Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Keputusan itu datang, tanpa pertengkaran, ia hadir dengan dengan sunyi seperti senja yang perlahan menyusup tapi mengubah terang menjadi gelap.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi itu Nara sedang melipat pakaian, terlalu rapi seolah keteraturannya bisa menutupi isi dadanya yang begitu penuh. Ardan membuka pintu kamarnya menatap punggung kecil itu dadi kejauhan.
Perlahan Ardan mendekat ke arah Nara seolah ingin mengucapkan hal penting yang menyangkut hidup mereka.
"Nara."
Suara itu membuat Nara berhenti. Ia tidak menoleh, hanya menunggu. Sudah lama ia belajar bahwa menunggu lebih aman daripada berharap.
Sejenak Nara menoleh, tangannya berhenti melipat. "Ada apa?" tanyanya.
"Kita perlu bicara," sahut Ardan.
Nara mengernyitkan dahinya. "Bukannya kita sudah bicara," kata Nara pelan. "Mau bicara apa lagi, apa kemarin belum cukup," imbuh Nara.
Ardan tertegun, ia melihat ada sisi lain yang berubah dari istrinya itu, sedikit berani, tidak seperti biasanya.
"Baiklah jika memang kamu merasa sudah siap," ujarnya akhirnya.
"Siap gak siap, bukannya aku sudah dituntut untuk siap? Aku harus mengerti perasaan kamu, yang merasa sesak dengan pertanyaanku dengan kecemasanku, dan dengan ketakutanku," ucap Nara dengan nada yang memburu.
Ardan menghela nafas sejenak, ada rasa iba, namun entah kenapa ia harus berkata yang sejujur jujurnya. "Kita duduk dulu Ra, gak baik jika keputusan diambil dengan emosi seperti ini," ucapnya pelan.
Mereka duduk berdua dengan jarak yang cukup untuk tidak saling menyentuh. Meja kecil di antara mereka terasa seperti batas yang tak tertulis.
“Aku lelah,” Raka membuka. Suaranya tidak tinggi, tidak pula keras. Justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata. “Bukan lelah bekerja. Tapi lelah… menjadi seseorang yang selalu salah.”
Nara menunduk. Jemarinya saling mengait.
“Aku tahu aku berlebihan,” ucapnya pelan. “Aku cuma… takut kehilangan, dan itu tidak dimengerti di kamu, padahal aku berharap kamu jadi rumah, kamu jadi pemenang kamu jadi penjaga ..."
"Cukup Nara, aku tahu,” potong Ardan cepat. “Dan aku tidak menyalahkan rasa takutmu. Tapi aku juga manusia, Ra. Aku butuh ruang untuk bernapas.”
Hening menggantung. Tidak ada air mata. Tidak ada suara pecah.
“Aku merasa,” lanjut Ardan, “kalau kita terus begini, kita hanya akan saling melukai. Tanpa sadar.”
Nara mengangkat wajahnya. Matanya kosong, bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu penuh.
“Jadi… kamu mau pergi?” tanyanya.
Ardan terdiam cukup lama. Lalu mengangguk, pelan, tegas tapi menyakitkan.
“Mungkin berpisah adalah satu-satunya cara agar kita tidak saling menghancurkan.”
"Menghancurkan? Aku hanya diam di rumah tugasku aku lakukan dengan baik, aku hanya khawatir aku hanya cemas, dan semua kekuranganku itu kamu jadikan alasan yang tak masuk akal," sahut Nara dengan nada yang membara.
"Itu bagimu, tapi bagiku tidak, aku hanya ingin mencintai dengan cara tenang," sahut Ardan.
"Tenang, seperti apa yang kau inginkan, apa iya aku harus menjadi robot, yang sesuka hati kamu kendalikan, sedangkan aku punya pikiran, aku punya rasa cemas aku punya rasa khawatir, dan aku punya cinta yang kau sepelekan," ungkap Nara.
"Justru itu, kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan membuatku tidak nyaman," sambung Ardan.
Kalimat itu seperti palu. Tidak memekik, tapi mematahkan. Nara tersenyum tipis. Senyum orang yang sedang mencoba berdiri di atas puing-puing dirinya sendiri.
“Kalau itu yang kamu butuhkan,” katanya lirih, “aku tidak akan menahan, silahkan pergi, jika berpisah denganku membuat hatimu tenang tidak merasa terbebani dengan orang sakit seperti ku, silahkan pergi!" gertak Nara.
Dan itulah yang paling menyedihkan bukan karena ia tidak ingin mempertahankan pernikahannya, tapi berjuang sendiri dalam suatu bahtera, melainkan karena ia tahu, memohon hanya akan membuatnya semakin kecil, dan diremehkan.
