Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Ketukan pintu membuat Aurora yang sedang berbaring menoleh ke arah pintu kamar, gadis itu menatap intens sebelum akhirnya berseru,"Masuk!" suaranya terdengar tegas di dalam kamar mewah itu.
Pintu terbuka, seorang pelayan masuk membawa nampan berisi bubur hangat dengan air putih hangat ke dalam kamar.
"Non, sesuai arahan nyonya Adeline ini ada bubur dan air putih hangat untuk anda!" kata Pelayan itu lembut.
"Terima kasih," ucap Aurora dia menerima mangkuk berisi bubur itu dari tangan sang pelayan.
"Kalau begitu saya permisi, Nona!" pamit pelayan itu.
Aurora mengangguk, dia menikmati bubur itu dan rasa hangat langsung mengalir membuat perutnya nyaman.
"Aku sepertinya akan datang bulan," gumam Aurora.
Sedangkan di sisi lain.
"Segera turun Anjani, Papa dan Mama ingin bicara denganmu!" perintah Kaynen.
Anjani yang sedang berbaring menatap sendu sang Kakak,"Kak, aku sedang tak enak badan, bisakah kita bicara lain kali?" minta Anjani, suaranya serak dan tatapan matanya terlihat kuyu.
"Tidak bisa, kau harus turun sekarang!" tegas Kaynen, dia tak akan tertipu oleh sandiwara Anjani. Setiap kali dia membuat masalah gadis itu selalu mencari alasan agar lepas dari hukuman.
"Tapi Kak ...,"
"Sudah, jangan berdebat lagi!" setelah itu Kaynen berlalu meninggalkan kamar Anjani tanpa mau kembali berkompromi.
Anjani mengumpat, dia biasanya melakukan ini dan bisa meluluhkan hati Kaynen. Namun, kali ini ia gagal dan tak akan bisa lepas dari hukuman apapun.
"Sialan! Ini semua karena Aurora!" umpat Anjani, dia selalu menyalahkan Aurora yang tak tahu apapun.
Anjani mau tak mau segera turun dari ranjang dan dengan rasa enggan dia berjalan menuju pintu kamar untuk memenuhi panggilan.
Menuruni anak tangga satu persatu, perasaan tak nyaman dan rasa cemas langsung merayap perlahan membuat rasa takut itu semakin mengikat Aurora dalam ketegangan yang mencekik lehernya.
Anjani memilin pelan jarinya, untuk mengurangi rasa takut yang mendera hatinya, rasanya sesak seperti sebuah tangan yang meremat jantungnya hingga terasa perih.
"Ma, Pa," panggil Anjani, suaranya pelan, serak dan terdengar berat.
"Kemari duduk!" kata Adeline.
Anjani menelan ludah kasar, dia takut dan rasanya untuk menatap wajah kedua orang tuanya juga sang Kakak terasa berat, dia tahu mereka kecewa hanya saja ini memang bukan salahnya. Sebab semua tetap salah Aurora yang datang ke rumah ini ingin merebut keluarganya.
"Ma, aku benar-benar tak sengaja kemarin!" Anjani memulai pembicaraan lebih dulu.
"Tak sengaja? Tapi kau menyakiti Aurora hingga pingsan, Anjani, jadi apa itu di sebut tak sengaja?" tanya Adeline, ia kecewa. Namun, jelas rasa sayang itu masih ada.
"Ma, it-itu," suara Anjani terbatas, dia merasakan tenggorokannya kering dan sulit untuk mencari alasan.
"Tak perlu terus mencari alasan Anjani! Akan ada hukuman untuk kesalahan kamu kali ini, sebab kamu berani menyakiti Aurora hingga masuk rumah sakit," tegas Baskara.
DEGH!
"Hukuman, Pa?" tanya Anjani dengan suara tercekat.
"Benar, kau akan di kembalikan ke kampung kedua orang tuamu sebagai hukuman kali ini!" ucapan itu membuat perasaan nyeri, palu hukuman itu menghantam keras ulu hati Anjani hingga ia kesulitan bernapas. Anjani ambruk dan tak berdaya di pelukan Adeline.
DEGH!
"Jani," seru ketiganya.
