NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAU YANG MENCIPTAKAN MENSTER ITU, MELISA

Melisa memaksakan langkahnya menuju kamar yang dimaksud Harvey. Di atas ranjang berukuran king size, tergeletak satu set pakaian yang didominasi warna hitam—pakaian dalam transparan dan jubah satin tipis yang nyaris menerawang. Melisa menelan ludah, hatinya mencelos. Ia tahu apa artinya ini.

​Dengan tangan gemetar, ia menanggalkan pakaiannya yang basah oleh keringat dingin. Ia mengganti dengan baju yang telah disiapkan Harvey. Setiap helai kain yang menyentuh kulitnya terasa seperti belenggu yang semakin mengikatnya.

​Tak lama setelah Melisa selesai, Harvey muncul di ambang pintu kamar. Tatapannya menelanjangi Melisa, namun bukan dengan gairah, melainkan dengan kekuasaan yang kejam.

​"Sini," perintah Harvey dengan suara rendah. Ia meraih pergelangan tangan Melisa, bukan untuk menariknya mendekat, melainkan untuk menggiringnya menuju sebuah pintu lain di sudut ruangan yang selama ini selalu terkunci rapat.

​Jantung Melisa berdegup kencang. Ia belum pernah melihat pintu itu terbuka. Begitu Harvey memutar kenop dan mendorongnya, sebuah aroma aneh langsung menyeruak keluar—campuran kulit, karet, dan sesuatu yang tajam seperti logam.

​Melisa melangkah ragu. Matanya membelalak ketakutan saat melihat isi kamar itu. Ini bukan kamar tidur biasa. Dindingnya dicat hitam pekat, dengan pencahayaan remang-remang dari lampu sorot berwarna merah dan ungu. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang besar yang dikelilingi tiang-tiang logam. Di sudut lain, ada bangku panjang dengan borgol yang menggantung, cambuk kulit, dan berbagai macam alat yang Melisa hanya pernah lihat di film-film yang dilarang. Ada pula manekin-manekin tanpa busana yang dipasangi berbagai aksesoris yang aneh dan mengerikan.

​Ini adalah sebuah red room, sebuah kamar khusus yang didesain untuk kepuasan seksual yang ekstrem, lengkap dengan alat-alat bondage, discipline, sadism, and masochism (BDSM).

​Wajah Melisa memucat pasi. Kakinya terasa lemas. Ia tidak menyangka obsesi Harvey akan sejauh ini. Pria ini bukan hanya menginginkan tubuhnya, tetapi ingin menghancurkan jiwanya, memaksanya masuk ke dalam dunia gelap yang sama sekali asing dan menakutkan.

​"Selamat datang, Melisa," bisik Harvey di telinganya, suaranya terdengar seperti iblis yang sedang membisikkan janji neraka. "Malam ini, aku akan mengajarimu arti sebenarnya dari menjadi milikku."

​Melisa menelan ludah. Ia tahu bahwa malam itu akan menjadi neraka yang sesungguhnya. Namun, demi Narendra, demi janji yang sudah terucap, ia akan bertahan.

Melisa mencoba mengatur napas, namun udara di kamar itu terasa pengap dan berat. Ketakutan yang ekstrem mulai menyelimuti dirinya, tetapi bayangan wajah Narendra yang lemah di rumah memberikan kekuatan aneh dalam dirinya. Ia tidak bisa pingsan. Ia tidak bisa melarikan diri. Ia harus menghadapinya.

Harvey menyeringai tipis, puas melihat ketakutan yang jelas terpancar di mata Melisa. Ia tahu Melisa tidak akan melawan secara fisik, karena taruhannya terlalu besar.

"Jangan takut, Melisa," kata Harvey dengan nada mengejek. "Ini hanya permainan. Dan kau... kau akan menjadi ratu di dalamnya."

Harvey melangkah lebih dulu ke dalam kamar, tangannya meraih salah satu cambuk kulit yang tergantung di dinding. Ia mengayunkannya pelan di udara, menciptakan suara desiran yang mengerikan.

"Pertama," Harvey memulai, matanya menatap Melisa dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan, "aku ingin kau melepas pakaian yang baru saja kau kenakan. Aku ingin kau benar-benar telanjang di hadapanku."

