NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di Balik Pinus

​Mobil melaju membelah jalanan menanjak menuju utara. Semakin jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Yogyakarta, udara yang masuk melalui celah jendela mobil mulai berubah. Hawa panas aspal berganti menjadi hembusan dingin yang membawa aroma tanah basah dan pucuk-pucuk pinus. Gunung Merapi, meski puncaknya tertutup awan senja, berdiri angkuh mengawasi perjalanan mereka.

​Nina menyandarkan kepalanya di sandaran jok, matanya menatap deretan pohon yang melesat di sampingnya. Kejadian menyakitkan dengan Shinta di kampus tadi siang perlahan memudar, terbasuh oleh ketenangan yang dibawa Arya. Di sampingnya, Arya menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama lagu instrumental yang mengalun rendah.

​"Kenapa diam saja? Masih memikirkan gerakan tari yang salah tadi?" tanya Arya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang mulai berkabut.

​Nina tersenyum tipis. "Bukan. Cuma merasa... aneh. Sepuluh tahun yang lalu kita hanya anak asrama yang main hujan, sekarang kita sedang jalan-jalan ke Kaliurang dengan Kakak yang sudah jadi Kapten."

​"Waktu memang pencuri yang lihai, Nin. Dia mengambil masa kecil kita, tapi dia memberikan sesuatu yang lain sebagai gantinya," sahut Arya misterius.

​Mereka berhenti di sebuah restoran keluarga yang terletak agak menjorok ke dalam hutan pinus. Bangunannya bergaya kolonial dengan jendela-jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lembah. Cahaya temaram dari lampu gantung kuning menciptakan suasana yang sangat intim.

​Sesampainya di meja yang sudah dipesan, Arya memesan sekoci wedang ronde hangat dan menu tradisional spesial. Suara jangkrik mulai bersahutan di luar, bersaing dengan desau angin yang menggoyangkan dahan pohon.

*

​"Nin," buka Arya setelah pesanan mereka datang. Ia menyesap wedang rondenya, membiarkan rasa jahe yang hangat menjalar di tenggorokannya. "Kakak dengar tadi siang ada sedikit keributan di kampusmu?"

​Nina tersedak sedikit. "Kakak tahu dari mana?"

​"Tentara punya telinga di mana-mana," gurunya bercanda, meski matanya menatap tajam. "Tapi serius, apa itu karena Kakak?"

​Nina menghela napas panjang, mengaduk-aduk supnya tanpa minat. "Ada teman yang bicara sembarangan. Dia bilang... Kakak itu 'penyangga' karirku. Dia menuduh hal-hal yang tidak pantas."

​Rahang Arya mengeras sejenak. Tangannya yang berada di atas meja mengepal. "Maafkan Kakak. Seharusnya Kakak tidak menjemputmu dengan mobil dinas pagi tadi. Kakak tidak berpikir kalau lingkungan kampus seni bisa sekejam itu soal gosip."

​"Bukan salah Kakak," potong Nina cepat. "Orang yang dengki akan selalu menemukan alasan untuk membenci. Tapi yang membuat Nina sedih adalah mereka menghina Kak Arya. Mereka tidak tahu betapa besarnya pengabdian Kakak."

​Arya menatap Nina lama. Cahaya lilin di atas meja memantul di mata gadis itu, membuatnya terlihat begitu rapuh namun kuat di saat yang sama.

​"Nina," suara Arya berubah menjadi lebih rendah, lebih dalam. "Bagi Kakak, omongan mereka tidak ada artinya. Selama di Papua, Kakak sudah terbiasa menghadapi musuh yang nyata. Fitnah seperti itu tidak akan melukai Kakak. Tapi ada satu hal yang paling Kakak takuti."

​"Apa?" tanya Nina polos.

​"Kakak takut kalau keberadaan Kakak justru membuatmu menjauh karena malu atau tertekan."

​Hening sejenak. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring. Arya meletakkan sendoknya, lalu memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di meja. Matanya mengunci tatapan Nina.

​"Nina, Kakak sudah menyimpan ini terlalu lama. Sebenarnya, alasan Kakak selalu mengirim surat, alasan Kakak selalu bertanya kabarmu pada Mbak Aurel, dan alasan Kakak langsung mencarimu begitu sampai di Jogja... itu bukan sekadar karena kita pernah tinggal di asrama yang sama."

​Jantung Nina mulai berdegup kencang. Ia punya firasat ke mana arah pembicaraan ini, namun ia belum siap.

​"Sepuluh tahun di medan tugas, Kakak melihat banyak hal. Kematian, perpisahan, luka. Dan di setiap malam yang dingin di tengah hutan, hanya satu wajah yang membuat Kakak ingin tetap hidup dan pulang ke Jawa. Wajah gadis kecil yang dulu menari di bawah hujan," Arya berhenti sejenak, menarik napas panjang.

​"Kakak tidak lagi melihatmu sebagai adik kecil, Nin. Sudah lama sekali perasaan itu berubah. Kakak mencintaimu. Bukan sebagai Kakak, tapi sebagai laki-laki yang ingin menjagamu seumur hidupnya."

​Deg.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Nina. Udara Kaliurang yang dingin tiba-tiba terasa menyesakkan. Ia menatap Arya dengan mata membelalak. Pengakuan itu begitu jujur, begitu berwibawa, namun sekaligus menakutkan baginya.

​"Kak... tapi kita..." suara Nina tercekat.

​"Kakak tahu," potong Arya lembut. "Kakak tahu perbedaan pangkat ayahmu dan ayah Kakak. Kakak tahu perbedaan usia kita delapan tahun. Kakak tahu dunia kita berbeda—Kakak dengan senjata, kamu dengan selendang tari. Dan Kakak tahu, bagi banyak orang, hubungan ini mungkin terlihat salah."

