Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Lahan proyek di Tangerang ini masih berupa hamparan tanah merah yang luas dengan beberapa alat berat yang menderu di kejauhan. Debu beterbangan setiap kali angin kencang bertiup, namun suasana di antara kami bertiga terasa jauh lebih menyesakkan daripada polusi udara di sini.
Harva berjalan di sampingku, sesekali menunjuk ke arah pasak-pasak bumi yang sudah tertanam. Ia menjelaskan visi besarnya tentang gedung ramah lingkungan yang akan dibangun di sini. Suaranya tenang, penuh percaya diri, tipikal pria yang sudah menggenggam dunia di tangannya.
Sedangkan Arlan? Ia berjalan dua langkah di belakang kami. Benar-benar diam.
Tidak ada lagi instruksi teknis yang ia banggakan, tidak ada lagi usaha untuk memotong pembicaraan. Ia hanya membawa map dokumen proyek dengan erat, kepalanya tertunduk menatap sepatu proyeknya yang kini kotor tertutup tanah merah. Arlan yang dulu selalu ingin menjadi pusat perhatian, kini tampak seperti bayangan yang memudar.
"Rania, coba lihat sisi sebelah sana," Harva menyentuh pundakku lembut, mengarahkanku ke sebuah area yang akan menjadi taman utama. "Aku ingin kantor pribadimu nanti menghadap ke arah matahari terbenam. Kamu suka senja, kan?"
Aku tersentak. Aku memang suka senja—dulu. Dan hanya sedikit orang yang tahu itu. Aku melirik Arlan melalui sudut mataku. Ia menghentikan langkahnya tepat saat Harva mengucapkan kalimat itu. Bahunya tampak bergetar sedikit, mungkin ia ingat betapa seringnya kami menghabiskan waktu di Parangtritis hanya untuk menunggu matahari hilang di cakrawala.
"Itu masa lalu, Harva," jawabku datar, berusaha menjaga jarak emosional.
"Masa lalu bisa menjadi inspirasi untuk masa depan yang lebih baik, Ran," sahut Harva sambil tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba, ponsel Arlan yang ada di saku kemejanya bergetar hebat. Di tengah keheningan lapangan ini, suara getar itu terdengar sangat jelas. Arlan merogoh ponselnya, melihat layarnya, dan wajahnya seketika berubah pucat pasi.
Ia tidak mengangkatnya, melainkan langsung mematikan sambungan itu. Namun, hanya berselang detik, ponsel itu berbunyi lagi. Kali ini sebuah pesan masuk dengan nada dering yang cukup nyaring.
Aku bisa melihat sekilas nama yang muncul di notifikasi layar ponselnya yang sempat terangkat. Siska.
Arlan buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke saku, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia menatapku dengan tatapan memohon, seolah takut aku akan meledak saat itu juga.
Harva menyadari perubahan atmosfer itu. Ia berhenti berjalan, berbalik menghadap Arlan dengan senyum meremehkan. "Kenapa tidak diangkat, Arlan? Siapa tahu itu urusan mendesak dari 'masa lalu' yang belum selesai."
Arlan menelan ludah susah payah. "Bukan apa-apa, Pak. Hanya salah sambung."
"Salah sambung yang sangat gigih," sindirku dingin. Rasa mual yang sempat hilang kini kembali merayap di ulu hatiku. "Sepertinya urusanmu di Jogja memang benar-benar belum usai, Arlan. Jangan bawa sampahmu ke proyek saya."
"Ran, bukan gitu... aku—"
"Cukup," potongku, aku berbalik membelakangi mereka berdua. "Harva, aku sudah melihat cukup banyak di sini. Mari kita kembali ke mobil. Udara di sini mulai terasa beracun."
Harva terkekeh pelan, ia memberikan isyarat pada sopirnya untuk mendekat. Sebelum melangkah, ia menepuk bahu Arlan dengan cukup keras. "Ingat posisimu, teknisi. Jangan sampai urusan ranjangmu merusak proyek bernilai miliaran ini."
Arlan hanya bisa mematung di tengah hamparan tanah merah yang gersang. Ia tertinggal di belakang, sendirian, sementara aku masuk ke dalam mobil mewah Harva tanpa menoleh sedikit pun.
Di dalam mobil yang sejuk, aku memejamkan mata. Benar kata Bang Haris, Arlan hanyalah sampah yang seharusnya sudah dibuang sejak lama. Tapi kenapa, melihatnya sehancur itu tadi, ada bagian kecil di hatiku yang merasa pedih—bukan karena cinta, tapi karena menyesali waktu yang kubuang untuk pria sepertinya.