seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Takhta Debu dan Sujud Terakhir
Gedung Mahesa Group yang menjulang angkuh di pusat SCBD pagi itu tampak seperti raksasa yang sedang sekarat. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi langkah kaki terburu-buru para eksekutif kini terasa senyap, hanya menyisakan bisik-bisik ketakutan tentang berita penjualan aset massal yang dilakukan Bu Sarah.
Dave melangkah masuk melalui lobi, masih mengenakan kemeja koko putih yang ia pakai di masjid tadi pagi, namun ia menutupinya dengan jas tailored berwarna gelap. Penampilannya adalah simbol dari dua dunia yang sedang bertarung di dalam dirinya: pria yang ingin bersujud dan CEO yang harus bertempur.
Dave menuju lantai teratas, namun langkahnya terhenti di depan meja divisi keuangan.
Di sana, Shafira sedang merapikan berkas-berkasnya ke dalam kardus kecil. Wajah wanita itu tenang, namun ada sisa-sisa air mata yang tertangkap oleh mata tajam Dave.
Dave mendekat, mengabaikan tatapan mata para karyawan yang menganggapnya sudah tamat. Ia berdiri tepat di depan meja Shafira, menjaga jarak yang kini ia pahami sebagai bentuk ibadah tersendiri.
"Kau tidak perlu mengemas barang-barangmu, Shafira," ujar Dave, suaranya rendah namun penuh otoritas.
"Selama aku masih bernapas di gedung ini, tidak ada satu pun orang yang bisa memintamu pergi."
Shafira mendongak, menatap Dave dengan pandangan yang jauh lebih dalam dari biasanya.
"Pak Dave, perusahaan ini sedang diujung tanduk. Ibu Sarah telah menjual napas perusahaan ini kepada pihak asing. Saya tidak ingin menjadi beban di tengah reruntuhan ini. Saya sudah cukup bersyukur melihat Bapak kembali berdiri tegak."
Dave tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung sedikit kepahitan namun sarat akan keteguhan.
"Aku sudah kehilangan segalanya secara materi sejak semalam, Shafira. Tapi anehnya, aku merasa lebih kaya sekarang daripada saat aku memiliki seluruh saham ini. Takhta ini bisa menjadi debu, tapi aku tidak akan membiarkan martabatmu ikut terkubur di bawahnya. Tetaplah di sini. Temani aku menyelesaikan bab terakhir ini."
Perjuangan Dave untuk mendapatkan hati Shafira kini memasuki fase yang paling elegan sekaligus menyakitkan. Ia tidak lagi mengejar dengan bunga atau janji kemewahan.
Di tengah gempuran pengacara asing yang merangsek masuk ke ruang rapat, Dave justru meluangkan waktu tepat pada pukul 13:30 untuk mengetuk pintu ruang kerja Shafira yang kini sederhana.
Ia membawa dua gelas teh hangat bukan kopi mahal dan duduk di kursi tamu, bukan di kursi pimpinan.
"Shafira," panggil Dave lembut.
"Aku baru saja menandatangani pelepasan aset pribadiku untuk menutup gaji karyawan bulan ini. Ibuku mungkin menang secara finansial, tapi dia kalah karena dia tidak tahu bahwa aku memiliki sesuatu yang tidak bisa dia jual: keyakinan yang kau tanamkan padaku."
Shafira tertegun melihat pria di depannya. Dave yang dulu selalu bicara tentang ekspansi dan profit, kini bicara tentang tanggung jawab dan integritas.
"Bapak benar-benar melakukan itu? Melepas aset pribadi Bapak?"
"Harta itu hanya titipan, kan? Begitu kata Ayahmu," Dave terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mencekam.
"Aku sedang mencoba menjadi murid yang baik. Tapi jujur, Shafira, bagian paling sulit dari perjuanganku bukan menyelamatkan Mahesa Group. Tapi memastikan bahwa saat aku jatuh nanti, kau masih mau melihatku sebagai Dave, pria yang sedang belajar cara mencintaimu dengan benar, bukan sebagai CEO yang gagal."
Shafira meletakkan penanya, ia menatap Dave dengan mata yang berkaca-kaca. Perjuangan gigih Dave untuk tetap lembut di tengah badai korporasi benar-benar meluluhkan dinding terakhir di hatinya.
"Dave... seorang pria tidak diukur dari seberapa tinggi takhtanya, tapi dari seberapa kuat ia berdiri saat dunianya runtuh. Dan saat ini, di mata saya, Bapak jauh lebih terhormat daripada saat Bapak mengenakan mahkota palsu itu."
Momen emosional itu terinterupsi oleh ketukan keras di pintu. Rio masuk dengan wajah pucat, membawa dokumen hitam yang dikirim langsung dari notaris Bu Sarah.
"Pak Dave, ini sudah final. Bu Sarah menuntut pengosongan gedung dalam waktu 24 jam. Dia menjual gedung ini kepada konsorsium Singapura yang berafiliasi dengan musuh lama Bapak."
Dave berdiri perlahan. Ia tidak marah. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kota Jakarta yang mulai diguyur hujan.
"Dia ingin aku keluar dengan hina? Baik. Kita akan keluar, tapi dengan kepala tegak."
Dave menoleh kembali ke arah Shafira. Ia melangkah mendekat, namun berhenti tepat di batas yang telah mereka sepakati.
"Shafira, besok aku mungkin tidak akan punya kantor lagi. Aku mungkin tidak punya mobil mewah untuk menjemputmu. Aku akan menjadi Dave yang sama seperti pria di masjid tadi pagi. Apakah kau masih akan menungguku di jam 13:30 besok, di taman rumah sakit tempat Ayahmu dirawat?"
Shafira mengangguk perlahan, senyum tulus merekah di bibirnya yang gemetar.
"Saya akan menunggu, Dave. Karena saya tidak pernah jatuh cinta pada gedung ini. Saya jatuh cinta pada perubahan yang saya lihat di mata pria yang berdiri di depan saya sekarang."
Pengakuan itu seperti bahan bakar baru bagi Dave. Ia merasa sanggup menghadapi seribu Bu Sarah sekalipun. Namun, intrik tidak berhenti di situ.
Di balik pintu, seorang utusan dari pihak pembeli asing sedang merekam percakapan mereka. Bu Sarah ingin memastikan bahwa sebelum Dave pergi, ia harus kehilangan satu hal lagi: kepercayaan Shafira melalui sebuah foto masa lalu Dave yang sengaja dimanipulasi untuk menunjukkan bahwa Dave pernah melakukan hal keji di masa mudanya.
Dave melangkah keluar dari ruangan itu dengan semangat perjuangan yang membara, tanpa menyadari bahwa "racun" terakhir ibunya baru saja mulai bekerja. Ia harus membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar pelarian dari kegagalan, melainkan sebuah taubat yang tulus dan elegan.
.