Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senam jantung
" Amara, pulang yuk..! ". Arsaka mengirim pesan setelah tiba jam pulang.
" Ayo, ".Balasku singkat.
" Tunggu bentar, aku hampir sampai".
Aku tidak lagi membalasnya, tapi lebih memilih untuk menunggu saja.
Tiba tiba teringat ucapan orang tua Adit tadi siang. Yang satu ingin aku maju, tapi yang satu ingin aku mundur. Aku harus apa? Yang pasti aku hanya akan melakukan yang terbaik untuk ku saja. Tak perlu terlalu memikirkan mereka.
Tin tin..
Dia datang, tapi kok Adit? Dia datang lagi. Dan saat dia mendekat, datang juga si Arsaka. Duh, kok begini sih. Mereka mengarah pada ku, sama seperti kemarin. Tapi kali ini sepertinya lebih menegangkan.
" Aku sudah sampai Ra, yuk pulang". Arsaka mengawali obrolan tanpa ragu mengajak ku.
" Kali ini biar aku yang antar". Adit mwnya dengan tegas.
" Gimana Ra? ". Arsaka bertanya padaku
" Tapi Arsaka.... ".
" Aku mohon Ra, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Pulang lah sama aku".
Amara jadi bingung, Dia tak ingin menyakiti hati siapapun. Tapi menolak pun rasanya tidak enak. Sementara dia harus sama siapa.
" Jangan bingung Ra, Tinggal bilang aja".
" Ar..... ".
" kalau kamu mau sama dia, aku nggak masalah. tapi ayah... "
" Ok, begini, Aku pulang sama Adit karena aku juga pengen ngobrol sama dia, nanti ayah biar aku yang urus. Nggak apa apa kan Ar? Besok pagi kamu bisa jemput aku lagi".
Arsaka terlihat sedang memikirkan sesuatu.
" Begini saja, kalian pulang lah dan ngobrol lah aku akan ikuti kalian dari belakang. Nanti kalau sudah deket rumah, Amara bisa pindah ke mobil ku. Soalnya aku tidak mau ayah jadi meragukan ku.Aku harus tanggung jawab dong".
Aku setuju, agak gila tapi kayaknya bisa jadi solusi.
" Kanapa tidak langsung sampai rumah aja? soal ayah kamu biar aku yang akan jelaskan".
" Kayaknya lebih aman seperti kata Arsaka. Soalnya Ayah lagi agak khawatiran sama aku, dia seperti nggak rela kalau aku pulang tanpa Arsaka".
Adit terlihat kesal, tapi dia pun tak bisa menolak .
Jadilah aku di mobil bareng Adit. Tanpa pikir panjang lagi, aku menunjukan ponselku sama dia. Pesan dari Maria Saat mereka sedang makan malam menjadi pilihanku untuk membuka pertanyaan yang berputar dalam benak ku.
Adit tergarap melihatnya. Mungkin dia kira aku tidak tahu.
" Ini dari siapa? ". Dia tergagap saat bertanya.
" Maria dong, Banyak lho yang dia kirim setiap kali kalian lagi jalan".
Dia semakin terkejut. Tapi aku tak peduli.
"TidK perlu kaget, kamu tinggal jelasin aja tentang semua ini. Biar semua terang".
" Ra, aku.... aku di paksa sama mama untuk jalan sama dia".
" Mamamu memang akan terus begitu, tapi memangnya kamu tidak ada alasan untuk menolak? ".
" Sudah ku tolak tapi,... ".
" Apa? Tetap maksa? Kalo gitu mending kamu turuti aja maunya mama kamu Dit. Biar tak ada lagi yang tersakiti".
" Ada Ra, aku... aku yang sakit kalo milih dia".
"Lalu kamu akan terus menjadi dua orang yang berbeda. Beda saat sama aku dan saat sama dia".
" Jangan bilang gitu Ra... ".
" Tapi kenyataannya begitu. Kamu ingin aku terus mengambil hati mama mu, tapi kamu tak perjuangkan aku di hadapan dia. Harusnya kamu juga bisa berjuang membuat matanya mau melihatku, mau berusaha membuat aku tampak baik di matanya".
" Akun sudah melakukan semua itu Ra.. tapi.... ".
" Tapi kamu kalah, Rasa sayangmu lebih besar untuk dia dari pada untuk ku. Aku seneng karena kamu tak jadi anak durhaka, tapi tolong tegas lah dalam memilih. Aku tak masalah jika kau tak memilihku, tapi paling tidak tolong, perjelas semuanya".
" Aku akan milih kamu, tapi tolong sabarlah dulu, aku masih cari cara yang tepat Ra".
" ok, pikirkan baik baik. Putuskan yang terbaik untuk semuanya".
Dia diam seribu bahasa, mungkin otaknya sedang mencerna setiap perkataan ku. Wajahnya agak pucat, pasti dalam benaknya sedang ada perang.
" Ya udah Dit, tolong berhenti. Aku akan pindah ke mobil Arsaka".
