Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ketika sahabat berubah menjadi musuh
Senin pagi ini upacara bendera di sekolah itu di tiadakan, mengingat cuaca yang sedang hujan ringan. Ketika Anindia dan Keanu tiba di sekolah, cuacanya hanya gerimis saja. Tapi setelah mereka tiba di dalam kelas, tiba-tiba saja hujan ringan mengguyur, membuat sekolah memutuskan untuk tidak melangsungkan upacara bendera pagi itu.
Di dalam kelas, suara guru yang mengajar beradu dengan rintik-rintik hujan yang turun di luar kelas, tapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Keanu yang duduk di bangku paling belakang terlihat sangat fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Sementara Anindia, ia sedikit kesulitan untuk fokus pada materi karena pikirannya yang sedang berkecamuk saat ini. Ia berkali-kali melirik Dara yang duduk di sebelahnya, Dara sama sekali tidak menghiraukannya sejak tadi pagi.
Anindia menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba untuk fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan kejujuran kepada sahabatnya itu. Ia ingin menyatakan bahwa ia dan Keanu bukanlah berpacaran, melainkan suami istri. Anindia yakin ingin mengatakannya karena ia percaya bahwa Dara bisa menyimpan rahasia.
Menit-menit yang berlalu pun kini berubah menjadi jam, diikuti dengan suara bel istirahat yang berbunyi. Semua orang di kelas itu memutuskan untuk pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman panas untuk menghangatkan tubuh mereka.
Dara pun langsung beranjak dari bangkunya, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Anindia yang duduk di sebelahnya. Dengan refleks yang cepat, Anindia menangkap lengan Dara sebelum gadis itu sempat melangkahkan kakinya. Dara yang sebelumnya acuh tak acuh kini menoleh ke arah Anindia dengan tatapan tajamnya.
"Apa?" Ujar Dara dengan nada malas.
Saat itu, Yudhi dan Edo menghampiri. Mereka berdua ingin mengajak Anindia dan Dara untuk pergi ke kantin, membuat Anindia langsung menoleh ke arah kedua teman laki-lakinya. Sementara Dara hanya terdiam tanpa bereaksi apa-apa.
"Nindi, Dara, ke kantin yuk!" Seru Yudhi kepada keduanya.
"Duluan aja, ntar kami nyusul. Aku mau ngomong sebentar sama Dara," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Yudhi dan Edo menganggukkan kepalanya, tanpa kata lagi mereka pun berlalu pergi meninggalkan keduanya. Tinggallah Anindia, Dara, dan Keanu di dalam kelas. Keanu ingin mengajak Anindia untuk pergi ke kantin, tapi ia melihat Anindia sepertinya ingin berbicara serius dengan Dara. Dengan ragu-ragu, akhirnya Keanu pun berjalan menghampiri.
"Nindi, mau ke kantin gak?" Ujar Keanu dengan nada yang sangat lembut.
"Duluan aja, Keanu. Nanti aku nyusul, aku ngomong sebentar sama Dara ya?" Ujar Anindia kemudian.
"Barengan aja, aku tunggu di luar ya," ujar Keanu dengan seutas senyum yang langsung diangguki oleh Anindia.
Mendengar perkataan Keanu yang begitu lembut untuk Anindia jelas saja membuat Dara merasa panas. Bahkan ia terlihat memutarkan bola matanya, seakan sangat tidak menyukai interaksi keduanya.
"Mau ngomong apa lo?" Ujar Dara dengan nada ketusnya, bahkan menarik tangannya dan langsung bersedekap dada.
Anindia yang terkejut hanya membiarkan Dara tanpa menarik tangannya lagi. Ia menatap Dara dengan tatapan serius, berusaha menjelaskan tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Keanu.
"Dar, aku mau ngomong sama kamu. Aku harap kamu bisa mengerti, aku dan Keanu sebenarnya-"
"Gak usah jelasin apa-apa. Gue tau sekarang, Nindi. Lo pacaran sama dia, padahal lo tau gue suka sama dia! Tapi kenapa lo yang pacaran sama dia, hah?!"
Anindia ingin menjelaskan, tapi Dara langsung memotong pembicaraannya. Bahkan dari nada bicaranya pun Dara terlihat sangat marah dan kecewa dengan dirinya saat ini. Anindia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang dalam menghadapi sahabatnya itu.
"Makanya dengerin aku dulu, Dar," ujar Anindia kemudian.
"Gue gak mau denger apapun penjelasan lo! Lo itu munafik tau gak?! Cih, gak nyangka aja ternyata lo temen makan temen," ujar Dara sembari menyunggingkan senyum sinisnya.
Betapa sakitnya hati Anindia ketika mendengar kata-kata menyakitkan dari sahabatnya sendiri. Dara, sahabat yang pertama ia kenal sejak SMP, kini justru menaruh duri di dalam hatinya. Ia tidak percaya bahwa Dara bisa berubah hanya karena perasaannya untuk Keanu.
