NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 009 : Story of Emily Rose (Pengusiran Enam Iblis)

Hujan gerimis di Jalan Cemara malam itu tidak mampu membasuh aroma anyir yang merembes dari celah pintu kamar Amelia.

Di dalam rumah mewah yang seharusnya menjadi tempat paling aman itu, kesunyian terasa begitu padat, seolah udara telah berubah menjadi semen yang menghimpit paru-paru siapa pun yang berani bernapas.

Pak Baskoro dan istrinya, Maria, duduk bersisian di ruang tengah dengan lampu kristal yang mendadak berkedip-kedip gelisah.

​Maria mencengkeram salib peraknya hingga telapak tangannya memar.

"Pukul berapa sekarang, Pa?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang, seolah takut suaranya akan memicu sesuatu yang mengerikan.

​Pak Baskoro melirik jam dinding kayu jati yang berdetak nyaring.

"Satu menit lagi menuju pukul tiga pagi, Ma. Berdoalah. Jangan lepaskan doa itu, apa pun yang terjadi."

​"Tuhan Yesus, lindungi kami... ampuni kami..." Maria mulai mendaraskan doa dengan bibir yang biru karena kaku.

​Krak!

​Suara itu datang dari lantai atas. Sebuah bunyi tulang yang patah secara paksa, diikuti oleh suara geraman yang mustahil keluar dari pita suara manusia normal.

Pintu kamar Amelia yang digembok dari luar mulai bergetar hebat, seolah ada kekuatan raksasa yang mencoba mendobraknya dari dalam.

​"Dia bangun, Ma. Dia bangun!" seru Pak Baskoro sambil berdiri, tubuhnya gemetar hebat.

​Dari balik pintu, terdengar suara tawa yang berlapis-lapis—suara seorang pria tua yang parau, seorang wanita yang meratap, dan desisan ular yang menyatu menjadi satu frekuensi yang menyiksa pendengaran. Lalu, sebuah suara berat yang serak keluar dari balik kayu pintu:

​"Baskoro... Maria... Mengapa kalian bersembunyi? Pesta baru saja dimulai!"

​"Amelia! Nak, ini Ayah! Dalam nama Yesus, sadarlah!" teriak Pak Baskoro di depan tangga dengan air mata mengalir.

​"Yesus-mu tidak ada di sini, Tua Bangka!" suara itu menyahut dengan lengkingan yang memecahkan kaca pajangan di ruang tamu.

"Dia sedang melihat kami merobek-robek rahim putrimu dari dalam!"

​Pintu lantai atas mendadak hancur, terlempar dari engselnya dengan kekuatan yang luar biasa.

Sosok Amelia muncul dari kegelapan. Ia tidak berjalan tegak. Tubuhnya menekuk ke belakang hingga kepalanya berada di antara kedua tumitnya, memperlihatkan sendi-sendi yang menonjol secara abnormal.

Ia menuruni anak tangga dengan merangkak terbalik—posisi laba-laba patah—setiap persendiannya mengeluarkan bunyi krak.. krak.. yang menyayat hati.

​"Oh Tuhan... Amelia!" Maria menjerit, menutup matanya saat melihat mata putrinya kini telah berubah total.

Tidak ada warna iris, tidak ada putih mata. Hanya dua lubang hitam pekat yang meluap seperti tinta hitam, tidak memantulkan cahaya lampu sedikit pun.

​Amelia berhenti di meja makan. Dengan satu lompatan yang mustahil, ia mendarat di atas meja jati itu. Ia berjongkok, menatap ayahnya dengan seringai yang merobek sudut bibirnya sendiri hingga berdarah pekat.

​"Kau lapar, Baskoro? Istrimu terlalu sibuk berdoa hingga lupa memberimu makan?" Amelia meracau dalam bahasa Latin kuno, lalu tertawa melengking hingga tubuhnya bergetar hebat.

​"Amelia, turun dari sana! Ayah mohon, demi Tuhan!"

​Amelia tidak peduli. Ia mengangkat piyamanya dengan kasar, memperlihatkan perutnya yang tampak bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya.

Di depan mata kedua orang tuanya yang hancur, ia kencing dengan deras di atas meja makan.

Cairan itu tidak seperti urine; warnanya hitam kental dan mengeluarkan aroma belerang serta bangkai yang langsung memenuhi ruangan.

​"Lihat! Ini anggur perjamuan dari neraka kami!" serunya liar dengan mata melotot.

​Setelah itu, ia menjatuhkan diri ke lantai, mengerang seperti binatang yang sedang sekarat.