" Kamu semakin dekat sama dia ya? Ada sesuatu kah? ". Dia menatap curiga.
" Nggak ada. Tapi dia berhasil mendekati seluruh keluarga ku. Bahkan dia mendapat kepercayaan ayah untuk antar jemput aku sementara sampai aku bisa berangkat sendiri".
" Kamu sendiri gimana? perasaan untuk dia"
" Biasa aja. Kamu bisa lihat sendiri lah".
" Tapi kayak nya kalian deket deh".
" Terserah penilaian kamu seperti apa. Tapi kamu pasti tahu seperti apa aku ini".
" Justru karena aku tahu kamu, jadi..... ".
" Udah ya, tolong berhenti! Aku harus pindah ke mobil Arsaka. Ini sudah dekat rumah".
" Iya".
Mobil akhirnya berhenti dan aku akan segera turun.
" Dit, fokus aja sama masalah kita, jangan merembet kemana mana biar cepet selesai dan nggak bikin tambah pusing "Aku mengatakannya sebelum benar benar turun dari mobil. " Aku pergi dulu, sampai jumpa".
Aku benar benar turun untuk menunggu Arsaka. Sementara Adit sudah pergi meninggalkan ku. Awalnya aku berharap dia akan menanti sampai Arsaka datang, tapi ternyata dia sama sekali tak berpikir seperti itu. Padahal dulu, dia begitu perhatian manis dan hangat, hingga hatiku bergetar. Tapi sekarang sudah tidak lagi sama. Apa di sudah berubah atau masalah ini membuat pikirannya jadi terbagi hingga tak begitu peduli lagi padaku. Padahal saat ini aku sungguh sangat membutuhkan dukungan extra dari dia. Aku butuh genggaman tangannya untuk menguatkan ku. Aku Butuh kehadirannya sebagai sandaran agar aku tetap berdiri tegak.
" Aaauuuwwwww". Aku terkaget saat seseorang menarik tas yang ku bawa. Tasku pu lolos begitu saja. Aku sadar kalau aku baru saja di jambret.
" Tolong, tolong, Ada jambret.
Aku berteriak sekuat tenaga untuk meminta bantuan. Beberapa orang mengejar jambret itu. Dia berlari kencang menuju taman bermain yang ramai dengan anak anak. Aku panik, aku takut, ingin lari tapi tak bisa. Hanya dia yang ku panjatkan agar tas ki bisa kembali karena selain dompet dan ponsel ku, juga banyak file butik ada di sana.
Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan jambret itu. Ku kira akan menabrak tadi, tapi mobil itu berhasil menghentikan langkah si jambret tadi. Mobil itu milik Arsaka, dia langsung turun dan bergabung dengan beberapa orang yang berhasil menangkap jambret itu. Dia mengambil tas ku dan mengeksekusi jambret tak tahu diri itu. Bukan di bikin babak belur, tapi di paksa buka suara. Entah apa yang mereka katakan, jarak ku sudah terlalu jauh untuk bisa mendengarkannya. Aku bernafas lega karena tasku selamat dan jambret nya tertangkap. Tapi setelah mereka berbincang, Arsaka melepas jambret begitu saja. Dia lari terbirit birit menjauh meninggalkan keramain yang terjadi. Aku heran tapi juga lega.
Arsaka kembali memasuki mobil. Dia mengendarainya menuju tempatku berdiri kaku. Aku masih kaget, sangat kaget dengan kejadian barusan.
" Ra, kamu nggak papa? kaku baik baik saja? atau ada yang luka? ". Dia terlihat begitu cemas melihatku yang hanya diam.
" Aku nggak papa, anggak ada luka juga". Aku berhasil menjawab setelah agak tenang.
Dia membuka pintu mobil dan menyuruh ku masuk. Kemudian dia pun memasuki mobil di bangku kemudi. Dia memberiku air mineral dan aku menerimanya. Ku teguk sedikit demi sedikit hingga merasa lebih tenang. setelah itu barulah Arsaka berbicara.
" Sudah mendingan? ".
Aku mengangguk.
" Tenangkan diri ku dulu".
" Terima kasih Ar, aku sudah lebih baik, sudah lebih tenang".
" Kenapa kamu berdiri sendiri di pinggir jalan? di mana Adit? ". Ekspresinya berubah dari khawatir menjadi kesal.
" Dia udah pergi begitu aku turun dari mobil".
" Tuh orang nggak tanggung jawab banget sih, tadi akan maksa mau nganter, ini malah di tinggal gitu aja. Harusnya temenin dong sampai aku datang. Lagian bentar doang kan".
Aku hanya diam karena ku tahu Arsaka benar.
" Ya sudah, nggak usah pikirin dia, pulang sekarang aja atau mau nunggu bentar? ".
" Aku udah nggak papa, pulang sekarang aja".
" Ok. tenangkan dirimu dulu sambil kita jalan. Tata hati kamu biar rasanya lebih nyaman. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang penting kamu baik baik saja".
Aku hanya menurut. Untung saja dia datang tepat waktu, kalau tidak apalah jadinya aku.