"Aku gak nyangka kamu bisa kayak gini, Dar. Hanya karena kamu suka sama Keanu, kamu sama sekali gak dengerin aku? Aku mau jelasin yang sejujurnya sama kamu, tapi kayaknya sekarang udah gak perlu deh aku jelasin ke kamu," ujar Anindia yang mengurungkan niatnya untuk berkata jujur dengan Dara, mengingat betapa sakitnya kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Gue gak peduli!! Lo tau sendiri gimana perasaan gue untuk Keanu, tapi lo nusuk gue dari belakang! Kurang ajar memang lo!!" Ujar Dara dengan nada yang lebih tinggi, bahkan mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar untuk Anindia.
Anindia menatap Dara dengan mata yang berkaca-kaca, namun senyuman sinis terukir di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa Dara bisa memaki nya seperti itu. Sahabat yang ia kenal sejak lama, ternyata tidak sebaik yang ia kira.
"Aku kira kita sahabat, Dar. Tapi ternyata udah enggak ya?" Ujar Anindia yang sudah terlanjur sakit hati dengan kata-kata sahabatnya itu.
"Udah enggak semenjak gue tau lo pacaran sama dia!" Ujar Dara semakin meninggi, bahkan ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Anindia di belakang.
"Kamu itu terlalu egois, Dar! Bahkan untuk sekedar mendengarkan aja kamu enggan. Kalo ada masalah ya cerita, enggak kayak gini caranya," ujar Anindia membuat langkah Dara terhenti untuk sejenak.
Terlihat Dara mengepalkan erat tangannya, seakan tidak terima dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Anindia. Tanpa kata lagi, ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan Anindia sendirian.
Anindia hanya bisa menarik nafas melihat tingkah sahabatnya itu. Ia merasa bahwa Dara benar-benar berubah. Entah karena permasalahan lain atau murni karena perasaannya untuk Keanu, Anindia pun tidak bisa memastikan apa itu.
Cukup lama ia terdiam di tempat, akhirnya Anindia pun melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Setibanya di depan kelas, Anindia bisa melihat jelas bahwa Keanu sedang duduk di kursi panjang sembari memainkan ponselnya. Anindia yang sebelumnya merasa kesal dengan Dara, kini terlihat sedikit tersenyum ketika melihat Keanu yang benar-benar menunggunya di sana.
"Kean?" Panggil lirih dari Anindia membuat Keanu langsung menoleh ke arahnya bahkan langsung menyimpan ponselnya.
"Kean? Tumben u nya hilang," ujar Keanu dengan seutas senyum sembari beranjak dari duduknya.
"Ya gapapa kan? Kamu aja panggil aku Nindi bukan Anindia," ujar Anindia kemudian.
Keanu tertawa kecil menanggapinya, panggilan singkat itu jelas saja membuatnya merasa istimewa di hati Anindia. Tiba-tiba saja ia mencubit gemas pipi Anindia, membuat istrinya itu menyunggingkan senyum manisnya.
"Ya, boleh kok. Malah suka aku dipanggil Kean sama kamu," ujar Keanu. "Oh, tadi si Dara udah keluar duluan, dia kenapa?"
"Jadi gini Keanu, tadinya aku mau jujur sama Dara soal hubungan kita. Aku harap dia ngerti bahwa kamu itu adalah suami aku, aku pengen jujur biar dia berhenti suka sama kamu. Tapi ternyata dugaan aku salah," ujar Anindia sangat pelan sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah kantin, diikuti Keanu yang juga melakukan hal yang sama.
"Kamu jujur tentang pernikahan kita?" Ujar Keanu yang juga merendahkan suaranya.
Anindia langsung menggelengkan kepalanya, dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya akhirnya Anindia pun memutuskan untuk bercerita kepada suaminya itu.
"Enggak kok, tadinya sih pengen jujur. Tapi setelah Dara ngatain aku, aku jadi berubah pikiran," jelas Anindia kemudian.
"Bagusnya jangan cerita, kamu belum siap kan kalo orang lain tau tentang pernikahan kita?" Ujar Keanu yang masih merendahkan suaranya.
Anindia mengangguk perlahan, apa yang dikatakan oleh Keanu memang ada benarnya juga. Ia belum siap jika orang lain tahu tentang pernikahannya, karena akan mengganggu ketenangannya dalam menimba ilmu.
Saat hendak memasuki pintu kantin, tiba-tiba saja Dara menumpahkan air tepat di baju Anindia, membuat baju bagian depan Anindia basah tersiram air. Melihat hal itu jelas saja membuat Anindia langsung terkejut. Ia mengira bahwa Dara hanya kecewa dengan dirinya namun ternyata dugaannya salah, Dara kini justru menunjukkan rasa permusuhannya terhadap Anindia.
"Sorry Nindi, gue gak sengaja," ujar Dara dengan nada bersalah yang dibuat-buat, bahkan ia langsung menyenggol lengan Anindia dengan sengaja ketika berlalu pergi.
"Maksud lo apa, Dara," Ujar Keanu dengan nada dingin, ia merasa tidak suka dengan tindakan Dara terhadap istrinya itu.
