“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sky mengantar Yura pulang. Mobil berhenti di halaman rumah Yura, mesin masih menyala sementara malam terasa sunyi. Yura menatap jemarinya sendiri, cincin berlian di jari manisnya memantulkan cahaya lampu taman berkilau, dingin, dan terasa asing.
“Kamu masih ragu dengan keseriusanku?” tanya Sky pelan.
Yura menoleh. “Ragu itu wajar,” jawabnya jujur. “Tapi jangan pernah berhenti berjuang, itu saja.”
Pandangan mereka bertaut. Tanpa banyak kata, Sky condong dan mengecup bibir Yura hangat, singkat, namun penuh janji. Untuk sesaat, dunia seakan berhenti. Namun, dering ponsel Sky memecah momen itu.
Sky menjauh sedikit, mengangkat telepon. Wajahnya berubah serius.
[Sudah selesai, Tuan,] suara di seberang terdengar.
[Kami hanya memberi peringatan. Tidak melukai secara fisik. Tapi rekaman pengakuannya sudah kami dapatkan.]
Sky mengulum senyum tipis dan smirk yang dingin.
“Bagus, turunkan dia di depan rumah Wijaya. Pastikan keluarganya yang menemukannya.”
[Dan rekamannya?]
“Sebarkan,” jawab Sky datar. “Biar semua orang tahu wajah asli Putri Wijaya.”
Telepon ditutup.
Sky menoleh kembali ke Yura. Senyum lembutnya kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa, namun di balik itu tersimpan sisi gelap yang belum sepenuhnya Yura pahami.
Sky menahan Yura sebelum turun. “Putri sudah menerima akibatnya,” ucapnya pelan. Ia menyerahkan ponsel. “Ini videonya.”
Yura menatap layar itu sekilas cukup. Senyum smirk terbit di bibirnya. “Bagus,” katanya singkat. “Aku puas.”
Ia mencondong, mengecup pipi Sky sekilas. Hadiah kecil, namun memabukkan, Sky tersenyum lebar.
Yura turun, di teras, Mario sudah menunggu, wajahnya siaga. Yura melangkah pergi, namun suara Sky memanggilnya kembali.
“Yura,” Sky menatapnya serius. “Shasmita bilang … Tuan Hans itu kakakmu.”
Yura berhenti, tanpa menoleh. “Itu urusan keluargaku. Kamu tak perlu ikut campur.”
“Kalau mereka—”
“Belum,” potong Yura dingin. “Aku belum bisa memaafkan. Apalagi menerima mereka sebagai bagian hidupku.”
Ia melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Di balik punggungnya, Sky terdiam menyadari satu hal, mencintai Yura berarti siap masuk ke perang yang belum selesai.
Di tempat lain, di sudut kota yang sunyi dan nyaris tak terjamah lampu jalan, dua pria itu mendorong tubuh Putri keluar dari mobil tanpa sedikit pun belas kasihan. Tubuhnya terhempas ke tanah berdebu dan lumayan jauh dari gerbang rumah Wijaya, lututnya tergores, napasnya tersengal. Pakaiannya kusut dan robek di beberapa bagian, rambutnya lepek, seluruh tubuhnya terasa dingin dan lembap oleh keringat serta ketakutan yang belum juga reda.
Pintu mobil tertutup dengan suara keras. Mesin meraung, lalu kendaraan itu melaju pergi, meninggalkan Putri seorang diri dalam gelap.
Putri terisak, tangannya gemetar saat ia meraih penutup matanya dan melepaskannya. Pandangannya berkunang-kunang, dadanya naik turun tak beraturan. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada siapa pun. Kesunyian justru membuat ketakutannya semakin menjadi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam tas.
Satu notifikasi masuk, dengan tangan yang masih gemetar, Putri meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah video yang baru saja dikirim. Putri menatapnya, hanya beberapa detik namun detik-detik itu cukup untuk membuat wajahnya pucat pasi, matanya membelalak penuh horor.
“Tidak … tidak mungkin…” suaranya bergetar.
Seketikanya Putri menjerit histeris. Ponsel itu dibanting keras ke tanah hingga layarnya pecah berkeping-keping. Tangisnya pecah, nyaring, penuh keputusasaan, menggema di tengah malam yang dingin.
Ia memeluk kepalanya sendiri, tubuhnya bergetar hebat. Putri benar-benar merasakan arti ketakutan, bukan sebagai seseorang yang selalu dilindungi nama besar keluarga Wijaya, melainkan sebagai wanita yang kehilangan kendali atas hidupnya.
"Siapa yang berani melakukan ini?!" teriak Putri histeris.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih