NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Pemimpin Baru

Dingin. Itulah kesan pertama yang dialami Arka Baskara saat kakinya menyentuh tanah basah Desa Sukamaju. Udara di sini tidak hanya sejuk, tetapi menusuk kulit, seolah-olah pegunungan itu sendiri sedang menguji nyali pria kota yang baru saja datang dengan koper besar dan ekspektasi yang tinggi.

Di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, Sukamaju adalah hamparan permadani hijau yang tak berujung, ribuan hektar pohon teh yang tertata rapi, ditutupi kabut tipis yang jarang sekali benar-benar menghilang, bahkan saat matahari berada tepat di ubun-ubun.

​Arka berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan arsitektur kolonial yang masih kokoh. Di atas pintunya, terdapat papan kayu jati bertuliskan "Balai Desa Sukamaju". Ini adalah tempat pengabdian barunya. Sebagai lulusan magister Ilmu Pemerintahan dengan predikat cum laude, Arka seharusnya berada di gedung-gedung pencakar langit Ibu Kota, duduk di kursi empuk kementerian, atau setidaknya menjadi staf ahli seorang gubernur.

Namun, di usianya yang ke 28 tahun, pria ini memilih jalan yang dianggap ayahnya sebagai "pembuangan diri". Wajahnya yang rupawan tampak kaku. Ia adalah definisi dari kedisiplinan yang mutlak. Rambutnya tertata rapi dengan gaya undercut, kemeja batiknya disetrika sempurna tanpa kerutan sedikit pun, dan jam tangan di pergelangan kirinya selalu menunjukkan waktu yang tepat.

​"Selamat datang, Pak Kades" sapa Pak Sugeng, sekretaris desa yang rambutnya sudah mulai memutih. Ia tampak ragu melihat penampilan Arka yang terlalu kota untuk standar desa pegunungan ini.

"Maaf, udaranya sedang kurang bersahabat hari ini."

​Arka hanya mengangguk singkat. Ia tidak ingin bicara banyak karena sejak tadi tenggorokannya terasa gatal. Penyakit lamanya alergi dingin yang ekstrem mulai bereaksi. Di dalam tasnya, sudah tersimpan dua botol obat antihistamin dan inhaler, senjatanya untuk bertahan hidup di tempat yang suhu malamnya bisa turun hingga 10 derajat Celsius ini.

​Jauh di Ibu Kota, di sebuah ruang kerja mewah yang dindingnya dipenuhi rak buku jati dan foto bersama pejabat negara, Pak Baskara duduk dengan wajah muram. Di tangannya, sebuah laporan tentang penempatan dinas Arka diremas dengan kesal.

​"Dua puluh delapan tahun aku membesarkannya untuk menjadi singa di ibu kota, bukan untuk menjadi pengurus kebun teh di pelosok yang bahkan tidak ada sinyal internet yang stabil!" gerutu Pak Baskara kepada istrinya.

​Bu Karina hanya bisa menghela napas panjang sembari menyesap teh melatinya.

"Arka itu keras kepala seperti kamu, Mas. Dia bilang dia jenuh dengan teori. Dia ingin praktik langsung. Lagi pula, kepala desa sebelumnya bermasalah, kan? Korupsi dana desa dan mangkraknya proyek irigasi. Dinas melihat Arka punya integritas untuk membereskan kekacauan itu."

​"Tapi Sukamaju itu tempat yang sulit," Pak Baskara berdiri, menatap jendela besar di ruangannya.

"Warganya sangat patuh pada kiai. Politik di sana tidak dijalankan dengan aturan pemerintah, tapi dengan perintah dari pesantren. Belum lagi alergi dinginnya... dia bisa mati sesak napas di sana."

​Pak Baskara sudah berkali-kali mencoba menggunakan kekuasaannya untuk membatalkan SK penugasan Arka, namun Arka menolaknya mentah-mentah. Bagi Arka, hidupnya selama ini terlalu teratur dalam zona nyaman. Sejak sekolah dasar hingga lulus magister, jalan hidupnya sudah diatur oleh pengaruh ayahnya.

Sukamaju adalah kesempatan pertamanya untuk membuktikan bahwa Arka adalah seorang pemimpin karena kemampuannya, bukan karena nama Ayah di belakangnya. ​Arka memang belum memikirkan soal asmara. Baginya, hubungan romantis adalah sesuatu yang belum ia pikirkan hingga sekarang.

Ia pernah dikenalkan dengan anak-anak kolega ayahnya, wanita-wanita sosialita yang cantik dan berpendidikan tinggi, namun Arka selalu menemukan cara untuk menjauh secara sopan. Ia tidak butuh pendamping yang hanya bisa diajak berbicara soal merek tas terbaru, ia butuh tantangan.

​Di Balai Desa, Arka mulai memeriksa tumpukan berkas di atas mejanya. Ia bekerja dengan kecepatan yang membuat staf desa lainnya kewalahan.

​"Pak Sugeng, kumpulkan seluruh aparat desa besok pagi tepat jam tujuh. Saya ingin evaluasi laporan keuangan tiga tahun terakhir," perintah Arka tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar laptop.

​"Jam tujuh, Pak? Biasanya kami mulai jam delapan lewat sedikit karena kabut masih tebal dan suhu sangat dingin..."

