"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Apakah ini Cinta, atau hanya pelampiasan?
"Berhenti."
Satu perintah tanpa tekanan dari Arlan segera Liam turuti. Pria berprofesi sebagai asisten itu segera menepikan mobil yang ia kemudikan, lalu berhenti di saat perjalanan mereka menuju rumah baru setengah jalan.
"Keluar."
"Apa?" Liam menoleh ke belakang dengan gerakan cepat, menatap atasannya yang kini duduk di jok belakang bersama Rieta dengan dahi berkerut.
"Apa aku harus mengulang apa yang aku perintahkan, Liam?" Arlan balas bertanya, menatap datar asistennya.
Liam mendesah pelan, memberikan anggukan pasrah. "Baiklah." membuka pintu mobil dan keluar.
"Pindah ke depan," pinta Arlan pada Rieta tanpa menoleh, lalu beranjak keluar begitu saja.
"Pergilah ke rumah sakit, atur seolah aku datang ke sana untuk memeriksakan kondisiku."
Arlan kembali memberi perintah pada asistennya tanpa memberi sang asisten kesempatan untuk protes. Begitu kalimat perintah itu selesai ia ucapkan, Arlan segera masuk mobil, duduk di belakang kemudi bersama Rieta yang sudah pindah ke jok depan tanpa perdebatan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan Liam yang hanya bisa menggerutu tanpa bisa melawan sang atasan.
.
.
.
AVA Corp di malam hari tampak begitu sunyi dan gelap, suasana yang cukup untuk membuat suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai memantulkan gemanya mengisi keheningan yang ada.
Arlan melangkah menuju ruang kerjanya dalam diam, menggenggam tangan Rieta yang mengikuti langkahnya tanpa suara. Wajahnya datar tanpa ekspresi, menutupi dengan sempurna apa yang tengah hatinya rasakan.
Namun, begitu ia sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, tepat setelah ia duduk di kursi kerjanya, Arlan menarik Rieta dengan satu sentakan hingga membuat wanita itu jatuh terduduk ke pangkuannya, sementara tangan pria itu segera melingkari pinggang Rieta kala seringai tipis terbentuk di bibirnya.
"Kanapa membawaku kemari?" tanya Rieta setelah selama perjalanan hanya terdiam.
"Apa kamu ingin segera pulang setelah menyaksikan pertunjukan yang kamu buat sendiri?" tanya Arlan dengan alis terangkat.
"Setidaknya, sempurnakan permainanmu dengan berperan menjadi seorang istri yang tersakiti dan tidak pulang ke rumah karena dikhianati suami."
"Pft..."
Rieta gagal menahan tawa, satu tangannya menutupi wajahnya sejenak, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Arlan tanpa rasa canggung.
Entah sejak kapan, Rieta tidak menyadarinya. Benteng pertahanannya runtuh seiring begitu banyaknya perhatian serta kepedulian yang Arlan berikan, hanya hal sederhana, tetapi menyentuh hati terdalamnya. Perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri. Status 'paman keponakan' yang ada di antara mereka pun kini ia menganggapnya sebagai formalitas belaka.
“Paman benar," jawab Rieta setelah tawanya mereda. "Aku memang ingin menyempurnakan permainanku."
Rieta menatap manik Arlan lekat, kedua tangannya masih melingkar di leher pria itu. Ia melihat ketegasan, kekhawatiran, dan juga... hasrat yang tersembunyi di mata Arlan. Ia tahu, pria ini menginginkannya. Sialnya, ia juga menginginkan hal yang sama.
"Tapi, bukan dengan berpura-pura menjadi istri yang tersakiti," lanjut Rieta dengan nada lirih. "Aku ingin menyempurnakannya dengan... menjadi diriku sendiri."
Arlan mengerutkan keningnya, tidak mengerti. "Maksudmu?"
Rieta tersenyum tipis. "Aku sudah lelah berpura-pura," jawabnya. "Aku sudah lelah mengikuti permainan suamiku, aku lelah terus patuh padahal hatiku memberontak. Aku ingin jujur pada diriku sendiri. Aku ingin... bahagia."
Arlan terdiam, merasakan siratan kata yang Rieta ucapkan begitu dalam. Ia melihat ketulusan dan harapan di mata wanita itu. Ia juga melihat, Rieta mulai menerima dirinya. Meskipun ia tahu sepenuhnya bahwa ia adalah paman dari suami Rieta.