"Mungkin ini sudah menjadi keputusanku, aku harap kamu bisa menerimanya," ucap Ardan sekali lagi.
"Aku menerima," kata Nara mencoba untuk kuat. "Dan semoga saja dikehidupanku mendatang aku tidak bertemu lagi dengan kamu," imbuh Nara sedikit sinis.
"Kamu membenciku?"
"Tidak?" sahutnya cepat. "Hanya kecewa, dan cukup tahu, ternyata pria yang dulu meyakinkanku dengan segala upayanya, sekarang melepaskan dengan begitu mudahnya," sahut Nara dengan senyum yang bergetar.
Ardan menghela nafas pelan, ia ingin membela dirinya, namun pada kenyataannya apa yang diucap oleh Nara benar adanya. "Maafkan aku yang tak bisa melanjutkan hubungan ini," ujarnya pelan.
Lalu kemudian pria itu melangkah ke kamarnya meninggalkan Nara yang duduk mematung seorang diri.
Dan tidak berselang lama, Ardan kembali membawa sebuah kertas kosong yang ditunjukan pada Nara.
"Ra, ini kertas kosong dan satu bolpoin," ucap Ardan lalu menyodorkannya pada Nara.
"Untuk apa?" tanya Nara ketus.
"Surat keputusan perpisahan kita," sahut Ardan pelan dan terlalu hati-hati.
Nara melirik ke arah kertas putih kosong itu. "Untuk apa jika isinya kosong?"
"Kau tulis saja, apa yang kamu mau, begitu juga dengan aku," jelas Ardan.
"Aku tidak ingin menulis apapun, dan jika memang kau ingin silahkan lakukan sendiri," ujar Nara.
Ardan pun mengangguk, tanpa sadar jika keputusannya itu meruntuhkan hati seseorang yang dulu begitu ia perjuangkan.
Setelah lima menit Ardan pun selesai menulis, dan Nara pun membacanya, tidak ada permintaan sulit, hanya kata maaf, yang tidak bisa menjaga janjinya, itulah yang Nara pahami tentang isi surat perpisahan itu.
"Baik, aku tanda tangan dimana?" tanya Nara.
"Di bagian kiri," ujar Ardan.
Nara pun mengikuti, dan setelah itu Ardan pun menjelaskan sesuatu tentang perceraiannya.
"Ra, jika kamu siap, biar aku saja yang urus perceraian karena ini inginku, jadi aku gak mau merepotkanmu dalam mengurusi hal semacam ini," katanya pelan. "Dan rumah ini, rumah yang ku beli untuk pernikahan kita, biar kamu saja yang menempati, aku yang akan pergi," ujar Ardan.
"Aku tidak butuh ini," sahut Nara.
"Enggak Ra, rumah ini sudah aku berikan ke kamu, jadi biar aku yang pergi," ujar Ardan. Nara pun hanya terdiam.
Mereka menandatangani perpisahan itu tanpa saksi. Tanpa upacara. Tanpa pelukan terakhir. Hanya dua tanda tangan dan satu kesepakatan: berhenti mencoba.
Hari ini Ardan pergi setelah surat penandatanganan itu resmi. Nara berdiri di depan pintu. Ia tidak menangis. Tidak juga mengejar. Ia hanya berkata, “Jaga diri.”
Ardan menoleh. Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya, sesuatu yang ingin kembali. Tapi pintu sudah terbuka, dan keputusan tidak mengenal kata mundur.
Pintu tertutup. Sunyi mengambil alih rumah.
Nara duduk di lantai, memeluk dirinya sendiri. Nafasnya bergetar. Baru saat itu air mata jatuh. Bukan karena ditinggalkan, tapi karena ia gagal menjaga sesuatu yang ia rawat terlalu erat.
"Ternyata semudah itu ia pergi," ujarnya dengan senyuman masam.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malamnya, harinya, di saat ia tengah membersihkan tempat bekas Ardan tiba-tiba saja Nara mual. Ia mengira itu lelah. Ia tidak tahu, bahwa di dalam tubuhnya, sebuah benih kecil sedang bertahan.
Diam, seperti rahasia yang tidak ingin diketahui. Seperti cintanya yang tak sempat tumbuh dewasa.
Keputusan sudah diambil. Jalan sudah terpisah, sudah berjalan. Dan tanpa mereka sadari, perpisahan itu meninggalkan sesuatu yang akan mempertemukan mereka kembali di waktu yang jauh lebih rumit.
Bersambung ....
Selamat malam semoga suka