Sedangkan di tangga, ada sosok Aurora yang tersenyum tipis, dia melipat tangannya di depan dada dan bergumam, "Aku tidak akan membiarkan kamu kembali ke pelukan orang tuamu dengan semudah itu Anjani!" bisiknya penuh ancaman dengan senyum menyeringai kejam.
...****************...
Aurora menuruni anak tangga dengan langkah goyah, tubuhnya lemah tak berdaya.
Kaynen, yang melihatnya dari kejauhan, buru-buru menghampiri, suaranya bergetar penuh kekhawatiran, "Kenapa kamu malah turun? Seharusnya kamu beristirahat di kamar saja."
Aurora menatap ke bawah, suaranya pelan, "Aku... aku mendengar suara kalian. Aku harus tahu apa yang terjadi."
Kaynen membantunya duduk dengan hati-hati di kursi yang sudah menunggu, lalu duduk di kursi depannya dengan wajah cemas.
Di samping mereka, Anjani terbaring lemah di sofa, Adeline dengan penuh gelisah menyisir surai Anjani, wajahnya mencerminkan ketakutan yang dalam.
Aurora mengernyitkan dahi, matanya menatap tajam pada Adeline, hatinya menyimpulkan satu kata, 'munafik' .
Namun tak lama, topeng dinginnya runtuh, digantikan oleh ketakutan yang nyata. Suaranya bergetar memelas, "Ma, Pa... ada apa dengan Anjani? Kenapa dia jadi seperti ini?"
Baskara menatap putri kandungnya dalam diam, napasnya berat seakan menanggung beban dunia. Dengan suara penuh sayang namun tegas, dia berkata, "Kami sudah putuskan. Anjani akan kami hukum. Dia harus kembali ke kampung halaman, ke tempat di mana kedua orang tuanya tinggal."
Kata-kata itu menggantung di udara, membekukan waktu. Hukum yang dijatuhkan bukan sekadar perintah itu adalah belenggu yang akan menjerat Anjani dalam derita yang tak terucapkan.
Mata Aurora membesar. “Jangan, Pa... aku mohon, maafkan Anjani. Dia nggak bermaksud untuk mencelakai aku. Dia cuma merasa tersisihkan sejak aku kembali ke rumah ini,” suaranya bergetar, seperti air di ambang tumpah.
Namun, Kaynen melirik tajam, bibirnya tersungging sinis. “Tersisihkan? Dari mana dia merasa tersisih? Sudahlah, Aurora, jangan membela Anjani yang jelas-jelas salah,” katanya dingin, menusuk hati.
Aurora menatap kakaknya dengan mata penuh harap, suaranya mengalir tenang namun penuh kepasrahan, “Kak, kali ini aja, tolong maafkan Anjani... Aku baik-baik saja, lihat tidak ada luka serius, kan? Aku nggak apa-apa.”
Adeline menggeser pandangannya, lalu pindah ke samping Aurora dan menggenggam tangan Aurora dengan lembut namun berat oleh kepedihan, “Sayang... hatimu begitu mulia. Dia sudah menyakiti kamu, tapi kamu tetap membelanya. Kenapa?”
Air mata mengambang di mata Aurora, jatuh perlahan seiring dengan kata-kata terakhirnya yang penuh penyesalan dan keikhlasan, “Aku cuma nggak mau Anjani semakin membenci aku. Aku mohon, jangan pulangkan dia ke kampung halamannya. Tolong... maafkan dia.”
Baskara, Adeline, dan Kaynen saling bertatapan, terdiam sejenak. Suara lirih Aurora yang terus memohon bagai pisau yang menusuk kalbu mereka, membuat hati yang keras pun nyaris luluh.
Namun bayang-bayang kata-kata Arion selalu menggelayuti pikiran mereka bagaimana nanti mereka akan menjelaskan semuanya?
Baskara menghela napas panjang, matanya menatap dalam putrinya dengan campuran tegas dan gentar. “Kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini? Apakah hatimu tak akan menyesal di kemudian hari?”
Aurora hanya mengangguk, seolah segala keraguannya telah pudar oleh tekad yang membara.
“Baik. Anjani tak akan kami pulangkan ke kampung halamannya. Tapi dia harus menjalani hukuman tidak keluar rumah selama satu bulan, tanpa uang bulanan. Ini keputusan final, tanpa ruang untuk tawar-menawar.” Kata-kata itu menggema berat di ruang hening, menandai babak baru yang penuh luka dan kegetiran.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