NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Tempat Tinggi

Langkahnya tergesa, napasnya belum sepenuhnya tenang. Namun begitu pintu terbuka, rumah itu menyambutnya dengan keheningan.

Kosong.

Tidak ada suara langkah, tidak ada lampu yang menyala.

Rayyan menyusuri setiap ruangan, membuka pintu kamar, memanggil nama Alana berkali-kali. Tapi nihil. 

Alana tidak ada dimanapun.

Ketika sedang panik mencari Alana, ponselnya bergetar pelan.

Alana mengirimkan sebuah lokasi dan satu pesan singkat.

Rooftop.

Tanpa pikir panjang, Rayyan segera menuju lokasi itu. Motornya melaju cepat menuju sebuah gedung perkantoran setinggi dua puluh lantai. Area itu sudah sepi, sebagian besar lampu gedung padam karena jam kerja sudah usai, hanya menyisakan cahaya redup dari lantai atas.

Rayyan tidak menghiraukan itu. Dia segera berlari masuk dan naik ke atas.

Sesampainya di rooftop, napasnya tersengal.

Alana berdiri di tepi pagar pembatas.

Jantung Rayyan berdegup keras. Tanpa ragu, dia berlari mendekat dan menarik tangan Alana menjauh dari tepi.

“Lo gila?! Lo mau coba bunuh diri lagi?” seru Rayyan khawatir.

Alana mendengus samar. “Gue nggak mau bunuh diri.” 

“Terus ngapain di pinggir rooftop kayak gini? Kalau lo jatuh gimana?!”

Alana melepaskan genggaman tangan Rayyan dan mengalihkan pandangan. Matanya menatap lurus ke depan. Pemandangan kota malam terbentang luas. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela-jendela yang berkelap-kelip seperti bintang di langit. Lampu-lampu kendaraan di jalanan di bawah berbaris rapi, membentuk aliran cahaya kuning keemasan yang berkelok mengikuti jalan. Suara bising kota teredam oleh ketinggian, digantikan oleh desiran angin dingin. 

“Gue cuma… suka tempat tinggi. Semakin tinggi tempat yang gue pijak, gue merasa semakin tenang.”

Rayyan menatapnya. Alana yang Rayyan lihat sekarang, bukan lagi Alana yang angkuh dan sombong. 

Perlahan, raut wajah Rayyan melembut. Kepanikan dan kecemasan yang Rayyan rasakan perlahan sirna.

Rayyan mendekat ke tepi pagar pembatas,  berdiri di samping Alana. Rayyan menatap ke bawah. Gedung 20 lantai itu begitu tinggi. Jalanan di bawah terasa begitu jauh.

Rayyan menoleh pada Alana lagi. Dia terlihat sedang memejamkan mata, menikmati angin malam yang menyentuh wajahnya dengan lembut.

Rayyan kembali menatap ke depan. “Gue udah tahu pelakunya.”

“Kayla,” ucap Alana tanpa menoleh.

Rayyan menoleh, sedikit terkejut. “Lo udah tahu?”

Alana mengangguk singkat. Wajahnya tetap dingin. “Dan mungkin sekarang bokap gue lagi balas perbuatannya ke gue.”

Sorot mata Alana berubah tajam. “Semua perbuatan, semua keputusan, ada harga yang harus dibayar. Dia harus bayar perbuatannya sama gue.”

Perlahan, tangan Alana menyentuh perut.  Sorot matanya berubah sendu. “Gue juga.” Alana menghela napas pelan. “Dan gue mulai merasa, gue bayar terlalu mahal untuk ini. Ini keputusan paling bodoh yang pernah gue ambil.”

Alana menoleh pelan ke arah Rayyan, tatapannya kembali tenang, nyaris tanpa emosi. “Jadi lo harus nikahin gue,” ucapnya datar, seperti menyatakan sebuah fakta yang tak bisa ditawar.

“Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana dengan suara stabil.

Rayyan mengangguk tanpa ragu. “Lusa kita nikah. Kebetulan Bunda kerja di wedding organizer, jadi Bunda udah siapin semuanya.”

Alana mengangkat bahu. “Terserah.”

“Lo nggak papa, kan?” tanya Rayyan pelan.

Alana mendengus sinis, nada suaranya tetap dingin. “Itu emang yang seharusnya terjadi. Terserah lo aja mau kapan dan gimana. Gue nggak peduli.”