​"Jam tujuh" potong Arka tegas.

"Kabut bukan alasan untuk menunda pelayanan publik. Jika kita tidak bisa disiplin dengan waktu, bagaimana kita bisa disiplin dengan dana rakyat?"

​Pak Sugeng hanya bisa mengangguk pasrah. Ia menyadari, kepemimpinan Arka akan menjadi badai baru di desa yang tenang ini. Arka adalah sosok yang tegas, lugas, dan tak kenal kompromi. Ia tidak peduli jika ia dianggap kaku, tujuannya hanya satu, membersihkan nama baik Balai Desa Sukamaju dan menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

​Namun, di sudut lain desa Sukamaju, di sebuah kompleks luas yang dikelilingi pagar tembok tinggi dengan gerbang besar bertuliskan "PONDOK PESANTREN AL HADID", suasana sedang penuh dengan persiapan.

​Kiai Hasan Al-Hadid, seorang pria dengan wibawa yang menyejukkan hati, sedang duduk di serambi masjid pesantren ditemani Ummi Maryam. Wajahnya berseri-seri. Ia adalah pemilik otoritas moral tertinggi di desa ini. Meski ia bersahaja dan sering terlihat memakai sarung serta koko putih sederhana, Kiai Hasan adalah sosok yang disegani hingga ke tingkat pusat.

Banyak menteri dan petinggi partai yang menyempatkan diri mampir ke Sukamaju hanya untuk meminta nasihatnya.

​"Zahwa sudah telepon, Ummi?" tanya Kiai Hasan lembut.

​"Sudah, Abah. Katanya lusa dia sudah selesai ujian akhir semester. Tiga hari lagi Zahwa akan sampai di rumah. Dia bilang rindu mendoan hangat buatan Ummi dan dinginnya udara puncak," jawab Ummi Maryam sambil tersenyum.

​Zahwa Qonita, putri kesayangan mereka, adalah mahasiswi semester lima di Ibu Kota. Namun, jika Arka adalah ketenangan yang dingin, Zahwa adalah api yang berkobar. Di kampusnya, Zahwa dikenal sebagai "Singa Podium". Ia frontal, vokal, dan tidak segan mengkritik kebijakan yang dianggapnya tidak memihak pada rakyat kecil.

Jika di rumah ia adalah putri kiai yang lembut, maka di forum diskusi ia adalah orator yang tajam. ​ ​Zahwa, yang dinobatkan secara tidak resmi sebagai juru bicara warga Sukamaju sejak ia masih di bangku SMA, jelas tidak akan tinggal diam jika melihat ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan warga desa.

***

​Malam pertama di Sukamaju, Arka meringkuk di tempat tidurnya dengan jaket tebal dan syal yang melilit lehernya. Batuknya mulai terdengar, dadanya terasa sesak. Ia mencoba mengatur napas, menolak untuk menyerah pada suhu udara. Di luar jendela, suara angin malam semakin menusuk kulit Arka.

​Ia melihat ke arah kalender di mejanya. Tanggal-tanggal penting sudah ia tandai. Agenda perubahan desa sudah ia susun rapi dalam folder-folder komputer. Ia tidak tahu bahwa dalam tiga hari, ketenangan birokrasi yang ia bangun akan menghadapi guncangan terbesarnya.

Arka, belum tahu bahwa ada seorang Zahwa Qonita yang sedang mengemas kopernya di Ibu Kota, siap untuk mendebat setiap inci kebijakan yang akan ia buat.

​Di bawah langit pegunungan yang bertabur bintang, dua kutub yang berbeda sedang bersiap untuk bertemu. Yang satu membawa aturan tertulis, yang satu membawa suara rakyat. Dan di antara dinginnya kabut Sukamaju, sebuah kisah tentang pengabdian, prinsip, dan takdir baru saja dimulai.

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
bagai simalakama ya pak kades,,,
Suherni 123
lanjut
Suherni 123
cakep kek,,,aku padamu 🥰
Suherni 123
semoga kakek ada di pihak mu ya pak kades
Suherni 123
ada benarnya juga Zahwa,, jangan sampai tidak diridhoi orang tua
Suherni 123
adakah bab yang hilang kah kak othor,
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): iya kakak, satu bab kelewat gak aku apdet, hari ini diperbaharui yaa.. maafkan 😍
total 1 replies
demoet..
hadeuhhh.. bner2 c papa pengen diserbu!!
Suherni 123
semangat Arka ....
Suherni 123
waduuh... badai mulai menerjang
Bun cie
semoga niat baik arka disambut baik juga oleh mama papanya mau merestui arka
Bun cie
bismillah semangat pak kades👍
Bun cie
cie..cie..pak kades memanfaatkan suasana..goog job pak kades👍
Suherni 123
semoga pak Bhaskara tak menghalangi niat tulus mu pak kades
Suherni 123
pak kades nembak nih😁
Suherni 123
masih anteng ka,, sebentar lagi badai datang 😁
Bun cie
goodjob pak sugeng👍
Suherni 123
yes pak Sugeng 😚
Suherni 123
aku juga uhuyyy 😁
Suherni 123
mantap pak kades,, lanjutkan
Suherni 123
sip pak kades,, lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!