Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuang Mutiara Demi Batu
Tanpa menoleh ke belakang, Jenara berjalan cepat menuju dapur. Langkahnya tergesa, napasnya belum sepenuhnya stabil akibat kemunculan Seran yang tiba-tiba. Pria itu seperti bangkit dari kematian.
Setiba di dapur, tangan Jenara meraba meja kayu hingga menemukan sebatang lilin. Ia menyalakannya dengan api kecil dari tungku untuk menerangi jalan, lalu berbalik menuju pintu belakang.
Ketiku pintu kayu itu berderit terbuka, udara malam langsung menyelinap masuk. Jenara baru saja melangkahkan kaki keluar, saat sebuah tangan menarik lengannya dengan kasar.
“Ah!”
Lilin di tangan Jenara bergetar hebat, nyalanya bergoyang tak menentu. Tubuh Jenara pun terseret ke samping, ke arah pohon besar yang menjulang gelap di permukaan tanah.
Kemudian, sebuah telunjuk menekan bibirnya.
“Jangan takut, Sayang,” bisik seorang pria. “Ini aku, Kusala.”
Jenara menegang.
Dalam cahaya lilin yang redup, wajah pria itu perlahan terlihat. Kusala berdiri terlalu dekat, matanya menyipit dengan kilau yang membuat bulu kuduk Jenara meremang. Wajahnya memang tidak buruk—rahang cukup tegas, hidung lurus, dan bibir tipis, tetapi tak ada sinar ketulusan di sana.
Tanpa sadar, Jenara membandingkannya dengan Seran. Dan hasilnya membuat Jenara hampir tertawa getir.
Seran, bisa dikatakan adalah sosok lelaki tampan yang diidamkan setiap wanita. Sedangkan pria di hadapannya ini tampak biasa saja. Bahkan, tatapan Kusala malah mengingatkan Jenara pada seekor ular kobra yang mengincar mangsanya.
Di dalam hati, Jenara menggeleng pelan. Wanita pemilik tubuh ini benar-benar sudah kehilangan akal. Rela mengkhanati suami tampan dan jatuh ke pelukan pria yang di bawah standar. Ibarat kata membuang mutiara demi batu kerikil.
Tanpa pikir panjang, Jenara pun menghempaskan tangannya dari pegangan Kusala.
“Kenapa kau datang selarut ini?” tanya Jenara dingin. “Sebaiknya, kau segera pulang."
Kusala tampak terkejut, tak menyangka akan ditolak mentah-mentah oleh Jenara. Refleks, ia mengulurka tangan hendak menyentuh pundak Jenara, tetapi wanita itu sudah mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku!” katanya tegas. “Aku wanita bersuami.”
Perlakuan ketus Jenara, membuat ekspresi Kusala berubah dalam sekejap.Ia mendengus kecil.
“Jenara, kau ini kenapa? Apa kau lupa kalau suamimu tidak ada? Dia pergi tanpa kabar, mungkin sudah mati dirampok di jalan.”
Ucapan Kusala yang menusuk, membuat Jenara menegakkan punggungnya.
“Ada atau tidaknya suamiku bukan urusanmu,” jawabnya. “Dan satu hal yang pasti, aku tidak menyukaimu. Dari dulu, sekarang, atau nanti.”
Alih-alih marah atas penolakan itu, Kusala malah tertawa pendek. Seketika, ia maju dan mencengkeram lengan Jenara.
Lilin di tangan Jenara pun terayun. Nyalanya padam, hingg mereka berdua tertelan dalam kegelapan yang lebih pekat.
“Sekarang kau jual mahal, begitu?” desis Kusala. “Kau hanya sedang marah. Aku tahu itu.”
Ia mendekat seraya berbisik di telinga Jenara.
“Maafkan aku karena ridak bisa datang selama seminggu ini, Sayang. Aku sedang bersembunyi.”
“Bersembunyi dari siapa?” tanya Jenara, berusaha menarik diri.
“Dari Bala Rudaka, pemilik rumah judi di seberang sungai," jawab Kusala cepat. “Dia berusaha menangkap aku."
Jenara terbelalak.
“Aku butuh uang,” lanjut Kusala. "Setidaknya lima tail perak. Kalau tidak, aku tamat.”
Jenara menepis tangannya, menahan amarah yang mulai naik.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Dan kalaupun punya, akan kupakai untuk anak-anak," pungkas Jenara. "Kau sendiri yang berjudi dan menumpuk utang. Jangan seret aku ke dalam masalahmu.”