Di sudut ruangan, Amelia mengejan hebat. Martabatnya sebagai manusia dihancurkan hingga ke titik paling rendah, persis seperti kengerian yang menimpa Emily Rose di akhir hayatnya.

Ia mengeluarkan kotorannya sendiri di atas lantai porselen, lalu dengan tangan yang kuku-kukunya sudah terlepas karena mencakar dinding, ia memungut kotoran itu.

​"Jangan, Amelia! Tolong jangan lakukan itu!" teriak Maria sambil bersimpuh, mencoba mendekat namun Amelia mendesis tajam seperti kobra yang siap mematuk.

​"Kenapa? Ini lebih manis daripada roti suci di Gereja kalian!" Amelia memasukkan kotoran itu ke mulutnya, mengunyahnya dengan suara decapan yang menjijikkan sambil terus menatap orang tuanya dengan mata iblis itu.

"Enak sekali... kalian mau mencobanya? Ini adalah daging dari kegelapan!"

​"Cukup! Cukup!" Pak Baskoro berteriak sambil menangis sejadi-jadinya, menutup wajahnya karena tak sanggup lagi melihat putrinya kehilangan kemanusiaannya.

​"Kami ada enam di sini, Baskoro! Kami adalah Lucifer, Cain, Nero, Judas, Legion, dan Belial! Dan kami tidak akan pergi sebelum raga ini menjadi bangkai yang membusuk!" Amelia meracau, lalu kepalanya berputar 180 derajat menghadap ke arah langit-langit, sementara tubuhnya tetap diam.

​Pagi harinya, dengan kondisi yang sudah tidak menyerupai manusia, Amelia dibawa ke rumah sakit milik Adio.

Keluarga itu sudah menyerah sepenuhnya pada cara-cara rumahan. Mereka membawa Amelia yang tubuhnya kini kaku seperti balok kayu yang membatu, dengan suhu tubuh yang anjlok drastis.

​Adio sedang memeriksa laporan medis di lobi UGD ketika Pak Baskoro masuk dengan pakaian yang masih berlumuran darah dan sisa-sisa kotoran.

"Dokter Adio... tolong... selamatkan anak saya! Dia bukan lagi manusia!"

​Adio segera menghampiri brankar yang didorong terburu-buru. Saat ia mencoba menyentuh pergelangan tangan Amelia untuk memeriksa denyut nadi, ia merasa seolah-olah baru saja memasukkan tangannya ke dalam cairan nitrogen. Dinginnya menusuk hingga ke tulang.

​"Suster! Berikan termometer dan selimut pemanas! Kenapa suhunya bisa serendah ini? Dia seperti baru keluar dari lemari mayat!" seru Adio panik.

​Amelia mendadak membuka matanya yang hitam legam. Ia mencengkeram tangan Adio dengan kekuatan yang bisa mematahkan tulang, membuat Adio mengerang kesakitan.

​"Adio..." bisik Amelia. Suaranya bukan lagi suara gadis remaja, melainkan suara berat yang seolah-olah berasal dari ribuan tahun yang lalu.

​"Amelia? Kau bisa mendengarku? Ini Dokter Adio," tanya Adio, mencoba tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

​"Adio yang malang... dokter kecil yang hanya percaya pada obat dan pisau bedah..." Amelia menyeringai, menunjukkan gigi-giginya yang kini tampak runcing dan kotor.

"Bau tanganmu... ada bau perempuan itu. Bau si Muara dari darah Gautama yang terkutuk."

​Adio tersentak, wajahnya pucat pasi.

"Bagaimana kau tahu... dari mana kau tahu nama itu?"

​"Kami melihatnya di dalam ingatanmu, Dokter. Kami melihat cahaya kecil yang menyebalkan itu. Cahaya yang seharusnya sudah kami padamkan sejak zaman kakeknya!" Amelia tertawa serak, cengkeramannya semakin kuat.

"Panggil dia. Panggil si Rachel itu ke sini. Katakan padanya, aku sudah menyiapkan nisan yang sama dengan Emily Rose untuknya. Satu nisan untuk dua jiwa yang hancur!"

​"Suster! Suntikkan diazepam, sekarang! Cepat!" teriak Adio ketakutan, mencoba melepaskan tangannya.

​"Dokter, jarumnya patah! Ini jarum ketiga yang patah!" teriak salah satu perawat saat mencoba menusukkan jarum ke lengan Amelia.

"Kulitnya sekeras logam!"

​"Gunakan trocar atau apa pun! Berikan dosis tertinggi!" Adio membentak karena panik yang luar biasa.

​Setelah melalui pergulatan hebat yang melibatkan enam perawat pria—di mana salah satu perawat terlempar hingga menabrak dinding hanya dengan satu sentuhan tangan Amelia—gadis itu akhirnya berhasil dibius dan dipindahkan ke ruang isolasi VVIP yang kedap suara dan berjeruji besi.