Dara tidak menghiraukan, ia langsung berbalik pergi tanpa meninggalkan kata-kata apapun. Anindia sendiri terlihat sedang mengibaskan tangannya di bajunya yang basah itu. Tanpa pikir panjang, Keanu langsung melepas jaket yang dipakainya, lalu langsung menutupi tubuh Anindia dari belakang.
Anindia yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Keanu langsung mendongak ke arahnya, ia tidak menyangka bahwa Keanu benar-benar peduli dengan dirinya meskipun itu hanya sebuah hal kecil saja.
Saat itu, semua orang di kantin yang melihat momen itu hanya bisa bersorak heboh. Terlebih pemandangan Anindia dan Keanu yang begitu manis sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terlihat sebelumnya. Wajar saja, karena mereka dulunya tidak pernah akur sebelumnya, tapi kini justru menunjukkan sisi romantisnya secara terang-terangan di depan teman-teman sekolahnya.
"Bajunya basah, ntar masuk angin," ujar Keanu menatap Anindia dalam.
"Baru tau gue kalo mereka pacaran, sweet banget liatnya!" Ujar salah satu murid dari kelas lain.
"Yah, keduluan Anindia deh," ujar yang lain menimpali.
Anindia hanya bisa terdiam tanpa kata, namun tiba-tiba saja Keanu merangkulnya dan membawanya untuk duduk. Hal itu jelas saja membuat iri orang-orang yang berada di sana, terutama para siswi yang mengagumi Keanu.
"Mau pesan apa? Biar aku pesankan," ujar Keanu yang masih berdiri di sebelah Anindia.
"Apapun boleh, Kean. Terima kasih ya," ujar Anindia dengan seutas senyum, meskipun ia masih merasa terkejut dengan kejadian tadi.
Keanu hanya mengangguk singkat, lalu ia berjalan menuju ke arah kasir kantin untuk memesankan makanan. Anindia menoleh ke segala arah, ia tidak mendapati adanya Yudhi dan Edo di sana. Ia berpikir mungkin kedua temannya itu berada di kantin yang lain.
Tak berapa lama, Anindia melihat Keanu yang kembali dengan membawa dua mangkuk bakso di tangannya. Rasa kesal dan kecewanya terhadap Dara perlahan mulai sirna ketika melihat perlakuan manis dari suaminya itu.
"Dimakan dulu baksonya, mumpung masih hangat," ujar Keanu setelah meletakkan mangkuk itu di atas meja, lalu langsung duduk tepat di sebelah Anindia.
"Makasih Kean," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia meracik kuah baksonya bahkan menuangkan kecap dan saus ke dalam mangkuk Anindia juga. Hal itu jelas saja menarik perhatian orang-orang yang berada di dalam kantin, tapi Keanu dan Anindia tidak menghiraukannya lebih lanjut, seakan dunia hanya milik mereka berdua saja.
Tanpa disadari oleh keduanya, ternyata Dara mengintip dari depan pintu. Ia merasa panas ketika melihat Keanu yang begitu perhatian terhadap Anindia. Dara merasa iri dengan Anindia, ia yang menyukai Keanu tapi pria itu justru memilih sahabatnya bukan dirinya. Tidak ada lagi tatapan persahabatan di mata Dara, yang terlihat hanya tatapan permusuhan yang sangat nyata adanya. Tanpa ingin melihat keromantisan mereka lebih lanjut, Dara pun langsung melangkah pergi.
Saat itu, Niko dan Ariga menghampiri Keanu. Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat sahabatnya sangat dekat dengan Anindia. Mereka berdua bertukar pandang untuk sejenak, seakan tidak percaya bahwa Keanu bisa dekat dengan musuhnya sendiri bahkan terlihat seperti sedang berpacaran.
"Woi bro! Pantesan di tungguin di kelas gak ada, rupanya lagi pacaran lo?" Ujar Niko yang langsung duduk di kursi seberang meja.
"Katanya benci sama Nindi, tapi ternyata dia yang ambil hati lo, haha!" Ujar Ariga menimpali.
Anindia hanya terdiam tanpa kata, ia tidak tahu harus mengatakan apa di depan teman-teman Keanu. Sementara Keanu hanya bersikap santai di depan kedua temannya itu.
"Kalo iya Nindi yang ambil gue, kenapa?" Ujar Keanu yang hanya ditanggapi tawa oleh keduanya.
"Ya gak kenapa-napa sih, gue malah ngira Dara yang ambil hati lo," ujar Ariga kemudian.
"Berisik! Kalo gue maunya Nindi, Dara bisa apa?" Ujar Keanu dengan nada santainya.
Tanpa sadar, Anindia tersenyum ketika mendengar perkataan suaminya itu. Ia memang baru saja kehilangan sahabatnya, tapi dengan adanya Keanu membuatnya merasa sedikit lebih baik. Keanu dan kedua temannya melanjutkan perbincangan mereka, sementara Anindia hanya menyimak perbincangan ketiganya.
Saat itu, mata Anindia tidak sengaja mendapati Ariga yang mengedipkan sebelah matanya. Karena merasa risih, Anindia pun langsung kembali menikmati makanannya tanpa menghiraukan tatapan dari teman suaminya itu.
^^^Bersambung...^^^