​Nina menunduk, meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Pikirannya kalut. Di satu sisi, hatinya menghangat. Siapa yang tidak akan luluh dicintai oleh pria sehebat Arya? Pria yang sudah menjadi pahlawannya sejak ia berusia tujuh tahun.

​Namun, di sisi lain, realita menghantamnya. Ayahnya, Sersan Mayor Hamdan, adalah bawahan di bawah struktur yang dipimpin oleh ayah Arya dulu. Meskipun sekarang sudah berbeda unit, kode etik dan "tahu diri" yang diajarkan ayahnya sejak kecil tertanam kuat. Bagaimana perasaan Ayah Hamdan jika tahu putrinya menjalin hubungan asmara dengan putra mantan panglimanya? Belum lagi omongan orang asrama yang pasti akan menyebut Nina sebagai "pemanjat sosial".

​"Nina bingung, Kak," bisik Nina, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Nina tidak mau berbohong kalau Nina sangat sayang pada Kak Arya. Tapi menerima Kakak... rasanya seperti Nina sedang mengkhianati didikan Ayah. Nina tidak mau orang-orang melihat Kakak dengan pandangan buruk karena memilih gadis seperti Nina."

​Arya meraih tangan Nina, menggenggamnya dengan hangat. "Jangan pernah merasa dirimu 'hanya'. Kamu adalah Aura Shenina. Kamu berharga karena dirimu sendiri, bukan karena siapa ayahmu atau siapa Kakak."

​Nina menarik tangannya perlahan. "Beri Nina waktu, Kak. Ini terlalu mendadak. Nina takut salah melangkah."

​Arya mengangguk paham. Ia tidak tampak marah atau kecewa. Sebagai perwira, ia tahu kapan harus menyerbu dan kapan harus memberikan ruang bagi strateginya untuk meresap.

​"Kakak mengerti. Kakak punya waktu sepuluh hari lagi di Jogja sebelum kembali ke Jakarta untuk penugasan baru," ujar Arya tenang. "Kakak tidak akan memaksamu menjawab malam ini. Kakak juga tidak akan menanyakan hal ini setiap hari."

​Arya bangkit dari duduknya, berjalan memutar meja, lalu berdiri di samping Nina. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Nina berdiri.

​"Pikirkan dengan tenang, Nin. Gunakan waktu sepuluh hari ini untuk bertanya pada hatimu. Bukan pada ketakutanmu, bukan pada apa kata Shinta, bukan pada apa kata orang asrama. Tapi tanya pada Nina yang dulu menari di bawah hujan."

​Nina mendongak, menatap mata Arya yang teduh. "Kalau nanti jawaban Nina tidak sesuai keinginan Kakak?"

​Arya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ketabahan seorang prajurit. "Maka Kakak akan tetap menjadi kakak yang menjagamu dari jauh, seperti sepuluh tahun terakhir ini. Kakak sudah terbiasa dengan rindu, Nin. Jadi, jangan jadikan itu bebanmu."

​***.

​Perjalanan pulang dari Kaliurang terasa lebih sunyi. Kabut semakin tebal, membuat jarak pandang hanya beberapa meter ke depan. Arya berkonsentrasi pada jalanan, sementara Nina menempelkan keningnya di kaca jendela yang dingin.

​Di dalam kepalanya, suara gamelan tari dan suara deru mesin perang seolah saling bersahutan. Ia mencintai Arya—ia tahu itu sekarang. Getaran di dadanya saat Arya menyentuh sudut bibirnya tadi pagi, debar jantungnya saat Arya membela dirinya di depan Ayah Hamdan, itu bukan sekadar rasa sayang pada kakak. Itu adalah benih cinta yang sudah lama tertanam, namun ia paksa untuk tumbuh sebagai persaudaraan.

​Sesampainya di depan rumah dinas Korem, Arya tidak turun. Ia hanya mematikan mesin sejenak.

​"Masuklah. Istirahat yang cukup. Besok kalau mau antar jahitan lagi, hubungi Kakak. Kakak tetap akan menjemputmu untuk kuliah, terlepas dari apa pun jawabanmu nanti," ucap Arya.

​Nina menatap Arya lama sebelum turun. "Terima kasih, Kak. Untuk makan malamnya... dan untuk jujur pada Nina."

​"Selamat malam, Penari Kecil," bisik Arya.

​Nina melangkah masuk ke rumah dengan perasaan yang luar biasa berat. Di ruang tamu, ia melihat ayahnya sedang membersihkan sepatu larasnya. Hamdan menoleh dan tersenyum melihat putrinya pulang.

​"Gimana makannya? Enak?" tanya Hamdan.

​"Enak, Yah," jawab Nina pendek, lalu segera masuk ke kamar.

​Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Sepuluh hari. Ia punya waktu sepuluh hari untuk memutuskan apakah ia akan mengikuti ketakutannya atau melompat ke dalam pelukan takdir yang sudah menunggunya selama satu dekade.

​Di luar, angin Jogja bertiup kencang, menggoyangkan jendela kamarnya. Nina tahu, mulai malam ini, tidurnya tidak akan pernah sama lagi. Bayangan Arya dalam jaket kulit cokelat dan pengakuannya di bawah pendar lilin akan terus menghantuinya hingga hari kesepuluh itu tiba.

​Garis takdir yang dulu dimulai dengan luka, kini telah sampai pada persimpangan yang paling krusial. Dan kali ini, tidak ada peta atau instruksi operasi yang bisa membantu mereka. Hanya ada hati yang jujur di tengah kabut yang tak kunjung hilang.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!