Tanpa sadar, tangan Arlan yang melingkari pinggang Rieta semakin erat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rieta, menatap bibir wanita itu dengan penuh damba.
Rieta membalas tatapan Arlan, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi kali ini juga menginginkannya. Ia menginginkan sentuhan Arlan, ia menginginkan ciuman Arlan. Itu salah, tetapi ia tidak peduli, sama seperti Arlan yang tidak peduli bahwa cinta mereka adalah salah.
"Paman..."
Panggilan itu begitu merdu untuk di dengar, cukup untuk membuat hasrat di dalam diri Arlan bergolak, menuntut untuk dikeluarkan.
"Aku sedang malas pulang. Tolong... hibur aku."
Kalimat selanjutnya yang Rieta ucapkan seakan menjadi undangan sukarela dari Rieta. Mengacaukan pikiran serta akal sehat Arlan.
Rieta semakin mendekatkan wajahnya ke arah Arlan, lalu entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang panjang dan penuh gairah. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi penolakan. Hanya ada hasrat yang membara dan keinginan yang menuntut untuk dituntaskan.
Ciuman itu semakin dalam, semakin intens. Lidah mereka saling bertautan, menjelajahi setiap sudut mulut masing-masing. Tangan Arlan bergerak dari pinggang Rieta, naik ke tengkuknya, membelai rambut wanita itu dengan lembut. Sementara tangan Rieta semakin erat memeluk leher Arlan, menarik pria itu mendekat.
Napas mereka tersengal-sengal, terengah-engah. Mereka tidak peduli dengan dunia di sekitar mereka. Mereka hanya ingin merasakan satu sama lain, menyalurkan semua perasaan yang selama ini mereka pendam.
Ciuman itu berlangsung lama, hingga akhirnya mereka terpaksa mengakhiri karena kehabisan napas. Mereka saling menatap dengan binar gairah yang sama, bibir basah dan bengkak.
"Aku menginginkanmu," bisik Arlan dengan suara serak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Rieta.
"Aku juga menginginkanmu," balas Rieta dengan nada yang sama.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arlan kembali mencium bibir Rieta, kali ini dengan lebih liar dan penuh tuntutan. Ia mengangkat tubuh Rieta tanpa melepaskan ciuman mereka, melangkah menuju ruang pribadi yang ada di dalam ruang kerjanya.
.
.
.
Sementara itu, di dalam kamar berpencahayaan temaram, Evan mondar-mandir tidak jelas. Langkahnya gelisah, mencerminkan kekacauan yang berkecamuk dalam benaknya. Kedua tangannya mencengkeram pinggangnya erat-erat, seolah berusaha menenangkan diri. Rambutnya acak-acakan, wajahnya memar akibat tamparan keras dari sang ayah yang ia daptkan beberapa waktu lalu.
Namun, apa yang terjadi pada dirinya, luka fisik itu, tidaklah terlalu sakit menurutnya. Ada yang jauh lebih menakutkan daripada itu adalah.... kesalahpahaman dari Rieta. Tatapan mata Rieta, saat melihat dirinya bersama dengan Rihana.
Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa takut. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Iya takut Rieta akan meninggalkannya. Sebuah rasa yang selama ini tak pernah singgah dalam benaknya. Selama ini, ia selalu yakin bahwa Rieta akan selalu ada untuknya, bahwa cinta Rieta padanya tidak akan pernah pudar.
Tapi, kini, keyakinan itu mulai goyah. Ia sadar, ia telah menyakiti Rieta. Ia telah membuat wanita itu kecewa. Dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki semuanya di saat semua kekacauan yang terjadi berawal dari dirinya sendiri.
Evan berhenti melangkah dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia melihat seorang pria yang bodoh, egois, dan tidak tahu berterima kasih. Ia telah menyia-nyiakan cinta Rieta, cinta yang begitu tulus dan tanpa syarat.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisik Evan pada dirinya sendiri. "Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan maaf dari Rieta?"
Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia ingin bertemu dengan Rieta, ia ingin menjelaskan semuanya. Tapi ia tidak tahu apakah Rieta mau mendengarkan. Ada rasa takut menyusup ke dalam hatinya, jika ia bertemu dengan Rieta, wanita itu justru akan membencinya.
Evan menghela napas panjang, terduduk lemas di tepi ranjang. Ia merasa putus asa dan tidak berdaya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya tahu, ia tidak ingin kehilangan Rieta.
. . . .
. .. . .
To be continued...