Rayyan menatapnya dalam-dalam, suaranya berubah lembut, penuh kekhawatiran. “Gue nggak tanya itu, Na. Gue tanya keadaan lo, perasaan lo sekarang. Lo… baik-baik aja, kan?”

Hatinya mencelos. Tanpa sadar, Alana teringat perbuatan Kayla yang mengkhianatinya, bayi yang ada dalam kandungannya, dan hidupnya yang akan segera berubah tanpa rengkuhan Dharma.

Dengan napas berat dan suara serak, dia menjawab, “Gue… baik.”

Rayyan menghela napas pelan, wajahnya menegang. “Gue nggak baik.”

Alana menoleh, tatapannya datar tapi terlihat sedikit penasaran.

“Lo tahu kenapa gue kekeh mau lo pertahanin anak itu?” tanya Rayyan pelan.

Alana menggeleng pelan. 

“Karena gue nggak mau dia rasain apa yang gue rasain,” jawab Rayyan, suaranya mulai bergetar.

Rayyan menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkit luka di masa lalunya. Tatapan matanya menatap kosong ke depan, mengawang kenangan yang tersimpan dalam di dalam memorinya.

“Nyokap gue dulu punya segalanya. Orang tua yang menyayanginya, karir yang cemerlang, banyak teman, dan pacar yang mencintainya. Hidupnya sempurna.”

Alana kembali menatap ke depan. Dia diam, mendengarkan setiap ucapan Rayyan dengan seksama.

Rayyan menghela napas panjang, lalu menelan ludah dengan susah payah. Suaranya menjadi lebih berat.

“Tapi suatu hari, kejadian buruk menimpa nyokap gue. Dia dilecehkan oleh teman kantornya.”

Alana menoleh pada Rayyan.

Jeda sesaat, Rayyan menatap ke bawah, mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. “Nyokap gue hamil gue. Laki-laki itu nggak mau tanggung jawab. Kakek nenek gue marah besar, nyokap gue dipecat, nama baiknya hancur, semua orang menjauh.” 

Alana terdiam, dadanya bergetar sedikit.

“Sampai sekarang, gue nggak bisa bayangin gimana hancurnya nyokap gue saat itu.”

Rayyan mengangkat kepala, menatap Alana. Rasa bersalah itu terlihat jelas di matanya. Teringat lagi semua hal yang sudah Akan alami setelah kejadian ini.

“Dan setiap ingat itu, gue jadi merasa bersalah. Kalau gue nggak pernah ada di dunia ini, hidup nyokap gue baik-baik aja.”

“Tapi nyokap lo kelihatan sayang sama lo?” Suara Alana terdengar lebih bersahabat.

“Bunda? Dia bukan nyokap gue, dia tante gue, adik nyokap gue.”

Alana mengerutkan kening. “Terus nyokap lo?”

Rayyan menggeleng pelan. Bahunya merosot turun. “Nyokap gue meninggal pas umur gue lima tahun. Harusnya waktu itu gue juga mati… waktu nyokap sengaja bakar rumah saat kita lagi berdua.”

Tatapan Alana melembut.

Rayyan menatap Alana. “Seumur hidup gue, gue paling benci sama orang yang udah hancurin hidup nyokap gue. Tapi sekarang…  gue justru hancurin hidup lo. Gue minta maaf, Na.”

Alana menunduk. Dadanya terasa mulai sesak hingga tenggorokannya tercekat.

Rayyan menarik napas dalam. Dia kembali menatap Alana lekat. “Gue juga mau bilang terima kasih sama lo. Karena lo udah kasih gue kesempatan buat nebus kesalahan gue. Supaya gue nggak jadi kayak orang yang paling gue benci.”

Manik mata mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain.

Angin malam berembus lebih kencang, membuat ujung rambut Alana berkibar pelan. Untuk sesaat, tidak ada suara selain desiran angin dan denyut jantung yang berdetak terlalu jelas di telinga mereka masing-masing.

Alana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, dadanya semakin sesak. Rayyan bergeser setengah langkah, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan, tapi tetap menjaga jarak.

“Gue bakal tanggung jawab. Bukan karena kewajiban. Tapi karena gue mau,” ucap Rayyan pelan.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!