Kali ini, mata Kusala berkilat marah, merasa tersinggung sekaligus terhina oleh perkataan pedas Jenara.
“Taktik apa ini? Kau sungguh ingin mengusirku?” tanya Kusala dengan nada rendah.
“Atau jangan-jangan kau kesepian? Ingin menghabiskan malam bersamaku?”
Tanpa peringatan, Kusala mengangkat tubuh Jenara dengan satu tangan, berniat menyeretnya masuk ke rumah. Namun Jenara bergerak lebih cepat. Ia memutar pergelangan tangan pria itu, lalu menjegal kakinya dengan satu kali tendangan keras.
Kusala terhuyung. Lututnya tertekuk dan tubuhnya oleng.
“Agh—! Apa yang kau lakukan?!” serunya kesakitan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Jenara bergegas mendorongnya menjauh.
“Pergi! Jangan pernah kembali kemari!"
Kusala terengah, menahan rasa sakit di kakinya. Wajahnya memerah oleh amarah.
“Awas kau, Jenara,” ancamnya. “Aku tidak akan melepaskanmu.”
Ia meludah ke tanah.
“Kau pikir ada pria lain yang mau padamu selain aku? Kau hanya wanita jelek.”
Setelah melemparkan ejekan menohok itu, Kusala berbalik dan pergi, bayangannya menghilang di balik gelap kebun.
Sementara Jenara sengaja berkacak pinggang, berdiri tegak meski napasnya masih belum beraturan. Ia menunggu sampai bayangan Kusala semakin tenggelam di balik kegelapan malam.
Namun, ia tidak tahu bahwa di antara tiang kayu dan bayang-bayang pintu rumah, sepasang mata memperhatikan semuanya.
Sesudah Kusala menghilang, kekuatan di tubuh Jenara akhirnya runtuh.
Ia mengerang pelan, lalu memijat lengannya yang nyeri dan punggungnya yang terasa seperti ditarik dari dalam. Setiap tarikan napas membawa rasa perih yang menjalar sampai ke tulang.
“Kenapa nasibku harus begini? Baru masuk ke dunia novel, sudah mengalami kekacauan yang tidak ada habisnya."
Ia menutup mata sejenak, menahan gelombang lelah yang datang tiba-tiba.
“Untung saja aku pernah belajar karate. Kalau tidak… entah apa jadinya aku malam ini," gerutu Jenara bicara sendiri."
Dengan langkah tertatih, Jenara berjalan kembali ke rumah melalui pintu belakang. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah menarik kakinya agar berhenti.
Tatkala melewati ambang pintu, pikiran Jenara mendadak tersentil oleh kata-kata Kusala yang terakhir.
Wanita jelek.
Jenara mendengus pelan. Ia bahkan belum sempat melihat wajahnya sendiri sejak berpindah tubuh. Tidak tahu seperti apa rupa wanita yang ia tempati raganya. Namun saat ini, rasa penasaran Jenara kalah oleh nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Besok saja, aku sudah tidak punya tenaga," putus Jenara lemah.
Dengan langkah gontai serta pandangan yang berkunang, Jenara terus berjalan menuju kamar. Namun, belum juga sampai, tubuhnya terhuyung. Jenara hampir saja jatuh menabrak kursi, bila pinggangnya tidak segera direngkuh oleh seseorang.
Jenara terkesiap. Spontan, telapak tangannya mendarat di dada bidang yang hangat, keras, dan nyata.
Jenara mendongak. Menatap wajah menawan pria yang telah menolongnya.
“Seran…” napas Jenara tersengal. “Tolong bantu aku ke tempat tidur. Aku lemas sekali.”
Untuk sesaat, Seran tidak bergerak. Tangannya tetap menopang tubuh Jenara, tetapi tatapannya menajam bagaikan sebilah pedang.
“Kau bilang lemas, tapi kau bisa melawanku. Dan barusan, kau juga berhasil mengusir Kusala.”
Jenara mengernyit, kepalanya terlalu berat untuk mencerna nada bicara itu.
Seran kemudian menunduk sedikit, jarak mereka begitu dekat hingga Jenara bisa merasakan napas hangatnya.
Nada suara Seran berubah dingin. "Jika aku tidak ada di rumah, apa kau akan mengajak Kusala masuk? Sehaus itukah kau pada sentuhan lelaki, Jenara?"
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