Melisa merasa tenggorokannya tercekat. Ia menutup matanya sesaat, mencoba mengumpulkan setiap sisa keberanian yang ia miliki. Dengan tangan gemetar, ia mulai membuka ikatan jubah satinnya. Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh Melisa yang kini sepenuhnya tak tertutup sehelai benang pun. Dinginnya udara kamar itu seolah menembus hingga ke tulangnya.

"Bagus," kata Harvey, suaranya mengandung nada kepuasan. "Sekarang, kemarilah."

Melisa melangkah maju dengan enggan, setiap gerakannya terasa berat. Ia berjalan mendekati Harvey, yang kini sudah duduk di ranjang utama, menepuk tempat kosong di sebelahnya.

"Duduk di sini. Menghadap padaku."

Melisa menuruti. Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya berdebar kencang seolah ingin keluar dari dadanya. Tatapan Harvey yang intens membuatnya merasa seperti serangga yang sedang diamati di bawah mikroskop.

Harvey mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Melisa dengan ujung cambuk kulit. Sentuhan dingin dan kasar itu membuat Melisa merinding.

"Kita akan mulai dengan lembut," bisik Harvey. "Aku akan tunjukkan padamu bagaimana cara 'melayani' aku dengan benar. Dan kau, Melisa, akan belajar untuk menikmati setiap bagiannya."

Melisa memejamkan mata rapat-rapat saat ujung cambuk yang dingin itu menelusuri tulang selangkangnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pucat. Dengan suara yang bergetar hebat, ia memberanikan diri bersuara di tengah kesunyian kamar yang mencekam itu.

"Bagaimana bisa..." Melisa tersedu, "bagaimana bisa seorang dokter yang terhormat... seorang pria yang bersumpah untuk menyelamatkan nyawa, berubah menjadi monster seperti ini? Di mana nuranimu, Harvey?"

Harvey menghentikan gerakan tangannya. Matanya yang tajam berkilat oleh amarah yang selama ini ia pendam di balik jas putih kedokterannya. Ia mencengkeram rahang Melisa, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.

"Kau ingin tahu kenapa?" Harvey tertawa hambar, suara tawanya menggema dingin di ruangan kedap suara itu. "Tanyalah pada dirimu sendiri, Melisa. Tanyalah pada wanita yang tujuh tahun lalu pergi tanpa kabar dan memilih laki-laki miskin itu daripada aku!"

Harvey berdiri, berjalan mengitari Melisa seperti predator yang sedang mengitari mangsanya. "Sejak hari kau pergi, Harvey yang kau kenal sudah mati. Aku menjadi dokter di siang hari hanya untuk memuaskan ambisi keluargaku. Tapi di malam hari? Aku butuh sesuatu untuk membunuh rasa sakit ini."

Ia mengambil sebuah borgol berlapis bulu hitam dari meja kecil dan memainkannya di depan mata Melisa.

"Aku mulai mendatangi tempat-tempat gelap. Bermain dengan wanita-wanita penghibur yang tidak punya perasaan. Aku menyukai permainan ini karena di sini, akulah yang memegang kendali. Di sini, tidak ada wanita yang bisa meninggalkanku sebelum aku selesai dengan mereka."

Harvey kembali mendekat, napasnya terasa hangat di telinga Melisa yang menggigil. "Kau yang menciptakan monster ini, Melisa. Maka kau juga yang harus menanggung akibatnya. Setiap cambukan, setiap ikatan, adalah kompensasi atas setiap detik rasa sakit yang kurasakan selama tujuh tahun ini."

Tanpa peringatan, Harvey menarik kedua tangan Melisa ke atas kepala dan memborgolnya pada tiang ranjang logam yang dingin. Bunyi klik logam yang mengunci terdengar seperti vonis mati bagi Melisa.

"Sekarang, mari kita lihat..." Harvey mengambil sebatang lilin aromaterapi yang sudah menyala, memiringkannya hingga tetesan lilin panas mulai jatuh perlahan ke arah kulit perut Melisa. "Apakah suamimu yang suci itu masih mau menerimamu setelah kau menjadi mainan favoritku di kamar ini?"

Melisa memekik saat rasa panas yang menyengat menyentuh kulitnya, namun Harvey justru tersenyum puas. Ia tidak peduli pada rasa sakit Melisa; yang ia inginkan hanyalah melihat Melisa hancur berkeping-keping, sama seperti hatinya yang hancur bertahun-tahun lalu.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!