​Adio berdiri di depan pintu besi kamar 402, mengatur napasnya yang memburu. Tangannya masih merah bekas cengkeraman Amelia.

Ia masuk ke ruangannya sendiri, mengunci pintu, dan segera mengambil ponselnya. Tangannya bergetar hebat saat mencari nama Rachel.

​"Halo? Rachel?" suara Adio parau saat panggilan itu tersambung.

​"Ya, Dio? Ada apa? Suaramu aneh sekali. Aku baru saja sampai di rumah," suara Rachel terdengar lelah dan berat dari seberang sana.

​"Rachel, aku minta maaf sedalam-dalamnya. Aku tahu kamu baru mendarat dan kondisimu sedang menurun. Tapi ini... ini sudah di luar nalar medis, Hel. Aku tidak bisa menanganinya sendiri."

​"Tenang, Dio. Ceritakan pelan-pelan. Ada apa?"

​"Ada seorang gadis di rumah sakitku, Amelia. Dia menderita gejala yang persis dengan Emily Rose. Tidak, ini jauh lebih mengerikan. Dia memakan kotorannya sendiri, merangkak di dinding, dan yang paling membuatku takut..." Adio berhenti sejenak, menelan ludah. "Dia menyebut namamu, Rachel. Dia menyebutmu 'Muara Darah Gautama'. Dia tahu siapa kamu lewat pikiranku saat aku menyentuhnya."

​Di seberang sana, terdengar kesunyian yang mencekam. Rachel seolah sedang mencerna informasi yang mustahil itu.

​"Dia menyebut namaku? Muara Darah Gautama?" tanya Rachel dengan nada suara yang berubah menjadi dingin dan tajam.

​"Iya. Dia menantangmu. Dia bilang dia sudah menyiapkan tempat untukmu di sebelah Emily Rose. Entitas di dalamnya... ada enam, Hel. Mereka menyebut nama-nama iblis yang bahkan aku takut untuk mengingatnya."

​"Dio, dengarkan aku baik-baik. Jangan biarkan siapapun masuk ke kamar itu sendirian, terutama perawat yang sedang tidak dalam kondisi mental yang stabil. Jangan biarkan ada yang membawakan simbol agama apa pun ke hadapannya tanpa instruksi dariku. Entitas ini bukan jin lokal, Dio. Ini adalah kuno, ini adalah Legion."

​"Rachel, tapi kondisi fisikmu? Kamu bilang di Jepang kamu sering mimisan..."

​"Persetan dengan kondisiku! Jika iblis itu sudah memanggil namaku, berarti dia sudah menarikku ke dalam garis pertempurannya. Jika aku tidak datang, dia akan menghancurkan Amelia sampai mati hanya untuk memancingku. Dio, siapkan tim medis terbaikmu, dan tolong... hubungi Mas Suhu dan Cak Dika. Katakan pada mereka, Emily Rose telah bangkit di Jakarta, dan dia sedang menungguku di kamar 402."

​Adio menutup telepon itu dengan tangan lemas. Ia melirik ke arah monitor CCTV kamar isolasi.

Di sana, meski dalam keadaan terikat rantai medis dan dibius total, Amelia tampak sedang menatap lurus ke arah lensa kamera CCTV. Gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan gusinya yang berdarah, lalu bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan satu kata yang bisa dibaca Adio dengan sangat jelas:

​"Datanglah..."

​Adio merosot di kursinya, menyadari bahwa mulai malam ini, rumah sakitnya bukan lagi tempat untuk menyembuhkan raga, melainkan medan pertempuran antara cahaya yang sedang meredup dan kegelapan yang sedang berpesta pora di atas martabat manusia.

1
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
luar biasa ceritanya kakak Author. aku sebenarnya kurang suka cerita horor, tapi pas baca ini ternyata beda😁😁, ku kira bakal gentayangan terus hantunya ternyata tidak. malah hantunya ngajak debat juga😁😁, sukses terus kakak karya barunya, semoga berhasil jadi karya yang paling Top 👍👍
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Maacih kakak, btw di season ini aku lebih fokus ke gerbang sejarah kelam dunia kak. Yang urban legend dan kisah nyata. biar orang2 tahu juga. kalau peristiwa gila di masa lalu itu ada.
total 1 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah yang lagi bahagia. Ayo para hantu kalian menepi dulu🤣🤣
Ela Jutek
kerennn sih ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok diragukan 😁😁. jiwa penyelamat sudah mendarah
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Hantu luar negeri bikin tambah penasaran kan🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!