbelalak kaget bukan main. Isteri Ricky yang bernama Jessicka pun pingsan!
"Nona, aku tidak tahu lagi untuk berkata apa. Dua koin saja membuatku kehilangan kata-kata dan jantungku berdetak hebat. Ini ditambah lainnya!" ujarnya takjub memandang wanita muda nan cantik berusia 21 tahun yang tidak terlihat sederhana, memiliki harta karun tak ternilai!
"Jangankan 10 koin, gue punya segudang koin dari berbagai zaman. Bahkan ada yang lebih tua yaitu koin emas zaman Sumeria dan Mesir Kuno!" batinnya mentertawakan keterkejutan mitra bisnisnya.
Walhasil, saking bucinnya pada koin kuno, Jhon Lee membeli kesepuluh koin dengan harga yang sama tanpa meminta diskon! Mereka berdua pun bersalaman tanda bermitra dan Jhon Lee siap dihubungi bila gadis muda yang kaya mendadak itu memiliki barang antik lainnya seperti perhiasan dan sebagainya.
Dia pun memerintahkan kedua rekannya menyediakan fasilitas serta orang-orang sebagai bodyguard. Namun Rembulan menolak keras dan dia berkata pada mereka bahwa dia punya pengawalan yang cukup tangguh. Walaupun ketiganya menyangsikan sebab mereka melihat gadis itu datang sendiri (tanpa pengawalan), mereka pun tak bertanya banyak. Akhirnya, Jhon Lee tak bisa memaksa dan mengatakan dirinya akan membantu kapan pun dibutuhkan gadis itu dan siap menampung harta karun yang dimiliki.
Rembulan pun tersenyum penuh arti. Tentu saja, dia punya harta karun segudang siap untuk dijual! Tak lupa memberikan komisi (sesuai kesepakatan) untuk William dan Ricky sebagai penghubung.
Rembulan pun pamit pergi dari kediaman Ricky dan menolak halus tawaran dia dan isterinya untuk tinggal lebih lama karena ada yang perlu diurus. Jhon Lee pun terbuka dihubungi oleh wanita yang sudah menjadi partner bisnisnya.
"Senang berbisnis dengan anda Mr. Lee!" salam perpisahan Rembulan.
Kini di rekeningnya dia memiliki uang sebesar satu triliun rupiah, bisa memberi makan, tujuh turunan, tujuh tanjakan dan penduduk satu provinsi.
Misinya untuk membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya semakin dekat!